Wednesday, July 3, 2013

Dalam Ruang Pribadi Penonton : Romantisme dan Ekonomi Politik Sinteron Indonesia


                  Televisi memang telah jadi perhatian studi-studi kebudayaan
                  sejak lama, dan menurut saya memang tidak ada media lain yang
                  menyamai televisi dalam hal besarnya volume teks-teks budaya
                  populer yang dihasilkan. Rasanya, televisi selalu mampu
                  melahirkan bagian-bagian baru yang menarik untuk diamati dan
                  dianalisa, mulai dari siaran berita, iklan televisi, sinetron,
                  film televisi, talk show, kuis-kuis, acara musik, dan
                  sebagainya. Dengan demikian televisi juga merupakan ruang
                  eksperimen yang menarik bagi para ilmuwan sosial untuk
                  mencobakan berbagai macam metode dan teori sebagai pisau dan
                  alat-alat untuk menganalisa persoalan kebudayaan. Karenanya,
                  banyak hal yang harus dipahami dari televisi. Mulai dari teks,
                  hubungan antara teks dan penonton, aspek ekonomi-politik yang
                  melingkupinya, hubungan televisi dengan aspek-aspek lain
                  diluarnya, sampai pola makna budaya yang ada dalam televisi.
                  Tulisan ini akan melakukan analisa terhadap sinetron sebagai
                  bagian dari dunia televisi.
                  Memang benar bahwa tulisan-tulisan yang beredar selama ini
                  tentang sinetron seperti selalu memberi kita bayangan gelap
                  akan kehidupan sinetron—buruknya mutu penulis naskah sinetron,
                  rendahnya etos kerja para pekerja sinetron mulai dari pemain,
                  sutradara sampai pekerja-pekerja teknis yang ada disitu,
                  ketiadaan festival atau wadah untuk mengukur mutu
                  sinetron-sinetron yang beredar, ketiadaan kritikus sinetron
                  yang baik, sampai penghargaan yang rendah pada diri penonton,
                  dan sebagainya, dan karenanya percakapan tentang sinetron
                  menjadi membosankan dan tidak menyenangkan karena kita
                  seolah-olah sudah mengetahui semua hal-hal buruk tentangnya.
                  Tetapi bukankah memang sebuah tulisan tidak berniat untuk
                  memberikan sebuah penilaian final tentang sesuatu hal?
                  Yang saya lakukan dalam tulisan kali ini adalah memberikan
                  penajaman pada aspek resepsi penonton dan aspek
                  ekonomi-politik dari sinetron indonesia. Penonton menempati
                  posisi penting dalam pembacaan suatu fenomena kebudayaan.
                  Sayangnya mereka sering luput dari perhatian publik, termasuk
                  oleh para peneliti kebudayaan. Proses pembacaan penonton
                  sebuah pameran, sebuah film, sebuah sinetron, apa yang
                  mempengaruhi interpretasi mereka dan bentuk komunikasi seperti
                  apa yang sebetulnya sedang terjadi antara seniman dan
                  penonton, antara sutradara/penulis naskah dan penonton,
                  seharusnya bisa menjadi tema yang menarik untuk diteliti.
                  Selain dimensi resepsi penonton, dimensi lain yang juga
                  terlupakan adalah dimensi ekonomi-politik. Hal ini dilakukan
                  mengingat dalam sebuah sirkuit kebudayaan yang berjalan, tidak
                  hanya terdapat aspek produksi dan konsumsi, tetapi terdapat
                  aspek-aspek lain seperti aspek distribusi, regulasi,
                  representasi dan pembentukan identitas, yang semuanya saling
                  berhubungan erat.
                  Dunia Romantis dan Ekonomi Politik Sinetron
                  Saat ini terdapat sekitar 55 buah sinetron yang sedang diputar
                  di stasiun-stasiun televisi swasta di Indonesia. Jika
                  dideskripsikan lebih jauh, berbagai macam sinetron yang
                  beredar di televisi tersebut mewakili beberapa karakter utama
                  yaitu: karakter cerita yang terbuka dan karakter cerita yang
                  terpusat pada tema hubungan interpersonal pemainnya. Dalam
                  karakter yang pertama, rangkaian episode-episode sinetron
                  berjalan mengalir begitu saja. Setiap episode menampilkan
                  jalinan cerita yang berbeda. Tidak ada persoalan-persoalan
                  tertentu yang dicoba untuk dipecahkan dari awal episode sampai
                  seri episode sinetron ini berakhir. Sedangkan dalam karakter
                  yang kedua, cerita sinetron terpusat pada hubungan pribadi
                  manusia: pertikaian keluarga, jatuh cinta, pernikahan,
                  perpecahan, perselingkuhan, balas dendam, dan sebagainya. Poin
                  yang menarik adalah dari bermacam-macam sinetron yang diputar
                  tersebut, 80% diantaranya berujung pangkal pada persoalan
                  cinta dan segenap romantismenya. Setiap kita melihat sinetron,
                  ada hawa romantisme kuat yang berhembus disitu.
                  Bahkan sinetron-sinetron yang berbasis cerita misteri dan aksi
                  laga yang sedang banyak digemari penonton seperti Misteri
                  Gunung Merapi (Indosiar, Minggu, 19.30 WIB), Dendam Nyi Pelet
                  (Indosiar, Senin, 18.00 WIB), Misteri Nini Pelet (SCTV, Senin,
                  19.30 WIB), juga Angling Darma (Indosiar, Rabu, 19.30 WIB) dan
                  Prahara Prabu Siliwangi (SCTV, Selasa, 19.30 WIB) sebenarnya
                  juga berpangkal pada persoalan cinta kasih yang romantis.
                  Dendam Nyi Pelet misalnya bercerita tentang seorang gadis yang
                  dendam pada semua laki-laki karena pemuda pujaannya ternyata
                  mempunyai kekasih lain. Maka ia berguru, menguasai ilmu hitam,
                  dan berubah menjadi Nyi Pelet yang selalu siap menyebar maut
                  bagi para pemuda yang ditemuinya. Dari sini terlihat bahwa
                  sebenarnya demokratisasi wacana dalam sinetron Indonesia itu
                  tidak ada. Yang ada justru keseragaman wacana karena semua isu
                  ditarik dalam persoalan cinta..
                  Lantas apakah sinetron merupakan sebuah karya seni atau
                  kerajinan tangan? Jawaban untuk pertanyaan yang sederhana
                  tersebut ternyata tidak sederhana. Karena yang terjadi dalam
                  dunia posmodern, seperti yang pernah diungkapkan oleh Mike
                  Featherstone (1991, 1995), adalah kekaburan batas-batas antara
                  seni, kebudayaan, dan iklan atau dunia bisnis yang berujung
                  pada estetikasi umum kehidupan sehari-hari. Karya seni tampak
                  seperti bukan karya seni, sementara hal-hal yang tampak dalam
                  kehidupan sehari-hari tampak begitu indah dan estetis.
                  Analisis ekonomi-politik termasuk sisi produksi dan distribusi
                  di dalamnya selama ini diabaikan. Analisis budaya lebih
                  memusatkan perhatiannya pada analisis tekstual. Menurut
                  Kellner (1997), analisis ekonomi-politik perlu lebih
                  ditekankan mengingat kenyataan bahwa kebudayaan selalu berada
                  dalam satu bidang bersama-sama dengan sistem ekonomi, hukum,
                  negara, institusi-institusi sosial, media massa dan
                  dimensi-dimensi lain dari realitas sosial.  Kenyataan lain
                  yang harus dihadapi adalah bahwa kebudayaan selalu diproduksi
                  dalam hubungan dominasi dan subordinasi. Analisis yang
                  meletakkan kebudayaan dalam sistem produksi dan distribusi
                  dapat membantu menguraikan dan menjelaskan hal-hal yang
                  membatasi produksi suatu artefak kebudayaan, wacana-wacana apa
                  saja yang sedang dominan berlangsung dalam masyarakat saat
                  itu, juga pengaruh aspek politik pada saat artefak kebudayaan
                  tersebut didistribusikan. Sebenarnya, analisis ekonomi-politik
                  juga harus mempertimbangkan persfektif-persfektif lain dalam
                  menganalisis sesuatu. Perspektif-perspektif lain tersebut bisa
                  berupa persfektif gender, ras, etnisitas, kelas, atau
                  nasionalisme. Semakin kaya perpektif yang dipakai untuk
                  menganalisa, maka hasil analisa akan semakin bagus. Mengingat
                  sinetron merupakan sebuah fenomena yang kompleks maka
                  keberagaman persfektif mutlak diperlukan.
                  Rumah produksi (production house), sutradara, pemain, naskah,
                  pembuat naskah, industri musik, iklan, stasiun televisi, dan
                  penonton adalah aspek-aspek yang terdapat dalam sinetron dan
                  terentang dari proses produksi sampai konsumsi. Mungkin masih
                  teringat saat TVRI merayakan ulang tahunnya pada tanggal 20-26
                  Agustus 1999 yang lalu. Waktu itu TVRI menayangkan acara
                  Sepekan Sinetron HUT TVRI. Sinetron-sinetron yang diputar
                  dalam acara tersebut antara lain: Orang Kaya Baru dari Teater
                  KOMA, Wagiyem, Karsih dan Karsiman, serta Merobek Angan-Angan.
                  Munculnya Teater KOMA di TVRI sangat menarik mengingat di masa
                  lalu Teater KOMA sempat dilarang tampil di TVRI karena
                  naskah-naskah yang dimainkannya dinilai berbahaya bagi
                  keamanan dan stabilitas negara. Tema-tema naskah-naskah
                  sinetron lain yang tampil juga berkisar pada persoalan politik
                  seperti perjuangan seorang aktivis LSM, persoalan korupsi,
                  tahanan Pulau Buru serta demonstrasi mahasiswa.
                  Sinetron-sinetron ini tidak akan mungkin ditayangkan dengan
                  bebas sebelum peristiwa Mei 1998 terjadi di Indonesia.
                  Fenomena ini juga menunjukkan perubahan sikap politik TVRI
                  karena dulu TVRI sangat dikenal sebagai corong utama orde
                  baru.  
                  Pemilihan sinetron-sinetron yang ditayangkan oleh
                  stasiun-stasiun televisi juga penting untuk dicermati
                  mengingat stasiun televisi mempunyai kriteria dan
                  standar-standar tertentu yang ditetapkan. Kriteria-kriteria
                  tersebut meliputi ide cerita, siapa yang membuat naskah, siapa
                  sutradaranya, siapa saja artis-artis yang dilibatkan. Semua
                  itu adalah nilai-nilai utama dari sinetron yang menentukan
                  apakah sebuah sinetron layak jual atau tidak. Selain
                  persoalan-persoalan diatas, hal lain yang harus diperhitungkan
                  adalah kecocokan antara cerita, jumlah slot tayang yang
                  direncanakan, dengan harga yang ditetapkan.
                  Saat produksi sinetron berjalan, aspek-aspek yang
                  mempengaruhinya juga semakin banyak. Misalnya, jika rating
                  sebuah sinetron naik, dan jumlah iklan yang masuk juga semakin
                  tinggi, sementara rangkaian episodenya sudah hampir habis,
                  maka sutradara dan penulis naskah dipaksa untuk
                  melipatgandakan  jumlah episode dan melakukan pengembangan
                  cerita yang kadangkala menyimpang dari ide cerita awal. Bahkan
                  seringkali terjadi pengembangan cerita tersebut dilakukan
                  tanpa perencanaan khusus, dan dilakukan langsung di tempat
                  pengambilan gambar berlangsung. Hal seperti ini biasanya
                  terjadi pada sinetron-sinetron yang jumlahnya sudah mencapai
                  ratusan episode. Sinetron yang banyak digemari seperti Si Doel
                  Anak Sekolahan bahkan dapat semakin terdongkrak popularitasnya
                  karena karakter sejumlah tokohnya laris dipinjam untuk
                  memerankan iklan-iklan produk dan iklan layanan masyarakat.

print this page Print