Wednesday, July 3, 2013

Budaya Populer

Adalah media massa Amerika yang telah meraih apa yang tidak mungkin bisa dilakukannya melalui politik, yakni dominasi Amerika atas dunia. Hollywood sukses, sedangkan Pentagon justru gagal! Padahal pada kenyataannya, film maupun alat-alat pertahanan adalah dua bidang yang memberikan penghasilan terbesar bagi ekonomi Amerika. Dunia menonton dengan keterpikatan hipnotis pemutaran ulang episode-episode opera sabun Amerika; di seluruh dunia orang bertanya ''siapa yang menembak JR?'' dalam serial Dallas atau ''siapa yang membunuh Laura Palmer?'' dalam film ''Twin Peaks''. Impian Amerika dianggap tak bisa dilawan. (''Lubang Hitam Kebudayaan'', Hikmat Budiman).

''MALAM Tahun Baru 2004 menampakkan citra budaya populer yang didominasi budaya Amerika. Pawai sporadis dengan kendaraan berbagai merek dan jenis memenuhi semua jalur lalu lintas. Tontonan wayang kulit, joged, arja dan gambuh nyaris digerus hingar-bingar musik pop, seakan-akan kita tidak lagi hidup di Bali, tapi LA, New York atau paling tidak Tokyo. Bungkus dan puntung rokok yang didominasi produk berlisensi maskapai Paman Sam serta tutup botol minuman berstandar western berserakan di pigngir-pinggir jalan. Kedai-kedai McDonald, Kentucky serta Texas Friend Chicken diserbu para pengunjung muda yang secara sadar atau tidak adalah pendukung budaya Barbie yang melambungkan konsumerisme modern,'' komentar Minggik sebagai alasan malam itu menggelar Joged Bumbung di halaman rumahnya dan dipadati kawan-kawannya.

''Persis seperti pendapat Akbar S. Ahmed yang dikutip Hikmat Budiman dalam bukunya, 'Lubang Hitam Kebudayaan', tentang dominasi budaya pop Amerika yang menjadi diterminan budaya dunia. Ironisnya, di negeri semiskin negara kita ini, budaya tersebut terserap seperti tanpa filter. Cocok pengandaian Hikmat, bahwa dunia, khususnya bangsa-bangsa di negara berkembang bagaikan kumpulan bintang, yang membentuk lubang hitam, seperti teori yang dipaparkan fisikawan Sthephen Hawking. Dengan gravitasi yang kuat lubang itu menyedot dan melumat apa saja yang mendekatinya. Kitalah yang diandaikan sebagai bagian dari lubang hitam, yang menyedot dan melumat segala budaya yang mendekat itu. Dari sikap hidup, cara berbusana, penggunaan ikon-ikon asing, bahasa hingga aktivitas seksualitas, kita tiru dari budaya luar. Lalu bagaimana nasib program Ajeg Bali ke depan? Apakah dia akan tetap jadi sekadar slogan, seperti slogan-slogan masa lalu, misalnya; tinggal landas, manusia seutuhnya dan Indonesia Incorporation?'' sahut Rubag.

''Budaya pop yang juga disebut budaya massa, menurut Dominic Strinati, adalah budaya yang dihasilkan melalui teknik-teknik industrial produksi massa yang diharapkan menghasilkan keuntungan sebanyak-banyaknya dari konsumen massa. Budaya ini diciptakan oleh para ahli yang direkrut para usahawan, yang kemudian disebut budaya tinggi, karena awalnya dipopulerkan para tuan atau kaum elite. Ketika budaya ini menjajah dan mempengaruhi perilaku serta budaya masyarakat, maka hancurlah pertahanan budaya rakyat yang berorientasi pada tradisi. Khususnya, masyarakat yang tidak mengerti sama sekali akan hakikat seni dan budaya, yang sekaligus juga tidak bisa membedakan kualitas seni dan budaya, maka budaya yang setara dengan opera sabun menguasai pasaran. Coba simak popularitas dan sekaligus kekayaan material yang dikumpulkan para artis musik maupun film dewasa ini, sungguh mengagumkan! Padahal kualitas suara atau akting mereka tidak di atas para artis lainnya, yang kukuh mempertahankan budaya rakyat. Ini berkat pengaruh budaya massa atau pop, dimana kebanyakan konsumen ikut-ikutan mengatakan baik atau hebat untuk hal-hal yang mereka tidak pahami, lalu menyebut diri fans fanatik dan rame-rame mengenakan T-shirt bergambar idolanya. Dalam bahasa Bali, itu disebut suryak siyu,'' komentar Sumadi.

''Jadi pas apa yang dikatakan Akbar S. Ahmed. Amerika boleh gagal dalam operasi militer di Vietnam, Kamboja dan Somalia, tapi McDonald, Bill Gates dan dolar AS mendominasi bisnis dunia tanpa harus menjatuhkan bom Napalm atau memuntahkan peluru M 16. Malah boneka-boneka cantik, seksi, merangsang, berambut blonde dan berbusana superminim bernama Barbie dijadikan model serta ditiru penampilannya oleh gadis-gadis remaja. Britney Spears menghidupkan boneka tak bernyawa tersebut di atas pentas konsernya lewat penampilannya, lalu penampilan pop rocker itu ditiru, bahkan oleh mereka yang tidak tahu Barbie bahkan tidak pernah melihat Britney. Coba sempatkan waktu untuk duduk di bangku ruang yang disediakan mall atau swalayan, khususnya saat hari-hari libur. Cewek-cewek dengan tank top dan jeans ketat yang entah sengaja atau tidak berseliweran di lobby, dengan puser atau punggung bagian bawah kelihatan jelas. Mereka pura-pura malu kalau mata laki-laki nyaris melotot memandangnya, lalu berupaya menarik ke bawah bagian depan tank top, sehingga bagian belakangnya tertarik ke atas menyebabkan selokan punggung tampak lebih terbuka. Hahaha, mereka sudah tahu kejadiannya akan seperti itu,'' kilah Jernat yang mengaku sering pergi ke pusat-pusat perbelanjaan, bukan untuk belanja, tapi buat cuci mata.

''Bukan hanya gadis-gadis belia yang berpenampilan seperti itu, tapi juga ada wanita yang sudah berstatus ibu rumah tangga. Rupa-rupanya semangat woman liberation movement atau gerakan kebebasan kaum perempuan di AS tahun 1960-an, sudah meruyak ke mana-mana. Ini membuktikan bahwa teori biologi klasik yang mengatakan bahwa tidak ada bedanya laki-laki dan perempuan, mendekati kebenaran. Masing-masing sel manusia, pria maupun wanita, terdiri dari 46 kromosom yang terbagi 23 pasang. Setiap pasang diturunkan dari ayah dan ibu. Cuma satu dari 46 kromosom tersebut, tulis Anthony Synnott, yang menentukan gender, dengan jumlah kromosom pembeda maksimal, 2,17 persen saja. Dengan kata lain, 98 persen kromoson wanita dan pria identik. Malah keberadaan wanita dan pria, karena perbedaan kelamin, tidak harus diperlawankan, karena keduanya sebenarnya saling melengkapi dan saling membutuhkan. Seperti risalah Plato dalam 'Symposium'-nya, manusia yang asalnya bulat dan kuat dibelah jadi dua oleh Dewa Zeus sehingga senantiasa dihinggapi hasrat kerinduan untuk bersatu,'' ujar Kadek Bekul.

''Kalau semua orang memahami, baik secara ilmiah maupun mitologis tentang gender itu, agaknya upaya memecah belah yang dilakukan kalangan tertentu akan sia-sia. Sebenarnya kita sudah bosan dengan konflik. Suku, agama, ras dan golongan telah beratus-ratus tahun dijadikan sumber konflik. Sekarang muncul debat ikhwal gender, dimana kuota 30 persen bagi wanita untuk kursi parlemen dijadikan pelatuk perpecahan. Aku khawatir, monyet yang biasanya berperilaku usil dan menurut astronomi Cina diramalkan menjadi karakter tahun 2004 ini sehingga disebut Tahun Monyet akan memperpanjang dan menyambung rangkaian konflik. Malah di layar kaca pun muncul iklan layanan masyarakat yang provokatif, dimana disarankan agar partai politik yang tidak memenuhi kuota 30 persen untuk caleg ditinggalkan. Akibatnya, rame-ramelah parpol merekrut wanita dan menyetor nama mereka ke KPU saat jam-jam terakhir batas pendaftaran. Tentu cara rekrutmen seperti ini bukan pengaruh budaya pop atau Amerika kan?'' komentar Dewa Ngurah. ''Kita tidak bisa mendiskreditkan monyet, lantaran dia tidak bisa bicara untuk menangkis tuduhan kita. Sebaiknya diusulkan agar dalam kalender Cina ada tahun yang disebut Tahun Manusia, mengingat perilaku manusia tidak lebih terpuji dibanding monyet, anjing, kuda atau ular yang biasa dipakai menyebut nama tahun. Eh, bicara soal ular, aku jadi geli mendengar kisah ular besar dan panjang yang sempat dianggap keramat, lalu dikandangkan dan disampingnya didirikan pelinggih. Mungkin karena banyak orang bingung, akibat multikrisis berkepanjangan sehingga memerlukan ketenangan jiwa, maka berjubellah orang sembahyang ke sana dan menghaturkan sesari. Tahu-tahu, konon, suatu hari seorang bule datang mengaku sebagai pemilik ular 'keramat' tersebut dan menuturkan bahwa hewan melata itu meninggalkan kandangnya karena ditinggalkan pulang kampung. Setelah memanggil nama ular itu dan bersiul, katanya, binatang yang sudah sebulan lebih dikeramatkan itu mendatangi induk semangnya dan membelitnya. Tempat yang biasanya ramai didatangi pemedek itu sekarang sepi, para pedagang canang pun kabur. Pantas ular itu tidak doyan bebek atau ayam hidup, karena dia terbiasa menyantap hidangan dari budaya populer, yakni hamburger, fried chicken, hot dog,'' ujar Rubag nyengir, sembari melangkah ke tempat pertunjukan joged.
* aridus

  Kompetisi, Kompetensi dan Pembangunan Daerah



Oleh Andrinof A. Chaniago
Tuntutan berkompetisi untuk mencapai hasil optimal saat ini dan di masa akan datang bukan lagi milik para pelaku usaha. Berkompetisi untuk mendapatkan hasil terbaik bagi pelaku kompetisi itu sendiri maupun bagi masyarakat keseluruhan, kini menjadi keharusan bagi seorang profesional, organisasi pemerintah maupun nonpemerintah yang berbasis di daerah-daerah di Indonesia.
Namun untuk membuat kompetisi bisa menghasilkan kebaikan bersama tanpa mengurangi kebaikan bagi pelaku utama, atau sebaliknya, yang memberi kebaikan bagi pelaku utama tetapi tidak merugikan kepentingan umum, tentu harus disertai dengan sejumlah syarat etik pada sistem maupun pada pelaku. Pada tataran sistem, mekanisme kompetisi harus dibebaskan dari iklim monopolistik dan struktur yang memberi peluang mendominasi bagi pelaku tertentu. Pada tataran individu, kompetisi harus bebas dari penyalahgunaan informasi dan tanggungjawab yang dikenal dengan moral hazard.
Selain syarat etik yang bertujuan melindungi kepentingan pihak lain atau kepentingan bersama, mekanisme kompetisi juga memerlukan syarat tertentu untuk mencapai hasil optimal bagi pelaku maupun bagi publik secara keseluruhan. Pada tataran ini, ukuran optimal atau tidaknya mekanisme suatu kompetisi memberikan manfaat bagi individu, kelompok maupun organisasi tentu diukur dari skala ekonomi.
Perlunya Kompetensi
Salah satu syarat untuk membuat mekanisme kompetisi di masa sekarang memberi hasil optimal bagi pelaku maupun masyarakat secara keseluruhan adalah membangun kompetensi atau kecakapan khusus yang memberi keunggulan pada diri pelaku. Jika pelaku tersebut adalah sebuah unit usaha, maka unit usaha tersebut tentu harus membangun kompetensi dalam menghasilkan suatu produk atau jasa. Jika pelaku tersebut seorang individu profesional, maka ia harus membangun kompetensi di dalam dirinya. Begitu juga, jika pelaku kompetisi adalah suatu daerah, maka daerah tersebut tentu harus membangun kompetensi dalam menghasilkan komoditas dan jasa-jasa ekonomi serta pelayanan publik yang terkait dengan kompetensi intinya.
Masalahnya sekarang adalah, salah satu penyakit yang menghalangi pencapaian hasil optimal tadi adalah belum tumbuhnya kesadaran tentang pentingnya membangun kompetensi dan mekanisme kompetisi seperti apa yang dapat mengoptimalkan lahirnya berbagai kompetensi. Pada tingkat individu profersional kita bisa melihat, orang-orang seperti tidak berdaya menghadapi kekuatan budaya massa atau budaya pop dalam membuat mereka kehilangan orientasi dan tidak menyadari potensi di dalam dirinya sendiri untuk bisa menjadi orang yang berkompeten di bidang tertentu.
Kekuatan budaya massa tadi merupakan hal yang harus dilawan terlebih dahulu karena hal inilah pembunuh pertama potensi seseorang untuk memiliki kompetensi. Budaya massa, atau dikenal juga dengan budaya pop, seringkali mengagung-agungkan karya-karya yang berkualitas sangat rendah dan komentar-komentar instan dari mereka yang dinobatkan sebagai "pakar". Masyarakat seakan dipaksa untuk mengkonsumsi hasil karya-karya instan tersebut. Akibatnya, antara lain tentu saja, karya-karya hasil pekerjaan serius terpendam.
Budaya pop juga membuat kemerosotan kualitas itu tak terkontrol. Banyak orang populer dan dinobatkan ahli segala hal, malahan "diberi" gelar Doktor karena ada kekurangjelian sebagian pekerja pers untuk mengecek pendidikan formal tokoh tersebut. Pembunuhan kompetensi ini seringkali menghambat pencapaian hasil optimal bagi kepentingan bersama. Akibat budaya populer, misalnya, banyak orang-orang yang berkompeten atau berpotensi untuk memiliki kompetensi tertentu tetapi bersembunyi di daerah-daerah di luar Jakarta atau mereka yang betul-betul setia dengan pengembangan ilmu di ruang-ruang laboratorium dan ruang penelitian di Jakarta sendiri, tidak bisa menyampaikan hasil kerja seriusnya kepada masyarakat.
Kompetensi profesional local
Salah satu masalah bagi pembangunan potensi sumber daya manusia di daerah akibat pengaruh kuat budaya pop adalah, budaya pop seringkali memakan korban kaum profesional atau calon profesional lokal yang semestinya bisa menjadi agen pemerataan pembangunan nasional. Karena itu, sikap kritis terhadap budaya pop harus tumbuh di dalam diri kaum profersional di daerah daerah di luar Jakarta agar mereka bisa menjadi magnit utama pembangunan di daerahnya masing-masing. Jika mereka berhasil melawan dominasi budaya pop dan akhirnya memunculkan kompetensi di dalam diri mereka, mereka akan mendorong orang-orang muda lainnya di daerah itu sendiri atau di daerah lain untuk percaya diri berkarya. Setelah berkarya dan karya mereka memasuki pasar tentu mereka akan lebih dipercaya lagi untuk berkarya dalam medan yang lebih luas, seperti penganalisis kebijakan, pembuat kebijakan atau menjadi manejer kebijakan itu sendiri. Sebagai orang yang ikut menentukan kebijakan mereka akan punya nilai lebih dibanding mereka yang selama ini diobatkan sebagai pakar dan bercokol di Jakarta berkat dukungan budaya pop tadi. Padahal, setidak-tidaknya kaum prorfesional lokal di luar Jakarta tentu lebih tahu banyak kondisi empiris daerah yang dianalisisnya.
Sayangnya, agenda ke arah pengembangan kompetensi para profesional lokal ini masih jauh dari harapan. Hal ini disebabkan terutama oleh hegemoni budaya pop yang telah membelenggu banyak orang. Hambatan lainnya tentu saja karena struktur penyebaran sentra pertumbuhan kita yang masih Jakarta sentris atau Jawa sentris. Model monosentris ini mendorong terus berlanjutnya hubungan yang asimetris dalam pertumbuhan elit-elit nasional antara yang berbasis di Jakarta dan Jawa dengan mereka yang berbasis di luar Jawa. Seorang Andi Mallarangeng dengan cepat melesat menjadi tokoh nasional yang amat populer setelah ia berbasis di Jawa dan meninggalkan Makassar. Namun tidak banyak orang yang mengenal JJ Kusni, seorang Doktor tamatan Perancis yang berasal dari Suku Dayak Ngaju yang pikiran-pikirannya sangat jauh menjangkau ke depan untuk pembangunan kebangsaan di Indonesia (lihat, misalnya, bukunya berjudul Negara Etnik, terbitan Fuspad, 2001). JJ Kusni adalah juga seorang budayawan dan penyair, yang sangat kaya dengan pengalaman batin selama pengembaraannya di luar negeri yang tampaknya sangat besar pengaruhnya terhadap bobot pemikirannya. Tetapi Kusni tentu hanya satu contoh saja tentang seseorang yang terpaksa berada di wilayah marginal elit intelektual Indonesia. Di wilayah Kalimantan, Sulawesi, Sumatera dan lainnya, tentu masih ada beberapa orang yang tidak dimanfaatkan kemampuannya secara optimal untuk kepentingan bangsa ini, seperti JJ Kusni.
Manfaat Nasional Kompetensi Lokal
Dari perspektif pembangunan wilayah yang bisa menjadi katalisator pembangunan nasional, pembangunan kompetensi orang-orang luar Jakarta ini saat ini justeru dibutuhkan. Terbentuknya kompetensi lokal akan mengoreksi sikap banyak elit daerah yang berpikir latah dalam menyusun prioritas pembangunan. Para elit yang suka latah ini seringkali tidak melihat potensi, tantangan dan peluang di luar daerahnya. Akibatnya, produktifitas, efesiensi dan daya keberlanjutan (sustainability) terabaikan dalam perencanaan pembangunan daerah. Sikap latah elit lokal ini tentu tidak terlepas dari struktur penyebaran sumber daya intelektual kita yang terkonsentrasi di Jakarta dan beberapa kota besar di Jawa. Para elit lokal seringkali punya kepercayaan berlebihan terhadap para pakar yang datang dari Jakarta, meskipun pakar tersebut amat jarang melakukan penelitian ke daerah.
Dalam beberapa hal kompetensi para pakar dari Jakarta tentu saja harus diakui, misalnya dalam memberi perbandingan dan menganalisis secara makro. Tetapi jika kompetensi makro tersebut tidak diimbangi dengan kompetensi lokal dan regional, maka pembangunan daerah akan mudah terkena bias-bias cara pandang Jakarta. Hal inilah yang terjadi sebetulnya dengan pembangunan nasional dalam merespon wacana pembangunan global yang dikampanyekan oleh lembaga-lembaga donor dan para ekonom neo-liberal dari negara-negara maju sejak awal tahun 1980-an. Para perumus kebijakan di Jakarta dengan latah dan dengan mudah saja mengamini tuntutan-tuntuan penyesuaian struktural (structural adjustment) yang dikampanyekan oleh lembaga-lembaga donor multilateral dan para ahli ekonomi mereka. Para perumus kebijakan nasional tidak mempu berpikir dan bersikap otonom bukan semata-mata karena ada tekanan dari lembaga donor, tetapi karena mereka tidak membangun kompentensi dalam menganalisis negerinya sendiri. Akibatnya, gagasan penyesuaian struktural hampir ditelan bulat-bulat sementara kondisi struktur internal tidak mereka perhatikan.
Para ilmuwan di luar Jakarta tentu harus memiliki kemampuan berpikir nasional dan global, seperti juga para perencana pembangunan kita di jaman Orde Baru yang harus mampu berpikir global ketika membuat perencanaan nasional. Tetapi para ilmuwan di luar Jakarta juga harus sadar dan percaya diri bahwa mereka berpeluang untuk memiliki kompetensi sendiri, seperti juga yang seharusnya disadari oleh para teknokrat kita pada masa Orde Baru yang seharusnya sadar bahwa mereka juga bisa membangun kompetensi sendiri.
Membangun kompetensi yang otentik sambil tetap berusaha memahami kecenderungan global bagi para intelektual dan ilmuwan di luar Jakarta akan memperbesar pula kemungkinan dihasilkannya penemuan-penemuan baru dan penemuan keunggulan lokal di daerah-daerah. Dengan mengetahui potensi-potensi lokal, para ilmuwan di luar Jakarta akan bisa merekomendasikan kebijakan-kebijakan untuk membangun kompetensi lokal dan menyusun prioritas-prirotas pembangunan daerah.
Membangun kompetensi tentu saja memerlukan sejumlah syarat. Pertama, tentu saja harus ada kemauan kuat dari para ilmuwan lokal itu sendiri. Mereka jangan membiarkan diri hanya menjadi pengkonsumsi neto karya orang lain, melainkan harus membiasakan diri bersikap kritis terhadap karya orang lain. Selain itu para ilmuwan luar Jakarta tentu juga harus membiasakan diri dengan manajemen riset di tengah terbukanya peluang untuk menjelajahi dunia maya lewat internet. Pengalaman saya membuahkan kesan, banyak sekali ilmuwan luar Jakarta yang tidak menyadari potensi yang besar ini sehingga proses pembangunan komptensi dirinya mereka berjalan amat lambat.
Kedua, selain dari para ilmuwan sendiri, para pembuat kebijakan publik di tingkat lokal, baik di legislatif maupun eksekutif, harus punya kesadaran untuk membangun kompetensi lokal di daerah mereka. Konsekuensi dari kesadaran itu harus bermuara dalam bentuk dukungan terhadap prasarana riset seperti pusat dokumentasi, sistem informasi dan sebagainya. Sayangnya, lagi-lagi banyak pengalaman mutakhir menunjukkan bahwa kesadaran dalam hal ini lebih memprihatinkan lagi di di daerah-daerah di luar Jakarta. Para pembuat program dan perancang anggaran pembangunan daerah masih saja terkungkung dalam pola berpikir liniear. Mereka hanya berpikir menggunakan pola anggaran tahun sebelumnya untuk menentukan besar peningkatan anggaran tanpa menganalisis ulang apa sebetulnya yang menjadi tantangan dan prioritas kebutuhan saat sekarang bagi daerah mereka.
Semua pihak tampaknya perlu menyadari bahwa percepatan pembangunan dan penyebaran kompetensi para ilmuwan daerah dan kompetensi daerah itu sendiri adalah jalan strategis untuk mencapai tujuan pembangunan yang hakiki. Dengan membangun dan menyebar komptensi para profesional di luar Jakarta dan membangun kompetensi masing-masing daerah dalam menghasilkan barang atau jasa tertentu, kita akan menuju pembangunan yang berimbang sekaligus optimal bagi kepentingan bersama, serta menuju pembebasan dari struktur dominasi. Masalah awal yang harus diselesaikan adalah, mampukah kita melawan dominasi budaya pop di dalam tradisi "kepakaran" kita saat ini? Mungkin saatnya kita mulai membedakan popularitas dan otoritas, antara gelar yang dimiliki dan status pakar yang diberikan, dan sebagainya***
Suara Pembaruan, 26 November 2002
Budaya Pop, Apa Lagi Itu?
Ada orang yang mengatakan bahwa Music Television (MTV) adalah budaya yang nge-pop. Ada pula yang beranggapan bahwa gaya hidup terkini-lah yang disebut dengan budaya pop. Lalu sebenarnya apa yang dimaksud dengan budaya pop?
Apa itu budaya populer?

Secara sederhana, budaya populer-lebih sering disebut dengan budaya pop- adalah apapun yang terjadi di sekeliling kita setiap harinya. Apakah itu pakaian, film, musik, makanan, semuanya termasuk dalam bagian dari kebudayaan populer. Baik, sebelum kita lanjut lebih jauh, mari kita bahas definisinya satu persatu. Definisi dari popular/populer adalah diterima oleh banyak orang, disukai atau disetujui oleh masyarakat banyak. Sedangkan definisi budaya adalah satu pola yang merupakan kesatuan dari pengetahuan, kepercayaan serta kebiasaan yang tergantung kepada kemampuan manusia untuk belajar dan menyebarkannya ke generasi selanjutnya. Selain itu, budaya juga dapat diartikan sebagai kebiasaan dari kepercayaan, tatanan sosial dan kebiasaan dari kelompok ras, kepercayaan atau kelompok sosial.

Jadi, dapat didefiniskan kebudayaan pop adalah satu kebiasaan yang diterima oleh kelompok-kelompok sosial yang terus berganti/berkembang di setiap generasi



Pengaruh Media dan Amerika
Dari perkembangannya, banyak orang yang menilai perkembangan budaya pop berdasarkan pada media. Lalu, pengaruh Amerika sangat kuat dalam budaya pop di berbagai negara Apakah itu benar? Terlepas dari itu, media memang memegang peranan penting dalam penyebaran gagasan tentang budaya pop. Ini dapat terlihat dari iklan-iklan mereka yang “menjual” satu kebiasaan atau produk yang nantinya akan menjadi satu kebiasaan populer.
Tentang Amerika, tidak dapat kita pungkiri bahwa pengaruhnya sangat kuat di berbagai negara sehingga pernyataan tersebut tidak dapat disangkal. Kalau kita lihat, seperti pakaian Levi’s dan sepatu Nike sudah menjadi “produk” dunia. Belum lagi jika kita lihat dari musik dan gaya hidup Amerika yang banyak diserap oleh berbagai negara.
Tetapi yang jelas, budaya pop akan terus berkembang atau berganti dari setiap generasi. Kita bisa lihat perkembangannya, mari kita ambil Indonesia sebagai contohnya. Dari masa ’70-an hingga saat ini, budaya pop terus berganti seiring dengan perubahan generasi.
Jika kita kembali membahas tentang peranan Amerika dalam hal ini, banyak hal yang bisa menjawabnya. Ini tidak terlepas dari satu sistem yang sering kita dengar tentang kapitalisme. Dalam sistem ini, satu negara yang mempunyai modal (kapital) akan menjadi produsen dan berusaha membuat negara lain menjadi konsumtif sehingga produknya terus bisa terjual.
Bagaimana budaya pop bisa berkembang?

Banyak hal yang bisa mempengaruhi perkembangan budaya pop di tengah masyarakat. Dari penelitian yang dilakukan oleh salah satu sekolah di Kanada, terdapat beberapa hal yang dapat mempengaruhi, antara lain:

Hiburan

Mau tidak mau, semua manusia membutuhkan hiburan dalam hidupnya. Menonton TV dapat dikatakan kebiasaan yang paling populer di semua negara. Berbagai macam jenis hiburan disediakan oleh layar kaca. Secara tidak langsung, sadar atau tidak sadar, kita akan terbawa dengan apa muncul dalam hiburan tersebut.

Banyak orang yang senang menghabiskan waktunya untuk menonton di TV di rumah. Ada juga yang mencarinya di bioskop untuk menonton film atau mencari tempat-tempat yang menyajikan hiburan.



Makanan
Banyak sekali jenis makanan yang menjadi populer di tengah-tengah masyarakat. Kita sebut saja Mc’ Donalds, KFC, Dunkin Donuts, Coke, Pepsi, Pizza Hut dan sebagainya. Banyak orang yang menjadikannya sebagai pilihan makanan utama saat makan siang ataupun dalam kesempatan lainnya.
Makanan-makanan tersebut sepertinya telah menjadi bagian hidup dari masyarakat Indonesia. Walaupun kita tahu bersama terkadang orang makan/minum hanya dengan pertimbangan gengsi.
Fashion

Khusus untuk fashion, dapat dikatakan faktor yang paling mudah diterima. Kita bisa lihat dari berkembangnya berbagai merek seperti Nike, GAP, Levi’s, Lea, Tommy, Diesel dan banyak lagi yang digemari dan kerap kali menjadi ukuran dalam pergaulan.

Remaja kita cenderung mudah mengikuti mode yang berkembang. Mulai dari cara berpakaian, pernak-pernik hingga potongan rambut. Terkadang cara berpakaian juga di”sah”kan dengan penggunaan dress code, baik di pesta hingga ke sekolah.
Gaya Hidup

Penggunaan anting, tatto, telepon selular (ponsel) merupakan salah satu gaya hidup yang paling mudah kita temui dikalangan remaja. Mungkin pada saat, ponsel yang menjadi salah satu gaya hidup masyarakat. Bahkan hingga ke tingkat pelajar, ponsel sudah menjadi barang yang sangat lazim dan tidak asing lagi.

Selain itu, memiliki kendaraan pribadi, baik itu mobil maupun motor seperti sudah menjadi hal yang “wajib” dalan kehidupan sehari-hari. Banyak remaja sekarang yang menjadikan kendaraan tersebut sekedar buat mejeng tetapi menjadi kebutuhan.
Musik

Siapa yang tidak kenal dengan Westlife atau Britney Spears? Mereka merupakan penyanyi yang mempunyai daya tarik tersendiri terhadap remaja saat ini. Banyak remaja yang senang pada penampilan atau musiknya saja. Remaja yang cenderung senang terhadap lagu yang mempunyai beat/irama ceria

Mereka cenderung melihat para penyanyi tersebut sebagai contoh yang baik dalam kehidupannya. Mandiri, percaya diri, kaya, berhasil, cantik dan sekian banyak alasan lainnya. Namun, banyak juga pihak yang tidak setuju dengan hal ini. Tetapi yang jelas, mereka mempunyai daya untuk mempengaruhi kita.
Tempat terkenal

Kalau kita ingat kata nongkrong, kita akan sangat teringat bagaimana kita menghabiskan waktu kita selama berjam-jam dengan kawan-kawan kita. Tidak sembarang tempat bisa menjadi tempat yang nyaman untuk nongkrong. Baanyak orang yang memilih tempat seperti Mall, Café, dan tempat sejenis lainnya.

Kebiasaan remaja untuk nongkrong berjam-jam di mall, eksekutif muda di café yang menyediakan kopi, menghilangkan kepenatan di café seperti Hard Rock dan tempat yang sejenis merupakan kebiasaan yang paling mudah kita temui saat ini.
Olah Raga

Basket dan Sepak bola merupakan olahraga yang di gandrungi oleh hampir setiap orang. Saat ini tengah berkembang berbagai olahraga yang sebenarnya bukan berasal dari Indonesia, seperti Baseball dan Bowling. Pelan tapi pasti olahraga seperti ini akan menjadi bagian dari kebiasaan kita sehari-hari.


print this page Print