Saturday, May 4, 2013

Transformasi proses pembelajaran

print this page Print

Oleh: Andrias Harefa *

We are shaping the world
faster then we can change ourselves,
and we are applying to the present the habits of the past.
- Winston Churchill

Bagaimanakah kita menggambarkan proses pembelajaran yang berlangsung di berbagai perguruan tinggi Indonesia selama beberapa dekade terakhir ini? Saya khawatir bahwa prosesnya masih sama seperti antagonisme pendidikan "gaya bank"-nya Paulo Freire, yang kalau disesuaikan dengan dunia kampus digambarkan seperti ini:


• Dosen mengajar, mahasiswa belajar;
• Dosen tahu segalanya, mahasiswa tidak tahu apa-apa;
• Dosen berpikir, mahasiswa dipikirkan;
• Dosen bicara, mahasiswa mendengarkan;
• Dosen mengatur, mahasiswa diatur;
• Dosen memilih dan memaksakan pilihannya, maha-siswa mengikuti;
• Dosen bertindak, mahasiswa membayangkan bagai-mana bertindak sesuai dengan tindakan dosennya;
• Dosen memilih apa yang akan diajarkan, mahasiswa menyesuaikan diri;
• Dosen mengacaukan wewenang ilmu pengetahuan dengan wewenang profesionalismenya, dan memper-tentangkannya dengan kebebasan mahasiswa;
• Dosen adalah subyek proses belajar, mahasiswa adalah obyeknya.
Jika benar prosesnya masih demikian, maka proses pembelajaran sebenarnya telah dikebiri maknanya menjadi sekadar proses penjejalan atau proses penghafalan, bahkan indoktrinasi, yang memasung dan membunuh sikap kritis, kreativitas, dan potensi mahasiswa sebagai manusia muda yang sedang berproses mencari jati dirinya, jati diri kelompoknya, jati diri bangsa dan masyarakatnya. Nyaris tidak ada dialog dan refleksi kritis sebagai ciri utama pola interaksi antar manusia yang saling mema-nusiawikan (antar subyek).
Hasil dari proses penjejalan "gaya bank" di atas adalah manusia-manusia yang kehilangan kreativitas dan kemampuan-nya mengkritisi persoalan-persoalan kehidupan. Hasil dari proses penghafalan itu adalah sarjana-sarjana bermental budak, yang arogan atau minder dan tidak memiliki harga diri sebagai manusia mandiri. Hasil dari proses indoktrinasi itu adalah sarjana-sarjana beo, yang memang telah dibiasakan hanya mengulang-ulang pendapat si A dan si B, sekalipun pendapat itu sudah kadaluarsa sekian puluh tahun.
Hasil dari proses perkuliahan yang membosankan itu adalah sarjana-sarjana yang terampil menjiplak (sudah terbiasa nyontek saat ujian, dan membuat skripsi hasil bajakan), penjilat, dan pencinta status quo yang takut berubah karena tidak pernah siap mengalami transformasi diri untuk menjadi dewasa dan mandiri.
Seharusnya, proses pembelajaran, apalagi di perguruan tinggi, bertujuan untuk membuat kaum muda bertumbuh menjadi manusia (being human) yang serba siap menghadapi realitas kehidupan nyata. Ia seharusnya menjadi "siap hidup" secara relatif mandiri, tanpa membebani orangtua, pemerintah, dan masyarakat (sarjana kok nganggur). Ia seharusnya menjadi "siap belajar" tanpa harus didampingi lagi oleh pengajar/dosen di sekolah besar kehidupan (sarjana kok nggak baca buku lagi). Ia seharusnya menjadi "siap berkarya", menjadi kontributor aktif dalam proses pemberdayaan masyarakat (bukan malah jadi provokator). Ia seharusnya menjadi manusia yang "siap hidup bersama" dalam aneka ragam perbedaan dengan manusia-manusia lain di masyarakat yang pluralistik seperti Indonesia (tidak kurang gaul atau kuper).
Singkatnya, lulusan perguruan tinggi seharusnya ditandai dengan kemampuannya untuk terus berproses (belajar) memanusiawikan dirinya dan sesamanya secara serentak bersamaan.
Bila realitas proses pembelajaran yang seharusnya (das sollen, should be situation) di perhadapkan dengan realitas proses pembelajaran yang terjadi di sekolah dan perguruan tinggi (das sein, as is situation), maka segera nampak suatu kesenjangan yang begitu lebar dan memprihatinkan.
Sementara pihak menjadi begitu skeptis dan bahkan pesimistis terhadap kemungkinan adanya perbaikan di masa mendatang. Paulo Freire dengan Pedagogy of the Oppressed-nya (1972) mungkin termasuk dalam kategori itu. Juga Ivan Illich dengan Deschooling Society-nya (1972), Everett Reimer dengan School Is Dead-nya (1971), atau juga Neil Postman dengan The End of Education-nya (1995). Dan sebagai upaya "mengintervensi" realitas yang jauh dari ideal itu, mereka menggagas proses-proses pembelajaran berbasiskan keluarga, komunitas, dan masyarakat.
Terlepas dari perdebatan mengenai "keberhasilan" dan "kegagalan" dari sejumlah eksperimentasi menciptakan alternatif proses pembelajaran di luar dunia persekolahan formal yang dilakukan Freire, Illich, dan Reimer pada dekade tahun 70-an, setidaknya banyak pihak yang dewasa ini sepakat bahwa kritik mereka justru menemukan kembali relevansinya di awal milenium ketiga ini. Setidaknya dapat dikatakan bahwa kehadiran teknologi informasi, terutama televisi, personal computer, modem, CD-ROM, dan email-internet, telah mengubah secara mendasar pola distribusi informasi dan pengetahuan.
Jumlah waktu yang dihabiskan manusia di muka televisi dan monitor komputer tidak kalah jauh, di beberapa kasus justru melampaui, waktu yang dipergunakan kaum muda di sekolah/kampus. Jika dosen-dosen masih mengikuti pola perkuliahan "gaya bank", maka dimanakah nilai lebihnya dibandingkan menonton televisi dan mengakses internet? Dosen mana yang "lebih pintar" dan memiliki informasi lebih banyak dibandingkan "dunia yang dilipat" itu? Bahkan lewat internet yang menggunakan fasilitas multi media, polanya jauh lebih interaktif, tidak monolog seperti "kaset rekaman" (baca: kuliah dosen yang tidak interaktif).
Jadi, bagaimanakah transformasi proses pembelajaran di kampus-kampus harus dilakukan? Saya tidak punya resep baku dan jawaban yang definitif seperti yang biasa dikuliahkan dosen-dosen saya dulu. Namun satu hal kiranya cukup jelas, yakni bahwa kuliah dengan materi dan cara-cara lama yang itu-itu juga sudah harus dirombak total. Harus ada inovasi dan eksperimentasi hampir dalam semua hal. Kurikulum dan metodologi, termasuk alat bantu belajar/kuliah, harus disikapi secara kritis dengan pertama-tama mencoba memetakan persoalan-persoalan nyata yang dihadapi manusia dewasa ini dan di masa depan.
Sikap sok tahu dan merasa paling pintar, apalagi paling benar, harus ditanggalkan oleh para dosen. Teknik bertanya, membangkitkan rasa ingin tahu (curiosity), dan kemampuan mendengarkan secara empatik (empathic listening) harus lebih didemonstrasikan oleh mereka yang berdiri di depan mimbar akademis. Banyak membaca, meneliti, dan menuliskan gagasan-gagasan orisinal yang segar berdasarkan hasil pergulatan pemikiran-hati (mind-heart) dalam menatap realitas kehidupan nyata di masyarakat harus menjadi ciri dosen-dosen masa kini dan masa depan.
Selanjutnya, harus dikatakan bahwa transformasi proses pembelajaran hanya mungkin dimulai jika "aparatur" kampus merasa tidak puas (unsatisfied, bukan dissatisfied) dengan kondisi saat ini dan pada saat yang sama dapat bersepakat dalam menggagas kondisi yang dicita-citakan di masa depan sebagai sebuah kemungkinan (shared-vision). Jika rasa tidak puas dalam arti constructive discontent itu tidak cukup kuat, maka kelompok pro status quo akan kembali mendominasi kampus dan transformasi proses pembelajaran hanya akan berhenti sebatas wacana dan tidak sampai aksi nyata. Jika rumusan yang dicita-citakan bersama (shared-vision) itu tidak diyakini sebagai hal yang possible --seperti mission impossible yang selalu possible karena difilmkan-- maka pembaruan juga tidak akan terjadi.
Pada akhirnya, hemat saya, transformasi proses pembelajaran di kampus masih dimungkinkan sepanjang para praktisi dan akademisi dan seluruh stakeholders kampus dapat mentransformasikan dirinya lewat proses unlearn (meninggalkan ajaran-ajaran yang sudah kadaluarsa dan tidak relevan) dan relearn (belajar kembali).
Wahai para dosen: belajarlah!

Jika sampai pada soal perubahan,
banyak orang cenderung berkata dalam hatinya:
"perubahan perlu, segala sesuatu harus berubah, kecuali saya".
- andrias harefa

*) andrias harefa bekerja sebagai knowledge entrepreneur, learning facilitator-consultant, presiden indonesia school of life, pemrakarsa dan pengelola situs www.pembelajar.com, penggagas gerakan Indonesia Belajarlah! dan Forum Mahasiswa Berwirausaha serta gerakan pengajar keliling. Ia juga menulis 20-an buku best-seller, antara lain: Menjadi Manusia Pembelajar (Kompas, 2000); Pembelajaran di Era Serba Otonomi (Kompas, 2001). Buku terakhir yang dalam proses penerbitan adalah Menyoal Masa Depan Sekolah dan Universitas (Gramedia, 2002).