Wednesday, July 3, 2013

DASAR-DASAR BERMAIN DRAMA


Sesuai dengan judulnya, maka tulisan ini hanya membatasi diri kepada persoalan dasar-dasar bermain drama dengan mengupas modal dasar yang dimiliki oleh setiap orang (calon) pemain drama. Dengan demikian, diharapkan pengertian teoritis dasar dalam bermain drama dapat lebih dahulu diterima sebelum melangkah ke cara-cara penggarapan dan pelatihannya.

TENTANG DRAMA
Kata "drama" berasal dari bahasa Yunani, yaitu DRAOMAI yang berarti berlaku seperti ..., berbuat seperti ..., beraksi seperti ..., dan bertindak seperti ... .

Dari situlah hadir beragam difinisi terhadap drama dari para ahli drama yang bila dirangkum kesemuanya akan lahir sebuah statement, bahwa drama adalah manusia.

Mengapa?
Oleh karena drama adalah "sesuatu kisah hidup dan kehidupan manusia" yang dihadirkan di atas pentas (buatan manusia) oleh manusia untuk dipertunjukkan kepada manusia. Dengan demikian, maka inti dari drama adalah manusia, dan dasar dari drama adalah action atau acting.

Menurut catatan sejarah, zaman keemasan Yunani (200 - 600 SM) dianggap sebagai ibu kandung drama yang mewaris-kan konvensi-konvensi dasar drama dan jenis-jenis drama (tragedi, komedi dan satir), penggunaan naskah tertulis, menggunakan sutradara dan pemain serta pernak-pernik artistik kepada drama zaman sekarang. Di zaman inilah drama bukan lagi sebagai sarana dalam upacara-upacara ritual keagamaan melainkan sudah terangkat ke tingkat pertunjukan kesenian yang sebenarnya.

Pada awalnya memang kepribadian aktor/aktris di atas pentas kurang dihadirkan secara utuh sosoknya di atas pentas (karena menggunakan topeng). Tetapi sekarang, sosok seorang pemain drama lebih dihadirkan utuh di atas pentas. Dengan demikian, maka tuntutan terhadap seorang pemain drama bertambah.

TUJUH MODAL DASAR PEMAIN DRAMA
Seorang pemain drama tidak memerlukan medium lain selain tubuh dan batinnya sendiri. Hal ini membedakan seorang pemain drama dengan seorang pelukis atau seorang pemusik misalnya. Seorang pelukis masih memerlukan medium lain di luar dirinya sendiri, yaitu cat, kuas, objek dan kanvas. Atau seorang pemusik dengan alat-alat musiknya. Akan tetapi, seorang pemain drama dituntut untuk dapat menghidupkan dan mengembangkan peran/tokoh/watak yang mati dari naskah ke atas pentas /panggung dengan baik.

Tuhan telah memberikan tubuh, suara, konsentrasi, imajinasi, daya pengamatan atau observasi, emosi dan pikiran dalam setiap diri manusia. Inilah tujuh modal dasar yang harus diolah oleh seseorang (calon) pemain drama dan dimanfaatkan secara maksimal untuk menghasilkan satu karya seni yang gemilang.

Banyak (calon) pemain drama yang tidak mengetahui, mengabaikan, melupakan dan bahkan meremehkan tujuh modal dasar yang sudah ada dalam dirinya itu. Kebanyakan dari mereka hanya ingin dapat naskah, dapat peran yang lumayan, hadir di pentas/panggung, mendapat tepukan tangan yang gemuruh dan acungan dua ibu jari dari penonton. Akibatnya bisa diduga, mereka tidak akan menghasilkan apa-apa (kalaupun ada itu pun tidak maksimal).

Secara pribadi saya bukannya tidak setuju dengan pernak-pernik artistik (tata busana/kostum, tata rias, tata rambut, tata panggung/dekor, peralatan adegan/properti, musik, tata cahaya/lampu, dan lain-lain) yang "wah" dan menyilaukan mata. Semuanya itu hadir di atas pentas/panggung secara sah -- apalagi memang sesuai dengan kebutuhan pementasan. Tetapi, ada satu hal yang lebih penting dan mendapat nilai, porsi dan tempat tertinggi dalam suatu pertunjukan pementasan drama, yaitu pengadeganan dan acting di atas pentas/panggung. Pengadeganan merupakan tugas dari seorang sutradara yang dibantu oleh staf artistiknya dalam membuat dan mengadakan pernak-pernik artistik. Tetapi, penyutradaraan dan pernak-pernik artistik merupakan pendukung acting/action, bukan sebaliknya.

MODAL PERTAMA: TUBUH
Tubuh yang sangat ideal bagi seorang (calon ) pemain drama adalah tubuh yang patuh taat dan mudah dikendalikan sesuai dengan kemauan pemiliknya serta fleksibel. Sesempurna-sempurnanya tubuh manusia pasti memiliki satu dua cacat kecil. Untuk itu amat penting bagi seorang (calon) pemain drama untuk bisa meneliti kekurangan-kekurangan atau cacat-cacat kecil itu dan berusaha semaksimal mungkin (dengan latihan) untuk menghilangkan atau menutupinya, agar tidak menjadi hambatan untuk acting yang dilakukan.

Anggota-anggota tubuh, seperti tangan, jari-jari, wajah, kaki, mata dan sebagainya merupakan penunjang acting, bukan suatu beban yang harus dibuang /disembunyikan karena dianggap menyulitkan dan mengganggu.

MODAL KEDUA SUARA
Suara manusia merupakan instrumen yang paling indah dan berkemampuan tidak terbatas.

Komunikasi penonton dengan seorang (calon) pemain yang merasakan dan menghayati perannya baru akan terjalin apabila si (calon) pemain sanggup menggunakan suara sebagai alat pengutaraan dengan baik.

Problem suara, yang sering dialami oleh seorang (calon) pemain, seperti artikulasi tidak jelas, suara tidak terdengar, berteriak-teriak tegang, monoton, dan lain-lain disebabkan oleh ketidakmampuan untuk mempergunakan cara-cara teknis pengucapan (vokal) dengan sempurna dan juga ketidakmampuan untuk merasa dan menangkap perubahan-perubahan dalam pikiran, perasaan, motivasi-motivasi dan emosi-emosi peran/tokoh/watak yang akan dihidupkan di atas pentas.

MODAL KETIGA : KONSENTRASI
Siapa saja tahu, bahwa semua bidang dan pekerjaan memerlukan kosentrasi. Tanpa konsentrasi tidak akan membuahkan hasil apa-apa. Tetapi harus disadari bahwa tingkat kemampuan setiap orang untuk berkonsentrasi tidak sama. Ada yang mampu berkonsentrasi hanya pada satu objek pada suatu saat, ada yang mampu berkonsentrasi kepada beberapa objek pada suatu saat, ada yang mampu berkonsentrasi dalam waktu singkat dan ada juga yang mampu berkonsentrasi dalam waktu yang lama. Yang terakhir itulah yang menjadi pilihan terbaik untuk seorang calon pemain.

Salah seorang teoritisi drama terkenal dunia: Richard Boleslavski dalam bukunya yang berjudul Acting: The six first lessons mengatakan bahwa, "Pemusatan perhatian atau konsentrasi adalah kesanggupan yang mengizinkan kita untuk mengarahkan semua kekuatan rohani dan pikiran ke arah satu sasaran yang jelas dan melanjutkannya terus menerus selama kita kehendaki, kadang-kadang untuk suatu jangka waktu yang lama daripada yang dapat kita pikul oleh kekuatan jasmani kita."

MODAL KEEMPAT: IMAJINASI
Bermain adalah sebuah seni, maka proses kreatifnya dimulai dan berangkat dari imajinasi. Oleh karena dengan imajinasilah seorang (calon) pemain dapat memasukkan jiwa, raga dan pikirannya ke dalam peran/watak tokoh yang dihadirkan di atas pentas/panggung.

Naskah drama (berikut dengan peran-perannya) adalah hasil imajinasi dari si pengarang. Seorang (calon) pemain drama harus dapat menggunakan imajinasinya untuk membuat naskah atau peran/tokoh/watak yang mati untuk dihadirkan di atas pentas/panggung menjadi hidup dan berkembang (menjadi sebuah realitas drama).

Seorang pengarang (naskah) drama tidak pernah menjelaskan "maksud sebenarnya" dari sebuah ucapan, adegan, pikiran, perasaan, konflik batin sampai dengan klimaks. Semuanya terbungkus dalam jalinan kata-kata. Untuk hal ini imajinasi memegang peranan yang penting dalam mengantar pemain untuk menafsirkan, memahami, menghayati, memasuki, bersimpati dan merasakan emosi-emosi peran/tokoh/watak (berikut dengan lingkungannya) yang dihadirkan oleh seorang (calon) pemain di atas panggung/pentas.

Supaya (calon) pemain dapat lebih mendekatkan diri kepada peran/watak /tokoh yang dimainkannnya, ia harus menjadi peserta aktif dalam apa yang diimajinasikannya.

MODAL KELIMA: DAYA PENGAMATAN ATAU OBSERVASI
Pengamatan atau observasi terhadap peran/tokoh/ watak yang dimainkan seharusnya dilakukan oleh seorang (calon) pemain.

Mengapa?
Dengan observasi , seorang (calon) pemain dapat lebih mengenal kehidupan manusia disekitarnya beserta dengan problema-problema yang ada dan dapat menampilkannya di atas pentas sesuai dengan peran/tokoh/watak dalam naskah yang dimainkannya. Sumber observasi ada dimana-mana. Di segala tempat dan waktu dia ada. Tinggal bagaimana seorang (calon) pemain melakukan pengamatan atau berobservasi, semakin kayalah dia akan pengetahuan tentang kehidupan dan manusia beserta dengan problem-problemnya yang ada. Ini amat bermanfaat karena tersimpan dalam memori (ingatan)-nya.

MODAL KEENAM: EMOSI
Emosi adalah satu hal yang membuat sebuah peran/tokoh/watak yang mati dalam naskah menjadi hidup di atas pentas. Seorang pemain drama harus memiliki kepekaan emosi yang dikarenakan oleh beberapa sebab atau faktor, seperti: pembawaan sejak lahir, lingkungan di mana ia hidup, kedudukan, dan jarang atau tidak pernah dilatih emosinya karena kurang kesempatan. Oleh karenanya, amat penting bagi seorang (calon) pemain menyadari sendiri kepekaan emosi mereka dan memiliki banyak kekayaan batin (emosi).

Ada baiknya seorang (calon) pemain dapat dengan cepat membangkitkan emosi dengan cepat dan dapat mengendalikannya agar sesuai dengan takaran yang dibutuhkan dalam memainkan suatu peran/tokoh/watak.

Memang penonton tidak tahu apa yang dirasakan oleh seorang (calon) pemain terhadap peran/tokoh /watak yang dimainkan di atas pentas. Penonton hanya tahu apa yang dilakukan dan dikatakan oleh seorang (calon) pemain tentang peran/tokoh/watak yang dimainkan. Tugas seorang (calon) pemainlah untuk menjadikan penonton tahu apa yang dirasakan, dipikirkan, dan dilakukannya di atas panggung.

Pengalaman selama ini menunjukkan ketidakmampuan (calon) pemain dalam mengekspresikan dan mengutarakan emosinya di atas panggung dikarenakan kurang terlatihnya tubuh dan suara. Namun, yang sering terjadi adalah pengutaraan dan peng-ekspresi-an emosi-emosi cenderung dibuat-buat, klise dan tiruan.

Seorang (calon) pemain dalam beracting harus mendapat dorongan emosi yang timbul dari motivasi peran/tokoh/watak yang dimainkan dari dalam (linear -- action). Bukan dengan teknik-teknik tubuh dan suara yang akan menyebabkan acting menjadi mekanis (external-action).

Bermain drama lebih diarahkan kepada kebenaran dan kejujuran. Artinya seorang (calon) pemain dalam bermain di atas pentas dapat merasa, berpikir dan bersikap sesuai dengan peran/tokoh/wataknya.

Apabila (calon) pemain sudah bermain "dari dalam" (linear action), maka dalam mengutarakan dan mengekspresikannya diperlukan takaran yang sesuai, jangan sampai berlebihan, karena bisa mengurangi intensitas yang hendak dicapai (oleh pe-ngarang dan sutradara) dalam suatu adegan.

MODAL KETUJUH: PIKIRAN
Kecerdasan untuk dapat menangkap dan menafsirkan kata-kata dalam naskah serta untuk menganalisa peran/tokoh/watak amat dibutuhkan seorang(calon) pemain.

Tetapi tingkat kecerdasan setiap orang berbeda. Bagi yang merasa dirinya kurang, seorang (calon) pemain harus lebih mawas diri. Dia harus segera menutup kekurangannya itu dengan banyak membaca buku, mendengarkan pikiran-pikiran baru, bergaul dengan orang-orang yang pintar dan cerdas dalam bidangnya, sering berdiskusi, bertukar pikiran, banyak menyaksikan pementasan-pementasan drama dan memberikan ulasan serta kritik (berikut argumentasinya) terhadap apa yang disaksikannya.

PENUTUP
Ketujuh modal bukan barang jadi. Mereka harus diolah dan digarap untuk menghasilkan suatu karya yang gemilang. Tidak ada metoda atau cara lain untuk itu, kecuali berlatih dan berlatih. Untuk berlatih diperlukan kemauan yang keras, disiplin besi dan rasa percaya diri.

Memiliki bakat saja tidak cukup. Anggapan bahwa bakat bisa melicinkan jalan tidak selalu benar. Masih banyak faktor lain yang perlu mendapat perhatian (dengan latihan untuk penggarapan) guna menunjang bakat tersebut.

Seperti bidang dan pekerjaan lain, bermain drama tidak akan menghasilkan apa-apa (material apalagi kepuasan batin) tanpa pengorbanan dan kesetiaan dari para pelaku-pelakunya.


Oleh: Tony "Qentier" Tanuwijaya, Mahasiswa S-1 JurusanTeater IKJ dan pembina Ekstra kurikuler Drama SLTPK VII dan SMUK I.

print this page Print