Saturday, May 4, 2013

Awas, Halaman Ini Beracun

print this page 
Oleh : Gede Prama

Entah siapa yang memulai, sejarah manusia sukses hampir selalu diidentikkan dengan ketekunan menggunakan akal sehat. Demikian kuatnya keyakinan terakhir, sampai-sampai orang yang keluar dari kaidah akal sehat ini, kerap malah disebut miring dan gila. Tidak sedikit orang yang malah nyawanya hilang, ketika berhadapan dengan akal sehat kekuasaan yang congkak dan tidak tahu diri.
Asal Anda tahu, kecongkakan akal sehat terakhir, tidak hanya monopoli mereka yang duduk di kursi kekuasaan. Ia juga menghinggapi sejumlah ilmuwan dan pemikir manajemen.
Lihat saja model berfikir kaum rasionalis (yang mengandalkan kelogisan berfikir) serta kaum empiris (dengan modal data-data masa lalu). Keduanya telah lama meng-claim diri sebaga 'dewa'-nya kegiatan berfikir. Di luar dua dunia berfikir ini, demikian ekstrimis di bidang ini meyakini, yang ada hanyalah mahluk-mahluk haram yang tidak layak untuk dilirik.
Nah, sekarang coba cermati apa yang terjadi dengan nilai tukar sejumlah mata uang Asia (terutama rupiah) terhadap dolar AS. Bila dibentang data sepanjang tiga puluh tahun sekalipun, tidak ada sinyal sebesar telur nyamukpun, kalau nilai rupiah bisa akan demikian mengerikan. Tidak sedikit ekonom, yang memiliki segudang rasionalitas di balik kejadian ini, hanya bisa berkilah bahwa semua itu disebabkan faktor non ekonomi.
Atau coba lihat lagi kesimpulan lembaga-lembaga sekaliber bank dunia dan IMF tentang 'keajaiban ekonomi Asia'. Sudah menjadi rahasia umum, kalau kedua lembaga ini telah lama menjadi gudang tempat penyimpanan pakar bergelar doktor, yang sudah tentu tidak diragukan akal sehatnya dari segi ilmu pengetahuan ala sekolah.
Kalau mau buktinya ditambah, lihat saja perekonomian Jepang yang dulu pernah memproklamasikan manajemen Jepang dengan segala keunikan budayanya. Atau etos kerja orang Korea Selatan yang dulunya disebut menjadi penyebab melajunya perekonomian mereka. Atau kiat greng sejumlah usahawan Indonesia yang menggantungkan nasib pada kedekatan dengan keluarga Cendana.
Jauh sebelum krisis ini terjadi, saya telah membunyikan lonceng peringatan akan bahayanya model akal sehat yang naif ini (sebagai salah satu bukti lihat artikel saya di Warta Ekonomi edisi 30 Desember 1996 tentang unschooled manager). Namun, sebagaimana kejadian lainnya, orang baru percaya jika langit sudah mau runtuh.
Sekarang, setelah gempa bumi poleksosbudhankam terjadi, tiba-tiba kita dihentakkan oleh kenyataan, bahwa masa depan tidak semuanya merupakan kepanjangan tangan dari rasionalitas hari ini dan kejadian empiris kemaren. Tidak sedikit masa depan - sebut saja krisis yang menghimpit kita sekarang ini sebagai contoh - yang tiba-tiba melompat tanpa bisa diketahui dari mana asal muasal empirisnya.
Kalau boleh saya mencuri kejernihan dari sini, akal sehat yang manapun sebenarnya hasil dari kegiatan mirorring (pengkacaan). Sebagaimana kegiatan bercermin, wajah kita di cermin akan mendekati kenyataan bila cerminnya bening dan jernih.
Sayangnya, mind kita bukanlah cermin yang bening dan jernih. Bahkan, ia lebih menyerupai cermin pecah yang dibuat berantakan oleh kebiasaan berfikir menoleh ke belakang (empiris) dan kelogisan akal sehat yang naif.
Dikatakan demikian, karena dalam setting berfikir rasional dan empiris ini, semua realita yang hadir di depan mata diseleksi dan dicocokan dengan pola yang pernah terjadi. Bila cocok, terlihatlah ia sebagai realita. Jika tidak, maka lenyaplah ia dari perhatian kita.
Ini yang bertanggungjawab terhadap kenyataan hidup yang penuh kejutan. Tiba-tiba sudah menjadi bangsa termiskin di dunia. Terkejut karena baru sadar bahwa KKN-nya tidak ada yang mengalahkan. Tadinya menjadi pengusaha kaya bertahun-tahun, sekarang malah menjadi manusia yang lebih miskin dari oang miskin.
Keterkejutan terakhir terjadi, karena pola dan kerangka yang digunakan untuk menyaring dan menseleksi kecenderungan, kebanyakan tidak lagi cocok. Sebagai konsekwensinya, jadilah kita sekumpulan manusia yang bermata tetapi tidak melihat.
Dalam bahasa rekan saya Djisman Simanjuntak dari Prasetiya Mulya, kita terlalu banyak memperhatikan faktor rata-rata dalam statistik. Untuk kemudian, menganggap bahwa hari esok bergerak searah dengan kecenderungan kemaren dan hari sebelumnya. Unsur penyimpangan alias deviasi - justru ini yang sering membuat orang terkejut - sering dilihat sebelah mata. Khususnya, bila standar deviasinya tidak terlalu besar.
Belajar dari semua ini, mungkin sudah saatnya untuk mewaspadai kepala, mata, telinga dan unsur-unsur mind lainnya. Secara lebih khusus, karena semua ini adalah cermin pemantul yang pecah dan berantakan. Untuk kemudian, belajar melihat tanpa menseleksi dan mengkerangkakan. 'Kalau mau melihat, ya lihat saja titik !', demikian seorang guru pernah menasehati saya.
Namun, sebelum Anda menuduh saya berbohong, artikel ini juga sebuah kerangka, yang bisa membuat mind Anda tidak bening. Akan sangat saya hargai, bila Anda bisa menempatkan tulisan ini, hanya sebagai sebuah tulisan saja. Tanpa makian maupun pujian. Lebih hormat lagi, bila Anda bisa melupakannya sesegera mungkin. Bukankah penglihatan yang segar hanya bisa kita miliki bila telah bebas dari belenggu kerangka yang manapun ? Namun, bila Anda menghapus kerangka lain, untuk kemudian mengadopsi kerangka artikel ini, sebenarnya Anda baru saja selesai meminum racun berfikir. Maafkan saya untuk itu !.
Source : www.gedepramaideas.com