Friday, May 3, 2013

PEMBELAJARAN: MELACAK ASAL USUL SEKOLAH

print this page Print


Oleh: Andrias Harefa

Kita harus berhenti mengasingkan sekolah
dari kehidupan nyata sehari-hari.
"Nenek saya ingin saya memperoleh pendidikan, karenanya, ia tidak mengijinkan saya sekolah," demikian Everett Reimer mengutip kalimat Margaret Mead ketika menulis bagian Pendahuluan bukunya School is Dead. Dari judul yang dipilihnya, dan diperkuat dengan kalimat pertama itu, nampak benar ketajaman kritik Reimer terhadap lembaga persekolahan, baik dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Bagi mereka yang tahu bahwa Reimer adalah rekan Ivan Illich, hal itu mungkin akan mengurangi rasa terkejut dalam mempelajari kritik Reimer terhadap pembelajaran di persekolahan. Sebab Illich sendiri pada saat yang hampir bersamaan menulis sebuah buku yang tak kalah menyeramkan judulnya: Deschooling Society. Apalagi bagi mereka yang terbiasa dengan gagasan Paulo Freire, ide-ide Reimer menjadi 'generik' dalam arti 'biasa-biasa' saja.
 Pemikiran-pemikiran kritis Reimer, Illich, dan Freire itulah agaknya yang mempengaruhi Roem Topatimasang ketika sedang kuliah di IKIP Bandung tahun 80-an. Dalam banyak makalahnya yang kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi buku kecil beberapa saat setelah runtuhnya "Sekolah Orde Baru", Topatimasang berusaha mengingatkan hakikat dan peran sekolah yang telah menyimpang jauh dari sejarah awalnya. Namun suara kritis Topatimasang dianggap bagai angin lalu oleh birokrat pendidikan yang sedang berkuasa saat itu, sehingga tidak pernah ada wacana yang mengangkat persoalan dasar pendidikan di tanah air. "Sekolah Orde Baru" yang dimanajemeni oleh seorang Smiling General itu memang sukses memasung segala bentuk kreativitas dan sikap kritis anak-anak bangsa lewat sistem pendidikan yang dipolitisir untuk menopang status quo.
Benarkah sekolah sudah mati? Mungkinkah ada masyarakat tanpa sekolah? Mengapa pendidikan hakikatnya adalah upaya pembebasan? Bagaimana mungkin pendidikan dapat menindas? Sejauh mana sekolah telah menjadi candu? Demikian beberapa pertanyaan mendasar yang selama Orde Baru tidak pernah dijawab secara memuaskan. Tulisan ini tidak bermaksud memberikan jawaban langsung terhadap pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Yang ingin dilakukan adalah menelusuri asal usul sekolah dan secara ringkas, melihat bagaimana dunia persekolahan itu tumbuh dan berkembang di Indonesia, lalu mencoba memetakan persoalan dasar pendidikan yang kita hadapi saat ini, serta apa 'peluang' yang perlu kita tanggapi untuk mereformasi sistem pendidikan ke arah yang lebih baik, yang lebih berkesesuaian dengan setiap upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia-manusia Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia.
Sejarah "Pendidikan" atau "Pengajaran"?
Sekolah atau school dapat dilacak dari kata Latin seperti skhole, scola, scolae, yang dipergunakan sekitar awal abad XII. Arti harafiahnya adalah "waktu luang" atau "waktu senggang". Dengan demikian agaknya bersekolah pada awalnya tak lain adalah leisure devoted to learning (waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar). Dan bila dewasa ini murid-murid yang bersekolah 'dirampok' waktu senggangnya oleh berbagai kursus dan les privat tambahan untuk 'melengkapi' pelajaran sekolah, maka itulah pertanda telah terjadi penyesatan dalam masyarakat mengenai fungsi sekolah. Kapankah persekolahan dalam arti mulai sekolah dasar hingga universitas sebagaimana kita kenal dewasa ini, dimulai? Dan siapakah para 'praktisi' persekolahan itu pada awalnya? Hal ini membawa kita pada pertanyaan mengenai sejarah pendidikan. Deskripsi yang diberikan Everett Reimer berikut ini mungkin dapat sedikit menolong proses pemahaman mengenai sejarah pendidikan: 
Pendidikan timbul dari praktik pemujaan dan pemerintahan. Tanah asalnya ialah halaman kuil dan praktisi-praktisinya yang mula-mula adalah pendeta-pendeta khusus. Mungkin menulis itu sendiri juga diketemukan oleh ahli-ahli tersebut. Jadi para dukun dan pendeta ini berada dalam garis pusat pembentukan, bukan saja pembentukan guru dan sekolah, melainkan juga evolusi manusia. Otak, tangan dan lidah, kelompok desa dan kota, tenung, agama, semuanya adalah tonggak-tonggak pedoman dalam perkembangan fisik, sosial, dan spiritual manusia. Para ulama agama modern telah mewarisi (dari para dukun negara-negara sepupunya) suatu campuran antara ilmu tenung, agama, seni dan ilmu yang mulai mereka uraikan dan spesialisasikan. Telah cukup dikenal bahwa bukan hanya menulis, tetapi juga ilmu pasti, astronomi dan kimia, melukis dan bersajak (puisi) pada mulanya tersusun di halam-halaman kuil orang-orang Mesir Sumer dan kasta-kasta yang berkuasa, yang memadukan fungsi ulama dan raja. Pengajaran seni (art) yang pertama-tama diformalkan ini, yang masih merupakan bagian terbesar dari kurikulum modern, tentulah dulu merupakan jenis pengajaran guru dan sistem magang. Pada zaman dahulu pun tentu ada jenis pengajaran antar orang-orang yang sederajat yaitu kalau seseorang menularkan penemuan atau kemampuannya kepada orang lain. Disini letak satu di antara dua akar utama sekolah modern, letak asal mula pengetahuan yang sistematis. Akar ini tidak muncul lagi, letak bentuk yang menonjol secara institusional. Akar lainnya yang jauh lebih sederhana, muncul pertama kali berupa ruang kelas orang-orang Mesir Sumer yang dibangun untuk menampung sekitar 30 orang anak. Penemuan ini membawa orang kepada spekulasi bahwa ukuran ruang kelas umum di zaman modern mungkin didasarkan atas ruang-ruang kelas dari batu merah dan arsitektur orang-orang Sumer.
Plato dan Aristophanes adalah orang pertama yang meninggalkan catatan tertulis mengenai ruang kelas dan sekolah. Sekolah pertama orang Athena Kuno memang sederhana. Sekolah itu hanya merupakan tambahan dari suatu program pendidikan yang dititikberatkan pada latihan kemiliteran, atletik, musik, dan puisi. Pengajaran membaca, menulis dan berhitung boleh dikatakan hanya sebagai pertimbangan sampingan. Aslinya pendidikan di Athena bersifat tutorial, suatu aspek hubungan perorangan yang seringkali juga bersifat erotik. Ketika Athena menjadi lebih demokratis dan jumlah muridnya mulai lebih banyak dari gurunya, maka secara berangsur-angsur hubungan tutorial digantikan dengan pengajaran kelompok/klasikal.
Uraian Reimer di atas mungkin memberikan pemahaman mengenai masa-masa awal pendidikan di Mesir Kuno, yakni sekitar tahun 3000 hingga 500 sebelum Masehi. Sementara di India, pada pendeta mengajarkan Kitab Veda, ilmu pengetahuan, tata bahasa, dan filsafat di sekitar tahun 1200 sebelum Masehi. Di Cina, pendidikan formal (pengajaran) diperkirakan muncul pada masa Dinasti Zhou berkuasa, yakni antara tahun 770-256 sebelum Masehi. Konfusius, Mensius, Laotzu, termasuk di antara guru-guru pertama di Cina Kuno.
Di Yunani Kuno, tempat asal Filsafat Barat, kaum Shopis mulai mengajar di Athena sekitar tahun 400 sebelum Masehi. Socrates, yang meninggal tahun 399 sebelum Masehi, boleh jadi orang pertama yang mengatakan bahwa, "true knowledge existed within everyone and needed to be brought to consciousness". Dengan dalil ini pendekatan Socrates adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan penggalian (probing questions) untuk memicu pikiran-pikiran murid-muridnya guna memahami makna kehidupan, kebenaran, dan keadilan secara lebih mendalam (inside out method).
Sepeninggal Socrates, Plato mendirikan Academy di tahun 387 sebelum Masehi, dan 52 tahun berikutnya Aristoteles mendirikan sekolahnya sendiri bernama Lyceum, juga di Athena. Lalu di abad yang sama, Isocrates mengembangan metode pendidikan untuk mempersiapkan para orator yang bekerja di kantor-kantor pemerintah. Ia diyakini ikut mempengaruhi secara langsung para ahli pendidikan Romawi seperti Cicero, penulis De Oratore, dan Quintillian, yang membagi pelajaran-pelajaran secara khusus berdasarkan pentahapan di awal tahun Masehi. Pada tahap primary school diajarkan soal membaca dan menulis. Lalu di secondary school para budak Yunani (dipanggil pedagogues) ditugaskan untuk mengajar tata bahasa Latin dan Yunani kepada anak-anak Romawi waktu itu (khususnya laki-laki). Dan akhirnya sedikit anak-anak laki-laki yang kaya masuk ke sekolah untuk belajar menjadi orator dalam rangka persiapan agar mereka kelak menjadi pemimpin-pemimpin di pemerintahan dan administrasi negara (seperti pegawai negeri).
Pada masa awal Masehi, orang-orang Yahudi juga telah memberikan pengajaran di tempat yang disebut Sinagoga. Utamanya yang diajarkan adalah Kitab Taurat Musa. Dan ketika kekristenan telah berkembang, maka Gereja Romawi kemudian juga menggunakan bangunan yang di sebut gereja sebagai tempat pengajaran yang utamanya mengajarkan hal-hal yang berkaitan dengan Kitab Suci serta mempersiapkan pemimpin-pemimpin agama yang mengajar di gereja. Pada masa itu wanita masih sangat sedikit memperoleh kesempatan untuk ikut belajar bersama anak-anak laki-laki sebayanya.
Sekitar abad X-XI, pendidikan Islam dari Arab mulai mempengaruhi sistem pendidikan Barat. Melalui interaksi kaum Muslimin dengan pendidik-pendidik Barat, terutama di Afrika Utara dan Spanyol, dunia Barat mulai belajar dari kaum Muslimin tentang matematika, ilmu alam, ilmu pengobatan, dan filsafat. Sistem angka yang menjadi fondasi dari aritmetika di dunia Barat diyakini sebagian orang sebagai kontribusi terpenting dari pendidikan Islam dari Arab itu. 
Kita tahu bahwa sekitar abad XIII telah dikenal adanya University of Paris, tempat dimana Thomas Aquinas mengajar. Lalu pada masa Renaisance di abad XIV dan XV dikenal tokoh-tokoh penulis seperti Dante Aleghieri, Petrarch, dan Giovanni Boccaccio. Desiderius Erasmus dari Jerman juga memberikan pengaruh besar dalam sistem pendidikan masa itu, terutama dalam perkembangan ilmu arkeologi, astronomi, mitologi, sejarah, dan Kitab Suci (Scripture). 
Penemuan mesin cetak Gutenberg di pertengahan Abad XV membuat buku makin mudah tersedia dan pada gilirannya mengakselerasi proses pembelajaran di dunia. Ditambah lagi dengan arus Reformasi Luther, Calvin, dan Zwingli, yang melahirkan Protestantisme, peran orangtua kembali ditekankan sebagai pendidik utama anak-anaknya, terutama dalam membentuk karakter mereka sebagai "orang-orang beriman". Dan karena Protestanisme tidak menabukan studi Kitab Suci oleh kaum awam, seperti Roma Katholik kala itu, maka peran Protestantisme dalam konteks pendidikan Barat tidak dapat disepelekan. Pada masa ini pula, dimulai dari reformis Jerman bernama Melanchthon, pemerintah dianggap bertanggung jawab untuk mensupervisi sekolah-sekolah dan memberikan lisensi untuk mengajar.
Selanjutnya abad XVII hingga XIX tercatat beberapa nama tokoh yang berpengaruh dalam pendidikan Barat seperti antara lain:
Comenius atau Jan Komensky, John Locke di Inggris, Benyamin Franklin dan Thomas Jefferson di Amerika, Johann Heinrich Pestalozzi di Swiss, Jean Jacques Rousseau di Perancis, dan lainnya. Dalam rentang waktu 200 tahun ini pula muncul perdebatan tentang perlu tidaknya pendidikan agama di sekolah-sekolah umum, khususnya di Eropa (Kristen) pada pertengahan abad XIX. Pemerintahan tertentu, seperti Belanda waktu itu, bahkan menetapkan sekolah yang bercirikan agama tidak akan mendapatkan subsidi dari pemerintah.
Yang juga menarik untuk disebutkan secara khusus adalah peran Fiedrich Froebel yang pertama kali membuka kindergarten di Blankenburg, Jerman, dengan kurikulum berisi pelajaran menyanyi, cerita, permainan, hadiah, dan occupations, di tahun 1837. Konsep kinderganten Froebel ini kemudian dibawa ke Amerika oleh Margarethe Meyer Schurz dengan membuka taman kanak-kanak berbahasa Jerman di Watertown, Wisconsin, tahun 1855. Tahun 1860 Elizabeth Peabody melanjutkan hal ini dengan membuka sekolah sejenis berbahasa Inggris dan juga mengajar serta melatih para pengajar taman-kanak-kanak di Boston. William Torrey Harris memberikan kontribusi ketika memasukkan taman kanak-kanak sebagai bagian dari sekolah umum di Amerika.
Pada awal abad XX, Ellen Key, seorang feminis, penulis, dan ahli pendidikan Swedia, ikut mempengaruhi sejarah pendidikan dunia. Bukunya The Century of the Child (1909) menawarkan pendekatan pendidikan yang menekankan kebutuhan dan potensi anak ketimbang kebutuhan masyarakat atau prinsip-prinsip agama. Ia antara lain diikuti oleh ahli pendidikan Jerman Herman Liets dan Georg Michael Kerschensteiner, ahli pendidikan dan filosof Inggis Bertrand Russel, dan Maria Montessori dari Italia. Konsep pendidikan anak yang dikembangkan Montessori kemudian mempengaruhi Amerika dan kembali menarik perhatian ahli pendidikan di sana pada tahun 1950-an. John Dewey di Amerika dan Jean Piaget di Swiss juga memberikan pengaruh terhadap sistem pendidikan Barat. Dan setelah itu Paulo Freire, Ivan Illich, dan Everett Reimer, mulai mengkritisi sistem pendidikan yang berkembang di banyak negara waktu itu.
Dari sejarah pendidikan yang utamanya dirangkum dari Encarta Encyclopedia itu, apa yang sekarang kita kenal sebagai sekolah dan universitas boleh jadi berakar dari Academy-nya Plato dan Lyceum-nya Aristoteles. Namun, dalam artinya yang lebih luas pendidikan mungkin telah dimulai sejak manusia ada di muka bumi. Dalam bentuknya yang informal dan nonformal (pelatihan), pendidikan diberikan oleh orangtua dan masyarakat setempat kepada kaum mudanya dalam bentuk berbagi (sharing) informasi tentang cara mendapatkan makanan, membuat tempat berteduh, membuat senjata dan perlengkapan hidup lainnya, belajar bahasa, dan nilai-nilai serta perilaku yang mengekspresikan ritus-ritus dalam budaya mereka masing-masing. Apa yang kemudian disebut sebagai "sejarah pendidikan" tadi lebih menunjukkan pada sejarah "pengajaran" atau sejarah "persekolahan" yang tidak mungkin dipisahkan dari sejarah ilmu pengetahuan modern. Dan kalau itu yang maksud, maka rujukan kepada filosof-filosof Athena sebagai pelopornya dapatlah diterima.
Demikianlah sejarah pendidikan formal atau pengajaran dan persekolahan memperlihatkan bahwa para praktisi pendidikan pada awalnya adalah kaum pendeta, dukun-dukun, ulama, dan mereka yang memiliki posisi kepemimpinan atau manajerial dalam organisasi keagamaan dan pemerintahan. Praktisi pendidikan itu awalnya merupakan ahli-ahli ilmu agama (teolog), ahli-ahli ilmu pengetahuan modern (filosof, cendikiawan) dan negarawan serta pejabat administrasi pemerintahan (ambtenaar, pegawai negeri). Meski budak-budak Yunani pada masa penjajahan Romawi Kuno juga dilibatkan, namun secara bertahap peran mereka digantikan oleh orang-orang yang lebih "terpelajar" dan "berkuasa".