Thursday, May 2, 2013

ADA PERANG DALAM BATIN

print this page Print
Senyum mengembang di wajah para guru SD Negeri II Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Bila mereka sudah bisa tersenyum, berarti ada sesuatu yang membahagiakan. Sebab, beberapa waktu lalu di bulan September, guru-guru di banyak daerah di Indonesia resah lantaran mereka belum menerima rapel gaji yang dijanjikan pemerintah."Kami bersyukur karena rapel gaji yang dijanjikan itu sudah dibayarkan. Besarnya lumayan sesuai dengan kepangkatan dan golongan," ujar seorang guru yang lebih suka disapa Ibu Ati di ruang kerjanya ketika ia sedang beristirahat bersama beberapa guru lainnya.


Sebagai guru, tuturnya, memang sungkan berbicara terbuka soal kesejahteraan. Sebab, seseorang menjadi guru adalah panggilan. Artinya, tidak semua orang suka memilih profesi ini."Tapi, ketika bangsa kita sudah masuk dalam era keterbukaan, dunia pendidikan sepertinya tidak mendapat perhatian sama sekali," ujarnya. Bahkan, masalah di bidang pendidikan dan persoalan yang dihadapi para guru sama sekali tidak ditengok. "Sebelum guru-guru berunjuk rasa, tahun lalu, kami sering mendiskusikan masalah tersebut. Jadi, guru-guru berunjuk rasa dengan maksud minta perhatian kepada masyarakat dan pemerintah agar lebih serius memperhatikan dunia pendidikan," tamdas Ati.

Seharusnya, menurut dia, ketika bangsa ini hendak menata kembali kehidupan sosial politiknya, benahi pula dunia pendidikannya. Artinya, pendidikan sudah saatnya bisa dengan mudah diperoleh sejak anak-anak, dan profesi guru mendapat penghargaan yang memadai. "Jadi dalam batin guru sebenarnya terjadi semacam perang," ungkapnya.

Dia menilai bahwa salah satu kelemahan pemerintahan Orde Baru adalah tidak menomorsatukan dunia pendidikan. "Tapi itu tidak mudah disampaikan secara terbuka karena pemerintah saat itu tak mudah menerima kritik," ujarnya.

Rasa prihatin paling hanya dinyatakan dengan mengelus dada, dan hal itu sudah dialami sejak memulai karier sebagai guru. Lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) tahun 1985, yang kini sedang menyelesaikan studi tingkat sarjana keguruan, mengawali kariernya sebagai guru SD di Leuwi- liang, Kabupaten Bogor, pada tahun 1991. Dia tidak pernah membayangkan akan mengajar di sana. "Saya berharap, ketika itu, bisa mengajar di Bandung, Jawa Barat. Sebab, orangtua saya tinggal di kota itu,'' ujarnya. Tapi, semua sekolah di Bandung sudah penuh guru. Dia sempat melihat, di Leuwiliang masih dibutuhkan tenaga guru.

"Saya tidak menjatuhkan minat mengajar ke sana. Ketika itu, saya hanya menyampaikan lamaran untuk menjadi guru ke Pemda. Keputusannya, saya ditempatkan di Leuwiliang," tuturnya. Untuk mencapai tempatnya mengajar, dia harus lima kali berganti angkutan umum. "Gaji saya mengajar di sana Rp 75.000. Sedangkan untuk uang transpor sebesar Rp 5.000 per hari. Jadinya kan saya justru menombok," kenangnya. Tapi, dengan segala kesabaran dan upayanya, dia bisa bertahan selama tiga tahun. "Sebagai guru, saya tertantang untuk mengajar di situ. Kebanyakan murid-murid di SD itu benar-benar tertinggal. Anak-anak bersekolah apa adanya, bahkan banyak yang tak beralas kaki," ujarnya.
Setelah itu, atas permohonannya, ia dipindahkan ke SD Negeri II Bojong Gede. Di situ dia mengajar sebagai guru honorer selama setahun, dan kemudian diangkat menjadi guru dengan status Pengawai Negeri Sipil dengan gaji tetap.

Kini, sudah enam tahun dia mengajar di Bojong Gede. Sebenarnya lingkungan di situ tidak jauh beda dengan di Leuwiliang. Sekolah tempatnya sekarang mengajar terletak tak jauh dari areal persawahan dan dekat lintasan Kereta Rel Listrik Jakarta-Bogor. "Bisa Anda bayangkan, betapa berisiknya ketika KRL itu mondar-mandir pada pagi hari hingga sore hari," kata dia. Soal suara kereta yang bising tersebut, menurut dia, masing-masing guru punya cara untuk mengatasinya. "Kalau saya, kondisi itu tak mungkin dielakkan. Bila sedang menerangkan, kereta lewat, ya saya hentikan sejenak. Makin sering kereta itu lewat, ya berarti semakin banyak istirahat saya," guraunya.

Dengan pengalamannya sudah mengajar di dua tempat, dia mendapat kesan, setiap lingkungan sekolah memiliki kekhasannya. Dengan kekhasannya itu -- yang terjadi karena faktor lingkungan, kondisi masyarakat dan gaya pimpinan sekolah -- tak perlu adanya sekolah favorit dan tak favorit. "Saya menyayangkan masyarakat justru semakin mempertajam hal itu. Seharusnya perjuangkanlah agar sistem pendidikan di negara kita semakin baik," ucapnya. Semua guru di setiap sekolah, termasuk di SD yang letaknya di pelosok sekalipun, berkeinginan anak didiknya pandai.

"Keinginan itu yang tertanam dalam setiap benak guru. Mana ada guru yang berniat membodohi murid-muridnya," kata Ati. Atas dasar keinginan itu, tuturnya, setiap guru berupaya meningkatkan pengetahuan dan wawasannya.

Di tempatnya mengajar, semua guru berupaya meningkatkan pengetahuan dan wawasannya dengan belajar mandiri sebagai mahasiswa Universitas Terbuka. "Kegiatan ini memang diserahkan sepenuhnya kepada para guru untuk memilihnya," jelasnya. Soal biaya, menurut Ati, para guru sendiri yang menanggungnya.

Dia sebenarnya menyayangkan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dihapuskan. "Keberadaan sekolah itu tak bisa disepelekan. Sebab, di situlah lahir para guru yang kelak mengajar di Taman Kanak-kanak (TK), dan SD. Di situ para calon guru dilatih cara mengajar tingkat dasar," tuturnya.

Ati menduga, makin maraknya tawuran pelajar adalah akibat cara mengajar yang salah. Lulusan SMA yang melanjutkan pendidikan ke Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) belum tentu seterampil lulusan SPG dalam teknik mengajar. "Bila guru salah dalam cara mengajar membuat anak didiknya justru bersikap negatif. Sikap itu semakin tak menguntungkan manakala orangtuanya juga memaksanya harus naik kelas dan lulus hingga SLTA," katanya.

sDi masa mendatang, Ati berharap, pemerintah memprioritas pembangunan bidang pendidikan, khususnya pendidikan dasar. Anggaran negara, baik pemerintah pusat maupun daerah, untuk bidang pendidikan sebaiknya dinaikkan bagi pembangunan gedung SD atau peningkatan kualitas gurunya. (Suara Pembaruan 300901)


AKTUAL: PERLU SISTEM PEMBELAJARAN "MULTIGRADE TEACHING"

Guna mengembalikan memori anak-anak yang traumatis pascakerusuhan, diperlukan sistem pembelajaran yang bersifat multigrade teaching, yakni pembelajaran terhadap satu kelompok yang terdiri dari beberapa kelas. Namun, metode yang seharusnya dijalankan secara kontinu dan konprehensif ini terbentur masalah dana. Demikian dikemukakan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof Suyanto MEd PhD.

"Kita tahu bahwa dampak kerusuhan terhadap aspek pendidikan sangat luar biasa. Sebab, dalam kondisi traumatis, stigma-stigma sosial akan terkenang seumur hidup sehingga diperlukan penanganan pedagogi yang baik pula," ujarnya.

Untuk mengembalikan kondisi yang sulit itu, apalagi "mengobati" memori anak-anak yang tengah berada dalam puncak kepekaannya-di mana anak-anak disuguhi peristiwa pembunuhan yang luar biasa-diperlukan penanganan yang kontinu dan komprehensif. Menghadapi kenyataan ini, sistem pembelajaran yang diharapkan bukan sekadar memberikan ilmu-ilmu pendidikan formal, tetapi juga pendampingan psikis mereka. Karena itu, kata Suyanto, sistem pembelajaran multigrade teaching adalah yang paling mungkin dilakukan. Artinya, pembelajaran dilakukan terhadap satu kelompok yang terdiri dari beberapa kelas. Misalnya, kelas satu sampai kelas tiga digabung menjadi satu kelas dan untuk anak-anak kelas empat hingga enam juga dibuat kelompok yang berbeda. Untuk itu, masyarakat harus bisa memakluminya sebab kondisi darurat ini sedang mereka alami.

Menurut Suyanto, secara teoretis, metode pembelajaran yang digunakan harus dimulai dengan mengekspose hal-hal yang sangat menakutkan hingga menjadi sesuatu yang tidak menakutkan. "Akan tetapi, secara praktis, anak-anak itu perlu juga diajarkan tentang nilai-nilai yang mengutamakan toleransi. Kalau tidak melalui cara ini, anak-anak akan memiliki perasaan antipati terhadap etnis-etnis tertentu, yang menurut pikiran mereka telah menyebabkan malapetaka," tegasnya.

Hanya saja, demikian Suyanto mengingatkan, metode pembelajaran ini memerlukan waktu yang panjang. Kendati begitu ia juga tidak yakin sepenuhnya kalau metode pembelajaran ini dapat menyembuhkan traumatis anak-anak, apalagi jika itu tidak dilakukan secara serius. Ke depan, tambahnya, pendidikan di daerah rawan konflik tidak harus mengandalkan pendidikan persekolahan yang memberikan teori-teori atau konsep umum pendidikan. "Pendidikan dengan konsep-konsep sosiologis, antropologis, dan budaya juga harus ditempuh," tuturnya.

Ia menambahkan, sampai saat ini upaya memasukkan sikap toleransi menjadi sebuah kurikulum khusus saja masih mengalami pro dan kontra. Namun, lepas dari itu semua, upaya yang paling baik adalah bahwa dalam setiap mata pelajaran seharusnya ada pesan nilai-nilai tertentu untuk kemudian dihayati dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. "Pendidikan agama yang sudah mengajarkan nilai-nilai tidak bisa dikatakan gagal. Variabel yang menentukan perilaku manusia begitu banyak. Ia tidak bisa hanya ditentukan oleh kesanggupan murid berada di kelas selama jangka waktu tertentu secara formal," jelasnya. (Kompas 030301)


aktual: BUKAN KEMEWAHAN YANG MEMBUAT SEKOLAH JADI UNGGULAN

Definisi sekolah unggul yang mewah, luks, sarana (hardware) yang lengkap dalam beberapa tahun kedepan akan ditinggalkan masyarakat. Sekolah yang lebih mementingkan hardware tersebut menyesatkan indikasi sekolah unggulan karena dari sekolah seperti itu belum tentu menghasilkan lulusan yang optimal dan unggulan.

"Sekolah unggulan ialah sebuah sistem dimana seluruh komponen pendidikannya terintegrasi, utamanya guru," ucap Prof. Dr. Yaumil Agoes Achir anggota Yayasan Pembina Pendidikan Adik Irma (YPP Adik Irma). Dia memaksudkan terintegrasinya sistem ialah guru, kurikulum, sarana, dan murid-muridnya saling mendukung.

Ketrampilan, kepandaian, dan penguasaan materi oleh guru adalah kunci sekolah unggul. "Guru juga tidak boleh diperas, pengembangan karir serta materinya harus diperhatikan pengelola sekolah," ucapnya. Dia mengatakan kesejahteraan guru sangat penting untuk meningkatkan mutu pendidikan. Semakin guru sejahtera akan lebih tinggi konsentrasinya kependidikan dan murid.

Selain itu ada lagi syarat yang diajukan Yaumil mengenai sekolah unggulan yaitu kurikulum. "Jangan hanya bergantung kepada kurikulum nasional, harus ada penambahan jam serta materi pada beberapa pelajaran yang penting," tuturnya.

YPP Adik Irma sendiri memberi penekanan kepada pelajaran matematika, fisika, humaniora (budi pekerti), kemampuan berbahasa, dan komputer. "Penekanan pada lima poin tersebut menjadikan kurikulum nasional lebih unggul," ujarnya.

Sedangkan konsekuensi yang harus dihadapi anak dengan adanya beberapa penekanan pelajaran tersebut jam pulang anak akan lebih panjang. Yaumil mengatakan mungkin anak harus pulang sekolah jam 15.30 atau 16.00.

"Jangan khawatir anak akan jenuh karena terlalu lama disekolah. Di luar negeri sendiri anak pulang sekolah sore hari itu sudah biasa," tegasnya. Biasanya kejenuhan anak disekolah justru karena faktor gurunya karena guru tidak mampu menampilkan materi secara menarik.