Friday, November 28, 2014

10 Orang Ahli Fisika Bertaraf Internasional dari Indonesia Yang di Akui Dunia


1. Prof. Pantur Silaban Ph.D


Beliau menjadi guru besar fisika teori Institut Teknologi Bandung per Januari 1995 dan dikenal sebagai fisikawan pertama Indonesia (bahkan Asia Tenggara) dalam teori relativitas khususnya Relativitas umum yang tergolong langka di bidangnya.
Pada tahun 1967, 3 tahun setelah diangkat menjadi staf pengajar Fisika (1964), putra dari Israel Silaban dan Regina br Lumbantoruan ini berangkat ke Amerika Serikat untuk belajar relativitas umum dan ia diterima di pusat kajian gravitasi Universitas Syracuse langsung di bawah bimbingan Peter Gabriel Bergmann dan Joshua N. Goldberg yang dikenal sebagai otoritas relativitas umum setelah pencetusnya, Albert Einstein. Di sana Pantur Silaban memasuki isu paling hangat yakni mengawinkan Medan Kuantum dan Relativitas Umum untuk meminak Teori Kuantum Gravitasi. Itulah impian terkenal Albert Einstein yakni meramu keempat interaksi yang ada di alam semesta dalam satu formulasi yang gagal ia peroleh sampai akhir hayatnya: Grand Unified Theory. Pekerjaan ini diselesaikan dengan disertasi yang berjudul “Null Tetrad, Formulation of the Equation of Motion in General Relativity” pada tahun 1971.

Setelah kembali ke Indonesia, Pantur Silaban menjadi orang pertama di Indonesia yang mempelajari relativitas Einstein sampai tingkat doktor. Beberapa risetnya diterbitkan Journal of General Relativity and Gravitation. Sekian banyak makalahnya dimuat berbagai proceedings. Seniornya, Prof. Achmad Baiquni (almarhum), selalu menyebut nama Pantur Silaban sebagai otoritas bila menyinggung nama Einstein dan beberapa kali diundang sebagai pembicara di International Centre for Theoretical Physics (ICTP), Trieste, Italia, yang didirikan Nobelis Fisika, Abdus Salam. Pantur Silaban selalu mencermati indikasi akan keberhasilan Teori Kuantum Gravitasi hingga kini.
Di lingkungan keluarga ia menebang folklore, “rebung tak jauh dari rumpunnya”. Keempat putrinya, buah perkawinan dengan Rugun Lumbantoruan, merupakan sarjana dari perguruan tinggi negeri. Anna Silaban lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran; Ruth Silaban dokter spesialis saraf lulusan Universitas Padjajaran; Sarah Silaban lulusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung dan magister Universitas Teknologi Chalmers, Swedia; dan si bungsu Mary Silaban adalah lulusan Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung.
Atas kontribusinya dalam dunia sains khususnya fisika, Freedom Institute – Center of Democracy, Nationalism, and Market Economy Studies manganugerahkannya Achmad Bakrie Award pada tahun 2009




2. Tjia May On

Tjia May On (lahir di Probolinggo, Jawa Timur, Indonesia, 25 Desember 1934; umur 77 tahun) adalah guru besar Fisika Institut Teknologi Bandung. Menyelesaikan sarjana fisika tahun 1962 dari ITB, ia kemudian meneruskan ke Northwestern University, AS hingga Ph.D tahun 1969. Ia menekuni bidang partikel kuantum dan kosmologi relativistik, dan kemudian penelitian polimer, optik nonlinier, superkonduktor. Selain mengajar di jurusan Fisika ITB, ia juga mengajar di program Optoelektronika Universitas Indonesia.




3. L.T. Handoko
L.T. Handoko adalah salah seorang fisikawan teori Indonesia dengan fokus penelitian teori fisika partikel. Ia merupakan salah satu pionir dan penggagas utama Grup Fisikawan Teoritik Indonesia serta Masyarakat Komputasi Indonesia. Dari kedua organisasi profesi ilmiah, GFTI dan MKI, inilah muncul kegiatan tahunan dengan model konsorsium berupa Workshop on Theoretical Physics (WTP) sejak 2004, Workshop on Computational Science (WCS) sejak 2004, serta Workshop on Nonlinear Phenomena (WNP) sejak 2006 . Sebagai puncaknya adalah kemunculan jurnal teori pertama di Indonesia, yaitu Journal of Theoretical and Computational Studies – JTCS




4.  Prof. Freddy

Prof. Freddy Permana Zen, M.Sc, D.Sc (lahir di Pangkalpinang, Bangka, 1 Maret 1961) adalah seorang dosen dan peneliti bidang fisika teoretik. Saat ini dia menjabat sebagai profesor bidang fisika teoretik energi tinggi (theoretical high energy physics) di Institut Teknologi Bandung dan menjadi direktur di INDONESIA Center for Theoretical and Mathematical Physics.








5. Yohanes Surya

Yohanes Surya (lahir di Jakarta, 6 November 1963; umur 48 tahun) adalah seorang fisikawan Indonesia. Ia juga dikenal sebagai pembimbing TOFI. saat ini Prof. Yohanes Surya Ph.D. aktif dalam berbagai pelatihan Matematika dan Fisika GASING (Gampang Asyik dan Menyenangkan)







  6. Nelson Tansu  

Nelson Tansu (lahir di Medan, Sumatera Utara, 20 Oktober 1977; umur 34 tahun) adalah seorang pakar nanoteknologi dan optoelektronika asal Indonesia yang menjadi tenure-tracked Assistant Professor di Universitas Lehigh (Lehigh University) pada usia 25 tahun (sejak Juli 2003). Tansu menyisihkan lebih dari 300 doktor[rujukan?] untuk mendapatkan jabatan Assistant Professor tersebut di Universitas Lehigh sejak Juli 2003. Universitas Lehigh merupakan salah satu universitas papan atas di Amerika Serikat. Berdasarkan US News and World Reports 2009, Lehigh University memiliki ranking yang sama dengan beberapa universitas terkemuka lainnya di Amerika Serikat seperti Georgia Institute of Technology, University of Wisconsin-Madison, University of California-San Diego, University of Illinois-Urbana Champaign, dan New York University[rujukan?].
Riset Tansu adalah dalam bidang fisika terapan (Applied Physics) terutama dalam bidang semikonduktor, nanoteknologi, dan fotonika. Sejak April 2007 sampai April 2009, beliau dipromosi menjadi Peter C. Rossin (Term Chair) Assistant Professor di Universitas Lehigh. Sejak Mei 2009 (usia 31 tahun) sampai April 2010, Tansu dipromosi menjadi Associate Professor dengan tenure di Universitas Lehigh. Sejak May 2010 sampai sekarang, Tansu dipromosi menjadi Class of 1961 Chair Associate Professor (dengan tenure) di Universitas Lehigh.
Nelson Tansu merupakan putra kedua dari pasangan ayah (Almarhum) Iskandar Tansu dan ibu (Almarhum) Auw Lie Min. Ia dilahirkan di Medan, dan besar di Medan. Tansu menyelesaikan pendidikan dari TK-SD-SMP-SMA di Yayasan Perguruan Sutomo 1 Medan, di mana beliau merupakan lulusan terbaik saat menyelesaikan pendidikan SMA di Mei 1995. Kemudian, dia melanjutkan pendidikan S1 (BS) sampai S3 (PhD / Doktor) di Universitas Wisconsin – Madison.


7. Roby Muhamad 

Roby Muhamad adalah pakar jejaring sosial.
Sebelumnya ia adalah seorang fisikawan Indonesia yang kemudian beralih menjadi sosiolog dan dikenal lewat keterlibatannya dalam proyek Dunia Kecil (Small World). Ia adalah anak bungsu dari empat bersaudara pasangan Prof Dr Wahyu Karhiwikarta, seorang spesialis kedokteran olahraga, dan dr Hanariah Wahyu, seorang spesialis anak. Ia menyelesaikan pendidikan tingkat sarjananya pada tahun 1998 di Institut Teknologi Bandung dengan topik mengenai lubang hitam Stephen Hawking, yang kemudian dilanjutkannya dengan meneruskan program magister pada perguruan tinggi yang sama, dengan topik mengenai teori string dan teori-M, yang diselesaikannya pada tahun 2000. Tahun 2010 ia memperoleh gelar doktor dari Departemen Sosiologi, Universitas Columbia, New York, Amerika Serikat.
Usai menyelesaikan pendidikan doktor-nya, Roby pulang ke Indonesia. Saat ini Roby tercatat sebagai staf pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan mendirikan AkonLabs, sebuah lembaga riset nirlaba yang berfokus pada aplikasi sains socio-behavioral untuk perubahan kultur.


8. Hans Jacobus Wospakrik

Hans Jacobus Wospakrik (lahir di Serui, Papua, 10 September 1951 – meninggal di Jakarta, 11 Januari 2005 pada umur 53 tahun) adalah seorang fisikawan Indonesia yang merupakan dosen fisika teoritik di Institut Teknologi Bandung. Hans adalah seorang yang mendapatkan penghargaan fisikawan terbaik oleh Universitas Atma Jaya Jakarta atas pengabdian, konsistensi, dan dedikasinya yang tinggi dalam penelitian di bidang fisika teori. Ia memberi sumbangan berarti kepada komunitas fisika dunia berupa metode-metode matematika guna memahami fenomena fisika dalam partikel elementer dan Relativitas Umum Einstein. Hasil-hasil penelitiannya ini dipublikasikannya di jurnal-jurnal internasional terkemuka, seperti Physical Review D, Journal of Mathematical Physics, Modern Physics Letters A, dan International Journal of Modern Physics. 



 9. Hendry Izaac Elim, S.Si, M.Sc, Ph.D
 
Hendry Izaac Elim (lahir di Ambon, Maluku, 22 Januari 1969) adalah seorang fisikawan Indonesia. Elim memperoleh gelar sarjana fisika teori pada tahun 1995 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dan setelah itu bekerja sebagai dosen pada Universitas Pattimura, Ambon. Pada tahun 1999 ia memperoleh gelar master fisika teori di Institut Teknologi Bandung. Pada tahun 2001 ia melanjutkan studi ke jurusan fisika, National University of Singapore (NUS), Singapura dalam program P.hD di bidang nonlinear optik dari nanopartikel dan lulus pada tahun 2005.
Sebelum lulus PhD nya, ia bekerja sebagai Research Fellow dari Oktober 2004 sampai dengan Januari 2006 di Departemen Teknik Kimia dan Biomolekuler, Fakultas Teknik, NUS. Selanjutnya ia bekerja sebagai Postdoctoral Fellow di jurusan fisika, NUS dari Januari 2006 sampai dengan September 2007.
Sejak Oktober 2007, ia bekerja sebagai Research Assistant Professor di Institute of Multidisciplinary Research for Advanced Materials (IMRAM) di Universitas Tohoku, Jepang. Prestasi dan pencapaian Hendry begitu fenomenal dan sensasional. Karyanya amat fantastis! Bayangkan saja, di jurnal internasional telah lebih dari 40 publikasi.


10. Asam Damanik 

Asan Damanik (lahir di Simalungun, Sumatera Utara, 11 November 1963; umur 48 tahun) adalah seorang fisikawan Indonesia.
Pendidikan
Asan Damanik lulus SMA tahun 1983 dari SMA Negeri 3 Pematangsiantar. Setelah lulus SMA, Asan Damanik melanjutkan studi ke Institut Pertanian Bogor dan memperoleh gelar Sarjana Ilmu Kedokteran Hewan (Drs. Med. Vet) pada tahun 1987. Setelah lulus dari Institut Pertanian Bogor, Asan masuk ke Jurusan Fisika FMIPA Universitas Gadjah Mada dan memperoleh gelar sarjana fisika teori pada tahun 1992 dan sejak Maret 1992 bekerja sebagai dosen fisika pada Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Pada tahun 1995 Asan melanjutkan studi S2 di Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan memperoleh gelar master fisika teori pada tahun 1997. Pada tahun 2000 melanjutkan studi S3 (doktor) ke Institut Teknologi Bandung dalam bidang Fisika Teoretis dibawah bimbingan Prof. Pantur Silaban, tetapi tidak sampai selesai karena di awal 2002 Asan pergi ke Jerman untuk bergabung dengan Grup Fiska Partikel Fundamental Johannes-Gutenberg University, Mainz, Germany dibawah bimbingan Prof. Jurgen G. Körner. Studi S3 kemudian dilanjutkan tahun 2004 di Pascasajana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dalam bidang Fisika Teoretis (Fisika Partikel Fundamental) dengan Tim Promotor Prof. Muslim, Ph.D. sebagai Ketua, dan Ko-promotor Prof. Pramudita Anggraita, Ph.D, dan Mirza Satriawan, Ph.D, namun pada pertengahan tahun 2008 Ketua Tim Promotor Prof. Muslim meninggal dunia dan kemudian diganti oleh Dr. Arief Hermanto. Pada Januari 2009, Asan akhirnya berhasil meraih gelar Doktor (Dr.) dalam Fisika Teoretis dari FMIPA UGM Yogyakarta setelah berhasil mempertahankan disertasi berjudul Massa Neutrino Dirac dan Pemekaran Model GWS di hadapan Tim Penguji. Tahun 2010 melalui Program Academic Recharging (PAR) C Dikti Kementerian Pendidikan Nasional, Asan melakukan riset dalam Theoretical High Energy Physics khususnya untuk penggunaan non-Abelian discrete symmetry group dalam fisika partikel fundamental dibawah bimbingan Prof. Ernest Ma di Department of Physics and Astronomy, University of California, Riverside, USA.



print this page Print