Saturday, May 4, 2013

Pertanyaan-Pertanyaan Tidak Mungkin

print this page 
Oleh: Gede Prama
Senin, 18/3/2002

Satu hal yang menarik hati ketika berhadapan dengan anak kecil, adalah kesukaannya untuk bertanya secara bebas tidak terbatas. Baik karena faktor ketidaktahuan, pikiran yang belum dipagari etika dan logika, pengalaman yang masih amat kurang, yang jelas semua ini membuat mahluk-mahluk kecil ini sering keluar dengan pertanyaan-pertanyaan menyentuh dan kadang mengejutkan.
Ada pertanyaan tentang kenapa matahari selalu terbit dari timur, ada keingintahuan dari bentuk asal apakah air itu terbuat, ada juga gugatan kenapa seorang anak tidak bisa memilih orang tua dari mana mereka lahir, ada juga hentakan pertanyaan kenapa alam membuat gunung dan laut, kerap mereka juga memprotes Tuhan sebab burung bersayap sedangkan manusia tidak, ada juga yang bertanya kenapa langit harus berwarna biru, dan masih ada lagi rangkaian pertanyaan bebas tanpa batas lainnya.
Setiap orang dewasa yang pikirannya sudah dipagari berbagai logika dan etika, apa lagi dibumbui oleh nafsu besar untuk menghakimi, akan melihat semua pertanyaan ini hanya sebagai ungkapan-ungkapan dangkal yang tidak bermakna. Salah-salah bisa mengundang pelecehan, atau malah mendatangkan amarah besar. Namun bagi pemburu kebebasan dan kejernihan, anak-anak kecil adalah guru-guru kejernihan yang sedang menyamar jadi anak kecil.
Disebut guru, karena mereka masih demikian akrab dan bersahabatnya dengan kejernihan dan kebebasan. Dikatakan menyamar, sebab badan yang membungkus pikiran segar tadi adalah badan-badan anak kecil. Dan kitapun dulunya, ketika masih berstatus anak kecil, menyamar jadi guru-guru kejernihan dan kebebasan. Pertanyaannya kemudian, kenapa setelah menyandang status sebagai manusia dewasa yang terdidik, semua kebebasan dan kejernihan tadi terbang entah kemana.
Kerap saya bertanya, siapa yang mencuri atau membawa terbang kejernihan dan kebebasan yang dulunya menjadi milik kita ketika masih berstatus anak kecil ? Sekolahkah ? Etika orang dewasakah ? Pengalaman lengkap dengan pagar-pagar besinya yang demikian mengerikankah ? Orang tua kitakah ? Globalisasi dan sosialisasi ? Atau malah nafsu dan kegemaran kita sendiri untuk suka dan terlalu mudah untuk menghakimi ? Entahlah, yang jelas jauh lebih produktif untuk mencari dan menyelami kebebasan dan kejernihan, dibandingkan mencari-cari kambing hitam siapa yang telah membawanya pergi.
Dalam cahaya pemahaman seperti ini, kadang saya suka mengajak sang diri, demikian juga banyak eksekutif yang rela mendengarkan ‘ide-ide gila’ saya, untuk berlomba-lomba membuat pertanyaan-pertanyaan tidak mungkin sekaligus lucu. Siapa yang berhasil membuat pertanyaan yang paling tidak mungkin, apa lagi paling bisa mengundang tawa, ia memperoleh hadiah yang amat menarik.
Bermacam-macam hasil yang pernah saya peroleh. Dari pertanyaan kenapa selingkuh itu indah, kenapa kita manusia harus dikandung Ibu tidak dikandung Bapak, kenapa kita kalau tidur harus di tempat tidur bukannya di atas genteng, kenapa kalau kali banjir orang pada lari ketakutan bukannya mengambil ban dan berenang menikmati keindahan banjir, kenapa mobil harus beroda sekurang-kurangnya empat kenapa tidak bisa dibuat mobil beroda satu saja, kenapa rumah harus ada atapnya, kenapa orang tua kalau berhubungan intim harus mengunci pintu, kenapa komputer harus dibuat dari bahan plastik dan bahan olahan lainnya, kenapa tidak bisa dibuat dari bahan-bahan alami seperti daun, tanah, batu, air, dan masih banyak lagi daftar-daftar pertanyaan aneh dan tidak mungkin.
Sebagaimana biasa, semua ini memang tidak harus dijawab. Karena jawaban hanyalah rangkaian hal yang membuat kegiatan mencari jadi terhenti. Yang lebih penting dari jawaban adalah hentakan-hentakan kejernihan dan kebebasan yang dibuat oleh pertanyaan-pertanyaan tadi.
Setiap sahabat yang sudah demikian dipasung dan diikat oleh rangkaian logika dan etika, apa lagi berhasil diperalat dan diperkuda oleh logika dan etika, mungkin akan membuang muka bila dibombardir oleh pertanyaan-pertanyaan gendheng tadi. Ada juga yang sempat menyatakan rasa ketersinggungannya pada saya. Dan ini tentu saja menjadi hak pribadi masing-masing. Yang tentu saja karena alasan kebebasan dan kejernihan juga harus diberikan hak hidup.
Apapun pendapat dan sikap Anda, saya ingin mengakhiri hentakan-hentakan lewat pertanyaan ini melalui sebuah lelucon. Konon, pada suatu hari ada sepasang suami istri yang sedang santai saling melemparkan pertanyaan sebagai teka-teki. Sang suami yang berperut agak gendut memulai teka-teki : ‘Apa yang ada di tengah perut saya yang kembung ini Ma ?’. Ketika istrinya menjawab dengan berbagai jenis makanan dan minuman, suaminya hanya menggelengkan kepala. Setelah isterinya menyerah kalah, suaminya menjawab meyakinkan : ‘Di dalam sini ada gajah, nih lihat belalainya !’. Tidak mau kalah dengan sang suami, istrinya juga melemparkan pertanyaan yang sama : ‘apa yang ada di dalam perut saya Pa ?’. Setelah dijawab dengan berbagai jawaban dan ternyata semuanya disebut salah, maka sang istripun menjawab meyakinkan : ‘Di dalam sini ada telepon umum, nih lihat tempat memasukkan coin-nya’. Mendengar jawaban demikian, mendadak sang suami merengek : ‘Ma ini gajahnya mau telepon !’.
Nah dari cerita ini, saya mau tanya ke Anda, apakah ajakan suami di atas adalah sebuah sirkus di mana gajah bisa menelpon, ataukah ini hanya sebuah cerita porno yang bisa mengundang tawa, bisa juga menghadirkan orang tersinggung ?. Dan sebagaimana untaian pertanyaan-pertanyaan di atas, inipun tidak perlu dijawab. Cukup ia hadir di kepala dengan sebuah tugas : menghentak dan mengetok pintu kebebasan dan kejernihan.