Saturday, May 4, 2013

Kebaikan Menghasilkan Keajaiban-Keajaiban

print this page 
Oleh : Gede Prama

Lelah dan letih, mungkin itu kata yang tepat untuk mewakili keadaan tubuh dan jiwa saya menjelang 2 Maret 2001. Sebuah tanggal yang membuat umur saya menjadi tiga puluh delapan tahun. Banyak orang memang meyakini, kehidupan mulai di umur empat puluh tahun. Dan entah apa yang terjadi kelak, kalau saya sudah sampai pada titik start kehidupan terakhir. Mudah-mudahan lelah dan letih ini hanya kondisi sesaat saja. Namun yang jelas, kendati sang badan dan jiwa sudah mengeluh letih, tetap saja stok rasa syukur tidak berkurang. Malah, semakin hari semakin bertambah, bertambah dan bertambah.
Izinkan saya berbagi refleksi dari salah satu pojokan rasa syukur yang dikaruniai Tuhan. Masih segar sekali dalam ingatan, ketika pertama kali menginjakkan kaki di ibu kota Jakarta ini dengan membawa ijazah sarjana di tahun 1985, di terminal bus Pulo Gadung saya bertanya ke diri sendiri : akankah saya bisa tumbuh di Jakarta ini ? Antara optimis dan ragu, saya bergerak menuju ke rumah keluarga di Pasar Minggu sana. Ketika pikiran optimis datang, hati saya berkata : beruntunglah mereka yang bisa mendapatkan saya jadi pekerja. Tatkala pikiran pesimis berkunjung, bayang-bayang manusia kalah yang kembali pulang ke kampung menghantui saya.
            Kalau saja ada orang yang bertanya ketika itu, apa modal jualan saya di Jakarta agar diri saya laku jadi pekerja, terus terang, hanya kebingunganlah jawabannya. Maka tertulislah dalam sejarah kehidupan saya, seorang anak manusia yang menganggur di Jakarta ini hampir dua tahun. Kalau jalan-jalan sepanjang Jakarta setiap hari, hanya untuk mengobati rasa malu pada tetangga karena kelihatan menganggur, sudah menjadi menu sehari-hari ketika itu. Belum lagi ditambah dengan bayangan malu pada orang-orang di kampung, sudah bergelar sarjana, telah berkeluarga namun jadi pengangguran.
Ketika menghadapi godaan-godaan karir yang hebat di awal-awal karir, hanya rasa malu terakhirlah yang membuat saya bertahan. Entah godaan hampir diberhentikan ketika baru mulai kerja, godaan baru pulang dari Inggris dan Prancis kemudian menganggur lagi. Yang jelas, kalau ada bayangan cengeng yang meminta saya harus pulang kampung jadi manusia kalah, cepat-cepat dihapus dari kepala. Rumusnya sederhana, saya anggap sudah tidak punya apapun di kampung sana.
Belasan tahun setelah kisah ini berlalu, sisi-sisi menyedihkan sudah amat berkurang. Diganti dengan pojokan-pojokan rasa syukur yang hadir di sana-sini. Ada saja bahan yang bisa membuat saya bertutur reflektif ke Anda di hari ulang tahun ini. Hadiah ulang tahun yang patut di syukuri di tahun 2001 ini, karena ada pemilik perusahaan yang mempercyakan perusahaannya ke saya untuk dipimpin.
Dalam lorong-lorong renungan saya menoleh kembali ke belakang, ternyata Tuhan menghadiahi saya sejumlah lompatan karir. Satu hal, yang tidak ditemui oleh kebanyakan sahabat dan kerabat dekat. Dalam bahasa seorang rekan, dua tahun berturut-turut naik pangkat di tempat yang tinggi. Jadi konsultan dua tahun, jadi komisaris dua tahun, jadi direktur SDM dua tahun dan di tahun 2001 ini jadi CEO. Dan yang membuat banyak sahabat dan kerabat tambah iri, posisi ini saya lakoni tetap dengan tidak meninggalkan habitat saya yang lama (jadi penulis, pembicara dan konsultan).
Ada orang yang mengira saya hebat. Dan kalau boleh jujur, bila kinerja, kepintaran dan pendidikan ukurannya, dan diserahkan ke saya sendiri untuk memilih CEO-nya, saya akan memilih orang lain. Tentu ada yang bertanya, lantas apa modal saya bisa sampai di sini ? Sebenarnya tidaklah hebat-hebat amat, karena modal saya dimiliki semua orang. Modal tadi bernama kebaikan. Kebaikan dan hanya kebaikan. Itu dan hanya itu.
Ketika orang berebut kekuasaan saling sikut, saya biarkan saja sambil tetap bekerja. Tatkala ada yang mencoba menjegal saya kiri kanan, kadang memang ada dorongan ego untuk melawan, tetapi kerap saya rem dengan keyakinan : kebaikanlah penyelamat kita yang paling utama. Ada yang mencoba naik dengan segala cara, dan bahkan menginjak kepala. Saya ingatkan diri saya : tidak ada pengorbanan yang terbuang percuma. Ada yang menjelek-jelekkan saya di depan umum, dan memang amat menyakitkan, kerap emosi terpancing, inipun berhasil saya tenangkan dengan cara serupa.
Berhadapan dengan orang-orang atas dengan values yang berbeda memang menghadirkan tantangan tersendiri. Kadang, identitas saya yang asli bisa dikotori dengan nilai-nilai baru. Inipun senantiasa saya rem, rem dan rem. Pernah terjadi, diri saya dibuat demikian tertekan oleh orang atas, dan memancing saya untuk mundur. Inipun berhasil direm dengan rumus basi yang sama. Demikian juga ketika berhadapan dengan pekerja bawah yang di zaman-zaman ini teramat berani. Kebaikan dan kejujuran mengalahkan segalanya.
Tidak hebat-hebat amat bukan ? Dan Anda serta siapapun bisa melakukannya. Modalnya hanya satu, niat kuat untuk memulai dan kemudian bertahan dengan seluruh tenaga. Lelah, capek dan bahkan kadang sakit memang. Tapi, mana ada kebaikan yang bisa hadir tanpa bayaran ?
Dalam perjalanan hidup seperti ini, kalau boleh saya menyimpulkan untuk sementara, apa kearifan kehidupan yang mau dibagi di hari ulang tahun ini sebenarnya sederhana. Ternyata, kebaikan dan kejujuran menghasilkan banyak sekali kejaiban-keajaiban hidup.