Saturday, May 4, 2013

DI MANAKAH SUARAMU HAI ANAK NEGERI ?

print this page 
Oleh : HERU K WIBAWA

Adakah cara untuk memperbaiki negeri ini? Apakah dengan memotong 'satu generasi'? atau bahkan 'dua generasi'? seperti yang diyakini oleh sekelompok orang yang ditempel pada spanduk-spanduk di pinggir jalan Jakarta. Tidur panjang seluruh penghuni negeri berbuah kesesatan, kehilangan jati diri dan kemanusiaan, berujungkan pemutarbalikkan bukan saja sejarah tetapi juga norma-norma kehidupan. Masih adakah harapan negeri ini menjadi negeri yang aman, tenteram, sejahtera dengan masyarakatnya yang santun dan saling menghormati ?
Ataukah inilah sejarah dan tragedi kemanusiaan yang akan terus berputar dinegeri tercinta ini, bukankah hasrat suci menegakkan hak dan jati diri kemanusiaan manakala para leluhur kita berjuang melawan ketidakadilan penjajah? Tetapi bukankah sejarah yang membuktikan bahwa setelah merdeka kita harus bertikai dengan diri kita sendiri, rakyat melawan pemimpin, mahasiswa melawan politikus? Kebobrokan moral orde lama bukanlah telah mengkristalkan tekad membentuk pemerintahan yang berpihak pada kepentingan rakyat, yang terjelma pada munculnya orde baru, orde harapan dan orde pembangunan? Tetapi bukankah ujungnya juga kekecewaan? Dan reformasi mahasiswa dengan niat sucinya, bukankah telah membawa pada kekecewaan-kekecewaan yang semakin menyusahkan hati dan kehidupan rakyat?
Adakah harapan untuk menyelesaikan begitu banyaknya dan rumitnya serta mendesaknya berbagai persoalan di negeri ini? Kita ini bangsa yang paling kreatif menciptakan masalah, tetapi paling bodoh menyadari dan menyelesaikannya. Dan yang lebih bodoh lagi karena kebanyakan kita akan segera bersimpuh di depan orang asing untuk mendapatkan petunjuk, petuah, bantuan dan bimbingan. Mengapa? Karena telinga kita terlalu tuli untuk mendengar suara hati kita (yang telah lama dibiarkan tidak bersuara), dan mata kita telah buta serta hati kita telah membatu untuk insaf dan bertobat dan kembali pada kesadaran potensi diri yang dikaruniakanNya cukup bagi hidup kita.
Pergilah ke toko-toko buku, betapa banyaknya pemikiran-pemikiran asing tentang pengembangan pribadi (self development), pembaruan diri (self renewal), kepemimpinan (leadership), etika bisnis, kiat sukses dunia bisnis. Dengan label best seller, the most inivative book, break through ditambah dengan banjirnya seminar-seminar yang didasarkan konsep-konsep itu, seakan-akan telah membawa bangsa ini pada pemahaman era globalisasi dengan konsep-konsep serta perilaku globalnya. Mana tulisan para Doktor, Profesor yang sekolah dibiayai pemerintah, dengan uang rakyat itu?
Saya merinding membayangkan kesesatan bangsa ini yang akan semakin jauh dari jati dirinya. Adakah obat bagi penyakit negeri ini? Benarkah hanya dengan obat asing, benarkah konsep manajemen, etika, moral, bisnis asing itu cocok dan terbaik buat negeri ini? Ataukah kita sekedar menghibur diri mencari obat gosok untuk mengobati kanker kronis yang perlu dioperasi. Ataukah kita terlalu naif dan malu mencari jati diri yang telah lama hilang dari hidup kita. Lihatlah apa yang menjadi ungkapan kunci sukses orang Amerika dalam kurun 200 tahun dari 1776 sampai 1976 adalah melakukan kebiasaan-kebiasaan yang efektif (The Seven Habits/ S Covey) bandingkan dengan diskripsi manusia Indonesia versi Mochtar Lubis (yang dikutip dalam buku Menerobos badai krisis/A Harefa), antara lain munafik atau hipokrit; segan dan enggan betanggungjawab atas perbuatannya; berjiwa feodal; masih percaya takhayul; artistik; memiliki watak yang lemah; dan beberapa ciri lain seperti: tidak hemat, kurang sabar, tukang menggerutu, tukang tiru, sok, cenderung bermalas-malasan, dan kurang peduli terhadap nasib orang lain, selama tidak mengenai dirinya atau orang yang dekat dengannya.
Bukankah secara mendasar terdapat perbedaan antara masyarakat kita dengan masyarakat Amerika. Bukankah masyarakat kita masih dalam taraf kehidupan pasif, menunggu, sementara masyarakat global adalah masyarakat yang proaktif. Mungkinkah dasar yang sangat berbeda ini dibangun konsep dan pola pengembangan yang sama? Saya sangat mengkhawatirkan apabila kita merasa telah membangunnya sebenarnya kita melakukan kesia-siaan.
Paling tidak situasi ini telah mendorong Cak Nur (dengan Paramadina) dengan 15 prinsip rohaniah manajemennya, Sri Adyanti (dengan Tazkia Sejati), Anand Krishna (dengan Meditasi) mencoba menggali nilai-nilai luhur yang pernah dimiliki bangsa ini untuk digali dan dipakai kembali. Saya bukan anti barat/asing, bahkan dalam tulisan ini akan banyak saya bandingkan dengan referensi dari konsep-konsep tulisan lain, tetapi keyakinan saya tidak ada satu halpun (konsep, pemikiran dll) yang begitu saja dapat diterapkan untuk bangsa kita tanpa adanya jembatan yang menghubungkannya dengan latar belakang, pendidikan, budaya, serta penghayatan agama yang kita miliki.
Adakah buku hasil perenungan anak negeri yang lahir dan dibesarkan dinegeri sendiri, dan memahami dan mungkin mengalami pendidikan dan kehidupan dinegeri barat serta bergaul cukup intensif dengan berbagai orang barat dan timur dengan tetap berusaha untuk tidak kehilangan dirinya. Sehingga pemikiran dan konsepnya akan dekat dengan kita dan menyentuh aspek-aspek kehidupan nyata.
Di manakah pemikiran atau sumbang saran yang akan dapat dijadikan jembatan yang mencoba menghubungkan konsep dan pemikiran serta budaya asing yang terus akan menghujani kita dengan tingkat pemahaman yang sudah kita miliki? Sehingga dari keadaan 'riil' posisi kita, dapat mendinamisasi diri sesuai dengan tuntutan zaman. Pilihan terhadap arus globalisasi tidaklah begitu banyak, karena bagaimanapun kita tidak akan mampu membendung pengaruhnya. Bukankah seharusnya tindakan proaktif yang kita lakukan adalah menyerap dan menggunakannya dengan berlandaskan nilai-nilai luhur yang kita miliki.
Seberapa keluhuran nilai yang kita miliki sebenarnya? Apakah itu bukan sekedar slogan kosong tak bermakna? Saya tidak ingin terjebak pada perdebatan sosiologis yang akan mempertentangkan tata nilai lama dan baru, tetapi saya akan memusatkan perhatian pada tata nilai yang telah kita miliki dengan kritis, dan mencoba menggali esensinya, sehingga akan mampu dipakai dalam lingkungan baru. Karena esensi suatu nilai tidak akan luntur oleh zaman.
Sehingga, sebagaimana A Harefa dalam mendiskripsikan manusia modern dalam bukunya Sukses tanpa gelar, janganlah kita terjebak pada gambaran diri semu manusia modern yang kebanyakan dikejar orang yang lebih bersifat ornamental (tidak esensi) yang lebih mencerminkan kegagapan menghadapi arus globalisasi. Hal mana terjadi karena segala sesuatu yang baru tidak disikapi dengan filterisasi atau proses seleksi berdasarkan ukuran-ukuran atau, ketepatan dan kesesuaian, dengan kebutuhan dan adaptasi, melainkan dengan semangat taken for granted.  [bersambung]