Showing posts with label Andrias Herafa. Show all posts
Showing posts with label Andrias Herafa. Show all posts

Saturday, May 4, 2013

MENGAMPUNI TUHAN

print this page 
By : benyamin harefa

Dalam perjalanan hidup kita, saya yakin kita semua pernah mengalami kekecewaan yang sangat mendalam. Kita merasakan ketidakadilan, kehilangan, frustasi dan kemarahan yang sungguh-sungguh. Dan kita kemudian marah kepada Tuhan. Atau paling tidak, menyalahkan Tuhan. Atau mungkin mencurigai Tuhan. Atau bisa juga hanya sekedar mengeluh. Tapi yang jelas, kita semua bertanya pada Tuhan: Mengapa Ia biarkan semua itu terjadi? Mengapa saya diperlakukan tidak adil? Mengapa saya harus kehilangan orang yang begitu saya cintai? Mengapa kerja keras saya berakhir dengan kesia-siaan?
Menyalahkan Tuhan mungkin adalah suatu kesalahan. Mungkin? Ya. Karena kita tidak tahu apakah Ia berada di balik kejadian yang mengecewakan itu. Kalau benar, maka adalah manusiawi kalau kita marah pada Tuhan. Sebagian besar orang mungkin tidak bisa menerima hal ini. Kita tidak bisa memarahi Tuhan sekalipun Ia berada di balik kejadian-kejadian yang menghancurkan hati kita.
Tuhan tidak pernah salah. Ia memiliki rencana yang indah dibalik peristiwa-peristiwa yang membawa duka. Kitalah yang harus belajar memahami rencana Tuhan dalam hidup kita. Saya setuju sekali. Tapi tidak ada gunanya juga berpura-pura 'menerima' Tuhan namun sebenarnya hati kita memberontak. Toh Dia tahu yang paling dalam dari lubuk hati kita. Menahan kemarahan pada Tuhan dengan mengalihkannya pada diri sendiri hanya akan menambah satu kebohongan dalam diri kita.
Sebagai orang yang percaya bahwa Tuhan 'masih hidup' dan bekerja di tengah kehidupan manusia, kemarahan kepada-Nya merupakan suatu bukti bahwa kita benar-benar konsisten dengan keyakinan itu. Kita tidak akan marah pada anak kita bila kita terjebak kemacetan di jalan. Kita tidak akan marah pada orang asing yang lewat di depan rumah kita bila di rumah kita tidak ada makanan. Kita tidak akan marah pada tetangga kita bila tukang yang seharusnya membereskan atap rumah kita ternyata belum juga menyelesaikan pekerjaannya. Dalam semua itu, kita tidak marah karena kita tahu ketidakberesan itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.
          Sebaliknya, kita marah pada pemerintah daerah yang tidak bekerja maksimal dalam menata kota. Kita marah pada pembantu di rumah karena melalaikan tugasnya memasak. Kita marah pada tukang yang kita sewa.
          Ini paling tidak menunjukkan tiga hal. Pertama, kita yakin mereka orang yang bertanggungjawab akan hal itu. Kedua, kita tahu mereka mampu melakukannya. Dan ketiga, kita menaruh harapan pada mereka.
          Kemarahan kita pada Tuhan juga merupakan bentuk dari keyakinan kita bahwa Ia bertanggungjawab, Ia mampu, dan Ia baik. Ia ada dan bekerja di tengah kehidupan kita. Bukankah itu keyakinan yang benar?
          Kalau begitu, mengapa Ia yang maha segalanya itu mengecewakan kita? Wah, itu saya tidak tahu. Tanyakan pada Tuhan. Tapi saya mau anjurkan sesuatu pada kita semua. Mari kita mengampuni Tuhan karena Ia mengecewakan kita sebagaimana Tuhan mengampuni kita karena kita mengecewakan-Nya. Mari kita mengampuni Tuhan karena Ia tidak melakukan apa yang kita minta Ia lakukan sebagaimana Tuhan juga mengampuni kita karena kita tidak melakukan apa yang Ia minta kita lakukan. Padahal Dia adalah pemilik jiwa kita. Padahal kita adalah ciptaan-Nya.

Meraih Kepenuhan Diri

print this page 
Oleh: Andrias Harefa

Jadilah seperti burung yang istirahat dalam terbangnya, hinggap di ranting yang terlalu ramping, merasakan lenturannya, kenikmatan ayunannya, dan menyanyi. Tahu bahwa ia punya sayap (Victor Hugo)
Meminjam konsep Covey, mereka yang disebut proaktif itu dapat memiliki proaktivitas tinggi karena mengembangkan karunia-karunia Tuhan yang diberikan secara khusus kepada manusia, yakni: kesadaran diri, hati nurani, kehendak bebas, dan daya imajinasi kreatif.
Kesadaran diri adalah kemampuan kita untuk mengambil jarak terhadap diri sendiri dan menelaah pemikiran kita, motif-motif kita, sejarah kita, naskah hidup kita, maupun kebiasaan dan kecenderungan kita--melepas "kaca mata" kita dan melihatnya. Kesadaran ini merupakan fokus dari gerakan penyembuhan, psikoanalisis (Sigmund Freud, dkk.), dan lebih-lebih psikoterapi (Victor, Frankl, dkk.).
Hati nurani menghubungkan kita dengan dengan kearifan jaman dan kebijaksanaan hati, merenungkan prinsip dan praktek, memahami bakat-bakat dan menentukan misi hidup kita. Hati nurani merupakan fokus agama, kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, moralitas, dan etika.
Kehendak bebas adalah kemampuan untuk bertindak atau memilih tindakan, kemampuan memberikan tanggapan berdasarkan kesadaran diri, hati nurani, dan visi kita. Kehendak bebas merupakan fokus pendekatan kekuatan kehendak--di mana ada kemauan di situ ada jalan, tiada derita tiada prestasi (no pain no gain).
Imajinasi kreatif adalah kemampuan untuk meneropong keadaan di masa yang akan datang untuk menciptakan sesuatu dalam benak kita, dan memecahkan masalah secara sinergetik. Imajinasi kreatif adalah fokus dari gerakan visualisasi dan kekuatan pikiran--positive thinking (Vincent Peale, dkk.), possibility thinking (Robert Schuller, dkk.), lateral thinking (Edward de Bono), psycho-cybernetics (Maxwell Malzt), Neuro-Linguistic Programming/NLP yang kemudian direvisi menjadi Neuro-Associated Conditioning/NAC (Anthony Robbins, dkk.), dsb.
Empat hal tersebut di atas merupakan karunia Tuhan yang diberikan kepada manusia agar manusia dapat mengalami kepenuhannya sebagai manusia ciptaan Tuhan. Binatang tidak memiliki hal-hal tersebut. Karenanya tidak ada respons kambing, anjing atau monyet sekalipun yang dapat disebut proaktif. Binatang diciptakan sebagai makhluk yang reaktif. Mereka tidak memiliki kesadaran diri (bahwa mereka ada di sini dan kini), tak punya hati nurani (benar salah, etis, dan tak etis tak pernah mereka pikirkan), tak memiliki kekuatan kehendak dan tak mampu berimaninasi secara kreatif (tak dapat berkhayal dan melamun).
KEPENUHAN DIRI TAK DAPAT DIBELI DENGAN HARGA BERAPA PUN TETAPI TERSEDIA GRATIS HANYA BAGI YANG MAU MENGEMBANGKAN KARUNIA TUHAN
Untuk Direnungkan:
- Apakah Anda telah mengalami kepenuhan diri?
- Bagi Anda, pentingkah keempat karunia itu untuk dikembangkan?
- Sejauhmana Anda telah mengembangkannya?
- Bagaimana Anda dapat mengembangkannya dengan optimal?

Telinga Pemimpin

print this page 
Oleh: Andrias Harefa
Pemimpin seharusnya orang yang bertelinga.
Ia bukan saja harus dapat mendengar (hearing),
tetapi mampu mendengarkan (listening).

Salah satu rahasia kepemimpinan Mary Kay Ash adalah kemampuannya dalam mendengarkan orang lain. Ia pernah mengatakan bahwa pada saat ia sedang berusaha mendengarkan orang lain, "Saya akan menutup mata dan telinga terhadap hal-hal lain. Saya langsung memandang orang yang berbicara kepada saya. Bahkan andai ada seekor gorila yang berjalan memasuki ruangan, barangkali saya tidak akan memperhatikannya".
Mary Kay Ash mungkin mendramatisir soal seni mendengarkan ini. Namun, ia agaknya benar-benar meyakini bahwa kemampuan mendengarkan merupakan suatu kemampuan yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinannya. Ketika beberapa konsultan kecantikan (beauty consultant) yang bekerja di perusahaannya datang untuk minta nasihat, ia seringkali merasa bahwa yang perlu dilakukannya hanyalah mendengarkan cukup lama, sampai pihak yang meminta nasihatnya itu menemukan sendiri cara penyelesaian masalah yang mereka hadapi.
Mendengarkan adalah seni, sama halnya dengan kepemimpinan. Dan seni tidaklah sepenuhnya bertalian dengan soal-soal kecerdasan intelektual. Kalau toh seni mendengarkan ingin dikaitkan dengan soal kecerdasan, maka mungkin ia merupakan bagian dari kecerdasan emosional (emotional intelligence) atau bahkan kecerdasan spiritual (spiritual intelligence). Artinya, mendengarkan lebih berurusan dengan telinga hati ketimbang telinga fisik. Itu sebabnya mendengarkan harus dibedakan dengan sekadar mendengar. Jika orang memiliki masalah dengan pendengaran fisiknya, maka ia memerlukan hearing aid, alat bantu mendengar yang bisa dibeli di beberapa toko. Namun jika orang tidak mampu mendengarkan orang lain, ia tidak bisa membeli alat bantu apapun di toko manapun. Ia hanya perlu menata hati dan pikirannya agar tidak melanglang buana ketika orang lain sedang berbicara kepadanya.
Dalam berbagai program pelatihan kepemimpinan, perihal mendengarkan ini juga sering dilatihkan. Sejumlah teknik diajarkan untuk dipraktekkan berulang-ulang. Namun saya kira mendengarkan sebagai seni tidaklah bisa dilatihkan. Sebab seni bukan cara, bukan teknik. Namun tidak berarti latihan mendengarkan tidak perlu. Latihan dan bahkan disiplin untuk mendengarkan tetaplah perlu, bahkan penting. Yang ingin saya tegaskan adalah bahwa mendengarkan hanya bisa dilakukan bila hal itu merupakan keputusan hati.
Sebagai teknik, mendengarkan hanyalah soal menciptakan kesan. Dan mereka yang terlatih untuk bersikap dan berpenampilan "seperti" orang yang mendengarkan, memang dapat dilatih. Mata kita dapat dilatih untuk memandang lawan bicara kita. Tubuh kita dapat diatur posisinya agar terkesan sungguh-sungguh memperhatikan orang lain. Namun pikiran dan hati kita tidak bisa dipaksa untuk mengikuti penampilan fisik kita, kecuali bila penampilan fisik itu benar-benar merupakan ekspresi yang jujur dan tulus dari hati kita.
Sejumlah pakar ilmu komunikasi dan kepemimpinan sering membedakan soal kemampuan mendengarkan ini dalam berbagai tingkatan. Pertama, kita dapat mendengar (hearing), tetapi sama sekali tidak mendengarkan (listening). Ini hanya berarti bahwa secara fisik telinga kita normal (tidak tuli). Misalnya, saat ada demonstrasi di Bundaran Hotel Indonesia, sejumlah orang memberikan semacam orasi dan yang lain mendengar tapi tidak sampai mendengarkan. Buktinya, banyak orang sibuk sendiri dengan obrolan dan kegiatan lainnya yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan orasi yang sedang disampaikan.
Jadi, secara fisik mereka mendengar, tapi dalam hati mereka berkata "emangnya gue pikirin". Juga bila orang sedang mengunjungi berbagai pameran, ikut sekatenan atau pasar malam, dan sejenisnya. Pada saat itu ada banyak suara disana sini, termasuk suara radio, televisi, atau peralatan multi media yang sedang didemonstrasikan penggunaannya. Namun, kebanyakan orang yang mendengar tidak pernah mendengarkan, tidak memberikan perhatian penuh. Apa yang mereka dengar tidak mempengaruhi pikiran dan perilaku mereka.
Kedua, kita dapat mendengar tapi tidak sampai mendengarkan ketika kita memberikan kesan seolah-olah mendengarkan tetapi sesungguhnya tidak. Artinya, kita cuma pura-pura mendengarkan, cuma basa basi sosial untuk tidak membuat orang lain tersinggung. Pada tahap ini apa yang masuk dari telinga kanan, langsung keluar dari telinga kiri. Informasi, keluhan, nasihat, kritik, atau apapun yang disampaikan lawan bicara kita tidak sampai menetap di otak, apalagi sampai ke dalam hati. Jadi, pada tahap ini pun keterlibatan pikiran dan hati belum terjadi. Biasanya inilah yang terjadi saat seorang pegawai mendengarkan atasannya memberikan pengarahan yang membosankan. Para penatar P-4 di masa Orde Baru, mungkin banyak didengarkan dalam arti ini juga.
Ketiga, kita dapat mendengarkan secara amat selektif. Kita mendengarkan juga, tetapi tidak sampai memahami secara utuh apa yang sebenarnya ingin disampaikan lawan bicara. Kita hanya sibuk mencari cara untuk memberikan tanggapan balik kepada lawan bicaranya, entah dengan maksud untuk menyenangkan ataupun dengan maksud untuk mencari kelemahan dari kata-kata yang disampaikan lawan bicara kita. Misalnya, dalam diskusi yang sarat dengan adu argumentasi. Pihak-pihak yang setuju dan pihak-pihak yang berpendapat sebaliknya hanya mendengarkan pihak lain dalam rangka mencari-cari alasan untuk "memukul balik". Tidak ada kejujuran dan ketulusan untuk memahami secara sungguh-sungguh. Kita berusaha mencari pembenaran dari pendapat kita sendiri.
Keempat, kita dapat mendengarkan secara logika. Pada tahap ini kita sudah melangkah lebih jauh dari sekadar hearing. Kita mendengarkan dengan "otak", mampu mengingat/menghafal apa yang dikatakan oleh lawan bicara kita. Jika kita diminta mengulangi apa yang telah dikatakannya secara verbal, maka kita dengan mudah akan dapat melakukannya. Sebagian besar mahasiswa, saya kira, mendengarkan kuliah-kuliah dikampus dalam arti ini. Mereka ikut kuliah dan bisa menjawab soal ujian semester persis seperti yang dikuliahkan dosen sebelumnya. Masalahnya, apakah mereka sungguh-sungguh mengerti (understanding) atau baru sekadar tahu (knowing)?
Kelima, kita dapat mendengarkan sampai benar-benar memahami apa yang sesungguhnya ingin disampaikan lawan bicara kita. Pada tahap ini kita mendengarkan dengan tujuan untuk memahami sepenuhnya. Dan ini tidak saja menuntut keterlibatan pikiran, tetapi juga ketulusan hati. Sebagian orang menyebut tahap ini sebagai empathic listening.
Jika Mary Kay Ash mengatakan bahwa mendengarkan adalah seni, saya kira ia bicara soal empathic listening di atas. Dan dalam pengertian ini mendengarkan tidak saja menyangkut soal apa yang didengar secara verbal (kata-kata) atau fisik (mimik muka yang bisa dibuat-buat), tetapi juga pesan yang disampaikan secara nonverbal, yakni lewat bahasa tubuh, intonasi, dan kecepatan suara. Lebih jauh, empathic listening dapat dikatakan upaya mendengarkan dari hati ke hati, bukan sekadar dari telinga ke telinga atau dari pikiran ke pikiran. Jadi ada keterlibatan diri secara total.
Mendengarkan dengan melibatan diri secara total (telinga, pikiran, dan hati) mengandung sedikitnya dua konsekuensi. Pertama, kita harus bersedia membuat pikiran kita terbuka (open mind) untuk dipengaruhi. Kedua, karena kita bersedia dipengaruhi, maka kita dimungkinkan untuk mengubah persepsi awal kita yang mungkin keliru. Dengan kata lain, empathic listening membantu kita untuk memahami kerangka pikiran dan perasaan lawan bicara kita, dan dengan pemahaman itu kita diperhadapkan pada kemungkinan mengubah persepsi awal kita. Bila persepsi kita berubah, maka kemungkinan sikap dan perilaku kita pun akan berubah. Inilah, hemat saya, yang tidak disukai banyak orang. Kita, khususnya orang berusia dewasa, tidak suka berubah. Kita cenderung mempertahankan apa yang kita miliki, termasuk pandangan dan sikap dasar kita terhadap persoalan-persoalan hidup. Kita sudah merasa benar, merasa tahu, merasa mengerti persoalan, dan sikap dasar gede rasa ini menutup telinga pikiran dan hati kita.
          Saya kira, proses reformasi yang sedang kita jalani di negeri ini terhambat oleh ketidakmampuan banyak pihak, terutama para pemimpin formal (baca: pejabat) di lembaga tertinggi dan tinggi negara untuk mendengarkan aspirasi rakyat banyak secara empatik. Dari hari ke hari sangat sulit mencari tanda-tanda (sign) bahwa para pejabat itu benar-benar mendengarkan pandangan pihak-pihak yang berbeda dengan dirinya. Demonstrasi buruh yang sering marak juga mengindikasikan bahwa eksekutif puncak perusahaan, baik milik negara maupun swasta murni, juga tidak mendengarkan aspirasi para buruh yang ketakutan karena merasa periuk nasi satu-satunya selalu terancam hilang dalam hitungan detik.
          Sangat sulit mengusahakan adanya kesepahaman, sekalipun ada begitu banyak forum "dialog" yang dibuat. Akar masalahnya adalah karena masing-masing atau salah satu pihak tidak pernah sungguh-sungguh mendengarkan secara empatik. Para pejabat dan eksekutif perusahaan cenderung merasa paling benar, sudah tahu, sudah mengerti dan tidak mau mendengarkan. Pada sisi lain, rakyat banyak dan kaum buruh merasa tetap tidak dimengerti, tidak dipahami, tidak didengarkan sungguh-sungguh. Akibatnya buntu, mandeg, not going anywhere. Kebuntuan ini memicu berbagai bentuk tindak kekerasan sebagai cara menyatakan dan memaksakan kehendak.
          Mungkin baik jika setiap pemangku jabatan kepemimpinan di berbagai organisasi politik maupun ekonomi/bisnis, belajar kembali (re-learn) ilmu psikologi komunikasi. Kita perlu mengingatkan para pejabat itu bahwa perasaan "didengarkan" ibarat oksigen bagi jiwa. Pihak-pihak yang merasa tidak didengarkan berada dalam posisi sesak nafas, kekurangan oksigen. Jiwanya meronta-ronta. Ekspresi dari jiwa yang dying (sekarat) ini bisa macam-macam. Mulai dari diam, apatis, sampai demonstratif atau bahkan beringas tak karuan. Yang dibutuhkan mungkin bukan sekadar alternatif solusi yang rasional, tetapi perasaan "didengarkan" secara empatik, dimengerti, dipahami apa adanya. Apabila rakyat banyak atau kaum buruh merasa bahwa para pemimpin formal itu sungguh-sungguh mendengarkan jeritan hatinya, maka solusi alternatif yang rasional tentu banyak gunanya. Namun tidak sebaliknya. Banyaknya solusi yang rasional tidak dengan sendirinya membuat rakyat dan buruh pabrik merasa didengarkan. Jadi, dengarkanlah lebih dulu, berusahalah mengerti lebih dalam, bukalah pikiran, rendahkanlah hati untuk menerima kemungkinan bahwa anda keliru mempersepsi persoalan.
Sejauh yang saya pahami, di dunia ini tidak ada hal yang lebih mengerikan daripada pemimpin yang merasa dirinya paling benar, paling tahu/pintar, paling mengerti dan karenanya tidak bersedia berubah sama sekali. Sebab bila pemimpin merasa dirinya serba super, maka ia telah kehilangan kemanusiawiannya dan tak lagi mampu mendengarkan dengan pikiran hatinya (mind-heart).
Sekali lagi, mendengarkan sebagai salah satu atribut penting kepemimpinan, adalah seni dalam mengelola perubahan. Dan mengelola perubahan di tengah paradok globalisasi versus otonomi daerah, pertama-tama dan terutama memang merupakan tanggung jawab para pemimpin. Pemimpinlah yang harus mengambil inisiatif untuk lebih banyak mendengarkan, dalam arti membuka pikiran dan menyediakan hati untuk mengubah salah persepsi yang mungkin dimilikinya. Pemimpinlah yang pertama-tama harus mentransformasikan dirinya untuk menjadi lebih manusiawi. Dengan cara itu ia dapat benar-benar memimpin proses transformasi masyarakat dan organisasi dimana ia dipercaya untuk kurun waktu tertentu.
Haruskah kita mengundang Mary Kay Ash untuk memberikan "pelatihan" kepemimpinan kepada para pemimpin kita? Mudah-mudahan tidak.
Source : [kolom Manajemen - Kepemimpinan] pembelajar.com

Refleksi: Membangun Sikap Positif

print this page 
Oleh: Andrias Harefa

Tak ada yang dapat menghentikan orang yang bersikap mental benar dari upayanya meraih cita-cita; dan tidak ada satu pun yang dapat menolong orang bersikap mental keliru
--Thomas Jefferson

Dictionary of Behavioral Science mendefinisikan sikap sebagai "Learned predisposition to react consistently in a given manner to certain person, objects or consepts". Sementara Webster menguraikan sikap sebagai "a manner of acting, feeling, or thinking that shows one's disposition, opinion". Kamus Oxford menyebutkan sebagai "way of feeling, thinking or behaving". Singkatnya, sikap merupakan suatu cara merasakan, cara pikir, yang berada di dalam diri seseorang dan kemudian dinyatakan dalam tindakan, perilaku, atau kebiasaan tertentu. Sikap ini dapat berkaitan dengan diri sendiri (attitude toward self), orang lain (others), pekerjaan (jobs), perusahaan atau lembaga (organization), gagasan atau ide (concepts), komitmen dan energi (misalnya waktu). Karena sikap menyangkut pola rasa dan pola pikir, pengaruh sikap menjadi amat sangat menentukan. Dale E. Galloway dalam bukunya Twelve Way to Develop a Positive Attitude mengatakan secara tepat bagaimana pengaruh sikap terhadap kehidupan kita.
Sikap dapat menjadikan kita utuh atau menghancurkan kita, menyembuhkan kita atau melukai kita, mendatangkan sahabat atau musuh, membuat kita gelisah atau tenang, membuat kita merasa susah, malang, dan menderita atau senang, gembira, dan bahagia, menjadikan kita pecundang atau justru pemenang. Bahkan Alfred Alder (1870-1937), seorang ahli jiwa terkemuka berkebangsaan Jerman, mengatakan "Persoalan pokok kehidupan ialah sikap terhadap orang lain." Tetapi orang dapat juga menganggap bahwa sikap tidaklah penting. Dan membaca tulisan ini dianggap membuang waktu percuma, itulah contoh sebuah sikap. Sayangnya, itu adalah sikap negatif.
SIKAP ADALAH SUATU PILIHAN UNTUK KITA AMBIL
YANG DAPAT MENGHANCURKAN ATAU MEMBANGUN DIRI KITA
- Bagaimana sikap Anda selama ini? Dapatkah Anda menjabarkannya?
- Manakah yang lebih dominan, sikap positif ataukah negatif?
- Bagaimana dampak dari kedua sikap itu, positif dan negatif, bagi karier Anda?
- Apakah langkah-langkah konkret yang akan Anda lakukan untuk membangun sikap positif

*) andrias harefa bekerja sebagai knowledge entrepreneur, learning facilitator-consultant, presiden indonesia school of life, pemrakarsa dan pengelola situs www.pembelajar.com, penggagas gerakan Indonesia Belajarlah! dan Forum Mahasiswa Berwirausaha serta gerakan pengajar keliling. Ia juga menulis 20-an buku best-seller, antara lain: Menjadi Manusia Pembelajar (Kompas, 2000); Pembelajaran di Era Serba Otonomi (Kompas, 2001). Buku terakhir yang dalam proses penerbitan adalah Menyoal Masa Depan Sekolah dan Universitas (Gramedia, 2002).

GURU-GURU PEMBELAJAR : BOB SADINO

print this page Print

Oleh: Andrias Harefa*

Ada banyak pengusaha dan ada banyak petani di negeri ini. Namun pengusaha yang sekaligus petani modern mungkin tak banyak, apalagi yang bermukim di Jakarta. Salah satunya adalah Bob Sadino, petani kaya yang memiliki Kem Chicks di Jakarta Selatan (supermarket dengan sekitar 18.00 item dagangan dan dikunjungi sekitar 2.500 orang per hari), Kem Foods (memproduksi aneka ragam daging beku berbentuk sosis, burger, bakso), dan Kem Farms di Jawa Tengah (penghasil sayuran dan buah-buahan, dimana budidaya hidroponik dilakukan dengan berhasil). Tidak kurang dari 1.300 karyawan menggantungkan hidupnya dari usaha milik Tuan Sadino ini.
Bob Sadino adalah entrepreneur farmer yang unik. Keunikannya langsung nampak secara fisik sejak ia mengenakan "pakaian dinasnya" yang sampai sekarang masih itu-itu juga: celana jins belel pendek, baju lengan pendek yang potongannya tak berjahit, dan sepatu tanpa kaos kaki. Dan dengan "seragam kiwir-kiwir" khas itulah ia pernah berbincang-bincang dengan para pejabat pemerintahan sampai tingkat presiden, sejak jaman Soeharto berkuasa.
Liputan media tentang sepak terjangnya selama dua dekade terakhir ini sudah tak terbilang banyaknya. Nama dan potret dirinya tampil dimana-mana, baik di media cetak maupun elektronik, baik di dalam negeri maupun dari luar negeri. Lelaki kelahiran Tanjungkarang, Lampung, 9 Maret 1933, ini memang memiliki banyak sisi kehidupan yang menarik untuk disimak. Ia memulai usahanya dari nol, dan didukung penuh oleh Soelami, istri yang dinikahinya 31 Juli 1967 dan memberinya dua putri, Myra Andiani dan Shanti Dwi Ratih.

Refleksi : menjadi manusia proaktif

print this page Print

Oleh: Andrias Harefa

Maskot perusahaanku adalah bumblebee. Karena sayap-sayapnya kecil sedangkan tubuhnya berat. Secara aerodinamik seharusnya bumblebee tidak bisa terbang. Tetapi, ia tidak tahu tentang itu, sehingga ia tetap terbang (Mary Kay Ash).
Seseorang dikatakan proaktif apabila ia mengambil inisiatif untuk bertindak, berpikir positif terhadap apa yang telah terjadi, dan menerima tanggung jawab atas tindakannya. Sementara orang reaktif tidak berinisiatif, berpikir negatif, dan menolak tanggung jawab--karena merasa bahwa pihak atau hal lain di luar dirinyalah yang bertanggung jawab (baca: selalu mencari kambing hitam).
Meski secara teoritis manusia proaktif dan manusia reaktif dapat dibedakan secara gamblang, namun dalam kehidupan sehari-hari pembedaan tersebut tidak mudah dilakukan. Hal ini terutama disebabkan karena tidak seorang pun dapat dikatakan proaktif 100% atau reaktif 100%. Atau tidak seorang pun yang dapat mengklaim bahwa responsnya selalu proaktif atau reaktif melulu, sepanjang waktu, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, nonstop. Mereka yang 100% proaktif mungkin malaikat (bukan manusia) dan mereka yang 100% reaktif adalah binatang (juga bukan manusia).

Dalam sejarah, orang-orang yang disebut proaktif (misalnya: Mahatma Gandhi, Abraham Lincoln, Bung Karno, Victor Frankl, Nelson Mandela, dan lain-lain) sesungguhnya lebih tepat disebut sebagai orang-orang yang memiliki proaktivitas tinggi. Mereka memberikan respons-respons proaktif dalam banyak aspek kehidupan mereka (ekstensitasnya) dengan kualitas tinggi (intensitasnya). Artinya, dari 10 kejadian yang menimpa hidup mereka, 9 di antaranya ditanggapi secara proaktif.
MENGUBAH DIRI BUKAN HANYA MENGUBAH RESPONS "REAKTIF" MENJADI "PROAKTIF" TETAPI JUGA MENGUBAH RESPONS "PROAKTIF" MENJADI "PROAKTIVITAS TINGGI"

- Sudahkah Anda termasuk dalam kategori manusia proaktif?
- Adakah kendala-kendala yang menghambat Anda untuk menjadi manusia proaktif?
- Apakah yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi kendala-kendala tersebut?
- Apakah langkah-langkah konkret yang akan Anda lakukan untuk memiliki proaktivitas tinggi?

Etika-ethos : mentalitas budak ?

print this page Print

Oleh: Andias Harefa*

Ada yang berpendapat bahwa sebagai bangsa kita inii sudah merdeka dua kali, yakni: pertama, merdeka dari kolonialisme Belanda; kedua, merdeka dari penjajahan oleh (penguasa) bangsa sendiri. Yang pertama di tahun 1945 dan ditandai antara lain dengan naiknya Bung Karno dan Bung Hatta menjadi Presiden dan Wakil Presiden pertama republik ini. Yang kedua di tahun 1998 dan ditandai dengan lengser-nya Pak Harto, 21 Mei 1998. Lalu sampai tulisan ini dibuat awal tahun 2001, kita semua baru dalam tahap belajar merdeka.
Karena relatif baru belajar merdeka, maka sebagian (besar?) manusia Indonesia dewasa ini masih bermental budak. Tidak banyak kita jumpai orang-orang yang suka mengambil inisiatif atau memprakarsai proses-proses pembaruan, apalagi bila prakarsa itu mengandung konsekuensi tanggung jawab yang besar alias berisiko. Di bidang pemerintahan, misalnya, aparat-aparat di tingkat daerah, yang memang telah terbiasa dan dibiasakan menunggu perintah dari para "raja-raja" di pusat kekuasaan, lebih suka menunggu komando, instruksi, atau petunjuk.
Pelaksanaan desentralisasi pemerintahan dan otonomi daerah menunjukkan kepada kita bagaimana sukarnya menemukan pemimpin-pemimpin di daerah yang dapat menyampaikan usulan program kerja jangka panjang bila mereka dipercaya untuk menduduki berbagai jabatan kepemimpinan. Mereka lebih suka menunggu segala sesuatu diselesaikan oleh "pusat" dan mereka ditunjuk untuk "melaksanakannya" saja. Tidak terlalu jelas, misalnya, seberapa jauh "orang daerah" terlibat dalam arti melibatkan diri secara pro-aktif, dalam proses penyusunan perangkat hukum otonomi daerah. Yang jelas, peran "orang pusat" sangat dominan. "Orang daerah" bukan tidak terlibat sama sekali, tetapi mereka "dilibatkan" oleh "orang pusat" dan bukannya "melibatkan diri" (aktif).

Kepemimpinan-Manajemen : Telinga Pemimpin

print this page Print

Oleh: Andrias Harefa *

Pemimpin seharusnya orang yang bertelinga.
Ia bukan saja harus dapat mendengar (hearing),
tetapi mampu mendengarkan (listening).

Salah satu rahasia kepemimpinan Mary Kay Ash adalah kemampuannya dalam mendengarkan orang lain. Ia pernah mengatakan bahwa pada saat ia sedang berusaha mendengarkan orang lain, "Saya akan menutup mata dan telinga terhadap hal-hal lain. Saya langsung memandang orang yang berbicara kepada saya. Bahkan andai ada seekor gorila yang berjalan memasuki ruangan, barangkali saya tidak akan memperhatikannya".

Mary Kay Ash mungkin mendramatisir soal seni mendengarkan ini. Namun, ia agaknya benar-benar meyakini bahwa kemampuan mendengarkan merupakan suatu kemampuan yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinannya. Ketika beberapa konsultan kecantikan (beauty consultant) yang bekerja di perusahaannya datang untuk minta nasihat, ia seringkali merasa bahwa yang perlu dilakukannya hanyalah mendengarkan cukup lama, sampai pihak yang meminta nasihatnya itu menemukan sendiri cara penyelesaian masalah yang mereka hadapi.
Mendengarkan adalah seni, sama halnya dengan kepemimpinan. Dan seni tidaklah sepenuhnya bertalian dengan soal-soal kecerdasan intelektual. Kalau toh seni mendengarkan ingin dikaitkan dengan soal kecerdasan, maka mungkin ia merupakan bagian dari kecerdasan emosional (emotional intelligence) atau bahkan kecerdasan spiritual (spiritual intelligence). Artinya, mendengarkan lebih berurusan dengan telinga hati ketimbang telinga fisik. Itu sebabnya mendengarkan harus dibedakan dengan sekadar mendengar. Jika orang memiliki masalah dengan pendengaran fisiknya, maka ia memerlukan hearing aid, alat bantu mendengar yang bisa dibeli di beberapa toko. Namun jika orang tidak mampu mendengarkan orang lain, ia tidak bisa membeli alat bantu apapun di toko manapun. Ia hanya perlu menata hati dan pikirannya agar tidak melanglang buana ketika orang lain sedang berbicara kepadanya.
Dalam berbagai program pelatihan kepemimpinan, perihal mendengarkan ini juga sering dilatihkan. Sejumlah teknik diajarkan untuk dipraktekkan berulang-ulang. Namun saya kira mendengarkan sebagai seni tidaklah bisa dilatihkan. Sebab seni bukan cara, bukan teknik. Namun tidak berarti latihan mendengarkan tidak perlu. Latihan dan bahkan disiplin untuk mendengarkan tetaplah perlu, bahkan penting. Yang ingin saya tegaskan adalah bahwa mendengarkan hanya bisa dilakukan bila hal itu merupakan keputusan hati.

Transformasi proses pembelajaran

print this page Print

Oleh: Andrias Harefa *

We are shaping the world
faster then we can change ourselves,
and we are applying to the present the habits of the past.
- Winston Churchill

Bagaimanakah kita menggambarkan proses pembelajaran yang berlangsung di berbagai perguruan tinggi Indonesia selama beberapa dekade terakhir ini? Saya khawatir bahwa prosesnya masih sama seperti antagonisme pendidikan "gaya bank"-nya Paulo Freire, yang kalau disesuaikan dengan dunia kampus digambarkan seperti ini:

Friday, May 3, 2013

PEMBELAJARAN: MELACAK ASAL USUL SEKOLAH

print this page Print


Oleh: Andrias Harefa

Kita harus berhenti mengasingkan sekolah
dari kehidupan nyata sehari-hari.
"Nenek saya ingin saya memperoleh pendidikan, karenanya, ia tidak mengijinkan saya sekolah," demikian Everett Reimer mengutip kalimat Margaret Mead ketika menulis bagian Pendahuluan bukunya School is Dead. Dari judul yang dipilihnya, dan diperkuat dengan kalimat pertama itu, nampak benar ketajaman kritik Reimer terhadap lembaga persekolahan, baik dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Bagi mereka yang tahu bahwa Reimer adalah rekan Ivan Illich, hal itu mungkin akan mengurangi rasa terkejut dalam mempelajari kritik Reimer terhadap pembelajaran di persekolahan. Sebab Illich sendiri pada saat yang hampir bersamaan menulis sebuah buku yang tak kalah menyeramkan judulnya: Deschooling Society. Apalagi bagi mereka yang terbiasa dengan gagasan Paulo Freire, ide-ide Reimer menjadi 'generik' dalam arti 'biasa-biasa' saja.
 Pemikiran-pemikiran kritis Reimer, Illich, dan Freire itulah agaknya yang mempengaruhi Roem Topatimasang ketika sedang kuliah di IKIP Bandung tahun 80-an. Dalam banyak makalahnya yang kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi buku kecil beberapa saat setelah runtuhnya "Sekolah Orde Baru", Topatimasang berusaha mengingatkan hakikat dan peran sekolah yang telah menyimpang jauh dari sejarah awalnya. Namun suara kritis Topatimasang dianggap bagai angin lalu oleh birokrat pendidikan yang sedang berkuasa saat itu, sehingga tidak pernah ada wacana yang mengangkat persoalan dasar pendidikan di tanah air. "Sekolah Orde Baru" yang dimanajemeni oleh seorang Smiling General itu memang sukses memasung segala bentuk kreativitas dan sikap kritis anak-anak bangsa lewat sistem pendidikan yang dipolitisir untuk menopang status quo.
Benarkah sekolah sudah mati? Mungkinkah ada masyarakat tanpa sekolah? Mengapa pendidikan hakikatnya adalah upaya pembebasan? Bagaimana mungkin pendidikan dapat menindas? Sejauh mana sekolah telah menjadi candu? Demikian beberapa pertanyaan mendasar yang selama Orde Baru tidak pernah dijawab secara memuaskan. Tulisan ini tidak bermaksud memberikan jawaban langsung terhadap pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Yang ingin dilakukan adalah menelusuri asal usul sekolah dan secara ringkas, melihat bagaimana dunia persekolahan itu tumbuh dan berkembang di Indonesia, lalu mencoba memetakan persoalan dasar pendidikan yang kita hadapi saat ini, serta apa 'peluang' yang perlu kita tanggapi untuk mereformasi sistem pendidikan ke arah yang lebih baik, yang lebih berkesesuaian dengan setiap upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia-manusia Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia.