Saturday, May 4, 2013

MENIMBANG SEJARAH TUHAN

print this page 
By : Fotarisman Zaluchu

Apa yang akan anda lakukan kalau suatu ketika anda berhadapan dengan kenyataan bahwa agama yang anda percayai selama bertahun-tahun, ternyata hanyalah sebuah produk seni dari jamannya? Atau, bagaimana reaksi anda kalau sekiranya yang anda sebut sebagai Tuhan itu, hanyalah "Tuhan" yang merupakan figur kabur yang berasal dari imajinasi kreatif manusia biasa? Dan bagaimana pula kalau akhirnya dalam keteguhan iman percaya anda selama ini, anda pada akhirnya menemukan bahwa aturan-aturan keagamaan yang anda lakukan, justru membawa anda dalam kekeringan rohani, kekaburan makna dan tujuan hidup, serta ketakutan-ketakutan pada Tuhan?
Setidaknya bagi Karen Armstrong, Tuhan hanyalah sebatas persepsi-yang kebetulan telah bertahan 4000 tahun lamanya, dan agama hanyalah sebuah realitas yang justru lebih banyak gagalnya dalam mendeskripsikan keberadaan Tuhan itu sendiri. Bagaimana tidak, Armostrong belajar dari pengalamannya sendiri. Sejak kecil, ia sudah "beragama", tetapi imannya justru tidak memadai untuk menjawab keragu-raguannya. Tuhan terasa jauh, katanya. Maka pada usia 17 tahun, ia "mencoba mencari" Tuhan dengan memasuki lingkungan biara. Nyatanya, waktu 7 tahun menjadi sia-sia. Apa yang disebut sebagai tata ibadah keagamaan yang ketat, justru semakin membawanya kepada kekosongan makna akan Tuhan. Rutinitas doa, puasa, pengekangan diri, hanyalah membawanya pada sosok Tuhan yang kering, kabur dan arogan. Maka, dari pengalaman yang penuh dengan sensasi batiniah itulah, Armstrong menulis buku Sejarah Tuhan (Mizan, 2001). Buku itu, tulisnya, adalah bahasan yang komparatif mengenai sejarah persepsi umat manusia tentang Tuhan sejak era Ibrahim, hingga hari ini.
Apakah Armstrong salah, bahkan kalau ia menyebut diri sebagai penganut freelance monotheist? Tergantung dari sudut mana kita memandang. Tetapi yang pasti, tesisnya Armstrong bagai suara nabiah yang berbicara dengan keras pada umat manusia; secara khusus di Indonesia yang terkenal taat beragama dan kini hidup dalam konflik agama yang berkepanjangan dan berdarah-darah!
Konflik atas nama Tuhan adalah suatu kenestapaan ketika akhirnya "Tuhan" yang dibela mati-matian itu tidak lebih dari produk ide. Maka apa jadinya manusia di Maluku, di Sulawesi, di mana-mana di tanah air ini, ketika mereka saling beradu nyawa atas nama dan demi agamanya, padahal "agama" yang dibela itu suatu saat akan berlalu, digantikan oleh ide lain? Apa jadinya istilah "jihad" atau "dalam nama Tuhan", ketika pada akhirnya "Tuhan" itu sendiri hanyalah sebuah citra yang dibentuk oleh generasi demi generasi, sesuai dengan kebutuhannya?
Armstrong juga tidak salah ketika ia secara retorik menanyakan, adakah masa depan bagi Tuhan? Bagi Armstrong, sekarang ini, terdapat suatu "ruang kosong" di hati manusia untuk mencari Tuhan yang pernah ada. Dan di tengah-tengah konflik peradaban yang terwujud dalam dua sisi-sisi pertama: kemiskinan, kelaparan, kematian, duka lara, dan aneka kematian nurani, dan sisi kedua: materialisme, kapitalisme, egoisme dan aneka dehumanisasi-manusia mengisinya dengan persepsi mereka tentang Tuhan.
Maka wajar saja, sekarang ini kita melihat kenyataan pahit bahwa manusia mencari Tuhan seolah tergantung pada musimnya. Ketika ada hari besar keagamaan, biasanya "Tuhan" begitu populer. Ia, dicari, diburu, diucapkan, dibeli, bahkan dikirimkan dalam kartu dan parcel. Rumah-rumah ibadah penuh dengan mereka-mereka yang "haus" akan suara Tuhan. Dan para penyiar serta penyair begitu laris manis. Semua seperti berbicara mengenai suatu simfoni mengenai Tuhan. Tuhan itu Besar. Tuhan itu Baik. Tuhan itu Kasih. Tuhan itu Segalanya.
Lalu, ketika musim "kerohanian" berlalu, manusia tenggelam dalam "Tuhan" yang lain, yang memang tidak mungkin tidak kita sebut sebagai "Tuhan". Toh Tuhan adalah fokus hidup, tulis Armstrong.
Persoalan mengenai "Tuhan" ini pun dapat meluas. Ia, dapat menyangkut problema moralitas kita sebagai bangsa. Sebagai bangsa yang secara legal formal meyakini akan adanya Tuhan yang Esa, kita berada dalam kebimbangan mengenai pengaruhnya dalam kehidupan bernegara.
Kalau benar kita memang ber-Tuhan (dalam pengertian Allah-nya agama Yahudi, Kristen dan Islam) dan itu diyakini dengan baik, kenapa masih ada para koruptor yang menjarah uang negara, para politisi picik yang haus kekuasaan, serta para birokrat yang bermental tuan? Bukankah itu pertanda bahwa beragama jelas bukan jaminan? Kalau begitu, seperti Armstrong, adakah masa depan bagi Tuhan?