Showing posts with label Fotarisman Zaluchu. Show all posts
Showing posts with label Fotarisman Zaluchu. Show all posts

Saturday, May 4, 2013

"ADA APA DENGAN CINTA", FENOMENA GENERASI POSMO

print this page 
By : Fotarisman Zaluchu

Perhatian kita beberapa waktu belakangan ini sejenak terbelokkan oleh interupsi yang menarik. Dari pemandangan yang memiriskan menyaksikan ibukota negara dan warga Jakarta dilanda oleh banjir, konsentrasi kita beralih kepada hadirnya film berbau remaja: Ada Apa Dengan Cinta (AADC).
Wajar kita heran, karena pada minggu-minggu pertama diputar di bioskop-bioskop kelas atas, film ini sudah banjir penonton. Untuk bisa memperoleh karcis masuk, kita harus mengikuti antrean penonton, yang umumnya remaja. Apakah fenomena ini mengandung arti bahwa film ini berhasil menyampaikan makna tertentu? Ataukah ada sesuatu yang sedang terjadi pada remaja kita di sini, sehingga mereka merelakan berdesak-desakan hanya untuk menyaksikan film berdurasi 120 menit ini?
Kreatif atau Destruktif?
Film ini jelas berhasil masuk ke dalam segmentasi pasar potensial yang sangat tepat, yaitu remaja. Padahal, tema film ini sebenarnya biasa saja, yaitu kisah "cinta" yang dibumbui persahabatan (atau sebaliknya). Adalah Cinta, yang memiliki empat orang sahabat. Mereka kemana-mana selalu bersama, termasuk dalam aktivitas intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Sayangnya, persahabatan mereka terancam, oleh karena Cinta jatuh cinta pada Rangga, seorang siswa yang unik. Rangga cukup pintar-sehingga bisa pindah bersekolah ke luar negeri-tetapi sayangnya sangat pendiam dan kaku.
Tetapi di situlah konflik dalam film ini terbangun. Visualisasi masalah suka sama suka, marah-marahan, salah pengertian, persoalan keluarga, kepergian Rangga ke luar negeri, sampai akhirnya film ini berakhir dengan klimaks yang sangat klise: romantisme perpisahan di Bandara, dengan sangat baik dibangun.
Freud, seorang pakar psikoseksual, seperti dikutip oleh Konseng A (1995) pernah menjelaskan bahwa seiring dengan perkembangan dimensi genital (perkembangan organ reproduksi), seorang remaja akan mengalami perkembangan dimensi afektif berupa perasaan-perasaan kemesraan, kehangatan, keterharuan, perasaan kasihan, perasaan sepenanggungan dan sependeritaan; berisikan hubungan dan sikap emosional antara suami-isteri, orangtua-anak serta antara sahabat.
Film ini dengan sangat kreatif berhasil membangun tema ini. AADC sesungguhnya sama saja dengan film-film bertema remaja bertema percintaan lainnya. Hanya saja, film ini justru hadir tepat ketika kondisi psikologis remaja kita sedang mengalami kebosanan terhadap apa yang telah mereka jalani selama ini. Remaja-remaja perkotaan kita saat ini sedang dilanda oleh krisis yang dipicu oleh meningkatnya intensitas kenakalan di keluarga, pergaulan bebas serta pemakaian obat-obatan terlarang. Akibatnya, meskipun mereka menemukan kenikmatan sesaat, terjadi kejenuhan dan keinginan untuk mencari sesuatu cara "baru" untuk memahami dirinya. Film ini adalah salah satu dari caranya untuk menemukan dirinya sendiri.
Semakin vulgarnya tema-tema remaja dengan percintaannya diangkat ke layar lebar disertai dengan visualisasi yang semakin kreatif sebenarnya cukup mengkhawatirkan. Perubahan perilaku yang muncul melalui citra, biasanya akan lebih mudah dikomunikasikan, dibandingkan dengan hanya mendengar saja. Remaja, yang sering disebut sebagai masa turbulensi dan demanding, justru sedang berada dalam tahap membangun citra diri (self image). Di saat-saat demikian, ia akan mencari dan menemukan keberadaan dirinya dari lingkungannya, termasuk salah satunya dari film-film.
Sayangnya, tanpa perhatian dan kontrol yang baik, pengaruh film justru lebih banyak berdampak ke arah perilaku yang negatif. Beberapa kasus membuktikan bahwa perkosaan remaja dan hubungan seks bebas, justru dilatarbelakangi oleh tontonan-tontotan cabul yang kini dapat dengan mudah mereka peroleh. Penelitian di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Yogyakarta, Medan, dan Denpasar menunjukkan bukti bahwa di kalangan remaja telah terjadi revolusi dalam hubungan seksual menuju ke arah liberalisasi tanpa batas. Salah satu penyebabnya menurut saya adalah karena citra yang dibangun melalui film-film kita.
Film AADC berhasil menciptakan ide percintaan justru dengan citra yang kurang baik untuk menjadi bahasa komunikasi bagi remaja. Kita tidak tahu sekolah mana yang mengijinkan murid-muridnya tidak beratribut lengkap dan bermode pakaian dan rambut urakan ke sekolah? Ataukah orangtua mana yang mengijinkan anaknya melakukan ciuman di tengah keramaian umum semacam Bandara Soekarno-Hatta? Sudah sedemikian parahnya nilai-nilai (value) perilaku yang dimiliki oleh remaja kita di Indonesia?
Sifat destruktif film ini terhadap kehidupan moralitas seakan menegaskan menguatnya fenomena generasi posmo. Generasi posmo adalah mereka-mereka yang lahir dan dibesarkan dalam suasana yang mapan, makmur dan mewah. Bergaya fungky dan enggan dikekang, mereka bergaul bebas dan tidak mau terikat pada peraturan. Segala sesuatu di-cuekin, yang penting semuanya semau gue. Bahkan untuk melengkapi kehidupan sosial mereka, generasi ini punya bahasa gaul tersendiri. Yang tulalit-lah, yang be-te-lah, dan lain sebagainya. 

MENIMBANG SEJARAH TUHAN

print this page 
By : Fotarisman Zaluchu

Apa yang akan anda lakukan kalau suatu ketika anda berhadapan dengan kenyataan bahwa agama yang anda percayai selama bertahun-tahun, ternyata hanyalah sebuah produk seni dari jamannya? Atau, bagaimana reaksi anda kalau sekiranya yang anda sebut sebagai Tuhan itu, hanyalah "Tuhan" yang merupakan figur kabur yang berasal dari imajinasi kreatif manusia biasa? Dan bagaimana pula kalau akhirnya dalam keteguhan iman percaya anda selama ini, anda pada akhirnya menemukan bahwa aturan-aturan keagamaan yang anda lakukan, justru membawa anda dalam kekeringan rohani, kekaburan makna dan tujuan hidup, serta ketakutan-ketakutan pada Tuhan?
Setidaknya bagi Karen Armstrong, Tuhan hanyalah sebatas persepsi-yang kebetulan telah bertahan 4000 tahun lamanya, dan agama hanyalah sebuah realitas yang justru lebih banyak gagalnya dalam mendeskripsikan keberadaan Tuhan itu sendiri. Bagaimana tidak, Armostrong belajar dari pengalamannya sendiri. Sejak kecil, ia sudah "beragama", tetapi imannya justru tidak memadai untuk menjawab keragu-raguannya. Tuhan terasa jauh, katanya. Maka pada usia 17 tahun, ia "mencoba mencari" Tuhan dengan memasuki lingkungan biara. Nyatanya, waktu 7 tahun menjadi sia-sia. Apa yang disebut sebagai tata ibadah keagamaan yang ketat, justru semakin membawanya kepada kekosongan makna akan Tuhan. Rutinitas doa, puasa, pengekangan diri, hanyalah membawanya pada sosok Tuhan yang kering, kabur dan arogan. Maka, dari pengalaman yang penuh dengan sensasi batiniah itulah, Armstrong menulis buku Sejarah Tuhan (Mizan, 2001). Buku itu, tulisnya, adalah bahasan yang komparatif mengenai sejarah persepsi umat manusia tentang Tuhan sejak era Ibrahim, hingga hari ini.
Apakah Armstrong salah, bahkan kalau ia menyebut diri sebagai penganut freelance monotheist? Tergantung dari sudut mana kita memandang. Tetapi yang pasti, tesisnya Armstrong bagai suara nabiah yang berbicara dengan keras pada umat manusia; secara khusus di Indonesia yang terkenal taat beragama dan kini hidup dalam konflik agama yang berkepanjangan dan berdarah-darah!
Konflik atas nama Tuhan adalah suatu kenestapaan ketika akhirnya "Tuhan" yang dibela mati-matian itu tidak lebih dari produk ide. Maka apa jadinya manusia di Maluku, di Sulawesi, di mana-mana di tanah air ini, ketika mereka saling beradu nyawa atas nama dan demi agamanya, padahal "agama" yang dibela itu suatu saat akan berlalu, digantikan oleh ide lain? Apa jadinya istilah "jihad" atau "dalam nama Tuhan", ketika pada akhirnya "Tuhan" itu sendiri hanyalah sebuah citra yang dibentuk oleh generasi demi generasi, sesuai dengan kebutuhannya?
Armstrong juga tidak salah ketika ia secara retorik menanyakan, adakah masa depan bagi Tuhan? Bagi Armstrong, sekarang ini, terdapat suatu "ruang kosong" di hati manusia untuk mencari Tuhan yang pernah ada. Dan di tengah-tengah konflik peradaban yang terwujud dalam dua sisi-sisi pertama: kemiskinan, kelaparan, kematian, duka lara, dan aneka kematian nurani, dan sisi kedua: materialisme, kapitalisme, egoisme dan aneka dehumanisasi-manusia mengisinya dengan persepsi mereka tentang Tuhan.
Maka wajar saja, sekarang ini kita melihat kenyataan pahit bahwa manusia mencari Tuhan seolah tergantung pada musimnya. Ketika ada hari besar keagamaan, biasanya "Tuhan" begitu populer. Ia, dicari, diburu, diucapkan, dibeli, bahkan dikirimkan dalam kartu dan parcel. Rumah-rumah ibadah penuh dengan mereka-mereka yang "haus" akan suara Tuhan. Dan para penyiar serta penyair begitu laris manis. Semua seperti berbicara mengenai suatu simfoni mengenai Tuhan. Tuhan itu Besar. Tuhan itu Baik. Tuhan itu Kasih. Tuhan itu Segalanya.
Lalu, ketika musim "kerohanian" berlalu, manusia tenggelam dalam "Tuhan" yang lain, yang memang tidak mungkin tidak kita sebut sebagai "Tuhan". Toh Tuhan adalah fokus hidup, tulis Armstrong.
Persoalan mengenai "Tuhan" ini pun dapat meluas. Ia, dapat menyangkut problema moralitas kita sebagai bangsa. Sebagai bangsa yang secara legal formal meyakini akan adanya Tuhan yang Esa, kita berada dalam kebimbangan mengenai pengaruhnya dalam kehidupan bernegara.
Kalau benar kita memang ber-Tuhan (dalam pengertian Allah-nya agama Yahudi, Kristen dan Islam) dan itu diyakini dengan baik, kenapa masih ada para koruptor yang menjarah uang negara, para politisi picik yang haus kekuasaan, serta para birokrat yang bermental tuan? Bukankah itu pertanda bahwa beragama jelas bukan jaminan? Kalau begitu, seperti Armstrong, adakah masa depan bagi Tuhan? 

BUDAYA LEX TALIONIS

print this page 
Sudah sejak lama, peradaban manusia diilhami oleh prinsip-prinsip pembalasan yang berbau kekerasan. Peradaban manusia, hidup dari pernyataan "mata ganti mata, gigi ganti gigi" (eye for eye, and tooth for tooth) yang selama berabad-abad lamanya seolah menjadi solusi dari segala persoalan.
AS, menuntut pembalasan atas perlakuan teroris-dalam hal ini sebagai tersangka adalah Osama dan Taliban-sementara Afganistan merasa berhak membela diri dan membalas perlakuan tidak adil dari AS. Di Jerusalem dan jalur Gaza, Israel membalas menyerang Palestina, karena membalas pembunuhan-pembunuhan yang terjadi pada politisinya. Sementara Palestina, merasa berhak melawan dan juga kalau perlu membunuh, karena mereka sudah cukup banyak kehilangan warganya.
Lex talionis (prinsip pembalasan) memang kejam. Di dalam negeri, pada Mei 1998, ada aksi massa yang membakar toko dan memperkosa, serta membunuh warga keturunan. Massa itu, merasa punya hak untuk melakukan itu semua, sebagai balasan pada mereka yang menguasai sektor ekonomi. Di Kalimantan, warga pendatang dibunuh dan diusir, karena warga asli merasa tertindas dan selama ini tertekan hidupnya. Mereka merasa lebih berhak untuk hidup di tanah mereka sendiri.
Dimana-mana, pembalasan-pembalasan menjadi sesuatu yang biasa terjadi. Hari ini ada maling dibakar oleh massa sebagai balasan atas kelakuannya. Dan esok hari, entah pembalasan apa yang akan terjadi!
Sama seperti demikianlah yang terjadi belakangan ini. Di Amerika, ada tuntutan untuk membalaskan kematian ribuan jiwa di bawah reruntuhan WTC. Dan di berbagai belahan dunia, semisal di Indonesia, ada tuntutan massa untuk membalaskan perlakuan AS terhadap warga Afganistan. Lex talionis.
Kebudayaan yang dibangun di atas lex talionis memang akan selalu membawa umat manusia ke dalam kancah kekerasan demi kekerasan yang sering sekali bersimbahkan darah, termasuk darah manusia itu sendiri. Lex talionis akan selalu meminta tuntutan-tuntutan berikutnya dari sebuah pembalasan. Maka pembalasan adalah warna manusia di abad modern ini.
Bagaimana dengan Indonesia? Secara konseptual, Indonesia adalah negara modern yang dibangun di atas prinsip saling menjunjung tinggi keberadaban manusia. Ketika Indonesia disusun oleh para pendiri negara ini, suasana yang ada adalah suasana yang tidak berbau balas dendam terhadap penjajah.
Sebaliknya, Soekarno, Hatta, Soepomo, atau yang lainnya, meskipun pernah merasakan betapa pahitnya menjadi bangsa jajahan, dan juga pernah merasakan akibat dari penjajahan itu sendiri, semisal dibuang, dikejar, disiksa, bahkan diperlakukan tidak manusiawi, justru memilih kata-kata yang beradab ketika menyusun asas-asas negara RI.
Maka Indonesia sebenarnya, adalah satu negara yang merdeka, dan berkehendak untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial demikian alinea keempat mereka tuliskan dan wariskan sampai sekarang.
Ketertiban dunia, memang sedang berada di ujung tanduk kekerasan. Dimana-mana, penghargaan terhadap kemerdekaan bangsa lain berada di titik nadir. Sebagai contoh, dunia melihat bagaimana Israel-atas dukungan AS-dengan semena-mena mengobrak-abrik Palestina dengan kekejaman dan kekerasan bersenjata yang sering mengorbankan warga sipil yang justru tidak berdosa. Dan sayangnya, PBB justru tidak mampu berbuat apa-apa.
Bukan hanya itu, perdamaian yang abadi barangkali hanya akan menjadi impian kosong. Saat ini, setiap negara hanya membangun hubungan-hubungan yang hanya mempertimbangkan keuntungan dan kepentingan semata; sebaliknya bukan membangun ketulusan hubungan kenegaraan yang menginginkan perdamaian setulus-tulusnya. Kita masih ingat kalau Taliban yang diperangi oleh AS ini adalah Taliban yang dulu pernah mereka dukung ketika negara itu melawan Uni Sovyet. Bukankah mustahil mengharapkan dunia yang bebas kepentingan?
Dunia sekarang ini pun sedang berada dalam "dunia yang didominasi Utara". Negara-negara Barat adalah negara-negara dengan teknologi plus modal yang kuat dan maju, sementara persis di belahan sebaliknya, milyaran penduduk negara-negara kecil dan miskin, hidup dari utang-utang dan belas kasihan negara-negara donor. Bagaimana kita mencermati ketimpangan semuanya ini? Bagaimana kita bisa mengharapkan keadilan sosial jika negara-negara Barat justru lebih banyak mendikte dan mengekspoitasi negara-negara terbelakang?
Bagaimana dengan penerapan konsep nilai-nilai luhur kemanusiaan itu di Indonesia, setelah 56 tahun kemerdekaan? Sayangnya, tidak sejalan. Kita patut prihatin bahwa Indonesia pun adalah "school of lex talionis" yang paling baik. Dimana-mana ada kekerasan. Dimana-mana ada aksi dendam dan balas-membalas. Dimana-mana ada manusia yang membunuh dan dibunuh secara sia-sia. Hari ini orang lain, besok mungkin anda sendiri.
Indonesia, sampai kapankah terus begini? 

Belajar dari Alam

print this page 
Ingat lagunya Ebiet G Ade yang salah satu liriknya berakhiran dengan kalimat: coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang? Lagu tersebut cukup membangkitkan kembali pemikiran ke arah pembelajaran yang sesungguhnya, yaitu bahwa dunia (baca : alam) ini adalah tempat kita belajar, sekaligus mencoba mengajukan argumentasi bahwa alam barangkali adalah jawaban terakhir dari kebingungan manusia menjalani kehidupannya yang semakin rumit. Ringkasnya, kita harus belajar dari alam untuk menjadi manusia yang sesungguhnya.

Dalam buku Environment and Society, dikutip satu syair dari suku Indian di Pasific Northwest, yang terjemahannya kira-kira sebagai berikut :
"Engkau harus mengajarkan anak-anakmu bahwa tanah yang dipijak oleh kakiknya adalah debu dari nenek-moyangnya, dngan demikian mereka akan menghargai tanah itu. Katakan pada mereka bahwa bumi ini diperkaya oleh hidupnya keluarga kita. Ajarkan pada mereka bahwa bumi ini adalah ibu kita. Apa yang menimpa bumi, menimpa pada anak-anaknya bumi itu. Bahkan jika kita meludahi tanah itu, kita meludahi diri kita sendiri.
Ini yang kami ketahui : bumi bukanlah milik manusia; manusialah milik bumi. Ini yang kami ketahui : segala sesuatu berhubungan seperti darah yang menyatukan satu keluarga. Segala sesuatu berhubungan adanya….
Apa yang terjadi pada bumi, terjadi pada anak-anak bumi ini. Manusia tidak dapat menenun jaring-jaring kehidupan ini; manusia hanyalah salah satu untaiannya. Apa yang terjadi dilakukannya pada jaring itu, dia melakukannya pada dirinya"
Syair lagu Ebiet dan ungkapan-ungkapan dari suku Indian di atas, adalah kenyataan yang perlu kita renungkan kembali dalam hubungan dengan kehidupan sebagai manusia pembelajar. Menjadi manusia yang berubah dalam kualitas kemanusiannya adalah manusia yang mampu melihat bahwa alam juga adalah "dunia" dimana dirinya dapat mempelajari banyak arti kehidupan.
Apa yang diajarkan oleh alam pada kita? Pertama: Harmonisasi kehidupan. Di alam, kita belajar bahwa dengan keanekaragaman yang begitu banyak dari spesies yang ada-bervariasi dari 2 juta sampai 100 juta spesies-kita melihat suatu keharmonisan kehidupan. Kita dapat melihat bagaimana alam menyimpan variasi makhluk hidup (dari jumlah, jenis, ukuran, dan keragaman kehidupan), dalam satu "atap" yang disebut alam semesta. Harmonisasi demikian begitu luar biasanya sehingga tidak satupun spesies yang dapat hidup tanpa membutuhkan spesies lainnya-sampai manusia kemudian mulai dan terus menerus merusaknya.
Harmonisasi kehidupan ini memberikan pelajaran berharga kepada kita: bahwa hidup hanya akan menjadi kehidupan yang berarti jika ditempatkan dibawah keharmonisan. Setiap manusia harus belajar apa artinya menjadi manusia yang menghargai satu sama lain, bertanggung-jawab satu sama lain, dan membangun kehidupan yang saling pengertian satu sama lain. Dan kehidupan yang satu sama lain saling membutuhkan itu dapat diperoleh dari alam.
Kedua: keindahan yang sejati. Anda pernah menelusuri Danau Toba? Atau berjalan-jalan ke Pantai Lagundri di Pulau Nias? Atau mandi air panas di Sipoholon-Tapanuli Utara? Atau panjat teping di tengah gemuruh air terjun di Painan, Sumatra Barat? Alam menyediakan begitu banyak keindahan, tersusun dalam komposisi yang menggetarkan sentimen sense keindahan sebagai manusia, dan membangkitkan decak kekaguman akan hidup.
Manusia yang sadar akan jebakan kepura-puraan keindahan artifisial berupa polesan di tubuh, aksesoris dan kamuflase, belajarlah bahwa keindahan yang paling utama itu didapatkan dari ungkapan yang alami, bukan dari apa yang dipakai. Manusia yang bosan hidup dalam rutinitas aktivitas dunia yang melelahkan, belajarlah bahwa alam ini mengajarkan nilai hidup yang sejati, yaitu pada sesuatu yang mampu membangkitkan sense kemanusiaan. Alam mengajarkan bahwa keindahan yang sejati lahir dari kesederhanaan dan kepolosan. Alam semesta adalah tempat kita belajar apa artinya menjadi manusia yang menghargai keindahan keragaman, keindahan kesatuan, keindahan kerjasama, keindahan tolong-menolong; sebaliknya, kita harus berduka-cita terhadap kekerasan, kekejaman, keserakahan, dan variasi sifat manusia yang kontra nilai-nilai keindahan.
Ketiga: arti hidup manusia. Sesungguhnya, alam begitu berbaik hati untuk "menyimpan" manusia dalamnya. Setiap hari, alam begitu sabar menanggung perlakuan-perlakuan manusia : perusakan, ekploitasi berlebihan, penghancuran ekosistem, dan sejumlah aktivitas yang dilakukan di alam ini.
Pada awalnya semua biasa-biasa saja, sampai kemudian segala sesuatu harus dijelaskan oleh alam pada manusia. Manusia butuh pelajaran akan keterbatasan kehidupan, maka alam memberikan gempa bumi yang menelan jiwa. Manusia butuh pelajaran akan perlunya pengendalian nafsu keserakahan, maka alam memberikan banjir dan tanah longsor. Manusia butuh diberikan pelajaran mengenai keterbatasan "alam", maka alam memberikan bencana kelaparan dan kegagalan panen. Semuanya sebenarnya merupakan "keluhan alam" yang disampaikan dengan "suara-suara" alami.
Tetapi manusia tidak juga belajar dari suara alam itu. Manusia tidak belajar bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini terbatas adanya. Manusia tidak mau belajar dari alam bahwa kehidupan ini harus diisi dengan penuh arti-karena hanya sekali. Manusia terus bergerak menurut keinginannya seolah-olah dunia ini adalah miliknya. Dan alam juga pasti akan terus "berbicara" pada manusia tentang arti hidup manusia. Apakah manusia akan mendengarnya? Diperlukan manusia-manusia pembelajar.
Dari uraian di atas, maka kita sewajarnya belajar pada alam. Mengutip kembali syair Indian di atas : Manusia tidak dapat menenun jaring-jaring kehidupan ini; manusia hanyalah salah satu untaiannya. 

Pemimpin: Di Depan, Bukan di Atas

print this page 



Pemimpin "di atas" menggunakan hanya jari telunjukknya untuk menyatakan "kerjakan", sementara pemimpin yang "di depan" menggunakan seluruh jari tangannya untuk menyatakan "mari kita lakukan". Pemimpin "di atas", menggunakan seluruh jari tangannya untuk "memukul", sementara yang "di depan" menggunakan seluruh jari tangannya untuk "mengajak". Pemimpin "di atas" menggunakan tangannya untuk "mematahkan", sementara pemimpin "di depan" menggunakan tangannya untuk "menyatukan". Pemimpin yang "di atas", menggunakan jempolnya untuk memuji sementara keempat jemari lainnya terarah kepadanya, sementara pemimpin yang "di depan" menggunakan kelima jarinya untuk "menarik" dan "mendorong".
Begitulah. Menjadi pemimpin yang "di depan", memang tidak gampang. Yang berada di depan berarti bersiap untuk dinilai oleh yang dibelakang. Tetapi pada saat yang sama, juga harus menjadi pedoman bagi yang di belakang. Di Skotlandia, bebek-bebek (terbang) biasanya hijrah ke Selatan. Mereka terbang melintasi perjalanan bermil-mil jauhnya, dan membentuk formasi untuk memudahkan perjalanan. Untuk itu, mereka menempatkan seekor bebek pemimpin di depan, bukannya di belakang, terlebih bukan di atas.
Pemimpin memang bukan bebek yang hanya bisa membebek. Tetapi bebek bisa menjadi pelajaran. Bahwa pemimpin yang berada di depan memang harus bisa menjadi panutan. Menjadi panutan, yang mampu mengarahkan, memberi pedoman, termasuk mengetahui kondisi yang dibelakang.
Bagi bangsa sebesar kita, menjadi pemimpin yang "di depan", memang akan sangat sukar. Bukan hanya karena memang tidak credible untuk menjadi yang "di depan", tetapi karena ada lebih banyak orang yang memilih untuk "di atas". "Di atas", lebih gampang, dan lebih berkuasa. Menjadi yang "di atas", penuh dengan kekaguman yang memabukkan. Sementara kalau berada "di depan", jangan harap mendapatkan pujian. Wong tidak akan ada yang mendongakkan kepala, lalu bertepuk tangan. Bahkan mustahil menunggu orang-orang standing ovasion kepada kita. Maka jadilah kita bangsa yang besar, tanpa pemimpin.
Bukan hanya itu. Kesulitan mencari pemimpin yang "di depan" juga terjadi karena tidak ada tempat bagi yang "di depan". Yang ada hanyalah tempat bagi orang-orang yang "di atas". Dalam suatu organisasi, CEO yang berada "di atas" menjadi idaman dan cita-cita. Medali emas, perak dan perunggu tersedia bagi mereka yang pelan-pelan naik, naik, dan naik hingga berada "di atas". Betapa akan sangat berbahagianya melihat kita merintis karier pelan-pelan, lalu mencapai posisi puncak. Indonesia, sama saja. Jabatan-jabatan puncak, yaitu yang "di atas", adalah kejaran yang harus dicapai dengan jalan apapun, termasuk yang tidak halal. Yang inkonstitusional, bahasa hukumnya. Yang penting "ke atas".
Menjadi manusia pembelajar berarti belajar berada "di depan". Saya teringat dengan kata-kata yang dulu-sewaktu SD-sudah saya tahu dan hafal. Ing ngarsa sung tulodo. Kira-kira artinya: yang di depan memberi teladan. Apakah kita kesulitan mencari pemimpin yang berada "di depan" karena kita tidak bisa menjadi teladan? Apakah menjadi teladan begitu sukarnya?
Benar. Berada "di depan", memang begitu sukar. Bersiap-siap menolong mereka yang kelelahan dalam perjalanan hidup ini, mengulurkan tangan bagi mereka yang membutuhkan bantuan, mendorong mereka yang lemah, bahkan mengangkat mereka yang terluka. Berada "di depan" juga harus merelakan diri untuk menunggu, kalau perlu membiarkan mereka yang berada di belakang melepas dahaga, barulah meneruskan perjalanan. Bagi mereka yang berada "di depan", hidup ini bukanlah tujuan, tetapi memberi arti hidup adalah tujuan yang harus dikedepankan.
Berada "di depan". Kalau saja semuanya berkehendak berada "di depan", maka siapa yang akan di belakang? Tiada lagi. Karena semuanya sudah "di depan". Tidak akan ada lagi yang perlu diatur, karena semuanya sudah bisa mengatur, bahkan menjalankan. Tidak akan ada lagi yang perlu ditunggu. Karena semuanya sudah maju bersama.
Kalau saja saya diberikan kesempatan untuk berbicara kepada semua pemimpin bangsa di dunia mengenai filosofi kepemimpinan, maka saya akan maju ke depan-benar-benar ke depan-lalu berkata : mari ikut saya "ke depan".
Saya harap tulisan ini membawa pemikiran kita "ke depan", bukan "ke atas" (lagi).

SELF PURIFICATION SEJARAH

print this page 
Berkali-kali sejarah menunjukkan kepada kita bahwa ia akan selalu memberikan pelajaran kepada manusia. Sejarah, selalu membuktikan kepada kita bahwa ia akan membersihkan diri dari dari segala kebohongan yang memanipulasi kejadian sejarah. Akan selalu ada adagium yang tepat benar: ketika kebohongan semakin menjadi-jadi, maka kebohongan akan meruntuhkan dirinya sendiri. Tidak pernah ada perjalanan sejarah yang bertahan dari self purification (pemurnian sendiri) oleh sejarah ini.
Beberapa tahun yang lalu, Hitler menggunakan kebohongan-kebohongan untuk menutupi kejahatannya. Secara sistematis, mereka-mereka yang menjadi perpanjangan tangannya menyuarakan suara-suara manipulasi, dan menjelaskan dan menuliskan sejarah versi mereka. Maka dimana-mana Hitler mendapat tempat, pujian dan kehormatan.
Sayangnya, manipulasi sejarah tidak dapat dipertahankan. Sejarah membuktikan sendiri "perjalanan" yang sebenarnya. Oleh karena kebohongan-kebohongannya tidak dapat lagi dikendalikan, Hitler terperosok ke dalam self purification sejarah. Dari yang dipuja, kini dihujat. Dari yang "membentuk", kini tidak lebih dari seorang penjahat yang dikutuk dunia.
Kita juga pernah mengalami self purification sejarah. Mulanya Orde Baru hadir dengan janji mengenai kemakmuran dan kesejahteraan. Ada sejarah yang mengalir dari tangan mereka: Indonesia yang adil dan makmur. Di mana-mana pembangunan digalakkan. Wajah Indonesia dijadikan ramah dan rajin. Ekonomi meningkat, beras melimpah, uang beredar terkendali. Dan era tinggal landas sudah di depan mata bangsa Indonesia.
Sayangnya, semuanya hanya utopi yang penuh dengan kebohongan. Sejarah, lagi-lagi tidak dapat terus menerus berada di muka penuh kebohongan penguasa. Orde Baru kebablasan. Kebohongan demi kebohongan terungkap. Sejak dari awalnya, kritik di alamatkan kepada penguasa. Tetapi semuanya ditampik. Sampai akhirnya ketika semua kebohongan tidak dapat lagi ditutup-tutupi. Orde Baru terkoyak dan terbukalah jalan bagi self purification sejarah.
Dan yang lebih disayangkan lagi, hari-hari ini kita menyaksikan kebohongan-kebohongan semakin meraja-lela, seolah tidak pernah belajar dari kejadian sejarah di masa lalu. Para petinggi negara, pejabat negara yang seharusnya menjadi panutan, mengembangkan permainan yang memanipulasi sejarah, termasuk kebohongan kepada publik. Alibi demi alibi disusun. Mulai dari diri sendiri, keluarga, pengikut, bahkan pengacara "pesanan" pun ikut-ikutan bohong. Mata kita dipoles oleh sumpah mereka atas nama Tuhan. Sayangnya, kebohongan (pasti akan) terungkap dengan jelas.
Haruskah kita selalu menunggu self purification dari sejarah? Mengapa kita tidak pernah belajar bahwa kebohongan selalu digantikan oleh hujatan dan cercaan perjalanan sejarah?
Manusia modern, sepertinya telah kehilangan kemampuan untuk berpikir. Corgito ergo sum, kata Descartes suatu ketika. Dan kelihatannya pikiran-pikiran manusia sudah kehilangan kemampuan untuk belajar, bernalar, dan memikirkan kejadian-kejadian yang telah lalu, yang berupa rangkaian sejarah. Pikiran-pikiran manusia, sudah tidak mampu lagi memikirkan mengenai adanya "teguran-teguran sejarah" di masa lalu. Manusia, tidak mampu bercermin dari kehidupan para pembohong di masa lalu. Dan bukan hanya itu, manusia bahkan kehilangan kemampuan untuk memikirkan kelayakan, kebenaran, kepatutan, bahkan keindahan sama sekali.
Manusia kehilangan sesuatu yang sangat berharga dari dirinya: pikirannya. Manusia kehilangan sesuatu yang membuatnya berbeda dari dunia binatang: rasionalitas.
Maka, alangkah wajarnya, ketika manusia tidak mampu berpikir lagi, sejarahlah yang akan mengambil alih segalanya. Self purification dari sejarah, akan mengatur dan membawa manusia ke dalam fakta nyata, yaitu bahwa kebohongan (manusia) akan selalu diungkapkan oleh sejarah.
Selamanya. 

SOCRATES DAN KISAH KEMARAHAN KITA

print this page 
          Apa gunanya kaum intelektual yang terpelajar? Di Athena, lebih dari 2000 tahun yang lalu, seorang intelektual di jamannya menjawab dengan caranya sendiri. Namanya Socrates. Setiap hari ia bangun pagi, dan menghabiskan waktunya dengan berdiskusi. Di pasar, di gimnasium, di bengkel-bengkel, atau di palaestra, serta tempat-tempat ramai lainnya, Socrates selalu berada di sana. Ia berbicara mengenai dialektika kehidupan: tidak ada yang pasti.
Socrates adalah tokoh yang tidak pernah puas dengan kemapanan. Kebenaran yang telah diterima luas oleh masyarakat Yunani, digugatnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan filsafatis. Sudut pandang sesuatu kebenaran, dipertanyakan kembali. Bagi Socrates, segala macam jualan di pasar, justru begitu usang dan tak berharga. "Aku tidak memerlukan semuanya itu," ujarnya suatu kali. Dan sambil berfilsafat di tengah-tengah keramaian, Socrates justru menemukan ketenangan jiwa. Socrates tidak anti kemapanan, karena ia justru punya rumah dan harta benda. Ia tidak bicara mengenai perubahan karena ia miskin. Socrates, justru berbicara mengenai peranan seorang intelektual.
Sebagai seorang yang tahu mengenai apa yang ia tahu dan yang ia tidak tahu, Socrates menyadari betul bahwa kebenaran tidak boleh disimpan-meskipun dengan konsekuensi kematian. Ada suatu prinsip yang salah tetapi sering dipegang oleh para cendekia kita saat ini-para profesor, doktor, master, sarjana, dan yang menyebut dirinya intelektual-yaitu ikut arus. Pasar, gimnasium, bengkel-bengkel, atau palaestra punya "arus" sendiri, tapi sayangnya sering tidak mampu digugat dengan kebenaran yang hakiki, karena para inteletual justru "ikut" arus.
Kita punya banyak orang yang mungkin lebih dari Socrates, yang hanya berjubah satu-itu-itu juga, dan yang selalu dipakai di masa saja-serta bertelanjang kaki. Mereka, yang punya gelar-gelar akademis itu, jelas lebih berada dibanding Socrates: hidup mewah dan bergelimang kemajuan iptek. Hanya satu bedanya: Socrates lantang bicaranya.

The Lost Generation

print this page 
        Beberapa waktu yang lalu, akibat terjadinya krisis moneter, beberapa pakar kesehatan mengasumsikan bahwa Indonesia menghadapi bahaya besar, yaitu terjadinya the lost generation.
Generasi yang hilang, istilah yang kemudian meluas dan menjadi perbincangan menarik. Generasi yang hilang adalah istilah yang dikhawatirkan terjadi oleh karena berkurangnya intake (masukan) gizi yang cukup pada kelompok masyarakat yang menurun penghasilannya, sehingga menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk memenuhi kebutuhan gizi yang cukup dan seimbang pada anak-anak (secara khusus balita).
      Menurunnya kualitas zat gizi akan menyebabkan dampak buruk pada pertumbuhan dan perkembangan fisik-mental-intelektual. Suatu saat, 10-20 tahun mendatang, ketika generasi yang kekurangan zat-zat gizi ini dewasa, mereka tidak akan dapat mampu hidup normal dan produktif, sebagaimana seharusnya yang diharapkan sebagai sumber daya manusia. Maka saat itulah the lost generation menunjukkan diri.
Istilah the lost generation barangkali dapat juga diterapkan pada kondisi yang memprihatinkan kita saat ini, tetapi lebih dalam arti yang sebenarnya: generasi yang hilang. Istilah generasi yang hilang adalah ungkapan yang akan membawa kita kepada pemahaman mengenai apa yang sedang terjadi pada generasi muda (baca: remaja) kita saat ini. Mereka benar-benar generasi yang hilang.
Remaja adalah suatu fase dalam kehidupan. Dengan menggunakan batasan WHO, maka seseorang dikatakan remaja dalam batas usia 10-20 tahun. Bahkan lebih jauh ditambahkan bahwa remaja awal berada dalam usia 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20 tahun. Sementara di Indonesia, batasan yang digunakan sama dengan istilah youth (pemuda) yang digunakan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yaitu usia 15-24 tahun.
Kalau kita mencermati dengan baik, maka situasi yang sekarang merupakan gambaran remaja yang sedang berada dalam bahaya generasi yang betul-betul terancam hilang. Kita kini menghadapi remaja-remaja yang sedang berada dalam siatuasi transisi dengan gambaran sebagai berikut :