Showing posts with label LEARNING ARTICLES. Show all posts
Showing posts with label LEARNING ARTICLES. Show all posts

Friday, November 13, 2015

Komputer Desktop Ini Seukuran iPhone 6


PC dengan berukuran mini tampaknya sedang "ngetren" belakangan ini. Setelah Intel merilis Compute Stick, banyak produsen yang berlomba-lomba merilis perangkat semacam ini.

Android Kini Bisa Merekam Adegan Video Game


Google semakin serius menggarap YouTube Gaming miliknya. Kali ini mereka mendukung layanan streaming video itu dengan meluncurkan sebuah fitur perekaman untuk Android.
Pengguna sistem operasi berlogo robot hijau itu bisa mengaksesnya melalui aplikasi Google Play Games yang sudah diperbarui.

Tuesday, February 11, 2014

Cultural Studies


Cultural studies memfokuskan diri pada hubungan antara relasi-relasi sosial dengan makna-makna. Berbeda dengan "kritik kebudayaan" yang memandang kebudayaan sebagai bidang seni, estetika, dan nilai-nilai moral/kreatif, cultural studies berusaha mencari penjelasan perbedaan kebudayaan dan praktek kebudayaan tidak dengan menunjuk nilai-nilai intrinsik dan abadi (how good?), tetapi dengan menunjuk seluruh peta relasi sosial (in whose interest?).

Wednesday, July 3, 2013

Fashion dan Identitas

Dalam masyarakat modern, semua manusia adalah performer. Setiap orang diminta untuk bisa memainkan dan mengontrol peranan mereka sendiri. Gaya pakaian, dandanan rambut, segala macam asesoris yang menempel, selera musik, atau pilihan-pilihan kegiatan yang dilakukan, adalah bagian dari pertunjukan identitas dan kepribadian diri. Kita bisa memilih tipe-tipe kepribadian yang kita inginkan lewat contoh-contoh kepribadian yang banyak beredar di sekitar kita—bintang film, bintang iklan, penyanyi, model, bermacam-macam tipe kelompok yang ada—atau kita bisa menciptakan sendiri gaya kepribadian yang unik, yang berbeda, bahkan jika perlu yang belum pernah digunakan oleh orang lain.  Anthony Synott (1993) berhasil memberikan penjelasan yang bagus tentang rambut. Dalam beberapa hal, rambut tidak sekedar berarti simbol seks penanda laki-laki dan perempuan. Ia juga simbol gerakan politik kebudayaan tertentu. Menurutnya, model rambut yang berbeda menandakan model ideologi yang berbeda pula. Tahun 50-an yang membawa iklim pertumbuhan dan kemakmuran di Amerika ikut menghembuskan kebebasan ekspresi individual baru termasuk jenis model rambut baru. Model rambut yang dibentuk menyerupai ekor bebek menjadi sangat populer saat itu. Tokoh-tokoh utama jenis rambut ini adalah Elvis Presley dan Tony Curtis. Setelah itu berlangsunglah era model rambut beatnik look yang dipelopori oleh James Dean dan Marlon Brando.

DASAR-DASAR BERMAIN DRAMA


Sesuai dengan judulnya, maka tulisan ini hanya membatasi diri kepada persoalan dasar-dasar bermain drama dengan mengupas modal dasar yang dimiliki oleh setiap orang (calon) pemain drama. Dengan demikian, diharapkan pengertian teoritis dasar dalam bermain drama dapat lebih dahulu diterima sebelum melangkah ke cara-cara penggarapan dan pelatihannya.

TENTANG DRAMA
Kata "drama" berasal dari bahasa Yunani, yaitu DRAOMAI yang berarti berlaku seperti ..., berbuat seperti ..., beraksi seperti ..., dan bertindak seperti ... .

Dari situlah hadir beragam difinisi terhadap drama dari para ahli drama yang bila dirangkum kesemuanya akan lahir sebuah statement, bahwa drama adalah manusia.

Mengapa?

Dalam Ruang Pribadi Penonton : Romantisme dan Ekonomi Politik Sinteron Indonesia


                  Televisi memang telah jadi perhatian studi-studi kebudayaan
                  sejak lama, dan menurut saya memang tidak ada media lain yang
                  menyamai televisi dalam hal besarnya volume teks-teks budaya
                  populer yang dihasilkan. Rasanya, televisi selalu mampu
                  melahirkan bagian-bagian baru yang menarik untuk diamati dan
                  dianalisa, mulai dari siaran berita, iklan televisi, sinetron,
                  film televisi, talk show, kuis-kuis, acara musik, dan

Cyberculture


                  Term cyberspace diperkenalkan tahun 1984 oleh William Gibson
                  dalam novelnya Neuromancer (sebelumnya cyberspace disebut
                  sebagai the Net, the Web, the Cloud, the Matrix, the
                  Metaverse, the Datasphere, the electronic frontier, the
                  Information Superhighway, dll.). Cyberspace menjadi setting
                  utama novel-novel Gibson selanjutnya, Count Zero (1986), Mona
                  Lisa Overdrive (1988), dan Virtual Light (1993). Belakangan
                  karya fiksi yang memakai gaya Gibson disebut cyberpunk. Tokoh
                  utama cyberpunk, selain Gibson, adalah Pat Cadigan yang
                  menulis Patterns (1989), Synners (1991), dan Fools (1994).
                  Dalam Neuromancer Gibson menjelaskan cyberspace sebagai
                  "pamandangan yang dihasilkan oleh komputer-komputer yang
                  ‘ditancapkan langsung’—kadang juga dengan langsung memasukkan
                  elektroda-elektroda ke dalam soket-soket yang ditanamkan di
                  otak".

Budaya Populer

Adalah media massa Amerika yang telah meraih apa yang tidak mungkin bisa dilakukannya melalui politik, yakni dominasi Amerika atas dunia. Hollywood sukses, sedangkan Pentagon justru gagal! Padahal pada kenyataannya, film maupun alat-alat pertahanan adalah dua bidang yang memberikan penghasilan terbesar bagi ekonomi Amerika. Dunia menonton dengan keterpikatan hipnotis pemutaran ulang episode-episode opera sabun Amerika; di seluruh dunia orang bertanya ''siapa yang menembak JR?'' dalam serial Dallas atau ''siapa yang membunuh Laura Palmer?'' dalam film ''Twin Peaks''. Impian Amerika dianggap tak bisa dilawan. (''Lubang Hitam Kebudayaan'', Hikmat Budiman).

Thursday, June 20, 2013

Budaya Materi

Apa makna benda-benda bagi manusia? Baik dari sudut pandang masyarakat tradisional maupun masyarakat modern pertanyaan ini bisa dijawab dengan dua hal, yang merupakan pokok kajian budaya materi (budaya pemanfaatan benda-benda oleh manusia, bagaimana manusia berhubungan dengan benda). pertama, benda-benda bisa diletakkan dalam perspektif fungsional saja. Dalam perspektif ini sebuah piring berfungsi sebagai wadah makanan, senjata berfungsi sebagai alat berburu dan mempertahankan diri terhadap serangan musuh, sepatu berfungsi sebagai pelindung kaki dsb. Fenomena peradagangan/ekonomi juga masih termasuk dalam perspektif ini. Yang kedua, benda-benda bisa juga diletakkan dalam perspektifnya sebagai totem, yaitu diasosiakan secara simbolik dengan sesuatu yang lain. Di sini benda-benda berperan sebagai pembawa maknamakna sosial tertentu. Cincin misalnya, yang tak terlalu penting dalam perspektif fungsional, dalam perspektif totem bisa bermakna kecantikan, kekayaan, atau ikatan kesetiaan dsb. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa benda-benda, seperti diteorisikan Mary Douglas (antropolog) dan Baron Isherwood (ekonom) (1979), mampu mengkongkretkan makna-makna sosial yang abstrak seperti kesetiaan, kepatuhan, dsb.

Wednesday, June 19, 2013

Budaya Cewek

Angela McRobbie (1995) mengatakan bahwa tampaknya selama ini remaja perempuan hanya bisa ditemukan dalam catatan kaki atau sebagai referensi tambahan saja. Suatu kategori di antara 'remaja' dan 'bisnis-bisnis lainnya'. Remaja perempuan tampaknya tidak benar-benar berada di sana. Pernyataan McRobbie ini mewakili kritik kaum feminis terhadap analisis-analisis subkultur yang selama ini ada. Analisis subkultur dianggap tidak memberi perhatian dan tempat yang layak kepada remaja perempuan.
Bill Osgerby (1998) mencatat bahwa masa sebelum Perang Dunia II, pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, kategori 'youth' dan 'adolescent' secara umum mempunyai konotasi dan imej laki-laki. Pada masa ini, remaja perempuan cenderung digolongkan sebagai kelompok yang 'classless' dan disembunyikan dari sejarah. Tapi pada masa setelah Perang Dunia II, 'teenager' bermakna remaja perempuan dan remaja laki-laki. Skala perubahan remaja perempuan pada kedua masa ini tentunya membutuhkan area peliputan yang lebih luas. 
Di Indonesia sendiri, terlebih dulu kita mengenal remaja perempuan sebagai kelompok remaja yang ikut berpartisipasi membantu perjuangan merebut kemerdekaan. Mereka ikut membantu merawat para prajurit laki-laki yang terluka, atau membantu memasak keperluan logistik para prajurit di dapur umum. Gambaran remaja perempuan berpakaian putih-putih dengan simbol palang merah di lengan, yang sedang berjongkok membalut luka prajurit, sangat sering kita jumpai dalam drama-drama di panggung peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia, juga dalam foto-foto atau gambar di buku-buku sejarah.
McRobbie kemudian mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan pokok yang bisa dijadikan panduan atau penuntun dalam melakukan penelitian terhadap subkultur remaja perempuan, yaitu: 1) apakah mereka 'hadir', namun 'tidak nampak'?, 2) jika mereka memang hadir/eksis, apakah peranan mereka lebih marjinal daripada laki-laki, atau apakah mereka memainkan peran yang berbeda?, 3) apakah posisi remaja perempuan menunjukkan pilihan subkultural, atau apakah peranan mereka merefleksikan subordinasi umum perempuan?, 4) apakah ada cara-cara berbeda dan khusus yang dijalankan remaja perempuan dalam mengorganisir hidupnya?
Remaja perempuan sebenarnya eksis dan hadir dalam kehidupan subkultur. Kita bisa menemukan remaja perempuan dalam kerumunan penonton konser musik rock, kita juga bisa menemukan remaja-remaja perempuan ikut bergabung dalam kelompok-kelompok punk di jalan-jalan. Tetapi seringkali keterlibatan perempuan dalam subkultur dikaitkan dengan kemerosotan moral dan degradasi personal. Media massa juga kerap memandang remaja perempuan dalam kelompok ini sebagai sesuatu yang sensasional semata.
Fakta lain menunjukkan bahwa jika remaja perempuan dan laki-laki sama-sama tergabung dalam kelas pekerja, gaji yang diterima kadang-kadang tidak sama. Atau meskipun penghasilan mereka sama, gaya konsumsi remaja perempuan dan remaja laki-laki pasti akan berbeda karena aktivitas bersenang-senang yang mereka lakukan juga berbeda. Atau mungkin aktivitas bersenang-senang yang dilakukan remaja laki-laki dan remaja perempuan jaman sekarang tidak terlalu menunjukkan perbedaan yang menyolok. Kita akan dengan mudah menemukan remaja perempuan sama banyaknya dengan remaja laki-laki dalam kafe atau music club. Tapi tetap saja remaja perempuan harus 'berhati-hati supaya tidak mendapat bahaya' di tempat-tempat seperti itu. Bahaya ini biasanya berupa serangan seksual dari remaja laki-laki atau laki-laki dari kelompok umur yang lebih tua. Sikap khawatir, ketakutan, dan hati-hati terhadap bahaya-bahaya ini biasanya didukung oleh para orang tua. Tidak heran jika remaja-remaja perempuan diharapkan untuk lebih banyak berada di dalam rumah atau dalam kamar. Intinya, mereka didukung untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih berpusat dalam rumah. Rumah teman-teman perempuan dan kamar tidur akhirnya menjadi situs-situs kunci remaja perempuan.
Perkembangan dalam dunia konsumerisme kemudian menunjukkan dimulainya boom berbagai macam produk yang khusus ditujukan untuk pasar remaja perempuan, mulai dari kosmetik, pakaian, dan berbagai macam pernik-perniknya. Hal-hal itu biasanya dipakai di rumah. Rumah teman dan kamar tidur kembali menemukan tempatnya. Jadi bisa dikatakan, remaja perempuan berpartisipasi dalam perkembangan dunia di luarnya, dan mereka mengkonsumsi itu semua di rumah, dalam tempat tidur mereka.
Remaja perempuan juga cenderung tidak dicurigai jika mempunyai teman-teman dekat perempuan. Maka tidak heran jika sejak jaman dulu sampai sekarang, pemandangan seorang remaja perempuan yang berada di tengah kerumunan kecil kelompok/gang perempuannya selalu dengan mudah bisa kita temui. Kehidupan kelompok remaja perempuan dipopulerkan kembali oleh Cinta, Maura, Milly, Alya dan Karmen dalam film Ada Apa Dengan Cinta. Para remaja perempuan biasanya memperoleh eksklusivitas sosial, ruang-ruang privat dan tidak bisa diakses, ruang-ruang khusus yang berjarak dan, untuk sementara, bebas dari tekanan orang tua, guru-guru di sekolah, juga teman-teman laki-laki.

Kehadiran majalah-majalah remaja perempuan juga harus diperhitungkan jika kita ingin membuat analisa terhadap para remaja perempuan ini. Mulai 1980-an akhir dan 1990-an, muncul kelompok-kelompok band laki-laki yang ditampilkan dengan daya tarik seksual yang lebih menonjol. Maskulinitas mulai ditampilkan sebagai objek sama menarik dan menggairahkannya dengan feminitas. Dan majalah-majalah remaja perempuan yang hadir di sini ikut mendukung dengan memberikan liputan dan perhatian yang besar kepada mereka, sehingga bisa dikatakan posisi remaja perempuan sekarang jadi terbalik. Mereka yang biasanya berposisi sebagai objek,

print this page Print

Bagaimana Representasi Menghubungkan Makna dan bahasa dalam Kebudayaan?

Menurut Stuart Hall, ada dua proses representasi. Pertama, representasi mental. Yaitu konsep tentang ‘sesuatu’ yang ada di kepala kita masing-masing (peta konseptual). Representasi mental ini masih berbentuk sesuatu yang abstrak. Kedua, 'bahasa', yang berperan penting dalam proses konstruksi makna. Konsep abstrak yang ada dalam kepala kita harus diterjemahkan dalam 'bahasa' yang lazim, supaya kita dapat menghubungkan konsep dan ide-ide kita tentang sesuatu dengan tanda dan simbol-simbol tertentu.

Proses pertama memungkinkan kita untuk memaknai dunia dengan mengkonstruksi seperangkat rantai korespondensi antara sesuatu dengan sistem 'peta konseptual' kita. Dalam proses kedua, kita mengkonstruksi seperangkat rantai korespondensi antara 'peta konseptual' dengan bahasa atau simbol yang berfungsi merepresentasikan konsep-konsep kita tentang sesuatu. Relasi antara 'sesuatu', ‘peta konseptual', dan 'bahasa/simbol' adalah jantung dari produksi makna lewat bahasa. Proses yang menghubungkan ketiga elemen ini secara bersama-sama itulah yang kita namakan: representasi.

Konsep representasi bisa berubah-ubah. Selalu ada pemaknaan baru dan pandangan baru dalam konsep representasi yang sudah pernah ada. Karena makna sendiri juga tidak pernah tetap, ia selalu berada dalam proses negosiasi dan disesuaikan dengan situasi yang baru. Intinya adalah: makna tidak inheren dalam sesuatu di dunia ini, ia selalu dikonstruksikan, diproduksi, lewat proses representasi. Ia adalah hasil dari praktek penandaan. Praktek yang membuat sesuatu hal bermakna sesuatu.


print this page Print

Anak Jalanan dan Subkultur: Sebuah Pemikiran Awal


Oleh Kirik Ertanto


Dalam kesempatan ini, kita akan mempercakapkan gagasan mengenai subkultur. Seperti kita kenali bersama, tema ini salah satu yang diabaikan dalam perbincangan mengenai masyarakat Indonesia modern. Untuk itu sejak awal saya ingin berterus terang bahwa apa yang saja sajikan masih menyentuh bagian-bagian pinggirnya saja. Subjek yang saya pilih dalam percakapan kali ini adalah kehidupan sebagian kalangan anak muda yang berada di jalanan. Dalam kata lain, melihat kehidupan anak muda di jalan sebagai satu subkultur. Sebuah subkultur selalu hadir dalam ruang dan waktu tertentu, ia bukanlah satu gejala yang lahir begitu saja. Kehadirannya akan saling kait mengkait dengan peristiwa-peristiwa lain yang menjadi konteksnya. Untuk memudahkan kita memahami gagAsan mengenai subkultur anak muda jalanan, maka saya akan memulai dengan satu upaya membuat peta antara hubungan anak muda dan orang tua serta kultur dominan sebagai kerangkanya. Sekurang-kurangnya ada dua pihak yang -berkat dukungan modal yang melekat pada dirinya- berupaya mengontrol kehidupan kaum muda, yaitu negara dan industri berskala besar.
Di Indonesia, pihak pertama yaitu negara berupaya mengontrol kehidupan anak muda melalui keluarga. Keluarga dijadikan agen oleh negara untuk sebagai saluran untuk melanggengkan kekuasaan. Melalui UU No. 10/1992 diambil satu keputusan yang menjadikan keluarga sebagai alat untuk mensukseskan pembangunan. Keluarga tidak hanya dipandang hanya memiliki fungsi reproduktif dan sosial melainkan juga fungsi ekonomi produktif. Pengambilan keputusan keluarga dijadikan alat untuk mensukseskan pembangunan pada gilirannya membawa perubahan pada posisi anak-anak dan kaum muda dalam masyarakat. Anak-anak dan kaum muda dipandang sebagai satu aset nasional yang berharga. Oleh karena itu investasi untuk menghasilkan peningkatan modal manusia (human capital) harus sudah disiapkan sejak sedini mungkin. Dalam hal tugas orang dewasa adalah melakukan penyiapan-peyiapan agar seorang anak bisa melalui masa transisinya menuju dewasa. Akibatnya ada pemisahan yang jelas antara masa anak-anak dan masa muda dengan masa dewasa. Adalah tugas orang tua untuk memberikan pemenuhan gizi yang dibutuhkan, mengirim ke sekolah sebagai bagian dari penyiapan masa transisi. Saya Shiraishi (1995) yang banyak mengamati kehidupan keluargga dan masa kanak-kanak dalam masyarakat Indonesia mutakhir mengatakan bahwa implikasi lebih lanjut dari gagasan keluarga modern itu pada akhirnya menempatkan anak-anak sepenuhnya dibawah kontrol orang tua. Orang tua menjadi kuatir bila anaknya tidak mampu melewati masa transisi dengan baik, misalnya putus sekolah, dan akan terlempar menjadi kaum "TUNA" (tuna wisma, tuna susila dan tuna lainnya), kaum yang kehidupannya ada di jalanan. Kekuatiran ini bisa dilihat secara jelas dengan streotipe mengenai kehidupanjalanan sebagai kehidupan "liar". Bukanlah satu hal yang mengada-ada bila kemudian para. orang tua lebih memilih untuk memperpanjang proteksi anak-anaknya untuk berada di dalam rumah sebab lingkungan di luar rumah dianggap sebagai "liar" dan mengancam masa depan anaknya. Pilihan untuk memperpanjang masa proteksi anak-anak inilah yang kemudian ditangkap sebagai peluang dagang oleh para pengusaha. Belakangan ini dengan mudah kita bisa melihat berbagai produk atau media untuk membantu penyiapan masa transisi anak-anak. Program televisi yang jelas menggunakan kata (televisi) PENDIDIKAN INDONESIA adalah salah satu contoh terbaiknya. Selain itu berbagai media cetak juga mengeluarkan berbagai produk bagaimana menyiapkan anak secara "baik dan benar" dalam rangka pengembangan sumber daya pembangunan. Para orang tua pada. gilirannya akan lebih mengacu pada berbagai media itu sendiri dibandingkan pada peristiwa sehari-hari yang dialami oleh anaknya. Cara membesarkan anak yang diimajinasikan oleh negara dan pemilik modal inilah yang kemudian menjadi wacana penguasa (master discourse) untuk anak-anak Indonesia. Ia digunakan sebagai alat untuk menilai kehidupan keseluruhan anak dan kaum muda di Indonesia. Hasilnya seperti yang ditunjukkan Murray (1994) adalah mitos kaum marjinal: yang dari sudut pandang orang luar menggambarkan orang-orang ini sebagai massa marjinal yang melimpah ruah jumlahnya dengan budaya kemiskinan dan sebagai lingkungan liar, kejam dan kotor ... sumber pelacuran, kejahatan dan ketidakamanan.
Murray tidaklah sendirian dalam memberikan adanya dikotomi rumah dan jalan. Studi Siegel (1986), Saya Shiraishi (1990) dan Jerat Budaya (1998) menunjukkan temuan yang sama. Studi Marquez ( 1998) mengenai kaum muda jalanan di Caracas menunjukkan bahwa anak muda itu tidak secara pasif menerima begitu saja pandangan negatif dari luar. Jalan raya bukanlah sekedar tempat untuk bertahan hidup. Bagi kaum muda tersebut jalanan juga arena untuk menciptakan satu organisasi sosial, akumulasi pengetahuan dan rumusan strategi untuk keberadaaan eksistensinya. Artinya ia juga berupaya melakukan penghindaran atau melawan pengontrolan dari pihak lain. Bertolak dari gambaran sekilas di atas, saya akan menempatkan percakapan mengenai subkultur anak jalanan di Indonesia dalam titik potong antara dikotomi rumah dan jalan di satu sisi dan orang tua (kaum dewasa) dengan anak muda di sisi lain. Fokus dari percakapan kali ini untuk sementara saya batasi bagaimana corak mode kehidupan yang ditampilkan oleh kaum muda yang besar di jalan yang kemudian bertumbuh menjadi subkultur. Meninggalkan Rumah, Menanggalkan Masa Lalu Sebuah sebuah kategori sosial, anak jalanan bukanlah satu kelompok yang homogen. Sekurang-kurangnya ia bisa dipilah ke dalam dua kelompok yaitu anak yang bekerja di jalan dan anak yang hidup di jalan. Perbedaan diantaranya ditentukan berdasarkan kontak dengan keluarganya. Anak yang bekerja di jalan masih memiliki kontak dengan orang tua sedangkan anak yang hidup di jalan sudah putus hubungan dengan orang tua. Dalam tulisan ini, anak jalanan mengacu pada kategori anak yang hidup di jalan. Seorang anak jalanan yang sudah hampir dua puluh tahun hidup di jalan menuturkan pengalamannya pergi dari rumah. Katanya waktu kecil ia banyak ngeluyur dibanding sekolah, lebih banyak bermain dari pada belajar. Akibatnya, teman-temannya sudah naik ke kelas tiga ia masih saja duduk dibangku kelas satu. Buat sebagian anak pergi ke sekolah tidaklah selalu berarti pengalaman yang menyenangkan. Seorang anak lain  bila mengingat sekolah maka yang muncul adalah gurunya yang galak dan tubuhnya yang menjadi sasaran sabetan.
Katanya: Waktu saya sekolah saya digebugin karena di sekolah saya goblog. Di bawa ke kantor karena.sering nonton Th lalu disuruh membaca di papan tulis tidak bisa. Di sabet badanku. Pak guru saya galak. Lalu saya keluar kelas tiga. Keadan murid-murid bermasalah seperti itu biasanya dilaporkan oleh guru kepada orang tua murid. Laporan itu bisa menjadi penyulut kemarahan orang tua. Seperti yang dituturkan H: dan pak guru saya sering datang menemui orang tua saya menceritakan keadaan saya. Saya dimarahi bapak tidak hanya dengan suara tetapi juga digebugi pakai sapu lidi sampai merah kaki saya Berbagai penyuluhan, berita TV dan radio secara bertubi-tubi telah mengajar para orang tua memlaui pembatinan bahwa anak yang baik adalah anak sekolahan. Karena itu wajar saja bila guru tidak mampu lagi mendidik anaknya, maka orang tualah yang akan meng(H)ajar anaknya. Hasilnya seperti H dan N lari meninggalkan rumah. Ketika pertama kali hadir di jalan, seorang anak menjadi anonim. Ia tidak mengenal dan dikenal oleh siapapun. Selain itu juga ada perasan kuatir bila orang lain mengetahui siapa dirinya. Tidaklah mengherankan bila strategi yang kemudian digunakan adalah dengan menganti nama. Hampir semua anak yang saya kenal mengganti nama. Hal ini dilakukan untuk menjaga jarak dengan masa lalunya sekaligus masuk dalam masa kekiniannya. Anak-anak mulai memasuki dunia jalanan dengan nama barunya. Anak-anak yang berasal dari daerah pedesaan menggganti dengan nama-nama yang dianggap sebagai nama "modern" yang diambil dari bintang sinotren atau yang yang biasa didengarnya misalnya dengan anam Andi, Roy dan semacamnya. Seorang anak yang bernama Mohammad kemudian mengganti namanya menjadi Roni. Alasan yang diberikan karena Mohammad adalah nama nabi. Nama itu tidak cocok dengan kehidupan di jalan. karena yang dilakukan di jalan banyak tindakan haram. Proses penggantian sebutan itu dengan sendirinya menunjukkan bahwa ia bukan sekedar pergantian panggilan saja tetapi juga sebagai sarana menanggalkan masa lalunya. Artinya ia adalah bagian dari proses untuk memasuki satu dunia (tafsir) baru. Sebuah kehidupan yang merupakan konstruksi dari pengalaman sehari-hari di jalan. Corak Mode Kehidupan Menolak Tetap (Anak) Kecil Anak jalanan menggunakan tubuhnya sendiri sebagai sarana. untuk ekspresi diri sekaligus sub-versi. Pada tingkat permukaan ditunjukkan perbedaan-perbedaan oleh mereka sekaligus menegaskan pertentangan dengan negara dan masyarakat sekitarnya (lihat Hebdige, 1979). 
Tubuh dijadikan sumber produksi dan aktivitas komunikasi dan menjadi lokasi pengetahuan yang krusial bagi komunitas dan hal ini membantu tewrjadinya produksi makna bagi kelompoknya. Melalui pencarian dan tingkah laku yang berbeda itu secara sengaja anak jalanan menolak dan mengejutkan kultur dominannya dengan mensub-versi nilai-nilai utamanya. Ketika mulai tumbuh lebih besar, menampilkan nilai-nilai kejantanan merupakan aspek yang vital bagi anak-anak jalanan. Mereka secara teratur mulai berpartisipasi menyusun konstruksi kejantanan dengan mendiskusikan berbagai peran yang dilakukan oleh anak lain serta mengomentari penampilarmya. Meski secara sosial mereka dikategorikan sebagai anak (kecil), hampir semuanya mengadopsi bentuk-bentuk kedewasaan sebagai tanda pembangkanangan dari harapan-harapan yang ditentukan oleh masyarakat. Mereka memainkan peran yang selama ini dijalankan oleh kaum dewasa yang ada di sekitarnya, menenggak minuman keras, ngepil, judi serta menggemari free sex. Kebiasaan-kebiasaan yang dianggap tidak cocok untuk dilakukan oleh anak justru dianggap mampu membuat mereka merasa tumbuh dewasa dan menjadi jantan. Judi, misalnya, merupakan permainan yang populer, meski dianggap ilegal dan dimainkan di tempat-tempat tersembunyi. Rata-rata mereka mengaku menikmati permainan judi karena melibatkan resiko dalam pertaruhan, ketrampilan serta konsentrasi dan bila memenangkan permainan, ada rasa bangga menempati posisi puncak dari hasil permainan. Selain itujuga mendapatkan uang yang relatif banyak. Seorang dewasa yang sering memperhatikan dan bergaul dengan anak-anak jalanan mengatakan bahwa jika dilarang untuk melakukan tindakan tertentu, maka anak-anak jalanan itu seperti disuruh. Apa pun akan dilakukan untuk menentangnya. Katanya, itu bagian dari indentitas pembangkangan. Atau dalam kata lain menolak dianggap (anak) kecil terus. Gaya Pakaian dan Dandanan Tubuh Satu kali, H ( 12 tahun) mendapatkan uang cukup banyak dari hasil nyemirnya. Uang itu dibelikan kaos dan celana. jeans. Dengan pakaian baru yang bersih itu kemudian pergi menyemir. Ternyata dengan pakaian bersih semacam itu, tak banyak orang yang mau menyemirkan sepatunya. Berbeda dengan ketika ia memakai pakaian kotor, justru banyak orang yang mau menyemirkan sepatunya. Hal ini menunjukkan adanya satu pertentangan, di satu sisi masyarakat umum menginginkan mereka tampil secara "bersih", namun bila tampil dengan cara semacam ini maka ia tidak mendapatkan uang yang cukup. Berbeda dengan bila ia menggunakan pakaian kumal, orang tidak menyukai tetapi menghasilkan uang yang cukup. Situasi semacam itu menyebabkan anak-anak kemudian menggembangkan satu trend cara berpakaian yang cukup khas. Mereka kemudian lebih banyak mengadopsi cara berpakaian dari pengamen dewasa, turis asing atau dari film atau majalah yang dilihat. Salah satu yang cukup populer adalah gaya rasta yang disimbolkan melalui warna merah kuning dan biro dengan simbol daun ganja. Dan simbol itu ditampilkan di tato, di pakaian dan lainnya. Kata mereka rasta cocok dengan anak jalanan. Karena jalanan juga menciptakan orang kaya Bob Marley. Nongkrong di jalan, menghisap ganja, main gitar. Anak jalanan pengin seperti dia. Bukanlah satu hal mengherankan beberapa diantara mereka juga menggunakan model rambut dreadlocks. Pilihan lain adalah memanjangkan rambutnya. Di Indonesia, rambut panjang merupakan kebalikan dari model rambut para orang tua. Tidak banyak orang tua yang berambut gondrong. Gondrong merupakan citra anak muda. Selain itu dari pihak kemanan gondrong sering diasumsikan sebagai preman. Bila tidak gondrong, sebagian diantaranya justru memilih melicin tandaskan rambutnya. Artinya dari pilihan atas model rambutnya mereka tidak pernah sama dengan yang berlaku dalam masyarakat umum, potongan rambut yang rapi. Dalam kata lain untuk menunjukkan bahwa merekalah yang mengontrol urusan rambut. Selain rambut, tatto merupakan satu bentuk lain dari cara menampilkan diri. Sebagian anak melawankan tubuh yang bertatto dengan tubuh yang "bersih". Meski dikalangan umum memiliki tatto disamakan dengan preman, namun dikalangan anak jalanan ia memiliki makna yang berbeda. Beberapa anak mengatakan bahwa tatto merupakan penanda dari "show of force" sekaligus lambang "keras" dan jantan. Sebagian dari mereka membuat tatto sebagai satu tanda untuk menyimpan ingatan tertentu. Beberapa anak membua,t tatto sebagai satu inggatan atas peristiwa perginya seorang volunter ke negara asalnya dan juga peristiwa lain. Dalam beberapa hal bisa dikatakan bahwa kecenderungan berpakaian atau mentato tubuhnya juga menindik tubuhnya untuk dipasangi anting-anting baik di telingga, alis mata, pusar atau tempat lain tidak bisa dipisahkan dengan relasinya dengan cara penampilan yang normatif. Alternatif yang digunakan oleh anak jalanan tidak bisa tidak berada dalam dikhotomi bersih dan kumal. Menjadi "bersih" bisa jadi justru akan mengancam survival mereka di jalan. Artinya masyarakat dan anak-anak jalanan itu sendiri saling menjaga dengan tegas batas-batas yang mereka inginkan. (Penyalah)Guna(an) Obat dan Minuman Alkohol Menenggak minuman keras dan pil adalah satu kebiasaan yang dilakukan selama di jalan. Alasan yang diberikan adalah untuk melupakan masalah. Beberapa studi mengenai anak jalanan secara gamblang menunjukkan berbagai tekanan yang dialami oleh anak jalanan. Secara ekonomi mereka harus bekerja dalam jam kerja yang cukup panjang, secara sosial ia diletakkan sebagai sampah masyarakat, secara hukum keberadaannya melanggar pasal 505 KUHP. Bukanlah satu hal yang mengadaada bila mereka merasa tidak pernah merasa (ny)aman dalam kehidupan sehariharinya. Tindakan-tindakan yang dipilih ini akan membawa anak-anak pada masalah hukum, karena semua tindakan ini dianggap melanggar hukum. T ( 14) memberikan alasan bahwa sebelum bekerja ia mabuk dulu untuk menghilangkan rasa malu. Karena sebetulnya ia gengsi kalau harus jadi pengamen. Dengan demikian selain sebagai strategi ekonomi, mabuk akhirnya menimbulkan sikap cuek (tidak peduli) dengan aturan hukum. Secara umum, tindakan semacam ini sering dikatakan sebagai penyalah gunaan obat. Namun demikian, bila di tilik dari sisi lain akan terlihat sebaliknya. Dalam masyarakat modern, dengan mudah dikenali bahwa salah satu jalan keluar untuk mengatasi situasi-situasi yang menekan individu adalah dengan penciptaan obat-obatan. Dengan demikian anak-anak jalanan itu sungguh melakukan satu cara yang sudah disediakan oleh sistem dalam masyarakatnya. Dalam hal ini ia betul-betul memanfaatkan guna obat untuk mengatasi berbagai tekanan yang menimbulkan ketegangan dalam diri. Alat untuk mencapai satu kondisi nyaman. Musik Anak-anak juga menggunakan media musik untuk meciptakan ruang bagi dirinya untuk bersuara. Musik digunakan sebagai alat untuk memberdayakan dirinya. Selain untuk mencari makan, bermain musik juga menjadi alat untuk membangun solidaritas. Dalam kesempatan-kesempatan tertentu mereka memainkan musik secara bersama-sama. Dalam kesempatan semacam inilah mereka sering menyuarakan pandangan-pandangan mereka terhadap masyarakat seperti yang tampak dalam syair yang dibuat oleh Dd ( 14) dan Dw ( 15): SAKSI MATA Suara letusan samar-samar terdengar Ditengah malam yang pekat Sesosok tubuh penuh tato Terbujur kaku di lorong gelapnya kota Reff: Sejenak jiwanya berteriak Untuk ungkapkan rasa yang terasa Dia coba bicara kerryataan Banyak yang melihat Tak ada saksi mata... Garis kuning di lengan baju pun puas Nanyikan lagu kekuasaan dengan bangga dia melangkah pergi sambil berharap pangkatnya naik lagi Reff: Sejenak jiwanya berteriak Untuk ungkapkan rasa yang terasa Dia coba bicara keadilan Dengan pucuk pistol ... Menempel di keningnya. Secara gamblang syair tersebut merupakan satu kritik terhadap masyarakat yang mengalami rabun ayam terhadap peristiwa yang ada di sekelilingnya. Anak-anak ini menjadi saksi mata atas keseluruhan sisitem masyarakat yang berjalan. Dan untuk bicara seperti itu pun ia sadar ada pistol yang menempel di keningnya, dianggap mengancam atau malah tidak didengar sama sekali. Kata-kata Akhir Kehidupan anak jalanan di mulai dengan menanggalkan masa lalunya. Keberadaannya di jalan langsung akan menghadapkan anak-anak ini pelanggaran hukum pasal 505 KUHP sekaligus akan mendapat stempel sampah masyarakat. Dengan demikian kita layak menempatkan tindakan-tindakan yang dipilih anak-anak sebagai satu respon aktif terhadap peminggiran atas dirinya. Seperti yang secara sangat kasar diapaprkan di atas tindakan-tindakan tersebut merupakan kombinasi dari kebutuhan survival, ketetapan hati untuk menentang konformitas kultur dominan, dorongan untuk mendapatkan ke(ny)amanan dan untuk mencapai tujuan-tujuan memperkuat kesetiaan dalam kelompok. Salah satu strategi yang dipilih adalah cuek dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Dengan menjadi cuek, anak-anak ini berupaya menahan untuk menahan penyingkiran-penyingkran dari dunia sosial sekaligus mengalih ubahkan keberadaannya melalui penciptaan-penciptaan makna. yang spesifik. Corak moda kehidupan anak jalanan terutama adalah (re)aksi yang sesungguhnya tidak memiliki kekuatan besar, namun dari posisi di pinggiran itu tetap berupaya mengekspresikan dan menciptakan makna bagi dirinya
. Dengan menyimpang dari kultur dominannya anak-anak jalanan dengan sekuat tenaganya mempertahankan kontrol atas dirinya sendiri dengan ekspresi "kebebasan" dan simbol kreatifitas sekaligus menjadi ajang dari pertandingan: pemberdayaan atau penaklukan. Pendek kata, bila bagi banyak pihak menjalani kehidupan di jalan diietakkan sebagai "masalah", maka bagi anak-anak muda itu memilih kehidupan jalanan sebagai satu "solusi". Paradoks semacam ini memang akan tetap memposisikan anak jalanan di pinggiran, tetapi ia sekaligus juga sumber kekuatan terciptanya satu sub-kultur anak muda perkotaan.


Artikel ini dipresentasikan pada Diskusi dan Pemutaran Video "Subkultur Remaja: Underground, Skuter, PlayStation",


KUNCI Cultural Studies Center- Lembaga Indonesia Perancis, Yogyakarta, 5 Mei 2000.


print this page Print

Saturday, May 4, 2013

Kebaikan Menghasilkan Keajaiban-Keajaiban

print this page 
Oleh : Gede Prama

Lelah dan letih, mungkin itu kata yang tepat untuk mewakili keadaan tubuh dan jiwa saya menjelang 2 Maret 2001. Sebuah tanggal yang membuat umur saya menjadi tiga puluh delapan tahun. Banyak orang memang meyakini, kehidupan mulai di umur empat puluh tahun. Dan entah apa yang terjadi kelak, kalau saya sudah sampai pada titik start kehidupan terakhir. Mudah-mudahan lelah dan letih ini hanya kondisi sesaat saja. Namun yang jelas, kendati sang badan dan jiwa sudah mengeluh letih, tetap saja stok rasa syukur tidak berkurang. Malah, semakin hari semakin bertambah, bertambah dan bertambah.
Izinkan saya berbagi refleksi dari salah satu pojokan rasa syukur yang dikaruniai Tuhan. Masih segar sekali dalam ingatan, ketika pertama kali menginjakkan kaki di ibu kota Jakarta ini dengan membawa ijazah sarjana di tahun 1985, di terminal bus Pulo Gadung saya bertanya ke diri sendiri : akankah saya bisa tumbuh di Jakarta ini ? Antara optimis dan ragu, saya bergerak menuju ke rumah keluarga di Pasar Minggu sana. Ketika pikiran optimis datang, hati saya berkata : beruntunglah mereka yang bisa mendapatkan saya jadi pekerja. Tatkala pikiran pesimis berkunjung, bayang-bayang manusia kalah yang kembali pulang ke kampung menghantui saya.
            Kalau saja ada orang yang bertanya ketika itu, apa modal jualan saya di Jakarta agar diri saya laku jadi pekerja, terus terang, hanya kebingunganlah jawabannya. Maka tertulislah dalam sejarah kehidupan saya, seorang anak manusia yang menganggur di Jakarta ini hampir dua tahun. Kalau jalan-jalan sepanjang Jakarta setiap hari, hanya untuk mengobati rasa malu pada tetangga karena kelihatan menganggur, sudah menjadi menu sehari-hari ketika itu. Belum lagi ditambah dengan bayangan malu pada orang-orang di kampung, sudah bergelar sarjana, telah berkeluarga namun jadi pengangguran.
Ketika menghadapi godaan-godaan karir yang hebat di awal-awal karir, hanya rasa malu terakhirlah yang membuat saya bertahan. Entah godaan hampir diberhentikan ketika baru mulai kerja, godaan baru pulang dari Inggris dan Prancis kemudian menganggur lagi. Yang jelas, kalau ada bayangan cengeng yang meminta saya harus pulang kampung jadi manusia kalah, cepat-cepat dihapus dari kepala. Rumusnya sederhana, saya anggap sudah tidak punya apapun di kampung sana.
Belasan tahun setelah kisah ini berlalu, sisi-sisi menyedihkan sudah amat berkurang. Diganti dengan pojokan-pojokan rasa syukur yang hadir di sana-sini. Ada saja bahan yang bisa membuat saya bertutur reflektif ke Anda di hari ulang tahun ini. Hadiah ulang tahun yang patut di syukuri di tahun 2001 ini, karena ada pemilik perusahaan yang mempercyakan perusahaannya ke saya untuk dipimpin.
Dalam lorong-lorong renungan saya menoleh kembali ke belakang, ternyata Tuhan menghadiahi saya sejumlah lompatan karir. Satu hal, yang tidak ditemui oleh kebanyakan sahabat dan kerabat dekat. Dalam bahasa seorang rekan, dua tahun berturut-turut naik pangkat di tempat yang tinggi. Jadi konsultan dua tahun, jadi komisaris dua tahun, jadi direktur SDM dua tahun dan di tahun 2001 ini jadi CEO. Dan yang membuat banyak sahabat dan kerabat tambah iri, posisi ini saya lakoni tetap dengan tidak meninggalkan habitat saya yang lama (jadi penulis, pembicara dan konsultan).
Ada orang yang mengira saya hebat. Dan kalau boleh jujur, bila kinerja, kepintaran dan pendidikan ukurannya, dan diserahkan ke saya sendiri untuk memilih CEO-nya, saya akan memilih orang lain. Tentu ada yang bertanya, lantas apa modal saya bisa sampai di sini ? Sebenarnya tidaklah hebat-hebat amat, karena modal saya dimiliki semua orang. Modal tadi bernama kebaikan. Kebaikan dan hanya kebaikan. Itu dan hanya itu.
Ketika orang berebut kekuasaan saling sikut, saya biarkan saja sambil tetap bekerja. Tatkala ada yang mencoba menjegal saya kiri kanan, kadang memang ada dorongan ego untuk melawan, tetapi kerap saya rem dengan keyakinan : kebaikanlah penyelamat kita yang paling utama. Ada yang mencoba naik dengan segala cara, dan bahkan menginjak kepala. Saya ingatkan diri saya : tidak ada pengorbanan yang terbuang percuma. Ada yang menjelek-jelekkan saya di depan umum, dan memang amat menyakitkan, kerap emosi terpancing, inipun berhasil saya tenangkan dengan cara serupa.
Berhadapan dengan orang-orang atas dengan values yang berbeda memang menghadirkan tantangan tersendiri. Kadang, identitas saya yang asli bisa dikotori dengan nilai-nilai baru. Inipun senantiasa saya rem, rem dan rem. Pernah terjadi, diri saya dibuat demikian tertekan oleh orang atas, dan memancing saya untuk mundur. Inipun berhasil direm dengan rumus basi yang sama. Demikian juga ketika berhadapan dengan pekerja bawah yang di zaman-zaman ini teramat berani. Kebaikan dan kejujuran mengalahkan segalanya.
Tidak hebat-hebat amat bukan ? Dan Anda serta siapapun bisa melakukannya. Modalnya hanya satu, niat kuat untuk memulai dan kemudian bertahan dengan seluruh tenaga. Lelah, capek dan bahkan kadang sakit memang. Tapi, mana ada kebaikan yang bisa hadir tanpa bayaran ?
Dalam perjalanan hidup seperti ini, kalau boleh saya menyimpulkan untuk sementara, apa kearifan kehidupan yang mau dibagi di hari ulang tahun ini sebenarnya sederhana. Ternyata, kebaikan dan kejujuran menghasilkan banyak sekali kejaiban-keajaiban hidup.

DI MANAKAH SUARAMU HAI ANAK NEGERI ?

print this page 
Oleh : HERU K WIBAWA

Adakah cara untuk memperbaiki negeri ini? Apakah dengan memotong 'satu generasi'? atau bahkan 'dua generasi'? seperti yang diyakini oleh sekelompok orang yang ditempel pada spanduk-spanduk di pinggir jalan Jakarta. Tidur panjang seluruh penghuni negeri berbuah kesesatan, kehilangan jati diri dan kemanusiaan, berujungkan pemutarbalikkan bukan saja sejarah tetapi juga norma-norma kehidupan. Masih adakah harapan negeri ini menjadi negeri yang aman, tenteram, sejahtera dengan masyarakatnya yang santun dan saling menghormati ?
Ataukah inilah sejarah dan tragedi kemanusiaan yang akan terus berputar dinegeri tercinta ini, bukankah hasrat suci menegakkan hak dan jati diri kemanusiaan manakala para leluhur kita berjuang melawan ketidakadilan penjajah? Tetapi bukankah sejarah yang membuktikan bahwa setelah merdeka kita harus bertikai dengan diri kita sendiri, rakyat melawan pemimpin, mahasiswa melawan politikus? Kebobrokan moral orde lama bukanlah telah mengkristalkan tekad membentuk pemerintahan yang berpihak pada kepentingan rakyat, yang terjelma pada munculnya orde baru, orde harapan dan orde pembangunan? Tetapi bukankah ujungnya juga kekecewaan? Dan reformasi mahasiswa dengan niat sucinya, bukankah telah membawa pada kekecewaan-kekecewaan yang semakin menyusahkan hati dan kehidupan rakyat?
Adakah harapan untuk menyelesaikan begitu banyaknya dan rumitnya serta mendesaknya berbagai persoalan di negeri ini? Kita ini bangsa yang paling kreatif menciptakan masalah, tetapi paling bodoh menyadari dan menyelesaikannya. Dan yang lebih bodoh lagi karena kebanyakan kita akan segera bersimpuh di depan orang asing untuk mendapatkan petunjuk, petuah, bantuan dan bimbingan. Mengapa? Karena telinga kita terlalu tuli untuk mendengar suara hati kita (yang telah lama dibiarkan tidak bersuara), dan mata kita telah buta serta hati kita telah membatu untuk insaf dan bertobat dan kembali pada kesadaran potensi diri yang dikaruniakanNya cukup bagi hidup kita.
Pergilah ke toko-toko buku, betapa banyaknya pemikiran-pemikiran asing tentang pengembangan pribadi (self development), pembaruan diri (self renewal), kepemimpinan (leadership), etika bisnis, kiat sukses dunia bisnis. Dengan label best seller, the most inivative book, break through ditambah dengan banjirnya seminar-seminar yang didasarkan konsep-konsep itu, seakan-akan telah membawa bangsa ini pada pemahaman era globalisasi dengan konsep-konsep serta perilaku globalnya. Mana tulisan para Doktor, Profesor yang sekolah dibiayai pemerintah, dengan uang rakyat itu?
Saya merinding membayangkan kesesatan bangsa ini yang akan semakin jauh dari jati dirinya. Adakah obat bagi penyakit negeri ini? Benarkah hanya dengan obat asing, benarkah konsep manajemen, etika, moral, bisnis asing itu cocok dan terbaik buat negeri ini? Ataukah kita sekedar menghibur diri mencari obat gosok untuk mengobati kanker kronis yang perlu dioperasi. Ataukah kita terlalu naif dan malu mencari jati diri yang telah lama hilang dari hidup kita. Lihatlah apa yang menjadi ungkapan kunci sukses orang Amerika dalam kurun 200 tahun dari 1776 sampai 1976 adalah melakukan kebiasaan-kebiasaan yang efektif (The Seven Habits/ S Covey) bandingkan dengan diskripsi manusia Indonesia versi Mochtar Lubis (yang dikutip dalam buku Menerobos badai krisis/A Harefa), antara lain munafik atau hipokrit; segan dan enggan betanggungjawab atas perbuatannya; berjiwa feodal; masih percaya takhayul; artistik; memiliki watak yang lemah; dan beberapa ciri lain seperti: tidak hemat, kurang sabar, tukang menggerutu, tukang tiru, sok, cenderung bermalas-malasan, dan kurang peduli terhadap nasib orang lain, selama tidak mengenai dirinya atau orang yang dekat dengannya.
Bukankah secara mendasar terdapat perbedaan antara masyarakat kita dengan masyarakat Amerika. Bukankah masyarakat kita masih dalam taraf kehidupan pasif, menunggu, sementara masyarakat global adalah masyarakat yang proaktif. Mungkinkah dasar yang sangat berbeda ini dibangun konsep dan pola pengembangan yang sama? Saya sangat mengkhawatirkan apabila kita merasa telah membangunnya sebenarnya kita melakukan kesia-siaan.
Paling tidak situasi ini telah mendorong Cak Nur (dengan Paramadina) dengan 15 prinsip rohaniah manajemennya, Sri Adyanti (dengan Tazkia Sejati), Anand Krishna (dengan Meditasi) mencoba menggali nilai-nilai luhur yang pernah dimiliki bangsa ini untuk digali dan dipakai kembali. Saya bukan anti barat/asing, bahkan dalam tulisan ini akan banyak saya bandingkan dengan referensi dari konsep-konsep tulisan lain, tetapi keyakinan saya tidak ada satu halpun (konsep, pemikiran dll) yang begitu saja dapat diterapkan untuk bangsa kita tanpa adanya jembatan yang menghubungkannya dengan latar belakang, pendidikan, budaya, serta penghayatan agama yang kita miliki.
Adakah buku hasil perenungan anak negeri yang lahir dan dibesarkan dinegeri sendiri, dan memahami dan mungkin mengalami pendidikan dan kehidupan dinegeri barat serta bergaul cukup intensif dengan berbagai orang barat dan timur dengan tetap berusaha untuk tidak kehilangan dirinya. Sehingga pemikiran dan konsepnya akan dekat dengan kita dan menyentuh aspek-aspek kehidupan nyata.
Di manakah pemikiran atau sumbang saran yang akan dapat dijadikan jembatan yang mencoba menghubungkan konsep dan pemikiran serta budaya asing yang terus akan menghujani kita dengan tingkat pemahaman yang sudah kita miliki? Sehingga dari keadaan 'riil' posisi kita, dapat mendinamisasi diri sesuai dengan tuntutan zaman. Pilihan terhadap arus globalisasi tidaklah begitu banyak, karena bagaimanapun kita tidak akan mampu membendung pengaruhnya. Bukankah seharusnya tindakan proaktif yang kita lakukan adalah menyerap dan menggunakannya dengan berlandaskan nilai-nilai luhur yang kita miliki.
Seberapa keluhuran nilai yang kita miliki sebenarnya? Apakah itu bukan sekedar slogan kosong tak bermakna? Saya tidak ingin terjebak pada perdebatan sosiologis yang akan mempertentangkan tata nilai lama dan baru, tetapi saya akan memusatkan perhatian pada tata nilai yang telah kita miliki dengan kritis, dan mencoba menggali esensinya, sehingga akan mampu dipakai dalam lingkungan baru. Karena esensi suatu nilai tidak akan luntur oleh zaman.
Sehingga, sebagaimana A Harefa dalam mendiskripsikan manusia modern dalam bukunya Sukses tanpa gelar, janganlah kita terjebak pada gambaran diri semu manusia modern yang kebanyakan dikejar orang yang lebih bersifat ornamental (tidak esensi) yang lebih mencerminkan kegagapan menghadapi arus globalisasi. Hal mana terjadi karena segala sesuatu yang baru tidak disikapi dengan filterisasi atau proses seleksi berdasarkan ukuran-ukuran atau, ketepatan dan kesesuaian, dengan kebutuhan dan adaptasi, melainkan dengan semangat taken for granted.  [bersambung]

MEMBANGUN DASAR PEMAKSIMALAN POTENSI

print this page 
Oleh : HERU K WIBAWA

Pada tahap ini saya berharap hasil pencarian identitas diri melalui ziarah batin yang baru saja kita lakukan telah membawa pada satu pengertian dan pemahaman atas diri anda sendiri. Titian-titian kehidupan yang telah membentuk dan memberi identitas pada diri saudara, yang kembali saudara kunjungi dengan menyingkap kabut yang selama ini tertutup untuk digali dan dipahami maknanya, saya harapkan telah memberikan pengertian baru pada identitas diri anda sendiri.
Kalau anda tidak juga melihat diri saudara sendiri dengan 'kacamata' kemanusiaan yang baru, saya khawatir bahwa saya tidak berhasil menemani ziarah anda. Tetapi kalau saat ini anda melihat bahwa diri anda adalah manusia yang penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan, dan kalau andapun telah mampu melihat orang lain sebagai sesama manusia dengan nilai-nilai kemanusiaan yang sama seperti yang saudara miliki. Saya harus mensyukurinya, karena saya telah mampu membangkitkan kembali 'manusia baru' yang terlahir kembali.
Sebagaimana yang diistilahkan bercumbu dengan kekekalannya A Harefa (Berguru pada matahari) yaitu saat visi, tujuan, cita-cita atau impian yang agung melintasi batas ruang dan waktu. Impian yang mulia berfondasikan nilai-nilai, yang abstrak tak terlihat mata jasmani, seperti fondasi suatu bangunan yang tidak terlihat dipermukaan tanah. Tujuan yang agung digerakkan oleh hati nurani, hukum-hukum moral, keyakinan spiritual. Ia dipandu oleh rasa takut dan rasa kasih yang besar pertama-tama kepada Tuhan, dan karena Tuhan kepada manusia.
Kembali pada 'fitrah' kemanusiaan adalah syarat mutlak bagi siapapun untuk masuk kedalam langkah yang paling penting dalam kehidupan setiap insan, yaitu pemaksimalan potensi diri. Kalau ziarah batin itu mengarah pada masa lalu, maka pemaksimalan potensi adalah mengarah pada masa depan. Kalau menemukan kemanusiaan anda merupakan 'kemerdekaan pratama' maka pemaksimalan potensi adalah 'kemerdekaan purna' dalam kehidupan setiap manusia.
Kemerdekaan pratama, adalah pada saat anda menemukan keutuhan pemahaman diri sendiri. Kemerdekaan ini memberikan anda penemuan jawaban atas pertanyaan -pertanyaan mendasar pada kehidupan setiap insan, siapakah saya, darimana saya, ke mana saya pergi? Kemerdekaan ini sering saya permudah dengan 'pemahaman panggilan kemanusiaan', kemerdekaan yang membebaskan dari belenggu keterbatasan 'semu', yang selama ini mengikat dan membelenggu potensi yang anda miliki, kebebasan untuk kembali pada nilai kemanusiaan yang utuh sebagaimana karunia yang dipercayakan pada saudara saat saudara terlahir didunia ini. Sehingga istilah 'lahir kembali', 'kembali ke fitrah' adalah definisi lain yang sudah secara umum dimengerti orang.
Sementara pada konsepsi kedua yang akan kita mulai, saya akan membawa saudara pada kemerdekaan purna, yang harus diawali oleh kemerdekaan pratama. Kita akan menjelajahi lorong-lorong 'perawan' yang sama sekali baru, dan belum tersentuh. Kita akan bersama didunia 'metanoia' yaitu dunia impian yang penuh gairah dan emosi, yang sering saya sebutkan sebagai 'membangkitkan raksasa yang tidur'. Saya teringat legenda cerita 'Kumbakarna' yang menghabiskan hidupnya untuk 'bertapa tidur', seketika ia bangun, ia mampu memporak porandakan pasukan musuh, dan untuk mengakhiri hidupnya sebagai patriot dan pahlawan sejati, menggenapi rencana Ilahi dalam hidupnya.
Tujuan kita itu adalah apa yang disebutkan Maxwell Maltz (Psycho Cybernetics) yang kutip dalam Sukses tanpa gelar /A Harefa, sebagai 7 (tujuh) ciri kepribadian sukses yaitu :
  1. Sense of direction, mampu mengarahkan dan memimpin diri sendiri,
  2. Undersatnding, mampu memahami diri sendiri dan orang lain,
  3. Courage, keberanian bertindak meski harus menghadapi resiko,
  4. Charity, kemurahan hati, suka menolong dan bersedia membagi miliknya pada orang lain,
  5. Esteem (self esteem), memiliki harga diri yang sehat,
  6. Self Acceptance, bisa menerima kelemahan yang dimiliki sekaligus meyakini kekuatan-kekuatan unik yang dimilikinya,
  7. Self confidence, kepercayaan diri yang berkaitan erat dengan penerimaan diri.
Yang dikutip pula dari Duane Schultz (Growth Psychology: Model of healthy personality), yang mencoba mencari titik-titik persamaan orang berkepribadian sehat yaitu:
1. Mengontrol kehidupannya dengan sadar (mungkin tidak rasional) tetapi tetap mampu mengatur tingkah laku dan bertanggungjawab terhadap nasib sendiri dengan tidak menyalahkan lingkungan dan mengkambinghitamkan orang lain,
2. Mengetahui apa dan siapa diri mereka, dengan segala kelemahan dan kelebihan, dan tidak mau menjadi sesuatu yang bukan diri mereka sendiri,
3. Besandar kuat pada masa kini (bukan masa lalu), disisi lain memandang masa depan sebagai sesuatu yang sangat penting, tetapi tidak mengganti masa kini,
4. Ia tidak merindukan ketenangan dan kestabilan, tetapi mendambakan tantangan dan kegembiraan dalam kehidupan, tujuan-tujuan baru dan pengalaman-pengalaman baru.

Dasar pemaksimalan potensi diri.
Pemahaman nilai kemanusiaan tidaklah harus berhenti pada penerimaan perbedaan dalam setiap individu (termasuk diri sendiri), yang akan memberikan kebijaksanaan dalam melakukan hubungan dengan orang lain. Akan tetapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita mampu melangkah maju lagi, menggunakan sarana interaksi (yang telah mengalami pencerahan) dengan orang lain bagi pemaksimalan potensi diri. Langkah ini apabila dilakukan bersama dengan individu yang lain akan merupakan gerakan massal pemaksimalan potensi masyarakat.
Tidak setiap orang telah mengalami pencerahan, sehingga yang harus menjadi dasar dalam hubungan dengan orang lain adalah bahwa kita tidak pernah bisa mengatur apa yang akan dilakukan orang lain terhadap diri kita, tetapi kita secara mutlak dapat mengatur apa yang akan kita lakukan bagi diri kita sendiri dan bagi orang lain untuk merespon perlakuan mereka pada kita. Demikianlah prinsip dasar pemaksimalan potensi yang walaupun banyak faktor akan tergantung pada orang lain, tetapi apa yang akan berhasil kita raih lebih bergantung pada apa yang dapat kita lakukan dari pada apa yang diperbuat dan disediakan orang lain yang tidak dapat kita kontrol.
Walaupun dalam ziarah pada empat titian hidup nampak banyak sekali faktor ekstern yang mempengaruhi pembentukan kepribadian seseorang anak, tetapi seperti prinsip dasar kita, bahwa kita tidak dapat membendung apalagi mengulangi pembentukan dan pengaruh yang ada dan sudah tertanam yang dilakukan orang lain pada diri kita. Tidaklah disangkal akan merupakan hal yang lebih baik jikalau kita hidup pada pembentukan yang sempurna, baik keluarga, pembelajaran, agama dan budaya serta dalam masyarakat tetapi kenyataannya hal demikian sangatlah jarang dan hampir tidak mungkin dapat ditemukan.
Bagi mereka yang merasa tidak memiliki kesempurnaan proses pembentukannya, tidak perlu berkecil hati, karena justru hampir semua orang dalam kondisi yang demikian dan tulisan inipun mengambil asumsi yang demikian. Bahkan bagi mereka yang merasakan kekurangannya, itu justru merupakan langkah awal yang baik untuk menyadarinya guna diperbaiki, yang selanjutnya dikembangkan untuk mencapai pemaksimalan potensi.
Tantangan terbesar dalam perjuangan pemaksimalan potensi berasal dari diri sendiri, disisi lain kunci keberhasilannya juga adalah justru pada kemampuan untuk menguasai diri. Karena proses ini dilandasi oleh keterbukaan, keberanian dan kerelaan untuk menginstrospeksi diri serta tekad, kekuatan, semangat pantang menyerah dan daya tahan dalam proses pemaksimalan pribadi yang berlangsung seumur hidup.
Diri sendirilah yang menentukan, karena dengan citra diri sesuai dengan potensi yang kita bentuk, akan menciptakan image yang baik dalam hubungan dengan orang lain dan akan melahirkan 'arus positif' yang mengalir dari diri kita yang akan mempengaruhi lingkungan seperti apapun keadaan lingkungan itu, yang akhirnya akan menjadi positif pula. Bukan kita yang dikendalikan lingkungan tetapi kitalah yang menguasai lingkungan untuk menggerakannya sesuai dengan keinginan kita.
Sehingga untuk mencapai hidup dengan potensi maksimal, yang harus ditanyakan adalah seberapa kemauan pribadi saudara untuk meraihnya, dan bukan pada seberapa dukungan dari lingkungan yang telah dan akan saudara terima. Dari satu sisi hal ini sangat menguntungkan karena pemaksimalan potensi diri dapat dilakukan oleh siapapun juga dan berangkat dari keadaan apapun.
Tetapi dilihat dari skala yang lebih besar, keefektifan pengaruhnya akan cepat dirasakan dalam masyarakat apabila, setiap pribadi dalam masyarakat melakukan proses pemaksimalan, sehingga 'arus' positif yang beredar dalam masyarakat akan semakin kuat, yang tentunya sangat menguntungkan bagi semua pihak.
Dasar pemaksimalan potensi dapat saya padatkan dalam 5 dasar yang akan menjadi landasan cara melihat diri, melihat masa depan dan pijakan serta motivasi yang akan menjadi 'bahan bakar' dalam meniti langkah-langkah pemaksimalan potensi. Sebagaimana mesin yang selalu memerlukan bahan bakar, maka 5 dasar ini akan merupakan semangat, pendorong dan harus senantiasa dikembangkan dalam menghadapi tantangan bagi tercapainya pemaksimalan potensi. Sehingga dasar ini harus dikuasai dan dimiliki serta terus dikembangkan, karena tanpa kekokohan landasan, maka langkah selanjutnya akan rapuh dan mudah runtuh. [ bersambung ]

Coretan kecil

print this page 
Detik-detik terakhir seorang Pemimpin sebuah judul film yang diangkata dari kisah nyata seorang pemimpin, banyak nilai yang tertuang di dalamnya, hingga akan menitipkan pesan begitu dalam akan hikmah hidup bersama hiruk pikuk realitas ini. Dimana film tersebut menceritakan seorang figur pemimpin yang begitu sangat dicintai oleh raknyatnya – yang kemudian harus meniggalkan yang mungkin pada saat itu masih sangat membutuhkan sang figur pemimpin seperti itu. Seluruh wilayah, pelosok atau apapun namanya. Menyeruh hingga menderu tapi bukan karena mesin-mesin melainkan tangisan yang sangat perih, tangisan yang seakan-akan membanjiri tanah airnya, tangisan penuh penyesalan. Namun, pertanyaannya kemudian adalah, apa yang istimewa dari seorang figur yang telah membuat mata bahkan hati harus menangis pilu ?.
Kalau ditanya apa yang istimewa  dari seorang figur pemimpin seperti yang diceritakan dalam film itu, tentunya secara pribadi saya akan mengatakan (dalam kerangka berfikir normatif dan matrealis) tidak ada. Dimana ketika seorang figur pemimpin dalam suatu negara, yang hidup dalam kesederhanaan, dan bertempat-tinggal dalam sebuah gubuk bukan istana yang megah, dalam arti kata sangat memasyarakat hingga tak ada sekat lagi antara seorang pemimpin dan rakyatnya. Semuanya sama dan setara. Tidak ada perbedaan antara dia dan rakyatnya, memimpin rakyatnya dengan penuh kecintaan dan tanggung-jawab, melindungi rakyatnya dan selalu berada digaris depan dalam kondisi sedarurat apapun, Hingga wajar saja ketika semua orang akan kehilangan figur seperti itu.
Dalam konteks yang lebih luas, akan mencakup keseluruhan dari apa yang menjadi objek kita, ketika kita membicarakan seorang figur, ya tentunya kita mesti mengenal sang figur lebih jauh, mungkin dari biografinya yang mencakup segala hal pula. Mungkin untuk mempermudah, kita mengambil contoh real seorang figur pemimpin yang tiada bandingannya, yang kata Kang Jalal dalam bukunya Islam Aktual “Jika kita mengukur kebesaran dengan pengaruh, beliau seorang Raksasa sejarah”. Beliau adalah Rasulullah SAW (salam & shalawat tercurah pada beliau dan keluargga beliau). Lanjut Kang Jalal Rasululah SAW (secara global – pen.) adalah seorang pemimpin yang telah berjuang meningkatkan tahap ruhaniah dan moral suatu bangsa yang tenggelam dalam kebiadaban. Rasulullah SAW pun sangat mencintai ummatnya dengan penuh rasa cinta dan dari aspek kehidupannya pun, kita ketahui bersama dari berbagai riwayat bahwa beliau sangatlah sederhana yang lebih mengutamakan kaum papa dibandingkan dirinya. Rasulullah SAW dalam majelis-majelisnya pun sangat demokratik hingga siappun berhak untuk angkat bicara bahkan komplen. Sungguh hal yang luar biasa.
Nah, secara karesteristik dari referen diatas, tentunya pemimpin harusnya mampu untuk lebih demokratik untuk semua aspirasi yang ada, bukannya aspirasi itu ditampung atau dibungkam melainkan diaspirasikan. Pemimipin yang selalu mebuka ruang-ruang demokrasi dan mampu untuk membuka telinga atas segala keluhan dan keritikan, juga membelalakkan matanya agar dapat melihat setiap kepedihan dan penderitaan anak negeri disetiap ruas-ruas kota sampai kepelosok-pelosok desa. Pemimpin harusnya peka atau cermat terhadap Relitas Sosial yang tentunya hal tersebutpun bukan sekedar janji-janji melainkan realiasaskikan. Karena sesuatu tindakan akan dikatakan benar apabila Verbal dan Non Verbal itu sejalan. Itu baru sebagian kecil dari sekian banyak yang mesti dipenuhi untuk menjadi seorang pemimpin.
Dan dalam konteks kebangsaan kita hari ini bahkan sampai kapanpun dan dimanapun, semua orang akan merindukan bahkan sangat membutuhkan figur pemimipin seperti Rasulullah SAW, atau setidaknya seperti yang  (diceritakan – pen) dalam kisah nyata film yang berjudul “detik-detik terakhir seorang pemimpin” itu. Karena hanya dengan cinta orang akan merasa damai, hanya dengan cinta orangkan merasa tentram, dan dengan bahasa cinta yang teraktualkan lewat tindakan yang penuh rasa cinta. Jadi, pemimpin yang sebenarnya adalah ketika dia mampu mencintai rakyatnya dengan rasa kasih dan sayangnya hingga mengantararkannya kepada tujuan yang SESUNGGUHNYA. Semoga !.

Pendidikan Sebagai Pencerah Spiritual

print this page 
Oleh: Sawali

Dunia persekolahan kita, kata YB Mangunwijaya dalam buku Pasca Indonesia, Pasca-Einstein (1999), tidak mengajar anak didik untuk berpikir eksploratif dan kreatif. Seluruh suasana pembelajaran yang dibangun adalah penghafalan, tanpa pengertian yang memadai. Adapun bertanya-apalagi berpikir kritis-praktis-adalah tabu. Siswa tidak dididik tetapi di-drill, dilatih, ditatar, dibekuk agar menjadi penurut, tidak jauh berbeda dari pelatihan binatang-binatang "pintar dan terampil" dalam sirkus.
Suasana pembelajaran yang "salah urus" semacam itu, demikian Mangunwijaya, telah membikin cakrawala berpikir peserta didik menyempit dan mengarah kepada sikap-sikap fasisme, bahkan menyuburkan mental penyamun/perompak/penggusur yang menghambat kemajuan bangsa. Erat berhubungan dengan itu, timbullah suatu ketidakwajaran dalam relasi sikap terhadap kebenaran. Mental membual, berbohong, bersemu, berbedak, dan bertopeng seolah-olah semakin meracuni kehidupan kultural bangsa. Kemunafikan merajalela. Kejujuran dan kewajaran dikalahkan. Keserasian antara yang dikatakan dan yang dikerjakan semakin timpang.
Sikap-sikap fasis yang menafikan keluhuran akal budi, bahkan makin menjauhkan diri dari perilaku hidup yang menjunjung tinggi martabat kemanusiaan, tampaknya sudah menjadi fenomena yang mewabah dalam masyarakat kita. Maraknya fenomena dan perilaku anomali semacam itu, menurut hemat penulis, merupakan imbas dari sistem pendidikan yang telah gagal dalam membangun generasi yang utuh dan paripurna.
Pertama, selama menuntut ilmu di bangku pendidikan, pelajar yang baik senantiasa dicitrakan sebagai "anak mami" yang selalu mengamini semua komando gurunya. Mereka ditabukan untuk bersikap kritis, berdebat, dan bercurah pikir. Akibatnya, mereka tampak begitu santun di sekolah, tetapi menjadi liar dan beringas di luar tembok sekolah.
Kedua, anak-anak bangsa yang tengah gencar memburu ilmu di bangku pendidikan (hampir) tidak pernah dididik secara serius dalam menumbuhkembangkan ranah emosional dan spiritualnya. Ranah kecerdasan spiritual yang amat penting peranannya dalam melahirkan generasi yang utuh dan paripurna justru dikebiri dan dimarjinalkan.
Kebijakan dan kurikulum pendidikan kita belum memberikan ruang dan waktu yang cukup berarti untuk memberikan pencerahan spiritual siswa. Yang lebih memprihatinkan, guru sering terjebak pada situasi rutinitas pembelajaran yang kaku, monoton, dan menegangkan lewat sajian materi yang lebih mirip orang berkhotbah, indoktrinasi, dan "membunuh" penalaran siswa yang dikukuhkan lewat dogma-dogma dan mitos-mitos.
* * *
Idealnya, pendidikan harus mampu memberikan proses pencerahan dan katarsis spiritual kepada peserta didik, sehingga mereka mampu bersikap responsif terhadap segala persoalan yang tengah dihadapi masyarakat dan bangsanya. Melalui pencerahan yang berhasil ditimbanya, me-reka diharapkan dapat menjadi sosok spiritual yang memiliki apresiasi tinggi terhadap masalah kemanusiaan, kejujuran, demokratisasi, toleransi, dan kedamaian hidup. Kita membutuhkan sosok manusia yang memiliki kecerdasan spiritual yang menciptakan damai di tengah berkecamuknya kebencian, yang menawarkan pengampunan bila terjadi penghinaan.
Kecerdasan spiritual mewujudkan diri dalam perikehidupan yang diliputi dengan kesadaran penuh, perilaku yang berpedomankan hati nurani, penampilan yang genuine tanpa kepalsuan, kepedulian besar akan tegaknya etika sosial. Sebaliknya, ketidakcerdasan spiritual menunjukkan diri dalam ekspresi keagamaan yang memonolitis, eksklusif, dan intoleran yang sering meninggalkan "jejaknya" pada korban konflik atas nama agama, seperti yang belakangan ini sering kita saksikan.
Kerdilnya kecerdasan spiritual yang mencuat dalam bentuk perilaku yang gemar berkonflik atas nama etnis dan agama, jelas menjadi keprihatinan kolektif kita sebagai bangsa. Ke depan, dunia pendidikan kita harus bersikap antisipatif dengan memberikan sentuhan perhatian yang cukup berarti terhadap ranah spiritual siswa. Kurikulum dan kebijakan pendidikan harus benar-benar mengakomodasi ranah spiritual siswa secara proporsional dan substansial.
Mata pelajaran Pendidikan Agama, selain ditambah alokasi waktunya, hendaknya juga tidak sekadar mencekoki siswa dengan setumpuk teori dan hafalan, tetapi harus benar-benar menyentuh kedalaman dan hakikat spiritual yang membuka ruang kesadaran nurani siswa di tengah konteks kehidupan sosial-budaya yang majemuk. Hal itu harus didukung oleh semua guru lintas mata pelajaran dengan mengintegrasikan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan ke dalam materi ajar yang diampunya.
Tidak kalah penting, guru yang berada di garda depan dalam dunia pendidikan hendaknya mampu menjadi figur keteladanan spiritual di hadapan peserta didik. Guru hendaknya juga mampu "menanggalkan" jiwa yang kasar dalam mendidik. Sikap pendidik harus demokratis, lebih "conscientious", lebih mawas diri, yang otomatis akan menular ke jiwa anak didik.
Di tengah situasi Indonesia yang makin "silang-sengkarut" akibat krisis multiwajah dan konflik berkepanjangan, sudah saatnya dunia pendidikan benar-benar mengambil peran sebagai pencerah dan katarsis peradaban yang sakit. Kehadirannya harus benar-benar dimaknai secara substansial sebagai "kawah candradimuka" yang menggembleng jutaan anak bangsa menjadi generasi yang utuh dan paripurna; cerdas intelektualnya, cerdas emosionalnya, sekaligus cerdas spiritualnya. Bukan hanya sekadar pelengkap yang selalu disanjung-puji sebagai pengembang SDM, tetapi realitasnya hanya menjadi sebuah "Indonesia" yang terpinggirkan.
* Sawali, guru SLTP Negeri 2 Pegandon, Kendal, Jawa Tengah. (Kompas 090701)
source : [kolom Opini] pembelajar.com