PC dengan berukuran mini tampaknya sedang "ngetren" belakangan ini. Setelah Intel merilis Compute Stick, banyak produsen yang berlomba-lomba merilis perangkat semacam ini.
Life is short, There is no time to leave important words unsaid.
Showing posts with label LEARNING ARTICLES. Show all posts
Showing posts with label LEARNING ARTICLES. Show all posts
Friday, November 13, 2015
Android Kini Bisa Merekam Adegan Video Game
Google semakin serius menggarap YouTube Gaming miliknya. Kali ini mereka mendukung layanan streaming video itu dengan meluncurkan sebuah fitur perekaman untuk Android.
Pengguna sistem operasi berlogo robot hijau itu bisa mengaksesnya melalui aplikasi Google Play Games yang sudah diperbarui.
Tuesday, February 11, 2014
Cultural Studies
Cultural studies memfokuskan diri pada
hubungan antara relasi-relasi sosial dengan makna-makna. Berbeda dengan
"kritik kebudayaan" yang memandang kebudayaan sebagai bidang seni,
estetika, dan nilai-nilai moral/kreatif, cultural studies berusaha mencari
penjelasan perbedaan kebudayaan dan praktek kebudayaan tidak dengan menunjuk
nilai-nilai intrinsik dan abadi (how good?), tetapi dengan menunjuk seluruh
peta relasi sosial (in whose interest?).
Wednesday, July 3, 2013
Fashion dan Identitas
Dalam masyarakat modern, semua manusia
adalah performer. Setiap orang diminta untuk bisa memainkan dan mengontrol
peranan mereka sendiri. Gaya pakaian, dandanan rambut, segala macam asesoris
yang menempel, selera musik, atau pilihan-pilihan kegiatan yang dilakukan,
adalah bagian dari pertunjukan identitas dan kepribadian diri. Kita bisa
memilih tipe-tipe kepribadian yang kita inginkan lewat contoh-contoh
kepribadian yang banyak beredar di sekitar kita—bintang film, bintang iklan,
penyanyi, model, bermacam-macam tipe kelompok yang ada—atau kita bisa
menciptakan sendiri gaya kepribadian yang unik, yang berbeda, bahkan jika perlu
yang belum pernah digunakan oleh orang lain.
Anthony Synott (1993) berhasil memberikan penjelasan yang bagus tentang
rambut. Dalam beberapa hal, rambut tidak sekedar berarti simbol seks penanda
laki-laki dan perempuan. Ia juga simbol gerakan politik kebudayaan tertentu.
Menurutnya, model rambut yang berbeda menandakan model ideologi yang berbeda
pula. Tahun 50-an yang membawa iklim pertumbuhan dan kemakmuran di Amerika ikut
menghembuskan kebebasan ekspresi individual baru termasuk jenis model rambut
baru. Model rambut yang dibentuk menyerupai ekor bebek menjadi sangat populer
saat itu. Tokoh-tokoh utama jenis rambut ini adalah Elvis Presley dan Tony
Curtis. Setelah itu berlangsunglah era model rambut beatnik look yang
dipelopori oleh James Dean dan Marlon Brando.
DASAR-DASAR BERMAIN DRAMA
Sesuai dengan judulnya, maka tulisan ini
hanya membatasi diri kepada persoalan dasar-dasar bermain drama dengan mengupas
modal dasar yang dimiliki oleh setiap orang (calon) pemain drama. Dengan
demikian, diharapkan pengertian teoritis dasar dalam bermain drama dapat lebih
dahulu diterima sebelum melangkah ke cara-cara penggarapan dan pelatihannya.
TENTANG DRAMA
Kata "drama" berasal dari bahasa
Yunani, yaitu DRAOMAI yang berarti berlaku seperti ..., berbuat seperti ...,
beraksi seperti ..., dan bertindak seperti ... .
Dari situlah hadir beragam difinisi
terhadap drama dari para ahli drama yang bila dirangkum kesemuanya akan lahir
sebuah statement, bahwa drama adalah manusia.
Mengapa?
Dalam Ruang Pribadi Penonton : Romantisme dan Ekonomi Politik Sinteron Indonesia
Televisi memang telah jadi
perhatian studi-studi kebudayaan
sejak lama, dan menurut saya
memang tidak ada media lain yang
menyamai televisi dalam hal
besarnya volume teks-teks budaya
populer yang dihasilkan.
Rasanya, televisi selalu mampu
melahirkan bagian-bagian baru
yang menarik untuk diamati dan
dianalisa, mulai dari siaran
berita, iklan televisi, sinetron,
film televisi, talk show,
kuis-kuis, acara musik, dan
Cyberculture
Term cyberspace diperkenalkan
tahun 1984 oleh William Gibson
dalam novelnya Neuromancer
(sebelumnya cyberspace disebut
sebagai the Net, the Web, the
Cloud, the Matrix, the
Metaverse, the Datasphere,
the electronic frontier, the
Information Superhighway,
dll.). Cyberspace menjadi setting
utama novel-novel Gibson
selanjutnya, Count Zero (1986), Mona
Lisa Overdrive (1988), dan
Virtual Light (1993). Belakangan
karya fiksi yang memakai gaya Gibson disebut
cyberpunk. Tokoh
utama cyberpunk, selain
Gibson, adalah Pat Cadigan yang
menulis Patterns (1989),
Synners (1991), dan Fools (1994).
Dalam Neuromancer Gibson
menjelaskan cyberspace sebagai
"pamandangan yang
dihasilkan oleh komputer-komputer yang
‘ditancapkan langsung’—kadang
juga dengan langsung memasukkan
elektroda-elektroda ke dalam
soket-soket yang ditanamkan di
otak".
Budaya Populer
Adalah media massa Amerika yang telah
meraih apa yang tidak mungkin bisa dilakukannya melalui politik, yakni dominasi
Amerika atas dunia. Hollywood sukses, sedangkan Pentagon justru gagal! Padahal
pada kenyataannya, film maupun alat-alat pertahanan adalah dua bidang yang
memberikan penghasilan terbesar bagi ekonomi Amerika. Dunia menonton dengan
keterpikatan hipnotis pemutaran ulang episode-episode opera sabun Amerika; di
seluruh dunia orang bertanya ''siapa yang menembak JR?'' dalam serial Dallas
atau ''siapa yang membunuh Laura Palmer?'' dalam film ''Twin Peaks''. Impian
Amerika dianggap tak bisa dilawan. (''Lubang Hitam Kebudayaan'', Hikmat
Budiman).
Thursday, June 20, 2013
Budaya Materi
Apa makna benda-benda bagi manusia? Baik
dari sudut pandang masyarakat tradisional maupun masyarakat modern pertanyaan
ini bisa dijawab dengan dua hal, yang merupakan pokok kajian budaya materi
(budaya pemanfaatan benda-benda oleh manusia, bagaimana manusia berhubungan
dengan benda). pertama, benda-benda bisa
diletakkan dalam perspektif fungsional saja. Dalam perspektif ini sebuah
piring berfungsi sebagai wadah makanan, senjata berfungsi sebagai alat berburu
dan mempertahankan diri terhadap serangan musuh, sepatu berfungsi sebagai
pelindung kaki dsb. Fenomena peradagangan/ekonomi juga masih termasuk dalam
perspektif ini. Yang kedua, benda-benda bisa
juga diletakkan dalam perspektifnya sebagai totem, yaitu diasosiakan secara
simbolik dengan sesuatu yang lain. Di sini benda-benda berperan sebagai
pembawa maknamakna sosial tertentu. Cincin misalnya, yang tak terlalu penting
dalam perspektif fungsional, dalam perspektif totem bisa bermakna kecantikan,
kekayaan, atau ikatan kesetiaan dsb. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa benda-benda,
seperti diteorisikan Mary Douglas (antropolog) dan Baron Isherwood (ekonom)
(1979), mampu mengkongkretkan makna-makna sosial yang abstrak seperti
kesetiaan, kepatuhan, dsb.
Wednesday, June 19, 2013
Budaya Cewek
Angela McRobbie (1995) mengatakan bahwa tampaknya selama ini remaja
perempuan hanya bisa ditemukan dalam catatan kaki atau sebagai referensi
tambahan saja. Suatu kategori di antara 'remaja' dan 'bisnis-bisnis lainnya'. Remaja
perempuan tampaknya tidak benar-benar berada di sana . Pernyataan McRobbie ini mewakili kritik
kaum feminis terhadap analisis-analisis subkultur yang selama ini ada. Analisis
subkultur dianggap tidak memberi perhatian dan tempat yang layak kepada remaja
perempuan.
Bill Osgerby (1998) mencatat bahwa masa sebelum Perang Dunia II,
pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, kategori 'youth' dan 'adolescent' secara
umum mempunyai konotasi dan imej laki-laki. Pada masa ini, remaja perempuan
cenderung digolongkan sebagai kelompok yang 'classless' dan disembunyikan dari
sejarah. Tapi pada masa setelah Perang Dunia II, 'teenager' bermakna remaja
perempuan dan remaja laki-laki. Skala perubahan remaja perempuan pada kedua
masa ini tentunya membutuhkan area peliputan yang lebih luas.
Di Indonesia sendiri, terlebih dulu kita mengenal remaja perempuan
sebagai kelompok remaja yang ikut berpartisipasi membantu perjuangan merebut
kemerdekaan. Mereka ikut membantu merawat para prajurit laki-laki yang terluka,
atau membantu memasak keperluan logistik para prajurit di dapur umum. Gambaran
remaja perempuan berpakaian putih-putih dengan simbol palang merah di lengan,
yang sedang berjongkok membalut luka prajurit, sangat sering kita jumpai dalam
drama-drama di panggung peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia, juga
dalam foto-foto atau gambar di buku-buku sejarah.
McRobbie kemudian mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan pokok yang
bisa dijadikan panduan atau penuntun dalam melakukan penelitian terhadap
subkultur remaja perempuan, yaitu: 1) apakah mereka 'hadir', namun 'tidak
nampak'?, 2) jika mereka memang hadir/eksis, apakah peranan mereka lebih
marjinal daripada laki-laki, atau apakah mereka memainkan peran yang berbeda?,
3) apakah posisi remaja perempuan menunjukkan pilihan subkultural, atau apakah
peranan mereka merefleksikan subordinasi umum perempuan?, 4) apakah ada
cara-cara berbeda dan khusus yang dijalankan remaja perempuan dalam
mengorganisir hidupnya?
Remaja perempuan sebenarnya eksis dan hadir dalam kehidupan subkultur.
Kita bisa menemukan remaja perempuan dalam kerumunan penonton konser musik
rock, kita juga bisa menemukan remaja-remaja perempuan ikut bergabung dalam
kelompok-kelompok punk di jalan-jalan. Tetapi seringkali keterlibatan perempuan
dalam subkultur dikaitkan dengan kemerosotan moral dan degradasi personal.
Media massa
juga kerap memandang remaja perempuan dalam kelompok ini sebagai sesuatu yang
sensasional semata.
Fakta lain menunjukkan bahwa jika remaja perempuan dan laki-laki
sama-sama tergabung dalam kelas pekerja, gaji yang diterima kadang-kadang tidak
sama. Atau meskipun penghasilan mereka sama, gaya konsumsi remaja perempuan dan remaja
laki-laki pasti akan berbeda karena aktivitas bersenang-senang yang mereka
lakukan juga berbeda. Atau mungkin aktivitas bersenang-senang yang dilakukan
remaja laki-laki dan remaja perempuan jaman sekarang tidak terlalu menunjukkan
perbedaan yang menyolok. Kita akan dengan mudah menemukan remaja perempuan sama
banyaknya dengan remaja laki-laki dalam kafe atau music club. Tapi tetap saja
remaja perempuan harus 'berhati-hati supaya tidak mendapat bahaya' di
tempat-tempat seperti itu. Bahaya ini biasanya berupa serangan seksual dari
remaja laki-laki atau laki-laki dari kelompok umur yang lebih tua. Sikap
khawatir, ketakutan, dan hati-hati terhadap bahaya-bahaya ini biasanya didukung
oleh para orang tua. Tidak heran jika remaja-remaja perempuan diharapkan untuk
lebih banyak berada di dalam rumah atau dalam kamar. Intinya, mereka didukung
untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih berpusat dalam rumah. Rumah
teman-teman perempuan dan kamar tidur akhirnya menjadi situs-situs kunci remaja
perempuan.
Perkembangan dalam dunia konsumerisme kemudian menunjukkan
dimulainya boom berbagai macam produk yang khusus ditujukan untuk pasar remaja
perempuan, mulai dari kosmetik, pakaian, dan berbagai macam pernik-perniknya.
Hal-hal itu biasanya dipakai di rumah. Rumah teman dan kamar tidur kembali
menemukan tempatnya. Jadi bisa dikatakan, remaja perempuan berpartisipasi dalam
perkembangan dunia di luarnya, dan mereka mengkonsumsi itu semua di rumah,
dalam tempat tidur mereka.
Remaja perempuan juga cenderung tidak dicurigai jika mempunyai
teman-teman dekat perempuan. Maka tidak heran jika sejak jaman dulu sampai
sekarang, pemandangan seorang remaja perempuan yang berada di tengah kerumunan
kecil kelompok/gang perempuannya selalu dengan mudah bisa kita temui. Kehidupan
kelompok remaja perempuan dipopulerkan kembali oleh Cinta, Maura, Milly, Alya
dan Karmen dalam film Ada Apa Dengan Cinta. Para
remaja perempuan biasanya memperoleh eksklusivitas sosial, ruang-ruang privat
dan tidak bisa diakses, ruang-ruang khusus yang berjarak dan, untuk sementara,
bebas dari tekanan orang tua, guru-guru di sekolah, juga teman-teman laki-laki.
Kehadiran majalah-majalah remaja perempuan juga harus diperhitungkan
jika kita ingin membuat analisa terhadap para remaja perempuan ini. Mulai
1980-an akhir dan 1990-an, muncul kelompok-kelompok band laki-laki yang
ditampilkan dengan daya tarik seksual yang lebih menonjol. Maskulinitas mulai
ditampilkan sebagai objek sama menarik dan menggairahkannya dengan feminitas.
Dan majalah-majalah remaja perempuan yang hadir di sini ikut mendukung dengan
memberikan liputan dan perhatian yang besar kepada mereka, sehingga bisa dikatakan
posisi remaja perempuan sekarang jadi terbalik. Mereka yang biasanya berposisi
sebagai objek,
Bagaimana Representasi Menghubungkan Makna dan bahasa dalam Kebudayaan?
Menurut
Stuart Hall, ada dua proses representasi. Pertama, representasi mental. Yaitu
konsep tentang ‘sesuatu’ yang ada di kepala kita masing-masing (peta konseptual).
Representasi mental ini masih berbentuk sesuatu yang abstrak. Kedua, 'bahasa',
yang berperan penting dalam proses konstruksi makna. Konsep abstrak yang ada
dalam kepala kita harus diterjemahkan dalam 'bahasa' yang lazim, supaya kita
dapat menghubungkan konsep dan ide-ide kita tentang sesuatu dengan tanda dan
simbol-simbol tertentu.
Proses
pertama memungkinkan kita untuk memaknai dunia dengan mengkonstruksi
seperangkat rantai korespondensi antara sesuatu dengan sistem 'peta konseptual'
kita. Dalam proses kedua, kita mengkonstruksi seperangkat rantai korespondensi
antara 'peta konseptual' dengan bahasa atau simbol yang berfungsi
merepresentasikan konsep-konsep kita tentang sesuatu. Relasi antara 'sesuatu',
‘peta konseptual', dan 'bahasa/simbol' adalah jantung dari produksi makna lewat
bahasa. Proses yang menghubungkan ketiga elemen ini secara bersama-sama itulah
yang kita namakan: representasi.
Konsep
representasi bisa berubah-ubah. Selalu ada pemaknaan baru dan pandangan baru
dalam konsep representasi yang sudah pernah ada. Karena makna sendiri juga
tidak pernah tetap, ia selalu berada dalam proses negosiasi dan disesuaikan
dengan situasi yang baru. Intinya adalah: makna tidak inheren dalam sesuatu di
dunia ini, ia selalu dikonstruksikan, diproduksi, lewat proses representasi. Ia
adalah hasil dari praktek penandaan. Praktek yang membuat sesuatu hal bermakna
sesuatu.
Anak Jalanan dan Subkultur: Sebuah Pemikiran Awal
Oleh Kirik Ertanto
Dalam
kesempatan ini, kita akan mempercakapkan gagasan mengenai subkultur. Seperti
kita kenali bersama, tema ini salah satu yang diabaikan dalam perbincangan
mengenai masyarakat Indonesia modern. Untuk itu sejak awal saya ingin berterus
terang bahwa apa yang saja sajikan masih menyentuh bagian-bagian pinggirnya
saja. Subjek yang saya pilih dalam percakapan kali ini adalah kehidupan
sebagian kalangan anak muda yang berada di jalanan. Dalam kata lain, melihat
kehidupan anak muda di jalan sebagai satu subkultur. Sebuah subkultur selalu
hadir dalam ruang dan waktu tertentu, ia bukanlah satu gejala yang lahir begitu
saja. Kehadirannya akan saling kait mengkait dengan peristiwa-peristiwa lain yang
menjadi konteksnya. Untuk memudahkan kita memahami gagAsan mengenai subkultur
anak muda jalanan, maka saya akan memulai dengan satu upaya membuat peta antara
hubungan anak muda dan orang tua serta kultur dominan sebagai kerangkanya.
Sekurang-kurangnya ada dua pihak yang -berkat dukungan modal yang melekat pada
dirinya- berupaya mengontrol kehidupan kaum muda, yaitu negara dan industri
berskala besar.
Di
Indonesia, pihak pertama yaitu negara berupaya mengontrol kehidupan anak muda
melalui keluarga. Keluarga dijadikan agen oleh negara untuk sebagai saluran
untuk melanggengkan kekuasaan. Melalui UU No. 10/1992 diambil satu keputusan
yang menjadikan keluarga sebagai alat untuk mensukseskan pembangunan. Keluarga
tidak hanya dipandang hanya memiliki fungsi reproduktif dan sosial melainkan
juga fungsi ekonomi produktif. Pengambilan keputusan keluarga dijadikan alat
untuk mensukseskan pembangunan pada gilirannya membawa perubahan pada posisi
anak-anak dan kaum muda dalam masyarakat. Anak-anak dan kaum muda dipandang
sebagai satu aset nasional yang berharga. Oleh karena itu investasi untuk
menghasilkan peningkatan modal manusia (human capital) harus sudah disiapkan
sejak sedini mungkin. Dalam hal tugas orang dewasa adalah melakukan
penyiapan-peyiapan agar seorang anak bisa melalui masa transisinya menuju
dewasa. Akibatnya ada pemisahan yang jelas antara masa anak-anak dan masa muda
dengan masa dewasa. Adalah tugas orang tua untuk memberikan pemenuhan gizi yang
dibutuhkan, mengirim ke sekolah sebagai bagian dari penyiapan masa transisi.
Saya Shiraishi (1995) yang banyak mengamati kehidupan keluargga dan masa
kanak-kanak dalam masyarakat Indonesia mutakhir mengatakan bahwa implikasi
lebih lanjut dari gagasan keluarga modern itu pada akhirnya menempatkan
anak-anak sepenuhnya dibawah kontrol orang tua. Orang tua menjadi kuatir bila
anaknya tidak mampu melewati masa transisi dengan baik, misalnya putus sekolah,
dan akan terlempar menjadi kaum "TUNA" (tuna wisma, tuna susila dan
tuna lainnya), kaum yang kehidupannya ada di jalanan. Kekuatiran ini bisa
dilihat secara jelas dengan streotipe mengenai kehidupanjalanan sebagai
kehidupan "liar". Bukanlah satu hal yang mengada-ada bila kemudian
para. orang tua lebih memilih untuk memperpanjang proteksi anak-anaknya untuk
berada di dalam rumah sebab lingkungan di luar rumah dianggap sebagai
"liar" dan mengancam masa depan anaknya. Pilihan untuk memperpanjang
masa proteksi anak-anak inilah yang kemudian ditangkap sebagai peluang dagang
oleh para pengusaha. Belakangan ini dengan mudah kita bisa melihat berbagai
produk atau media untuk membantu penyiapan masa transisi anak-anak. Program
televisi yang jelas menggunakan kata (televisi) PENDIDIKAN INDONESIA adalah
salah satu contoh terbaiknya. Selain itu berbagai media cetak juga mengeluarkan
berbagai produk bagaimana menyiapkan anak secara "baik dan benar"
dalam rangka pengembangan sumber daya pembangunan. Para orang tua pada.
gilirannya akan lebih mengacu pada berbagai media itu sendiri dibandingkan pada
peristiwa sehari-hari yang dialami oleh anaknya. Cara membesarkan anak yang
diimajinasikan oleh negara dan pemilik modal inilah yang kemudian menjadi
wacana penguasa (master discourse) untuk anak-anak Indonesia. Ia digunakan
sebagai alat untuk menilai kehidupan keseluruhan anak dan kaum muda di
Indonesia. Hasilnya seperti yang ditunjukkan Murray (1994) adalah mitos kaum
marjinal: yang dari sudut pandang orang luar menggambarkan orang-orang ini
sebagai massa marjinal yang melimpah ruah jumlahnya dengan budaya kemiskinan
dan sebagai lingkungan liar, kejam dan kotor ... sumber pelacuran, kejahatan
dan ketidakamanan.
Murray
tidaklah sendirian dalam memberikan adanya dikotomi rumah dan jalan. Studi
Siegel (1986), Saya Shiraishi (1990) dan Jerat Budaya (1998) menunjukkan temuan
yang sama. Studi Marquez ( 1998) mengenai kaum muda jalanan di Caracas
menunjukkan bahwa anak muda itu tidak secara pasif menerima begitu saja
pandangan negatif dari luar. Jalan raya bukanlah sekedar tempat untuk bertahan
hidup. Bagi kaum muda tersebut jalanan juga arena untuk menciptakan satu
organisasi sosial, akumulasi pengetahuan dan rumusan strategi untuk keberadaaan
eksistensinya. Artinya ia juga berupaya melakukan penghindaran atau melawan
pengontrolan dari pihak lain. Bertolak dari gambaran sekilas di atas, saya akan
menempatkan percakapan mengenai subkultur anak jalanan di Indonesia dalam titik
potong antara dikotomi rumah dan jalan di satu sisi dan orang tua (kaum dewasa)
dengan anak muda di sisi lain. Fokus dari percakapan kali ini untuk sementara
saya batasi bagaimana corak mode kehidupan yang ditampilkan oleh kaum muda yang
besar di jalan yang kemudian bertumbuh menjadi subkultur. Meninggalkan Rumah,
Menanggalkan Masa Lalu Sebuah sebuah kategori sosial, anak jalanan bukanlah
satu kelompok yang homogen. Sekurang-kurangnya ia bisa dipilah ke dalam dua
kelompok yaitu anak yang bekerja di jalan dan anak yang hidup di jalan.
Perbedaan diantaranya ditentukan berdasarkan kontak dengan keluarganya. Anak
yang bekerja di jalan masih memiliki kontak dengan orang tua sedangkan anak
yang hidup di jalan sudah putus hubungan dengan orang tua. Dalam tulisan ini,
anak jalanan mengacu pada kategori anak yang hidup di jalan. Seorang anak
jalanan yang sudah hampir dua puluh tahun hidup di jalan menuturkan
pengalamannya pergi dari rumah. Katanya waktu kecil ia banyak ngeluyur
dibanding sekolah, lebih banyak bermain dari pada belajar. Akibatnya,
teman-temannya sudah naik ke kelas tiga ia masih saja duduk dibangku kelas
satu. Buat sebagian anak pergi ke sekolah tidaklah selalu berarti pengalaman
yang menyenangkan. Seorang anak lain
bila mengingat sekolah maka yang muncul adalah gurunya yang galak dan
tubuhnya yang menjadi sasaran sabetan.
Katanya:
Waktu saya sekolah saya digebugin karena di sekolah saya goblog. Di bawa ke
kantor karena.sering nonton Th lalu disuruh membaca di papan tulis tidak bisa.
Di sabet badanku. Pak guru saya galak. Lalu saya keluar kelas tiga. Keadan
murid-murid bermasalah seperti itu biasanya dilaporkan oleh guru kepada orang
tua murid. Laporan itu bisa menjadi penyulut kemarahan orang tua. Seperti yang
dituturkan H: dan pak guru saya sering datang menemui orang tua saya
menceritakan keadaan saya. Saya dimarahi bapak tidak hanya dengan suara tetapi
juga digebugi pakai sapu lidi sampai merah kaki saya Berbagai penyuluhan,
berita TV dan radio secara bertubi-tubi telah mengajar para orang tua memlaui
pembatinan bahwa anak yang baik adalah anak sekolahan. Karena itu wajar saja
bila guru tidak mampu lagi mendidik anaknya, maka orang tualah yang akan
meng(H)ajar anaknya. Hasilnya seperti H dan N lari meninggalkan rumah. Ketika
pertama kali hadir di jalan, seorang anak menjadi anonim. Ia tidak mengenal dan
dikenal oleh siapapun. Selain itu juga ada perasan kuatir bila orang lain
mengetahui siapa dirinya. Tidaklah mengherankan bila strategi yang kemudian
digunakan adalah dengan menganti nama. Hampir semua anak yang saya kenal
mengganti nama. Hal ini dilakukan untuk menjaga jarak dengan masa lalunya
sekaligus masuk dalam masa kekiniannya. Anak-anak mulai memasuki dunia jalanan dengan
nama barunya. Anak-anak yang berasal dari daerah pedesaan menggganti dengan
nama-nama yang dianggap sebagai nama "modern" yang diambil dari
bintang sinotren atau yang yang biasa didengarnya misalnya dengan anam Andi,
Roy dan semacamnya. Seorang anak yang bernama Mohammad kemudian mengganti
namanya menjadi Roni. Alasan yang diberikan karena Mohammad adalah nama nabi.
Nama itu tidak cocok dengan kehidupan di jalan. karena yang dilakukan di jalan
banyak tindakan haram. Proses penggantian sebutan itu dengan sendirinya
menunjukkan bahwa ia bukan sekedar pergantian panggilan saja tetapi juga
sebagai sarana menanggalkan masa lalunya. Artinya ia adalah bagian dari proses
untuk memasuki satu dunia (tafsir) baru. Sebuah kehidupan yang merupakan
konstruksi dari pengalaman sehari-hari di jalan. Corak Mode Kehidupan Menolak
Tetap (Anak) Kecil Anak jalanan menggunakan tubuhnya sendiri sebagai sarana.
untuk ekspresi diri sekaligus sub-versi. Pada tingkat permukaan ditunjukkan
perbedaan-perbedaan oleh mereka sekaligus menegaskan pertentangan dengan negara
dan masyarakat sekitarnya (lihat Hebdige, 1979).
Tubuh dijadikan sumber produksi dan aktivitas komunikasi dan menjadi lokasi pengetahuan yang krusial bagi komunitas dan hal ini membantu tewrjadinya produksi makna bagi kelompoknya. Melalui pencarian dan tingkah laku yang berbeda itu secara sengaja anak jalanan menolak dan mengejutkan kultur dominannya dengan mensub-versi nilai-nilai utamanya. Ketika mulai tumbuh lebih besar, menampilkan nilai-nilai kejantanan merupakan aspek yang vital bagi anak-anak jalanan. Mereka secara teratur mulai berpartisipasi menyusun konstruksi kejantanan dengan mendiskusikan berbagai peran yang dilakukan oleh anak lain serta mengomentari penampilarmya. Meski secara sosial mereka dikategorikan sebagai anak (kecil), hampir semuanya mengadopsi bentuk-bentuk kedewasaan sebagai tanda pembangkanangan dari harapan-harapan yang ditentukan oleh masyarakat. Mereka memainkan peran yang selama ini dijalankan oleh kaum dewasa yang ada di sekitarnya, menenggak minuman keras, ngepil, judi serta menggemari free sex. Kebiasaan-kebiasaan yang dianggap tidak cocok untuk dilakukan oleh anak justru dianggap mampu membuat mereka merasa tumbuh dewasa dan menjadi jantan. Judi, misalnya, merupakan permainan yang populer, meski dianggap ilegal dan dimainkan di tempat-tempat tersembunyi. Rata-rata mereka mengaku menikmati permainan judi karena melibatkan resiko dalam pertaruhan, ketrampilan serta konsentrasi dan bila memenangkan permainan, ada rasa bangga menempati posisi puncak dari hasil permainan. Selain itujuga mendapatkan uang yang relatif banyak. Seorang dewasa yang sering memperhatikan dan bergaul dengan anak-anak jalanan mengatakan bahwa jika dilarang untuk melakukan tindakan tertentu, maka anak-anak jalanan itu seperti disuruh. Apa pun akan dilakukan untuk menentangnya. Katanya, itu bagian dari indentitas pembangkangan. Atau dalam kata lain menolak dianggap (anak) kecil terus. Gaya Pakaian dan Dandanan Tubuh Satu kali, H ( 12 tahun) mendapatkan uang cukup banyak dari hasil nyemirnya. Uang itu dibelikan kaos dan celana. jeans. Dengan pakaian baru yang bersih itu kemudian pergi menyemir. Ternyata dengan pakaian bersih semacam itu, tak banyak orang yang mau menyemirkan sepatunya. Berbeda dengan ketika ia memakai pakaian kotor, justru banyak orang yang mau menyemirkan sepatunya. Hal ini menunjukkan adanya satu pertentangan, di satu sisi masyarakat umum menginginkan mereka tampil secara "bersih", namun bila tampil dengan cara semacam ini maka ia tidak mendapatkan uang yang cukup. Berbeda dengan bila ia menggunakan pakaian kumal, orang tidak menyukai tetapi menghasilkan uang yang cukup. Situasi semacam itu menyebabkan anak-anak kemudian menggembangkan satu trend cara berpakaian yang cukup khas. Mereka kemudian lebih banyak mengadopsi cara berpakaian dari pengamen dewasa, turis asing atau dari film atau majalah yang dilihat. Salah satu yang cukup populer adalah gaya rasta yang disimbolkan melalui warna merah kuning dan biro dengan simbol daun ganja. Dan simbol itu ditampilkan di tato, di pakaian dan lainnya. Kata mereka rasta cocok dengan anak jalanan. Karena jalanan juga menciptakan orang kaya Bob Marley. Nongkrong di jalan, menghisap ganja, main gitar. Anak jalanan pengin seperti dia. Bukanlah satu hal mengherankan beberapa diantara mereka juga menggunakan model rambut dreadlocks. Pilihan lain adalah memanjangkan rambutnya. Di Indonesia, rambut panjang merupakan kebalikan dari model rambut para orang tua. Tidak banyak orang tua yang berambut gondrong. Gondrong merupakan citra anak muda. Selain itu dari pihak kemanan gondrong sering diasumsikan sebagai preman. Bila tidak gondrong, sebagian diantaranya justru memilih melicin tandaskan rambutnya. Artinya dari pilihan atas model rambutnya mereka tidak pernah sama dengan yang berlaku dalam masyarakat umum, potongan rambut yang rapi. Dalam kata lain untuk menunjukkan bahwa merekalah yang mengontrol urusan rambut. Selain rambut, tatto merupakan satu bentuk lain dari cara menampilkan diri. Sebagian anak melawankan tubuh yang bertatto dengan tubuh yang "bersih". Meski dikalangan umum memiliki tatto disamakan dengan preman, namun dikalangan anak jalanan ia memiliki makna yang berbeda. Beberapa anak mengatakan bahwa tatto merupakan penanda dari "show of force" sekaligus lambang "keras" dan jantan. Sebagian dari mereka membuat tatto sebagai satu tanda untuk menyimpan ingatan tertentu. Beberapa anak membua,t tatto sebagai satu inggatan atas peristiwa perginya seorang volunter ke negara asalnya dan juga peristiwa lain. Dalam beberapa hal bisa dikatakan bahwa kecenderungan berpakaian atau mentato tubuhnya juga menindik tubuhnya untuk dipasangi anting-anting baik di telingga, alis mata, pusar atau tempat lain tidak bisa dipisahkan dengan relasinya dengan cara penampilan yang normatif. Alternatif yang digunakan oleh anak jalanan tidak bisa tidak berada dalam dikhotomi bersih dan kumal. Menjadi "bersih" bisa jadi justru akan mengancam survival mereka di jalan. Artinya masyarakat dan anak-anak jalanan itu sendiri saling menjaga dengan tegas batas-batas yang mereka inginkan. (Penyalah)Guna(an) Obat dan Minuman Alkohol Menenggak minuman keras dan pil adalah satu kebiasaan yang dilakukan selama di jalan. Alasan yang diberikan adalah untuk melupakan masalah. Beberapa studi mengenai anak jalanan secara gamblang menunjukkan berbagai tekanan yang dialami oleh anak jalanan. Secara ekonomi mereka harus bekerja dalam jam kerja yang cukup panjang, secara sosial ia diletakkan sebagai sampah masyarakat, secara hukum keberadaannya melanggar pasal 505 KUHP. Bukanlah satu hal yang mengadaada bila mereka merasa tidak pernah merasa (ny)aman dalam kehidupan sehariharinya. Tindakan-tindakan yang dipilih ini akan membawa anak-anak pada masalah hukum, karena semua tindakan ini dianggap melanggar hukum. T ( 14) memberikan alasan bahwa sebelum bekerja ia mabuk dulu untuk menghilangkan rasa malu. Karena sebetulnya ia gengsi kalau harus jadi pengamen. Dengan demikian selain sebagai strategi ekonomi, mabuk akhirnya menimbulkan sikap cuek (tidak peduli) dengan aturan hukum. Secara umum, tindakan semacam ini sering dikatakan sebagai penyalah gunaan obat. Namun demikian, bila di tilik dari sisi lain akan terlihat sebaliknya. Dalam masyarakat modern, dengan mudah dikenali bahwa salah satu jalan keluar untuk mengatasi situasi-situasi yang menekan individu adalah dengan penciptaan obat-obatan. Dengan demikian anak-anak jalanan itu sungguh melakukan satu cara yang sudah disediakan oleh sistem dalam masyarakatnya. Dalam hal ini ia betul-betul memanfaatkan guna obat untuk mengatasi berbagai tekanan yang menimbulkan ketegangan dalam diri. Alat untuk mencapai satu kondisi nyaman. Musik Anak-anak juga menggunakan media musik untuk meciptakan ruang bagi dirinya untuk bersuara. Musik digunakan sebagai alat untuk memberdayakan dirinya. Selain untuk mencari makan, bermain musik juga menjadi alat untuk membangun solidaritas. Dalam kesempatan-kesempatan tertentu mereka memainkan musik secara bersama-sama. Dalam kesempatan semacam inilah mereka sering menyuarakan pandangan-pandangan mereka terhadap masyarakat seperti yang tampak dalam syair yang dibuat oleh Dd ( 14) dan Dw ( 15): SAKSI MATA Suara letusan samar-samar terdengar Ditengah malam yang pekat Sesosok tubuh penuh tato Terbujur kaku di lorong gelapnya kota Reff: Sejenak jiwanya berteriak Untuk ungkapkan rasa yang terasa Dia coba bicara kerryataan Banyak yang melihat Tak ada saksi mata... Garis kuning di lengan baju pun puas Nanyikan lagu kekuasaan dengan bangga dia melangkah pergi sambil berharap pangkatnya naik lagi Reff: Sejenak jiwanya berteriak Untuk ungkapkan rasa yang terasa Dia coba bicara keadilan Dengan pucuk pistol ... Menempel di keningnya. Secara gamblang syair tersebut merupakan satu kritik terhadap masyarakat yang mengalami rabun ayam terhadap peristiwa yang ada di sekelilingnya. Anak-anak ini menjadi saksi mata atas keseluruhan sisitem masyarakat yang berjalan. Dan untuk bicara seperti itu pun ia sadar ada pistol yang menempel di keningnya, dianggap mengancam atau malah tidak didengar sama sekali. Kata-kata Akhir Kehidupan anak jalanan di mulai dengan menanggalkan masa lalunya. Keberadaannya di jalan langsung akan menghadapkan anak-anak ini pelanggaran hukum pasal 505 KUHP sekaligus akan mendapat stempel sampah masyarakat. Dengan demikian kita layak menempatkan tindakan-tindakan yang dipilih anak-anak sebagai satu respon aktif terhadap peminggiran atas dirinya. Seperti yang secara sangat kasar diapaprkan di atas tindakan-tindakan tersebut merupakan kombinasi dari kebutuhan survival, ketetapan hati untuk menentang konformitas kultur dominan, dorongan untuk mendapatkan ke(ny)amanan dan untuk mencapai tujuan-tujuan memperkuat kesetiaan dalam kelompok. Salah satu strategi yang dipilih adalah cuek dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Dengan menjadi cuek, anak-anak ini berupaya menahan untuk menahan penyingkiran-penyingkran dari dunia sosial sekaligus mengalih ubahkan keberadaannya melalui penciptaan-penciptaan makna. yang spesifik. Corak moda kehidupan anak jalanan terutama adalah (re)aksi yang sesungguhnya tidak memiliki kekuatan besar, namun dari posisi di pinggiran itu tetap berupaya mengekspresikan dan menciptakan makna bagi dirinya
. Dengan menyimpang dari
kultur dominannya anak-anak jalanan dengan sekuat tenaganya mempertahankan kontrol atas dirinya sendiri dengan ekspresi "kebebasan" dan simbol
kreatifitas sekaligus menjadi ajang dari pertandingan: pemberdayaan atau
penaklukan. Pendek kata, bila bagi banyak pihak menjalani kehidupan di jalan
diietakkan sebagai "masalah", maka bagi anak-anak muda itu memilih
kehidupan jalanan sebagai satu "solusi". Paradoks semacam ini memang
akan tetap memposisikan anak jalanan di pinggiran, tetapi ia sekaligus juga
sumber kekuatan terciptanya satu sub-kultur anak muda perkotaan.Tubuh dijadikan sumber produksi dan aktivitas komunikasi dan menjadi lokasi pengetahuan yang krusial bagi komunitas dan hal ini membantu tewrjadinya produksi makna bagi kelompoknya. Melalui pencarian dan tingkah laku yang berbeda itu secara sengaja anak jalanan menolak dan mengejutkan kultur dominannya dengan mensub-versi nilai-nilai utamanya. Ketika mulai tumbuh lebih besar, menampilkan nilai-nilai kejantanan merupakan aspek yang vital bagi anak-anak jalanan. Mereka secara teratur mulai berpartisipasi menyusun konstruksi kejantanan dengan mendiskusikan berbagai peran yang dilakukan oleh anak lain serta mengomentari penampilarmya. Meski secara sosial mereka dikategorikan sebagai anak (kecil), hampir semuanya mengadopsi bentuk-bentuk kedewasaan sebagai tanda pembangkanangan dari harapan-harapan yang ditentukan oleh masyarakat. Mereka memainkan peran yang selama ini dijalankan oleh kaum dewasa yang ada di sekitarnya, menenggak minuman keras, ngepil, judi serta menggemari free sex. Kebiasaan-kebiasaan yang dianggap tidak cocok untuk dilakukan oleh anak justru dianggap mampu membuat mereka merasa tumbuh dewasa dan menjadi jantan. Judi, misalnya, merupakan permainan yang populer, meski dianggap ilegal dan dimainkan di tempat-tempat tersembunyi. Rata-rata mereka mengaku menikmati permainan judi karena melibatkan resiko dalam pertaruhan, ketrampilan serta konsentrasi dan bila memenangkan permainan, ada rasa bangga menempati posisi puncak dari hasil permainan. Selain itujuga mendapatkan uang yang relatif banyak. Seorang dewasa yang sering memperhatikan dan bergaul dengan anak-anak jalanan mengatakan bahwa jika dilarang untuk melakukan tindakan tertentu, maka anak-anak jalanan itu seperti disuruh. Apa pun akan dilakukan untuk menentangnya. Katanya, itu bagian dari indentitas pembangkangan. Atau dalam kata lain menolak dianggap (anak) kecil terus. Gaya Pakaian dan Dandanan Tubuh Satu kali, H ( 12 tahun) mendapatkan uang cukup banyak dari hasil nyemirnya. Uang itu dibelikan kaos dan celana. jeans. Dengan pakaian baru yang bersih itu kemudian pergi menyemir. Ternyata dengan pakaian bersih semacam itu, tak banyak orang yang mau menyemirkan sepatunya. Berbeda dengan ketika ia memakai pakaian kotor, justru banyak orang yang mau menyemirkan sepatunya. Hal ini menunjukkan adanya satu pertentangan, di satu sisi masyarakat umum menginginkan mereka tampil secara "bersih", namun bila tampil dengan cara semacam ini maka ia tidak mendapatkan uang yang cukup. Berbeda dengan bila ia menggunakan pakaian kumal, orang tidak menyukai tetapi menghasilkan uang yang cukup. Situasi semacam itu menyebabkan anak-anak kemudian menggembangkan satu trend cara berpakaian yang cukup khas. Mereka kemudian lebih banyak mengadopsi cara berpakaian dari pengamen dewasa, turis asing atau dari film atau majalah yang dilihat. Salah satu yang cukup populer adalah gaya rasta yang disimbolkan melalui warna merah kuning dan biro dengan simbol daun ganja. Dan simbol itu ditampilkan di tato, di pakaian dan lainnya. Kata mereka rasta cocok dengan anak jalanan. Karena jalanan juga menciptakan orang kaya Bob Marley. Nongkrong di jalan, menghisap ganja, main gitar. Anak jalanan pengin seperti dia. Bukanlah satu hal mengherankan beberapa diantara mereka juga menggunakan model rambut dreadlocks. Pilihan lain adalah memanjangkan rambutnya. Di Indonesia, rambut panjang merupakan kebalikan dari model rambut para orang tua. Tidak banyak orang tua yang berambut gondrong. Gondrong merupakan citra anak muda. Selain itu dari pihak kemanan gondrong sering diasumsikan sebagai preman. Bila tidak gondrong, sebagian diantaranya justru memilih melicin tandaskan rambutnya. Artinya dari pilihan atas model rambutnya mereka tidak pernah sama dengan yang berlaku dalam masyarakat umum, potongan rambut yang rapi. Dalam kata lain untuk menunjukkan bahwa merekalah yang mengontrol urusan rambut. Selain rambut, tatto merupakan satu bentuk lain dari cara menampilkan diri. Sebagian anak melawankan tubuh yang bertatto dengan tubuh yang "bersih". Meski dikalangan umum memiliki tatto disamakan dengan preman, namun dikalangan anak jalanan ia memiliki makna yang berbeda. Beberapa anak mengatakan bahwa tatto merupakan penanda dari "show of force" sekaligus lambang "keras" dan jantan. Sebagian dari mereka membuat tatto sebagai satu tanda untuk menyimpan ingatan tertentu. Beberapa anak membua,t tatto sebagai satu inggatan atas peristiwa perginya seorang volunter ke negara asalnya dan juga peristiwa lain. Dalam beberapa hal bisa dikatakan bahwa kecenderungan berpakaian atau mentato tubuhnya juga menindik tubuhnya untuk dipasangi anting-anting baik di telingga, alis mata, pusar atau tempat lain tidak bisa dipisahkan dengan relasinya dengan cara penampilan yang normatif. Alternatif yang digunakan oleh anak jalanan tidak bisa tidak berada dalam dikhotomi bersih dan kumal. Menjadi "bersih" bisa jadi justru akan mengancam survival mereka di jalan. Artinya masyarakat dan anak-anak jalanan itu sendiri saling menjaga dengan tegas batas-batas yang mereka inginkan. (Penyalah)Guna(an) Obat dan Minuman Alkohol Menenggak minuman keras dan pil adalah satu kebiasaan yang dilakukan selama di jalan. Alasan yang diberikan adalah untuk melupakan masalah. Beberapa studi mengenai anak jalanan secara gamblang menunjukkan berbagai tekanan yang dialami oleh anak jalanan. Secara ekonomi mereka harus bekerja dalam jam kerja yang cukup panjang, secara sosial ia diletakkan sebagai sampah masyarakat, secara hukum keberadaannya melanggar pasal 505 KUHP. Bukanlah satu hal yang mengadaada bila mereka merasa tidak pernah merasa (ny)aman dalam kehidupan sehariharinya. Tindakan-tindakan yang dipilih ini akan membawa anak-anak pada masalah hukum, karena semua tindakan ini dianggap melanggar hukum. T ( 14) memberikan alasan bahwa sebelum bekerja ia mabuk dulu untuk menghilangkan rasa malu. Karena sebetulnya ia gengsi kalau harus jadi pengamen. Dengan demikian selain sebagai strategi ekonomi, mabuk akhirnya menimbulkan sikap cuek (tidak peduli) dengan aturan hukum. Secara umum, tindakan semacam ini sering dikatakan sebagai penyalah gunaan obat. Namun demikian, bila di tilik dari sisi lain akan terlihat sebaliknya. Dalam masyarakat modern, dengan mudah dikenali bahwa salah satu jalan keluar untuk mengatasi situasi-situasi yang menekan individu adalah dengan penciptaan obat-obatan. Dengan demikian anak-anak jalanan itu sungguh melakukan satu cara yang sudah disediakan oleh sistem dalam masyarakatnya. Dalam hal ini ia betul-betul memanfaatkan guna obat untuk mengatasi berbagai tekanan yang menimbulkan ketegangan dalam diri. Alat untuk mencapai satu kondisi nyaman. Musik Anak-anak juga menggunakan media musik untuk meciptakan ruang bagi dirinya untuk bersuara. Musik digunakan sebagai alat untuk memberdayakan dirinya. Selain untuk mencari makan, bermain musik juga menjadi alat untuk membangun solidaritas. Dalam kesempatan-kesempatan tertentu mereka memainkan musik secara bersama-sama. Dalam kesempatan semacam inilah mereka sering menyuarakan pandangan-pandangan mereka terhadap masyarakat seperti yang tampak dalam syair yang dibuat oleh Dd ( 14) dan Dw ( 15): SAKSI MATA Suara letusan samar-samar terdengar Ditengah malam yang pekat Sesosok tubuh penuh tato Terbujur kaku di lorong gelapnya kota Reff: Sejenak jiwanya berteriak Untuk ungkapkan rasa yang terasa Dia coba bicara kerryataan Banyak yang melihat Tak ada saksi mata... Garis kuning di lengan baju pun puas Nanyikan lagu kekuasaan dengan bangga dia melangkah pergi sambil berharap pangkatnya naik lagi Reff: Sejenak jiwanya berteriak Untuk ungkapkan rasa yang terasa Dia coba bicara keadilan Dengan pucuk pistol ... Menempel di keningnya. Secara gamblang syair tersebut merupakan satu kritik terhadap masyarakat yang mengalami rabun ayam terhadap peristiwa yang ada di sekelilingnya. Anak-anak ini menjadi saksi mata atas keseluruhan sisitem masyarakat yang berjalan. Dan untuk bicara seperti itu pun ia sadar ada pistol yang menempel di keningnya, dianggap mengancam atau malah tidak didengar sama sekali. Kata-kata Akhir Kehidupan anak jalanan di mulai dengan menanggalkan masa lalunya. Keberadaannya di jalan langsung akan menghadapkan anak-anak ini pelanggaran hukum pasal 505 KUHP sekaligus akan mendapat stempel sampah masyarakat. Dengan demikian kita layak menempatkan tindakan-tindakan yang dipilih anak-anak sebagai satu respon aktif terhadap peminggiran atas dirinya. Seperti yang secara sangat kasar diapaprkan di atas tindakan-tindakan tersebut merupakan kombinasi dari kebutuhan survival, ketetapan hati untuk menentang konformitas kultur dominan, dorongan untuk mendapatkan ke(ny)amanan dan untuk mencapai tujuan-tujuan memperkuat kesetiaan dalam kelompok. Salah satu strategi yang dipilih adalah cuek dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Dengan menjadi cuek, anak-anak ini berupaya menahan untuk menahan penyingkiran-penyingkran dari dunia sosial sekaligus mengalih ubahkan keberadaannya melalui penciptaan-penciptaan makna. yang spesifik. Corak moda kehidupan anak jalanan terutama adalah (re)aksi yang sesungguhnya tidak memiliki kekuatan besar, namun dari posisi di pinggiran itu tetap berupaya mengekspresikan dan menciptakan makna bagi dirinya
Artikel ini
dipresentasikan pada Diskusi dan Pemutaran Video "Subkultur Remaja:
Underground, Skuter, PlayStation",
KUNCI Cultural Studies
Center- Lembaga Indonesia Perancis, Yogyakarta, 5 Mei 2000.
Saturday, May 4, 2013
Kebaikan Menghasilkan Keajaiban-Keajaiban
Oleh : Gede Prama
Lelah dan letih, mungkin itu kata yang
tepat untuk mewakili keadaan tubuh dan jiwa saya menjelang 2 Maret 2001. Sebuah
tanggal yang membuat umur saya menjadi tiga puluh delapan tahun. Banyak orang
memang meyakini, kehidupan mulai di umur empat puluh tahun. Dan entah apa yang
terjadi kelak, kalau saya sudah sampai pada titik start kehidupan terakhir.
Mudah-mudahan lelah dan letih ini hanya kondisi sesaat saja. Namun yang jelas,
kendati sang badan dan jiwa sudah mengeluh letih, tetap saja stok rasa syukur
tidak berkurang. Malah, semakin hari semakin bertambah, bertambah dan bertambah.
Izinkan saya berbagi refleksi dari salah
satu pojokan rasa syukur yang dikaruniai Tuhan. Masih segar sekali dalam
ingatan, ketika pertama kali menginjakkan kaki di ibu kota Jakarta ini dengan
membawa ijazah sarjana di tahun 1985, di terminal bus Pulo Gadung saya bertanya
ke diri sendiri : akankah saya bisa tumbuh di Jakarta ini ? Antara optimis dan
ragu, saya bergerak menuju ke rumah keluarga di Pasar Minggu sana. Ketika
pikiran optimis datang, hati saya berkata : beruntunglah mereka yang bisa mendapatkan
saya jadi pekerja. Tatkala pikiran pesimis berkunjung, bayang-bayang manusia
kalah yang kembali pulang ke kampung menghantui saya.
Kalau
saja ada orang yang bertanya ketika itu, apa modal jualan saya di Jakarta agar
diri saya laku jadi pekerja, terus terang, hanya kebingunganlah jawabannya.
Maka tertulislah dalam sejarah kehidupan saya, seorang anak manusia yang
menganggur di Jakarta ini hampir dua tahun. Kalau jalan-jalan sepanjang Jakarta
setiap hari, hanya untuk mengobati rasa malu pada tetangga karena kelihatan
menganggur, sudah menjadi menu sehari-hari ketika itu. Belum lagi ditambah
dengan bayangan malu pada orang-orang di kampung, sudah bergelar sarjana, telah
berkeluarga namun jadi pengangguran.
Ketika menghadapi godaan-godaan karir yang
hebat di awal-awal karir, hanya rasa malu terakhirlah yang membuat saya
bertahan. Entah godaan hampir diberhentikan ketika baru mulai kerja, godaan
baru pulang dari Inggris dan Prancis kemudian menganggur lagi. Yang jelas,
kalau ada bayangan cengeng yang meminta saya harus pulang kampung jadi manusia
kalah, cepat-cepat dihapus dari kepala. Rumusnya sederhana, saya anggap sudah
tidak punya apapun di kampung sana.
Belasan tahun setelah kisah ini berlalu,
sisi-sisi menyedihkan sudah amat berkurang. Diganti dengan pojokan-pojokan rasa
syukur yang hadir di sana-sini. Ada saja bahan yang bisa membuat saya bertutur
reflektif ke Anda di hari ulang tahun ini. Hadiah ulang tahun yang patut di
syukuri di tahun 2001 ini, karena ada pemilik perusahaan yang mempercyakan
perusahaannya ke saya untuk dipimpin.
Dalam lorong-lorong renungan saya menoleh
kembali ke belakang, ternyata Tuhan menghadiahi saya sejumlah lompatan karir.
Satu hal, yang tidak ditemui oleh kebanyakan sahabat dan kerabat dekat. Dalam
bahasa seorang rekan, dua tahun berturut-turut naik pangkat di tempat yang
tinggi. Jadi konsultan dua tahun, jadi komisaris dua tahun, jadi direktur SDM
dua tahun dan di tahun 2001 ini jadi CEO. Dan yang membuat banyak sahabat dan
kerabat tambah iri, posisi ini saya lakoni tetap dengan tidak meninggalkan
habitat saya yang lama (jadi penulis, pembicara dan konsultan).
Ada orang yang mengira saya hebat. Dan
kalau boleh jujur, bila kinerja, kepintaran dan pendidikan ukurannya, dan
diserahkan ke saya sendiri untuk memilih CEO-nya, saya akan memilih orang lain.
Tentu ada yang bertanya, lantas apa modal saya bisa sampai di sini ? Sebenarnya
tidaklah hebat-hebat amat, karena modal saya dimiliki semua orang. Modal tadi
bernama kebaikan. Kebaikan dan hanya kebaikan. Itu dan hanya itu.
Ketika orang berebut kekuasaan saling
sikut, saya biarkan saja sambil tetap bekerja. Tatkala ada yang mencoba
menjegal saya kiri kanan, kadang memang ada dorongan ego untuk melawan, tetapi
kerap saya rem dengan keyakinan : kebaikanlah penyelamat kita yang paling utama.
Ada yang mencoba naik dengan segala cara, dan bahkan menginjak kepala. Saya
ingatkan diri saya : tidak ada pengorbanan yang terbuang percuma. Ada yang
menjelek-jelekkan saya di depan umum, dan memang amat menyakitkan, kerap emosi
terpancing, inipun berhasil saya tenangkan dengan cara serupa.
Berhadapan dengan orang-orang atas dengan
values yang berbeda memang menghadirkan tantangan tersendiri. Kadang, identitas
saya yang asli bisa dikotori dengan nilai-nilai baru. Inipun senantiasa saya
rem, rem dan rem. Pernah terjadi, diri saya dibuat demikian tertekan oleh orang
atas, dan memancing saya untuk mundur. Inipun berhasil direm dengan rumus basi
yang sama. Demikian juga ketika berhadapan dengan pekerja bawah yang di
zaman-zaman ini teramat berani. Kebaikan dan kejujuran mengalahkan segalanya.
Tidak hebat-hebat amat bukan ? Dan Anda
serta siapapun bisa melakukannya. Modalnya hanya satu, niat kuat untuk memulai
dan kemudian bertahan dengan seluruh tenaga. Lelah, capek dan bahkan kadang
sakit memang. Tapi, mana ada kebaikan yang bisa hadir tanpa bayaran ?
Dalam perjalanan hidup seperti ini, kalau
boleh saya menyimpulkan untuk sementara, apa kearifan kehidupan yang mau dibagi
di hari ulang tahun ini sebenarnya sederhana. Ternyata, kebaikan dan kejujuran
menghasilkan banyak sekali kejaiban-keajaiban hidup.
DI MANAKAH SUARAMU HAI ANAK NEGERI ?
Oleh : HERU K WIBAWA
Adakah cara untuk memperbaiki negeri ini?
Apakah dengan memotong 'satu generasi'? atau bahkan 'dua generasi'? seperti
yang diyakini oleh sekelompok orang yang ditempel pada spanduk-spanduk di
pinggir jalan Jakarta. Tidur panjang seluruh penghuni negeri berbuah kesesatan,
kehilangan jati diri dan kemanusiaan, berujungkan pemutarbalikkan bukan saja
sejarah tetapi juga norma-norma kehidupan. Masih adakah harapan negeri ini
menjadi negeri yang aman, tenteram, sejahtera dengan masyarakatnya yang santun
dan saling menghormati ?
Ataukah inilah sejarah dan tragedi
kemanusiaan yang akan terus berputar dinegeri tercinta ini, bukankah hasrat
suci menegakkan hak dan jati diri kemanusiaan manakala para leluhur kita
berjuang melawan ketidakadilan penjajah? Tetapi bukankah sejarah yang
membuktikan bahwa setelah merdeka kita harus bertikai dengan diri kita sendiri,
rakyat melawan pemimpin, mahasiswa melawan politikus? Kebobrokan moral orde
lama bukanlah telah mengkristalkan tekad membentuk pemerintahan yang berpihak
pada kepentingan rakyat, yang terjelma pada munculnya orde baru, orde harapan
dan orde pembangunan? Tetapi bukankah ujungnya juga kekecewaan? Dan reformasi
mahasiswa dengan niat sucinya, bukankah telah membawa pada kekecewaan-kekecewaan
yang semakin menyusahkan hati dan kehidupan rakyat?
Adakah harapan untuk menyelesaikan begitu
banyaknya dan rumitnya serta mendesaknya berbagai persoalan di negeri ini? Kita
ini bangsa yang paling kreatif menciptakan masalah, tetapi paling bodoh menyadari
dan menyelesaikannya. Dan yang lebih bodoh lagi karena kebanyakan kita akan
segera bersimpuh di depan orang asing untuk mendapatkan petunjuk, petuah,
bantuan dan bimbingan. Mengapa? Karena telinga kita terlalu tuli untuk
mendengar suara hati kita (yang telah lama dibiarkan tidak bersuara), dan mata
kita telah buta serta hati kita telah membatu untuk insaf dan bertobat dan
kembali pada kesadaran potensi diri yang dikaruniakanNya cukup bagi hidup kita.
Pergilah ke toko-toko buku, betapa
banyaknya pemikiran-pemikiran asing tentang pengembangan pribadi (self
development), pembaruan diri (self renewal), kepemimpinan (leadership), etika
bisnis, kiat sukses dunia bisnis. Dengan label best seller, the most inivative
book, break through ditambah dengan banjirnya seminar-seminar yang didasarkan
konsep-konsep itu, seakan-akan telah membawa bangsa ini pada pemahaman era
globalisasi dengan konsep-konsep serta perilaku globalnya. Mana tulisan para
Doktor, Profesor yang sekolah dibiayai pemerintah, dengan uang rakyat itu?
Saya merinding membayangkan kesesatan
bangsa ini yang akan semakin jauh dari jati dirinya. Adakah obat bagi penyakit
negeri ini? Benarkah hanya dengan obat asing, benarkah konsep manajemen, etika,
moral, bisnis asing itu cocok dan terbaik buat negeri ini? Ataukah kita sekedar
menghibur diri mencari obat gosok untuk mengobati kanker kronis yang perlu
dioperasi. Ataukah kita terlalu naif dan malu mencari jati diri yang telah lama
hilang dari hidup kita. Lihatlah apa yang menjadi ungkapan kunci sukses orang
Amerika dalam kurun 200 tahun dari 1776 sampai 1976 adalah melakukan
kebiasaan-kebiasaan yang efektif (The Seven Habits/ S Covey) bandingkan dengan
diskripsi manusia Indonesia versi Mochtar Lubis (yang dikutip dalam buku
Menerobos badai krisis/A Harefa), antara lain munafik atau hipokrit; segan dan
enggan betanggungjawab atas perbuatannya; berjiwa feodal; masih percaya
takhayul; artistik; memiliki watak yang lemah; dan beberapa ciri lain seperti:
tidak hemat, kurang sabar, tukang menggerutu, tukang tiru, sok, cenderung
bermalas-malasan, dan kurang peduli terhadap nasib orang lain, selama tidak
mengenai dirinya atau orang yang dekat dengannya.
Bukankah secara mendasar terdapat
perbedaan antara masyarakat kita dengan masyarakat Amerika. Bukankah masyarakat
kita masih dalam taraf kehidupan pasif, menunggu, sementara masyarakat global
adalah masyarakat yang proaktif. Mungkinkah dasar yang sangat berbeda ini
dibangun konsep dan pola pengembangan yang sama? Saya sangat mengkhawatirkan
apabila kita merasa telah membangunnya sebenarnya kita melakukan kesia-siaan.
Paling tidak situasi ini telah mendorong
Cak Nur (dengan Paramadina) dengan 15 prinsip rohaniah manajemennya, Sri
Adyanti (dengan Tazkia Sejati), Anand Krishna (dengan Meditasi) mencoba
menggali nilai-nilai luhur yang pernah dimiliki bangsa ini untuk digali dan
dipakai kembali. Saya bukan anti barat/asing, bahkan dalam tulisan ini akan
banyak saya bandingkan dengan referensi dari konsep-konsep tulisan lain, tetapi
keyakinan saya tidak ada satu halpun (konsep, pemikiran dll) yang begitu saja
dapat diterapkan untuk bangsa kita tanpa adanya jembatan yang menghubungkannya
dengan latar belakang, pendidikan, budaya, serta penghayatan agama yang kita
miliki.
Adakah buku hasil perenungan anak negeri
yang lahir dan dibesarkan dinegeri sendiri, dan memahami dan mungkin mengalami
pendidikan dan kehidupan dinegeri barat serta bergaul cukup intensif dengan
berbagai orang barat dan timur dengan tetap berusaha untuk tidak kehilangan
dirinya. Sehingga pemikiran dan konsepnya akan dekat dengan kita dan menyentuh
aspek-aspek kehidupan nyata.
Di manakah pemikiran atau sumbang saran
yang akan dapat dijadikan jembatan yang mencoba menghubungkan konsep dan
pemikiran serta budaya asing yang terus akan menghujani kita dengan tingkat pemahaman
yang sudah kita miliki? Sehingga dari keadaan 'riil' posisi kita, dapat
mendinamisasi diri sesuai dengan tuntutan zaman. Pilihan terhadap arus
globalisasi tidaklah begitu banyak, karena bagaimanapun kita tidak akan mampu
membendung pengaruhnya. Bukankah seharusnya tindakan proaktif yang kita lakukan
adalah menyerap dan menggunakannya dengan berlandaskan nilai-nilai luhur yang
kita miliki.
Seberapa keluhuran nilai yang kita miliki
sebenarnya? Apakah itu bukan sekedar slogan kosong tak bermakna? Saya tidak
ingin terjebak pada perdebatan sosiologis yang akan mempertentangkan tata nilai
lama dan baru, tetapi saya akan memusatkan perhatian pada tata nilai yang telah
kita miliki dengan kritis, dan mencoba menggali esensinya, sehingga akan mampu
dipakai dalam lingkungan baru. Karena esensi suatu nilai tidak akan luntur oleh
zaman.
Sehingga, sebagaimana A Harefa dalam
mendiskripsikan manusia modern dalam bukunya Sukses tanpa gelar, janganlah kita
terjebak pada gambaran diri semu manusia modern yang kebanyakan dikejar orang
yang lebih bersifat ornamental (tidak esensi) yang lebih mencerminkan kegagapan
menghadapi arus globalisasi. Hal mana terjadi karena segala sesuatu yang baru
tidak disikapi dengan filterisasi atau proses seleksi berdasarkan ukuran-ukuran
atau, ketepatan dan kesesuaian, dengan kebutuhan dan adaptasi, melainkan dengan
semangat taken for granted. [bersambung]
MEMBANGUN DASAR PEMAKSIMALAN POTENSI
Oleh : HERU K WIBAWA
Pada tahap ini saya berharap hasil
pencarian identitas diri melalui ziarah batin yang baru saja kita lakukan telah
membawa pada satu pengertian dan pemahaman atas diri anda sendiri.
Titian-titian kehidupan yang telah membentuk dan memberi identitas pada diri
saudara, yang kembali saudara kunjungi dengan menyingkap kabut yang selama ini
tertutup untuk digali dan dipahami maknanya, saya harapkan telah memberikan
pengertian baru pada identitas diri anda sendiri.
Kalau anda tidak juga melihat diri saudara
sendiri dengan 'kacamata' kemanusiaan yang baru, saya khawatir bahwa saya tidak
berhasil menemani ziarah anda. Tetapi kalau saat ini anda melihat bahwa diri
anda adalah manusia yang penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan, dan kalau
andapun telah mampu melihat orang lain sebagai sesama manusia dengan
nilai-nilai kemanusiaan yang sama seperti yang saudara miliki. Saya harus
mensyukurinya, karena saya telah mampu membangkitkan kembali 'manusia baru'
yang terlahir kembali.
Sebagaimana yang diistilahkan bercumbu
dengan kekekalannya A Harefa (Berguru pada matahari) yaitu saat visi, tujuan,
cita-cita atau impian yang agung melintasi batas ruang dan waktu. Impian yang
mulia berfondasikan nilai-nilai, yang abstrak tak terlihat mata jasmani,
seperti fondasi suatu bangunan yang tidak terlihat dipermukaan tanah. Tujuan
yang agung digerakkan oleh hati nurani, hukum-hukum moral, keyakinan spiritual.
Ia dipandu oleh rasa takut dan rasa kasih yang besar pertama-tama kepada Tuhan,
dan karena Tuhan kepada manusia.
Kembali pada 'fitrah' kemanusiaan adalah
syarat mutlak bagi siapapun untuk masuk kedalam langkah yang paling penting
dalam kehidupan setiap insan, yaitu pemaksimalan potensi diri. Kalau ziarah
batin itu mengarah pada masa lalu, maka pemaksimalan potensi adalah mengarah
pada masa depan. Kalau menemukan kemanusiaan anda merupakan 'kemerdekaan
pratama' maka pemaksimalan potensi adalah 'kemerdekaan purna' dalam kehidupan
setiap manusia.
Kemerdekaan pratama, adalah pada saat anda
menemukan keutuhan pemahaman diri sendiri. Kemerdekaan ini memberikan anda
penemuan jawaban atas pertanyaan -pertanyaan mendasar pada kehidupan setiap
insan, siapakah saya, darimana saya, ke mana saya pergi? Kemerdekaan ini sering
saya permudah dengan 'pemahaman panggilan kemanusiaan', kemerdekaan yang
membebaskan dari belenggu keterbatasan 'semu', yang selama ini mengikat dan
membelenggu potensi yang anda miliki, kebebasan untuk kembali pada nilai
kemanusiaan yang utuh sebagaimana karunia yang dipercayakan pada saudara saat
saudara terlahir didunia ini. Sehingga istilah 'lahir kembali', 'kembali ke
fitrah' adalah definisi lain yang sudah secara umum dimengerti orang.
Sementara pada konsepsi kedua yang akan
kita mulai, saya akan membawa saudara pada kemerdekaan purna, yang harus
diawali oleh kemerdekaan pratama. Kita akan menjelajahi lorong-lorong 'perawan'
yang sama sekali baru, dan belum tersentuh. Kita akan bersama didunia
'metanoia' yaitu dunia impian yang penuh gairah dan emosi, yang sering saya
sebutkan sebagai 'membangkitkan raksasa yang tidur'. Saya teringat legenda cerita
'Kumbakarna' yang menghabiskan hidupnya untuk 'bertapa tidur', seketika ia
bangun, ia mampu memporak porandakan pasukan musuh, dan untuk mengakhiri
hidupnya sebagai patriot dan pahlawan sejati, menggenapi rencana Ilahi dalam
hidupnya.
Tujuan kita itu adalah apa yang disebutkan
Maxwell Maltz (Psycho Cybernetics) yang kutip dalam Sukses tanpa gelar /A
Harefa, sebagai 7 (tujuh) ciri kepribadian sukses yaitu :
- Sense of direction, mampu mengarahkan dan memimpin diri
sendiri,
- Undersatnding, mampu memahami diri sendiri dan orang lain,
- Courage, keberanian bertindak meski harus menghadapi resiko,
- Charity, kemurahan hati, suka menolong dan bersedia membagi
miliknya pada orang lain,
- Esteem (self esteem), memiliki harga diri yang sehat,
- Self Acceptance, bisa menerima kelemahan yang dimiliki
sekaligus meyakini kekuatan-kekuatan unik yang dimilikinya,
- Self confidence, kepercayaan diri yang berkaitan erat dengan
penerimaan diri.
Yang dikutip pula dari Duane Schultz
(Growth Psychology: Model of healthy personality), yang mencoba mencari
titik-titik persamaan orang berkepribadian sehat yaitu:
1.
Mengontrol kehidupannya dengan sadar (mungkin tidak rasional) tetapi tetap
mampu mengatur tingkah laku dan bertanggungjawab terhadap nasib sendiri dengan
tidak menyalahkan lingkungan dan mengkambinghitamkan orang lain,
2.
Mengetahui apa dan siapa diri mereka, dengan segala kelemahan dan kelebihan,
dan tidak mau menjadi sesuatu yang bukan diri mereka sendiri,
3.
Besandar kuat pada masa kini (bukan masa lalu), disisi lain memandang masa
depan sebagai sesuatu yang sangat penting, tetapi tidak mengganti masa kini,
4. Ia
tidak merindukan ketenangan dan kestabilan, tetapi mendambakan tantangan dan
kegembiraan dalam kehidupan, tujuan-tujuan baru dan pengalaman-pengalaman baru.
Dasar pemaksimalan potensi diri.
Pemahaman nilai kemanusiaan tidaklah harus
berhenti pada penerimaan perbedaan dalam setiap individu (termasuk diri
sendiri), yang akan memberikan kebijaksanaan dalam melakukan hubungan dengan
orang lain. Akan tetapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita mampu
melangkah maju lagi, menggunakan sarana interaksi (yang telah mengalami
pencerahan) dengan orang lain bagi pemaksimalan potensi diri. Langkah ini
apabila dilakukan bersama dengan individu yang lain akan merupakan gerakan
massal pemaksimalan potensi masyarakat.
Tidak setiap orang telah mengalami
pencerahan, sehingga yang harus menjadi dasar dalam hubungan dengan orang lain
adalah bahwa kita tidak pernah bisa mengatur apa yang akan dilakukan orang lain
terhadap diri kita, tetapi kita secara mutlak dapat mengatur apa yang akan kita
lakukan bagi diri kita sendiri dan bagi orang lain untuk merespon perlakuan
mereka pada kita. Demikianlah prinsip dasar pemaksimalan potensi yang walaupun
banyak faktor akan tergantung pada orang lain, tetapi apa yang akan berhasil
kita raih lebih bergantung pada apa yang dapat kita lakukan dari pada apa yang
diperbuat dan disediakan orang lain yang tidak dapat kita kontrol.
Walaupun dalam ziarah pada empat titian
hidup nampak banyak sekali faktor ekstern yang mempengaruhi pembentukan
kepribadian seseorang anak, tetapi seperti prinsip dasar kita, bahwa kita tidak
dapat membendung apalagi mengulangi pembentukan dan pengaruh yang ada dan sudah
tertanam yang dilakukan orang lain pada diri kita. Tidaklah disangkal akan
merupakan hal yang lebih baik jikalau kita hidup pada pembentukan yang
sempurna, baik keluarga, pembelajaran, agama dan budaya serta dalam masyarakat
tetapi kenyataannya hal demikian sangatlah jarang dan hampir tidak mungkin dapat
ditemukan.
Bagi mereka yang merasa tidak memiliki
kesempurnaan proses pembentukannya, tidak perlu berkecil hati, karena justru
hampir semua orang dalam kondisi yang demikian dan tulisan inipun mengambil
asumsi yang demikian. Bahkan bagi mereka yang merasakan kekurangannya, itu
justru merupakan langkah awal yang baik untuk menyadarinya guna diperbaiki,
yang selanjutnya dikembangkan untuk mencapai pemaksimalan potensi.
Tantangan terbesar dalam perjuangan
pemaksimalan potensi berasal dari diri sendiri, disisi lain kunci
keberhasilannya juga adalah justru pada kemampuan untuk menguasai diri. Karena
proses ini dilandasi oleh keterbukaan, keberanian dan kerelaan untuk
menginstrospeksi diri serta tekad, kekuatan, semangat pantang menyerah dan daya
tahan dalam proses pemaksimalan pribadi yang berlangsung seumur hidup.
Diri sendirilah yang menentukan, karena
dengan citra diri sesuai dengan potensi yang kita bentuk, akan menciptakan
image yang baik dalam hubungan dengan orang lain dan akan melahirkan 'arus
positif' yang mengalir dari diri kita yang akan mempengaruhi lingkungan seperti
apapun keadaan lingkungan itu, yang akhirnya akan menjadi positif pula. Bukan
kita yang dikendalikan lingkungan tetapi kitalah yang menguasai lingkungan
untuk menggerakannya sesuai dengan keinginan kita.
Sehingga untuk mencapai hidup dengan
potensi maksimal, yang harus ditanyakan adalah seberapa kemauan pribadi saudara
untuk meraihnya, dan bukan pada seberapa dukungan dari lingkungan yang telah
dan akan saudara terima. Dari satu sisi hal ini sangat menguntungkan karena
pemaksimalan potensi diri dapat dilakukan oleh siapapun juga dan berangkat dari
keadaan apapun.
Tetapi dilihat dari skala yang lebih
besar, keefektifan pengaruhnya akan cepat dirasakan dalam masyarakat apabila,
setiap pribadi dalam masyarakat melakukan proses pemaksimalan, sehingga 'arus'
positif yang beredar dalam masyarakat akan semakin kuat, yang tentunya sangat
menguntungkan bagi semua pihak.
Dasar pemaksimalan potensi dapat saya
padatkan dalam 5 dasar yang akan menjadi landasan cara melihat diri, melihat
masa depan dan pijakan serta motivasi yang akan menjadi 'bahan bakar' dalam
meniti langkah-langkah pemaksimalan potensi. Sebagaimana mesin yang selalu
memerlukan bahan bakar, maka 5 dasar ini akan merupakan semangat, pendorong dan
harus senantiasa dikembangkan dalam menghadapi tantangan bagi tercapainya
pemaksimalan potensi. Sehingga dasar ini harus dikuasai dan dimiliki serta
terus dikembangkan, karena tanpa kekokohan landasan, maka langkah selanjutnya
akan rapuh dan mudah runtuh. [ bersambung ]
Coretan kecil
Detik-detik
terakhir seorang Pemimpin sebuah judul film yang diangkata dari kisah nyata
seorang pemimpin, banyak nilai yang tertuang di dalamnya, hingga akan
menitipkan pesan begitu dalam akan hikmah hidup bersama hiruk pikuk realitas
ini. Dimana film tersebut menceritakan seorang figur pemimpin yang begitu
sangat dicintai oleh raknyatnya – yang kemudian harus meniggalkan yang mungkin
pada saat itu masih sangat membutuhkan sang figur pemimpin seperti itu. Seluruh
wilayah, pelosok atau apapun namanya. Menyeruh hingga menderu tapi bukan karena
mesin-mesin melainkan tangisan yang sangat perih, tangisan yang seakan-akan
membanjiri tanah airnya, tangisan penuh penyesalan. Namun, pertanyaannya
kemudian adalah, apa yang istimewa dari seorang figur yang telah membuat mata
bahkan hati harus menangis pilu ?.
Kalau
ditanya apa yang istimewa dari seorang
figur pemimpin seperti yang diceritakan dalam film itu, tentunya secara pribadi
saya akan mengatakan (dalam kerangka berfikir normatif dan matrealis) tidak
ada. Dimana ketika seorang figur pemimpin dalam suatu negara, yang hidup dalam
kesederhanaan, dan bertempat-tinggal dalam sebuah gubuk bukan istana yang
megah, dalam arti kata sangat memasyarakat hingga tak ada sekat lagi antara
seorang pemimpin dan rakyatnya. Semuanya sama dan setara. Tidak ada perbedaan
antara dia dan rakyatnya, memimpin rakyatnya dengan penuh kecintaan dan
tanggung-jawab, melindungi rakyatnya dan selalu berada digaris depan dalam
kondisi sedarurat apapun, Hingga wajar saja ketika semua orang akan kehilangan
figur seperti itu.
Dalam
konteks yang lebih luas, akan mencakup keseluruhan dari apa yang menjadi objek
kita, ketika kita membicarakan seorang figur, ya tentunya kita mesti mengenal
sang figur lebih jauh, mungkin dari biografinya yang mencakup segala hal pula.
Mungkin untuk mempermudah, kita mengambil contoh real seorang figur pemimpin
yang tiada bandingannya, yang kata Kang Jalal dalam bukunya Islam Aktual “Jika
kita mengukur kebesaran dengan pengaruh, beliau seorang Raksasa sejarah”.
Beliau adalah Rasulullah SAW (salam & shalawat tercurah pada beliau dan
keluargga beliau). Lanjut Kang Jalal Rasululah SAW (secara global – pen.)
adalah seorang pemimpin yang telah berjuang meningkatkan tahap ruhaniah dan
moral suatu bangsa yang tenggelam dalam kebiadaban. Rasulullah SAW pun sangat
mencintai ummatnya dengan penuh rasa cinta dan dari aspek kehidupannya pun,
kita ketahui bersama dari berbagai riwayat bahwa beliau sangatlah sederhana
yang lebih mengutamakan kaum papa dibandingkan dirinya. Rasulullah SAW dalam
majelis-majelisnya pun sangat demokratik hingga siappun berhak untuk angkat
bicara bahkan komplen. Sungguh hal yang luar biasa.
Nah,
secara karesteristik dari referen diatas, tentunya pemimpin harusnya
mampu untuk lebih demokratik untuk semua aspirasi yang ada,
bukannya aspirasi itu ditampung atau dibungkam melainkan diaspirasikan.
Pemimipin yang selalu mebuka ruang-ruang demokrasi dan mampu untuk membuka
telinga atas segala keluhan dan keritikan, juga membelalakkan matanya agar
dapat melihat setiap kepedihan dan penderitaan anak negeri disetiap ruas-ruas
kota sampai kepelosok-pelosok desa. Pemimpin harusnya peka atau cermat terhadap
Relitas Sosial yang tentunya hal tersebutpun bukan sekedar janji-janji
melainkan realiasaskikan. Karena sesuatu tindakan akan dikatakan benar
apabila Verbal dan Non Verbal itu sejalan. Itu baru sebagian
kecil dari sekian banyak yang mesti dipenuhi untuk menjadi seorang pemimpin.
Dan
dalam konteks kebangsaan kita hari ini bahkan sampai kapanpun dan dimanapun,
semua orang akan merindukan bahkan sangat membutuhkan figur pemimipin seperti
Rasulullah SAW, atau setidaknya seperti yang
(diceritakan – pen) dalam kisah nyata film yang berjudul “detik-detik
terakhir seorang pemimpin” itu. Karena hanya dengan cinta orang akan merasa
damai, hanya dengan cinta orangkan merasa tentram, dan dengan bahasa cinta yang
teraktualkan lewat tindakan yang penuh rasa cinta. Jadi, pemimpin yang
sebenarnya adalah ketika dia mampu mencintai rakyatnya dengan rasa kasih dan
sayangnya hingga mengantararkannya kepada tujuan yang SESUNGGUHNYA. Semoga !.
Pendidikan Sebagai Pencerah Spiritual
Oleh: Sawali
Dunia persekolahan kita, kata YB
Mangunwijaya dalam buku Pasca Indonesia, Pasca-Einstein (1999), tidak mengajar
anak didik untuk berpikir eksploratif dan kreatif. Seluruh suasana pembelajaran
yang dibangun adalah penghafalan, tanpa pengertian yang memadai. Adapun
bertanya-apalagi berpikir kritis-praktis-adalah tabu. Siswa tidak dididik
tetapi di-drill, dilatih, ditatar, dibekuk agar menjadi penurut, tidak jauh
berbeda dari pelatihan binatang-binatang "pintar dan terampil" dalam
sirkus.
Suasana pembelajaran yang "salah
urus" semacam itu, demikian Mangunwijaya, telah membikin cakrawala
berpikir peserta didik menyempit dan mengarah kepada sikap-sikap fasisme,
bahkan menyuburkan mental penyamun/perompak/penggusur yang menghambat kemajuan
bangsa. Erat berhubungan dengan itu, timbullah suatu ketidakwajaran dalam
relasi sikap terhadap kebenaran. Mental membual, berbohong, bersemu, berbedak,
dan bertopeng seolah-olah semakin meracuni kehidupan kultural bangsa.
Kemunafikan merajalela. Kejujuran dan kewajaran dikalahkan. Keserasian antara
yang dikatakan dan yang dikerjakan semakin timpang.
Sikap-sikap fasis yang menafikan keluhuran
akal budi, bahkan makin menjauhkan diri dari perilaku hidup yang menjunjung
tinggi martabat kemanusiaan, tampaknya sudah menjadi fenomena yang mewabah
dalam masyarakat kita. Maraknya fenomena dan perilaku anomali semacam itu,
menurut hemat penulis, merupakan imbas dari sistem pendidikan yang telah gagal
dalam membangun generasi yang utuh dan paripurna.
Pertama, selama menuntut ilmu di bangku
pendidikan, pelajar yang baik senantiasa dicitrakan sebagai "anak
mami" yang selalu mengamini semua komando gurunya. Mereka ditabukan untuk
bersikap kritis, berdebat, dan bercurah pikir. Akibatnya, mereka tampak begitu
santun di sekolah, tetapi menjadi liar dan beringas di luar tembok sekolah.
Kedua, anak-anak bangsa yang tengah gencar
memburu ilmu di bangku pendidikan (hampir) tidak pernah dididik secara serius
dalam menumbuhkembangkan ranah emosional dan spiritualnya. Ranah kecerdasan
spiritual yang amat penting peranannya dalam melahirkan generasi yang utuh dan paripurna
justru dikebiri dan dimarjinalkan.
Kebijakan dan kurikulum pendidikan kita
belum memberikan ruang dan waktu yang cukup berarti untuk memberikan pencerahan
spiritual siswa. Yang lebih memprihatinkan, guru sering terjebak pada situasi
rutinitas pembelajaran yang kaku, monoton, dan menegangkan lewat sajian materi
yang lebih mirip orang berkhotbah, indoktrinasi, dan "membunuh"
penalaran siswa yang dikukuhkan lewat dogma-dogma dan mitos-mitos.
* * *
Idealnya, pendidikan harus mampu
memberikan proses pencerahan dan katarsis spiritual kepada peserta didik,
sehingga mereka mampu bersikap responsif terhadap segala persoalan yang tengah
dihadapi masyarakat dan bangsanya. Melalui pencerahan yang berhasil ditimbanya,
me-reka diharapkan dapat menjadi sosok spiritual yang memiliki apresiasi tinggi
terhadap masalah kemanusiaan, kejujuran, demokratisasi, toleransi, dan
kedamaian hidup. Kita membutuhkan sosok manusia yang memiliki kecerdasan
spiritual yang menciptakan damai di tengah berkecamuknya kebencian, yang menawarkan
pengampunan bila terjadi penghinaan.
Kecerdasan spiritual mewujudkan diri dalam
perikehidupan yang diliputi dengan kesadaran penuh, perilaku yang berpedomankan
hati nurani, penampilan yang genuine tanpa kepalsuan, kepedulian besar akan
tegaknya etika sosial. Sebaliknya, ketidakcerdasan spiritual menunjukkan diri
dalam ekspresi keagamaan yang memonolitis, eksklusif, dan intoleran yang sering
meninggalkan "jejaknya" pada korban konflik atas nama agama, seperti
yang belakangan ini sering kita saksikan.
Kerdilnya kecerdasan spiritual yang
mencuat dalam bentuk perilaku yang gemar berkonflik atas nama etnis dan agama,
jelas menjadi keprihatinan kolektif kita sebagai bangsa. Ke depan, dunia
pendidikan kita harus bersikap antisipatif dengan memberikan sentuhan perhatian
yang cukup berarti terhadap ranah spiritual siswa. Kurikulum dan kebijakan
pendidikan harus benar-benar mengakomodasi ranah spiritual siswa secara
proporsional dan substansial.
Mata pelajaran Pendidikan Agama, selain
ditambah alokasi waktunya, hendaknya juga tidak sekadar mencekoki siswa dengan
setumpuk teori dan hafalan, tetapi harus benar-benar menyentuh kedalaman dan
hakikat spiritual yang membuka ruang kesadaran nurani siswa di tengah konteks
kehidupan sosial-budaya yang majemuk. Hal itu harus didukung oleh semua guru
lintas mata pelajaran dengan mengintegrasikan nilai-nilai keimanan dan
ketakwaan ke dalam materi ajar yang diampunya.
Tidak kalah penting, guru yang berada di
garda depan dalam dunia pendidikan hendaknya mampu menjadi figur keteladanan
spiritual di hadapan peserta didik. Guru hendaknya juga mampu
"menanggalkan" jiwa yang kasar dalam mendidik. Sikap pendidik harus
demokratis, lebih "conscientious", lebih mawas diri, yang otomatis
akan menular ke jiwa anak didik.
Di tengah situasi Indonesia yang makin
"silang-sengkarut" akibat krisis multiwajah dan konflik
berkepanjangan, sudah saatnya dunia pendidikan benar-benar mengambil peran
sebagai pencerah dan katarsis peradaban yang sakit. Kehadirannya harus
benar-benar dimaknai secara substansial sebagai "kawah candradimuka"
yang menggembleng jutaan anak bangsa menjadi generasi yang utuh dan paripurna;
cerdas intelektualnya, cerdas emosionalnya, sekaligus cerdas spiritualnya.
Bukan hanya sekadar pelengkap yang selalu disanjung-puji sebagai pengembang
SDM, tetapi realitasnya hanya menjadi sebuah "Indonesia" yang
terpinggirkan.
* Sawali, guru SLTP Negeri 2 Pegandon,
Kendal, Jawa Tengah. (Kompas 090701)
source : [kolom Opini] pembelajar.com
Subscribe to:
Posts (Atom)


.jpg)




.jpg)

.jpg)



