Saturday, May 4, 2013

KELAS BUKAN "KUBURAN"

print this page 
Oleh: Khoiruddin Bashori

Guru, sadar atau tidak, sering kali beranggapan kelas yang baik itu tenang dan serius. Dengan asumsi seperti guru akan merasa telah berhasil menjalankan tugasnya dengan baik jika sanggup membuat kelas menjadi tenang dan siswa serius belajar. Sebaliknya, mereka akan sedih dan merasa tertekan jika kelas gaduh dan siswa tampak kurang serius. Dalam suasana kelas seperti ini, guru terkadang lupa menghitung berapa banyak anak yang terkantuk-kantuk dan 'terpaksa' tertidur pulas dalam kelas. Apa yang dapat dipelajari siswa dalam mimpi?
Konon, salah satu tanda kehidupan adalah pergerakan. Kelas akan hidup jika siswa banyak melakukan pergerakan. Kelas berubah menjadi kuburan jika siswa tidak lagi hidup, tidak belajar melakukan sesuatu dengan menyenangkan. Sekolah kemudian terasa seperti penjara yang menyesakkan. Dalam iklim pembelajaran seperti ini, energi psikis siswa lebih banyak tersedot untuk membuat mata tetap terjaga, atau melawan kebosanan, daripada untuk mempelajari materi pelajaran. Sementara suasana kelas yang menyenangkan (fun) akan memberikan daya dorong bagi kegairahan siswa untuk mengembangkan diri secara lebih optimal.

Pendidikan Lawan Hiburan

Dalam praktik, tidak sedikit guru yang memahami pendidikan sebagai lawan dari hiburan. Pendidikan selalu diasosiasikan dengan hal-hal yang serius, sementara hiburan identik dengan sikap santai dan main-main. Keduanya seolah-olah merupakan dua hal terpisah, bahkan bertolak belakang. Dalam teori pembelajaran modern, keduanya ternyata dapat dikawinkan. Hasil perkawinan antara pendidikan dan hiburan ini ternyata menghasilkan keluaran yang jauh lebih dahsyat. Survai membuktikan, pembelajaran akan lebih memuaskan hasilnya jika dilakukan dengan menyenangkan.
Pembelajaran yang menyenangkan disebut Edutainment, perpaduan antara education (pendidikan) dan entertainment (hiburan). Sebuah proses pembelajaran yang didesain sedemikian rupa sehingga muatan pendidikan dan hiburan dapat dikombinasikan dengan harmonis. Pembelajaran, oleh karenanya, terasa lebih menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan dapat dilakukan dengan humor, permainan (game), bermain peran (role play), kuis, berselancar di internet mencari informasi baru tentang topik yang sedang dipelajari (webquest), dan sebagainya. Sebuah proses pembelajaran interaktif yang lebih memberi ruang kepada siswa untuk mengalami, mencoba, merasakan, dan menemukan sendiri.
Dave Meier (2000) dalam bukunya The Accelerated Learning Handbook menyatakan, sudah saatnya pembelajaran pola lama diganti dengan pendekatan SAVI, agar pembelajaran berlangsung lebih efektif. Guru, dalam mengelola kelas, sebaiknya menggunakan pendekatan Somatic, Auditory, Visual, dan intellectual (SAVI). Somatic didefinisikan sebagai learning by moving and doing (belajar dengan bergerak dan berbuat). Auditory adalah learning by talking and hearing (belajar dengan berbicara dan mendengarkan). Visual diartikan learning by observing and picturing (belajar dengan mengamati dan menggambarkan). Intellectual maksudnya adalah learning by problem solving and reflecting (belajar dengan pemecahan masalah dan melakukan refleksi).
Keempat pendekatan belajar tersebut diintegrasikan sedemikian rupa sehingga siswa dan guru dapat secara bersama-sama 'menghidupkan' suasana kelas. Kelas, dengan pendekatan ini, tidak lagi seperti kuburan yang menakutkan, akan tetapi merupakan 'arena bermain' yang menyenangkan bagi anak. Pelajaran dikemas dalam suasana bermain dan bereksperimen. Suasana kelas yang 'menggairahkan' ini sangat bermanfaat tidak saja bagi peningkatan prestasi belajar siswa akan tetapi juga menurunkan stress, meningkatkan ketrampilan interpersonal, dan kreativitas siswa. Dengan kata lain, humor, canda-tawa, dan kegiatan kelas yang dinamis merupakan bumbu penyedap yang akan menambah selera anak untuk giat belajar.
Lebih lanjut Meier menyarankan pengembangan program pembelajaran hendaknya didasarkan atas prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Learning involves the whole mind and body. Pembelajaran melibatkan keseluruhan jiwa dan raga. Pembelajaran tidak boleh hanya sekadar menyentuh 'kepala' (kesadaran, berpikir rasional, 'otak kiri', dan verbal) akan tetapi melibatkan keseluruhan body/mind dengan emosi, rasa, dan intuisinya.
2. Learning is creation, not consumption. Pembelajaran adalah kreasi, bukan konsumsi. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang dikonsumsi, namun sesuatu yang diciptakan siswa. Pembelajaran terjadi ketika siswa mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan baru ke dalam struktur diri (Self) yang telah ada. Dengan kata lain belajar adalah proses penciptaan makna baru, hubungan baru, dan pola baru.
3. Collaboration aids learning. Kerjasama membantu pembelajaran. Seluruh pembelajaran yang baik memiliki basis sosial. Kita sering kali belajar lebih baik ketika berinteraksi dengan teman. Kolaborasi antar siswa mempercepat pembelajaran. Masyarakat pembelajar selalu lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar daripada sekadar kumpulan individu-individu yang terisolasi.
4. Learning takes place on may levels simultaniously. Pembelajaran berlangsung simultan pada berbagai tingkatan Pembelajaran bukanlah persoalan menyerap satu hal kecil pada suatu ketika secara linear, akan tetapi menyerap berbagai hal sekaligus. Oleh karena itu pembelajaran yang baik mendorong siswa untuk menyerap berbagai hal itu secara simultan (kesadaran dan parakesadaran, mental dan fisik). Otak akan lebih terangsang untuk bekerja optimal jika menerima stimulus tidak hanya satu level.
5. Learning comes from doing the work itself (with feedback). Pembelajaran muncul dari pelaksanaan kegiatan itu sendiri (dengan umpan balik). Orang belajar dengan baik justru dalam konteks. Sesuatu yang dipelajari dalam isolasi sulit diingat dan mudah hilang. Kita belajar bagaimana cara berenang dengan berenang, belajar menyanyi dengan bernyanyi, belajar menjual langsung dengan praktik menjadi penjual. Hal-hal yang nyata dan konkrit merupakan guru yang lebih baik dari pembelajaran hipotesis dan abstrak. Sudah barang tentu ditambah dengan umpan balik dan refleksi.
6. Positive emotion greatly improve learning. Emosi-emosi positif sangat membantu peningkatan pembelajaran. Perasaan, suasana hati, menentukan baik kuantitas maupun kualitas pembelajaran siswa. Perasaan-perasaan negatif menghambat pembelajaran, sementara perasaan-perasaan positif memberikan akselerasi. Pembelajaran yang penuh tekanan dan rasa sakit tidak akan melahirkan suasana yang menyenangkan, santai, dan menggairahkan.
7. The image brain absorbs information instanly and automatically. Otak menyerap informasi berupa citra/gambar secara instan dan otomatis. Sistem susunan syaraf manusia lebih merupakan pemroses citra/gambar daripada pemroses kata. Citra/gambar yang konkrit lebih mudah ditangkap dan diingat daripada abstraksi-abstraksi verbal. Menerjemahkan abstraksi-abstraksi verbal materi pembelajaran ke dalam citra/gambar yang konkrit akan membuat abstraksi-abstraksi verbal itu lebih cepat dipelajari dan lebih mudah diingat.

Pendidikan Masa Depan

Pembelajaran sebagaimana diuraikan sebelumnya adalah pendekatan baru yang lebih cocok dengan dinamika masa depan. Setelah mencermati kecenderungan masa depan yang semakin rumit dan kompleks, Dryden dan Vos (2001) dalam bukunya The Learning Revolution (Revolusi Cara Belajar) sampai pada kesimpulan, 'pendidikan adalah kunci utama untuk membuka masa depan alternatif'. Sudah barang tentu bukan sembarang pendidikan, akan tetapi pendidikan yang mampu 'menyiapkan siswa untuk menghadapi dunia nyata'. Di sekolah siswa perlu disadarkan tentang harapan yang mereka pikul, tantangan yang mereka hadapi, dan kemampuan yang perlu mereka kuasai. Sekolah yang baik, di mata Dryden dan Vos, adalah sebuah sekolah tanpa kegagalan. Semua murid teridentifikasi bakat, keterampilan, dan kecerdasannya sehingga memungkinkan mereka menjadi apa saja yang mereka inginkan.
Di masa depan, proses belajar akan semakin mandiri: diarahkan sendiri dan dipenuhi sendiri. Ini berarti siswa perlu diberi cukup ruang untuk mengeksplorasi, bereksperimen dan mengajari dirinya sendiri. Model pendidikan tradisional yang 'serius' dan over regulasi perlu diganti dengan belajar 'mandiri', berdasarkan prinsip-prinsip ilmu kognitif modern--termasuk penemuan, pemaknaan, keterlibatan penuh, dan pengujian. Dengan model ini kecintaan belajar secara alami akan tumbuh dalam diri setiap orang. Semangat otodidak dapat berkembang subur.
Setiap individu memiliki gaya belajar dan gaya bekerja yang unik, maka sekolah semestinya dapat melayani setiap gaya belajar individu. "Sebagian orang lebih mudah belajar secara visual: melihat gambar dan diagram. Sebagian yang lain secara auditorial: suka mendengarkan. Sebagian lain mungkin adalah pelajar haptic: menggunakan indera perasa (pelajar tactile) atau menggerakkan tubuh (pelajar kinestik). Beberapa orang berorientasi pada teks tercetak: membaca buku. Yang lainnya adalah 'kelompok interaktif': berinteraksi dengan orang lain" (Dryden & Vos, 2001). Semangat ini pula barangkali yang mendorong ungkapan Presiden Bush ketika menyampaikan proposal pendidikannya di hadapan kongres, 'Education is not to serve the system. It is to serve the children'. Pendidikan bukan untuk melayani sistem, akan tetapi untuk melayani anak-anak.
*******************************************************