Saturday, May 4, 2013

Pengajar Paling Kurang Ajar

print this page 
Oleh  : Gede Prama

Seorang sahabat yang sedang mengambil program doktor di Inggris, dan rajin mengunjungi web site saya, pernah menulis e-mail menarik. Setelah membaca tulisan saya dengan judul ‘Hipnotis Massal Ala Amerika’ – yang bertutur tentang dihipnotisnya dunia manajemen melalui kedigdayaan Amerika dalam memasarkan ide – ia setengah tersinggung. Sebab, sebagai salah seorang penentu kurikulum di salah satu sekolah manajemen terkemuka, sekaligus pengajar berpengaruh, ia merasa dicurigai tidak pernah memproduksi pengetahuan, dan mengangguk saja dengan kemauan Amerika.
Maka, bertanyalah dia dengan sedikit kejengkelan ke saya : ‘kalau saja saya kembali mengajar ke sekolah manajemen, dan ikut menentukan kurikulum serta mengajar, apa yang akan saya lakukan ?’. Ha, ha, ha, sebuah pertanyaan yang belum pernah terlintas di benak sampai sekarang. Sebab, dalam dunia pengetahuan saya membenci – sekali lagi membenci – setiap bentuk pengorganisasian. Dan sekolah serta Universitas adalah bentuk pengorganisasian yang paling menjengkelkan. Terutama lewat keseragaman ala baris berbaris. Saya khawatir, dengan memasuki organisasi, bisa-bisa kehilangan kekayaan intelektual yang paling berguna : kebebasan.
Seorang rekan pengajar muda di Universitas Indonesia sudah mulai mengeluh dan sedikit frustrasi. Dengan menyebut-nyebut contoh Jeffrey Winter yang sudah menjadi guru besar di umur 31 tahun, dan menyebutnya sebagai sebuah keniscayaan di negerinya Gus Dur ini, sudah cukup menjadi sinyal, betapa tersiksanya rekan tadi. Itu baru pasungan karir. Belum lagi pasungan intelektual lewat kurikulum, sekaligus metode pengajaran yang membuat muntah orang lain.
Kembali ke pertanyaan rekan tadi tentang pengajar, kerap ada yang mengirim e-mail ke saya dan menyebut saya ‘guru’. Dan ke siapa saja yang memanggil saya dengan sebutan terakhir, saya mencoba membuat diri menjadi jembatan bagi orang tersebut. Kemudian, mengundang orang untuk lewat melalui jembatan saya. Dan begitu ia sudah lewat, saya runtuhkan jembatan tadi. Dan saya sarankan, agar dia kemudian membangun jembatannya sendiri.
Ini juga yang menjadi fundamen epistimologis dari hampir setiap ide yang dipertontokan dalam kolom InOvAsI ini. Membangun ide di awal – entah dengan meruntuhkan bangunan ide orang lain, mengutipnya dari orang lain, atau merangkaianya sendiri – kemudian diramu dengan keseriusan bersama canda. Dan hampir semua ujung ide, diakhiri dengan runtuhnya jembatan ide yang telah dibangun.
Ada orang yang protes, marah, menghujat, merasa dirinya dimanusiakan, memuji, menyebut saya bodoh, cerdas, sampai ada yang meminta saya jadi guru pribadi. Apapun sebutannya, saya terima dengan tingkat penghormatan yang sama. Sebab, jangankan intelektual, presiden yang dipilih secara paling legitimatif sekalipun, tidak bisa membuat pemikiran orang jadi seragam. Disamping ia tidak mungkin, juga mengingkari hakekat mesin pertumbuhan intelektual yang bernama perbedaan.
Dengan sikap liar seperti ini, banyak sudah sebutan yang dialamatkan ke saya. Ada sebutan gelandangan intelektual, penghujat paling mudarat, tuna wisma intelektual, sok tahu, resi manajemen, Stephen Covey Indonesia, sampai dengan pengajar paling kurang ajar.
Semua sebutan ini saya suka. Semakin bervariasi sebutan yang datang, semakin baik. Sebab itu pertanda ‘jembatan pengetahuan’ yang saya bangun buat orang lain memperoleh tanggapan. Kalau sampai semua orang memuji, itu tandanya saya tidak pernah meruntuhkan jembatan tadi. Kalau semua orang menghujat, itu tandanya tidak ada orang yang sempat lewat melalui jembatan intelektual saya.
Sahabat yang setengah tersinggung di atas, memang belum pernah menjawab balik jawaban liar ini. Apapun yang ada di benaknya, saya hargai dan hormati. Bagi saya, intelektualitas mirip dengan pohon. Siapapun yang datang – entah kiai, pastor. pendeta, pelacur sampai dengan pembunuh berdarah dingin sekalipun – pasti dipersilahkan untuk berteduh. Penolakan terhadap salah satu saja species orang maupun ide manapun, berakibat pemiskinan. Sama dengan pohon yang menolak pelacur berteduh, ia mengingkari hakekatnya sebagai pohon.
Intelektualitas sebagai sumber inspirasi dan inovasi juga demikian. Siapa saja yang terjebak dalam dikotomi dan dualisme (benar-salah, tepat-keliru, dll), lebih-lebih dibungkus fanatisme, ia mudah sekali mati secara intelektual. Untuk kemudian, mengubur diri hidup-hidup dalam keyakinan yang memabukkan.
Jangan fikir hanya anggur yang memabukkan, anggur pengetahuanpun memabukkan. Terutama kalau sudah sampai di tingkat pemujaan yang berlebihan. Atau juga bila sampai pada kebencian yang mematikan. Marx menyebutnya dengan dialecticalism. Derrida memberinya stempel deconstruction. Anda terserah sajalah.
Christopher Norris dalam Deconstruction, Theory And Practice, pernah menulis : “To present deconstruction as if it were a method, a system or a settled body of ideas would be to falsify its nature and lay oneself open to charges of reductive misunderstanding”. Jika demikian, sebelum Anda tergelincir ke dalam ketidakmengertian yang sempit, sebaiknya lupakan saja semua fikiran yang sempat timbul saat membaca tulisan brengsek ini.
Orang saya saja sejak mengawali menulis tulisan ini sudah dikurangajari dan mengkurangajari diri, koq Anda malah membacanya sampai selesai.