Saturday, May 4, 2013

MENJADI DIRI SENDIRI

print this page 
By : benyamin harefa

Saya yakin kita semua pasti pernah mendengar kalimat di atas diucapkan diucapkan oleh guru kita atau dosen atau pendeta atau ulama. Dan bagi yang suka membaca, pasti pernah membacanya di paling tidak satu buku atau majalah.
Menjadi diri sendiri.
Sewaktu saya masih kecil, saya sudah mendengar dan membaca kalimat tersebut berulang kali. Tapi terus terang saja, saya menerimanya sebagai satu dari sekian banyak kata-kata mutiara. Enak didengar.
Sewaktu saya remaja, menjadi diri sendiri adalah kalimat yang seringkali muncul dan didiskusikan di berbagai forum dan media. Saya menjadi sadar bahwa kalimat itu bukan sekadar kata-kata mutiara. Ada kandungan nilai yang sungguh luar biasa besarnya.
Sekarang, ketika saya dewasa, saya menjadi lebih banyak memahami arti kalimat tersebut dibandingkan waktu-waktu lalu. Dan, ini anehnya, saya merasa bahwa pemahaman saya saat ini masih akan terus berkembang. Saya akan menjadi lebih mengerti lagi tentang menjadi diri sendiri di waktu yang akan datang.
Aneh? Ya. Bagi saya agak aneh. Bagaimana mungkin satu kalimat yang sederhana seperti itu mengandung pengertian yang seakan-akan tidak habis digali. Apakah benar pengertian menjadi diri sendiri terus berkembang? Apakah definisinya berubah dan menjadi semakin lengkap dan panjang dari tahun ke tahun? Tidak. Tidak sama sekali. Bahkan pengertian dan definisi yang saya baca tentangnya 10 tahun lalu, tetap merupakan pengertian dan definisi yang lengkap dan utuh.
Tapi ini bukan tulisan yang dimaksudkan untuk membahas secara memadai masalah menjadi diri sendiri. Saya hanya bisa menulis yang ringan-ringan saja. Membahas pengertian dan makna tidak pernah ringan. Tapi kesan adalah ringan. Jadi, saya ingin menulis sedikit tentang kesan saya mengenai arti menjadi diri sendiri sebagaimana saya rasakan dan saya 'tangkap' dari sekitar saya.
Tapi karena kesan adalah ringan, sebenarnya begitu ringannya, sehingga ada banyak sekali kesan yang dapat saya (dan Anda) tulis. Karena itu saya mencoba mencari kesan yang terkuat saja. Dan, dengan mudah saya menemukannya.
Menjadi diri sendiri adalah menerima diri. Beberapa orang menambahkan: menerima diri apa adanya. Agak berbeda (saya pikir sebenarnya sangat berbeda). Saya tidak ingin membuat hal ini menjadi perdebatan panjang. Yang ingin saya sampaikan adalah salah satu kesan paling kuat dari menjadi diri sendiri adalah menerima diri kita, kondisi (fisik) kita, dan banyak hal lain yang sudah dari sononya begitu. Ada ruang diskusi yang luas juga untuk hal-hal apa saja yang dapat dikategorikan sebagai sudah dari sononya sehingga harus diterima dan tidak perlu/bisa berubah.
Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kesan menerima diri sebagai wujud dari menjadi diri sendiri sangatlah kuat. Kesan ini biasanya bergandengan dengan penekanan pada fakta bahwa manusia diciptakan berbeda-beda,.
Kesan tersebut tidaklah salah (memang tidak ada kesan yang salah). Namun kesan tersebut kadang-kadang mengganggu pikiran saya. Terutama ketika orang mulai berkata: "Ya memang saya begini. Mau apa lagi?" atau "Saya memang terlalu sensitif atau emosional. Itulah saya". Menjadi diri sendiri berarti bereaksi sebagaimana kecenderungan saya. Kalau saya pemarah, maka adalah wajar kalau saya seringkali marah, bahkan untuk hal-hal sepele. Kalau saya sensitif, maka adalah wajar kalau saya selalu tersinggung, bahkan ketika orang lain tersungging pada saya. Padahal, saya rasa, bukan itu maksud dari menjadi diri sendiri.
Karena itu saya memikirkan bagaimana menghilangkan kesan yang cenderung negatif dari menjadi diri sendiri. Dan saya pikir sumbernya ada pada kalimat itu sendiri. Menjadi diri sendiri adalah kalimat yang terlalu netral, mati, pasif. Kita harus mengubahnya menjadi lebih membangkitkan semangat, hidup, dan aktif. Dan saya usulkan agar kita menambah beberapa kata sehingga berbunyi: Menjadi (yang terbaik dari) diri sendiri. Bagaimana menurut Anda?