Saturday, May 4, 2013

PITOYO AMRIH: Tuhan selalu berbicara (4)

print this page 
Air bagi saya adalah salah satu bentuk dari sekian tak terhingga 'bicara'-Nya Tuhan. Bagi anda yang sehari-hari hanya 'sambil-lalu' menjadi saksi atas air, saya ajak anda untuk melihat lebih dekat, mendengar lebih tajam firman Tuhan yang satu ini.
Betapa luar biasa sebuah zat yang ketika di-'isi'-kan ke sembarang bentuk dia akan mengikuti bentuk-bentuk tempat dia mengisi. Bisa dibayangkan kalau tubuh kita yang sebagian besar terkandung air yang tidak memiliki sifat demikian, tubuh kita tentu menjadi tak karuan bentuknya. Atau ambil contoh ketika anda memasak air.
Sebuah firman-Nya kalau air pada temperatur yang lebih tinggi akan memiliki berat jenis lebih kecil sehingga relatif lebih ringan dibanding air pada temperatur yang lebih rendah, sehingga ketika memasak air berapapun banyaknya pada wadah apapun bentuknya, air akan mendidih secara merata dengan tidak perlu anda mengaduk-aduknya, karena ketika api memanasi bawah permukaan wadah, bagian bawah air menjadi lebih panas, lebih ringan, naik digantikan yang lebih dingin turun kemudian yang bawah memanas naik demikian seterusnya seolah-olah teraduk aduk dengan sendirinya.
Atau mungkin pernahkah anda menyadari 'kehadiran' uap-air di udara dimana pada kandungan uap-air tertentu kita akan merasa nyaman, kandungan yang sangat rendah kita akan meresa kering sampai ke-tenggorokan, dan kandungan yang terlalu tinggi kita akan merasa kegerahan.
Saya sebenarnya sudah akan berniat menyudahi sequel sharing saya tentang Tuhan yang selalu berbicara pada tulisan saya yang lalu, hanya saja menyaksikan banjir besar melanda ibukota kita beberapa waktu lalu yang melibatkan aktor utama air, kembali membuat saya duduk bersimpuh dihadapan-Nya tertunduk mendengarkan 'bicara'-Nya yang satu ini tentang air.
Kalau saya boleh berbagi pengetahuan saya tentang air, berawal dari laut dimana sebagian paling besar prosentase air di bumi ini berada. Dari laut karena sifatnya dengan luas permukaan yang begitu besar air menguap terkena panas matahari. Uap air akan mengumpul membentuk awan yang semakin lama semakin besar sehingga udara tidak mampu lagi menampung air dalam wujudnya sebagai uap yang kemudian menjadi cair dan berubah menjadi hujan turun kembali ke bumi, di bumi ketika daerah resapan air begitu luas air seharusnya meresap ke dalam tanah, sebagian mengisi 'sungai' sumur dalam jauh di dalam tanah, sebagian mengisi air permukaan untuk konsumsi akar tumbuhan, sumur-sumur dangkal manusia.
Dan sebagian lagi kembali menyembul di permukaan tanah membentuk mata air, mengaliri sungai-sungai membentuk ekosistim mata-rantai kehidupan yang luar-biasa sempurna -masuk ke tubuh manusia, hewan, menjadi tempat hidup ikan, dsb- , untuk kemudian mengalir kembali ke laut. Kontribusi peran air dari waktu ke waktu bisa jadi besarnya berbeda-beda, tetapi jumlah keseluruhan adalah selalu tetap. Sehingga saya bisa berkata bahwa misalnya air yang kita minum dari botol air mineral, esensinya adalah sama 'air'-nya dengan misalnya dengan -maaf- air di got-got rumah, perbedaannya hanya masalah kapan dan di mana.
Semoga anda merasakan apa yang saya rasakan bahwa kurang lebih pada alenia di atas tergambar betapa luar biasanya firman Tuhan. Dia selalu berbicara, dan untuk hal air karena manusia sudah bisa 'bercerita' tentangnya, paling tidak sebagian manusia sudah bisa mendengar 'bicara' Tuhan yang satu ini. Lalu kenapa kok banjir?
Mungkin alam marah karena ulah kita yang tidak memikirkan lingkungan dalam berbudaya? Menurut saya tidak juga. Air yang merupakan bagian dari alam 'hanya' berbuat seperti yang di-firman-kanNya. Ketika dia menjadi hujan turun ke bumi dan menemui daerah resapan air sudah berkurang sangat banyak, dia 'hanya' melaksanakan firmanNya untuk mengalir mencari titik terendah, di situlah dia akan tinggal sambil menunggu dia menguap dan mencari celah-celah resapan yang sangat kecil membuat dia sangat-sangat pelan meresap.
Mungkinkah Tuhan marah karena kita tidak kunjung belajar atas 'bicara'-Nya? Menurut saya tidak juga. Bagi saya Tuhan seperti biasanya selalu berbicara, hanya saja kali ini ketika biasanya kita tuli, pura-pura tuli atau sengaja me-nuli, kejadian ini terasa bahwa 'bicara' Tuhan terdengar lebih keras dari biasanya.
Akankah kita mendengar 'bicara'-Nya. Sehingga dalam membangun selalu memilih untuk manuruti firman-Nya tidak melulu menuruti hawa nafsu mengatas namakan 'good-looking' semata. Dalam menata kota selalu untuk tidak memilih hanya berpatokan pada harga-diri saja.
Saya sedih ketika mendengar berita ditengah tragedi bencana ini, masih saja ada orang mencelakai orang lain dengan mencuri uang yang seharusnya menjadi hak korban bencana. Masih saja ada orang yang berusaha membentuk opini masyarakat dengan mempolarisasi kesalahan-kesalahan ditimpakan ke orang per orang untuk kepentingan sendiri atau kelompoknya. Masih saja ada orang yang memanfaatkannya menjadi momen agenda perjuangan politik kelompoknya…
Masya Allah! Kurang 'terdengar'kah bicara Tuhan kali ini….