Friday, May 3, 2013

Bertemu Matahari

print this page Print
Oleh: Gede Prama

Tatkala matahari pertama tahun 2002 menyongsong di upuk timur, banyak manusia yang merasa kalau tahun-tahun berlalu demikian cepat. Baru saja kaki menginjak di angka tahun 2001, belum sempat mengerjakan kegiatan-kegiatan yang teramat penting, eh sang waktu sudah membawa kita ke tahun 2002. Ada sahabat yang mau protes, dan bingung entah ke siapa protes ini ditujukan. Yang jelas, ada sebuah lelucon yang bertutur tentang seorang pengkotbah yang bepidato di depan ribuan umatnya. Dengan suara lantang dan meyakinkan ia menggugah pengagumnya : ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah minum bir karena bir minuman setan. Lagian kalau Anda minum bir, nanti setan minum apa ?’.
Entah positif entah negatif, demikianlah banyak orang mengisi waktu yang berjalan demikian cepat. Melalui canda dan tawa, kita manusia memang bisa dibuat lebih sehat. Dan lebih dari sekadar dibuat sehat, tawa dan canda juga menghadirkan serangkaian renungan dalam menelusuri sang waktu. Bahkan kadang menghadirkan kedalaman renungan yang lebih dalam dari sejumlah karya sastra. Menyangkut canda yang berisi ajakan untuk tidak minum bir, sekilas memang tidak menghadirkan apa-apa selain mengundang tawa. Namun dalam wajah Indonesia di awal 2002 yang demikian babak belur di hampir setiap sisinya, layak direnungkan untuk menapak ke masa depan dengan kewaspadaan untuk tidak lagi mabuk.
Bir yang berlebihan memang bisa membuat orang mabuk, demikian juga dengan kekuasaan. Mirip dengan bir, dalam jumlah yang tepat dan pas, kekuasaan adalah sahabatnya manusia. Namun, begitu diminum dalam jumlah yang amat berlebihan, maka siapapun akan sempoyongan. Dalam bahasa dan intensitas yang tidak banyak berbeda, dinamika reformasi setelah tumbangnya presiden Suharto, ditandai oleh banyak sekali pihak yang meminum ‘bir’ kekuasaan dalam jumlah yang melebihi batas.
Ada demonstrasi yang sudah melebihi batas, ada DPR yang demikian berkuasanya, ada pengadilan jalanan yang bisa menghakimi siapa saja, ada bom, teror dan peluru yang dimuntahkan di mana-mana, ada korupsi yang jumlah angkanya tidak terbayangkan, ada kebebasan pers yang keluar jauh dari batas-batas etika. Sehingga dalam totalitas, jadilah Indonesia dengan banyak wajah rekor tertinggi. Dan kalau dikaitkan dengan lelucon tentang minum bir tadi, apa lagi yang ada di balik semua ini kalau bukan karena kumpulan manusia yang tidak minum bir kekuasaan terlalu lama, kemudian begitu kita menemukannya di mana-mana, dengan kemaruknya memasukkan semua bir ke dalam mulut.
Sebagai hasilnya, tidak saja ular krisis semakin melilit seluruh bagian tubuh bangsa ini, tetapi juga semakin banyaknya orang maupun institusi yang berjalan sempoyongan kehilangan arah. Dan yang membuat kita tambah ngeri, kalau yang sempoyongan tadi adalah orang yang menentukan wajah dan arah bangsa ini dalam jangka panjang.
Menoleh pada sejumlah tradisi timur yang sejuk dan teduh, penderitaan manusia manapun adalah ciptaan kita sendiri. Cobalah kosongkan kota Jakarta yang demikian bermasalah ini dengan manusia hanya dalam beberapa hari, pasti masalah yang tadinya menggunung, mendadak sontak jadi hilang. Dengan kesadaran bahwa masalah adalah ciptaan kita sendiri, mungkin layak untuk direnungkan dalam-dalam lelucon tentang minum bir di atas. Di mana kesediaan untuk senantiasa menjaga titik optimal sampai sejumlah mana bir kekuasaan boleh kita minum, sangat dan amatlah penting.
Sebagaimana bir, kekuasaan memang enak, menarik dan menggairahkan. Akan tetapi, ada sesuatu yang lebih tinggi dari sekadar hidup enak dan menggairahkan. Ia bernama kedamaian di dalam diri (inner peacefulness). Ya, kedamaian di dalam diri.
Ada orang yang menyebutkan bahwa menemukan kedamaian seperti itu di Indonesia amatlah sulit. Dan agak berbeda dengan sahabat yang berpandangan demikian, bagi saya kita bisa membuat Indonesia berwajah inner peacefully dengan upaya yang tidak terlalu sulit. Meminjam sejumlah argumen dalam tradisi timur, ‘melihatlah dan mataharipun tersenyum’. Sayangnya, di tengah kisruhnya wacana, ‘melihat’ bukanlah perkara yang terlalu mudah. Sebab, yang banyak terjadi adalah melihat dengan kerangka-keranga yang sudah baku. Ada kerangka bahwa orde baru pasti jelek, ada kerangka orde sekarang tidak bisa apa-apa, ada kerangka korupsi sudah demikian membudaya, ada kerangka pers yang kisruh.
Dalam kerangka-kerangka demikian, praktis kita tidak lagi bisa melihat. Yang kita lihat sebenarnya adalah kerangka kita sendiri. Bila benar demikian, siapapun yang memerintah, siapa saja yang berusaha untuk memperbaiki negeri akan senantiasa duduk di kursi ‘terdakwa’. Memiliki seorang putera yang suka menonton film kartun membuat saya suka berimajinasi, dan saya mengimajinasikan matahari bisa berbisik kepada Indonesia : ‘melihatlah !’.
Matahari adalah perwujudan kemampuan melihat yang amat mengagumkan. Ia hanya melihat, melihat dan melihat titik. Tidak perduli tahi sapi sampai wanita cantik nan menawan ia lihat dengan penglihatan yang segar. Entah tahi sapi tadi datang dari sapi yang terkena anthrax, entah wanita cantik tadi anak seorang germo, matahari hanya bisa melihat. Tidak lebih dan tidak kurang.
Dalam perspektif demikian, kadang diri ini suka berimajinasi bertemu matahari untuk diajarkan bagaimana bisa melihat dengan segar. Dan dalam kesegaran, ada banyak bir kekuasaan yang tidak perlu membuat kita jadi mabuk.