Saturday, May 4, 2013

The Lost Generation

print this page 
        Beberapa waktu yang lalu, akibat terjadinya krisis moneter, beberapa pakar kesehatan mengasumsikan bahwa Indonesia menghadapi bahaya besar, yaitu terjadinya the lost generation.
Generasi yang hilang, istilah yang kemudian meluas dan menjadi perbincangan menarik. Generasi yang hilang adalah istilah yang dikhawatirkan terjadi oleh karena berkurangnya intake (masukan) gizi yang cukup pada kelompok masyarakat yang menurun penghasilannya, sehingga menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk memenuhi kebutuhan gizi yang cukup dan seimbang pada anak-anak (secara khusus balita).
      Menurunnya kualitas zat gizi akan menyebabkan dampak buruk pada pertumbuhan dan perkembangan fisik-mental-intelektual. Suatu saat, 10-20 tahun mendatang, ketika generasi yang kekurangan zat-zat gizi ini dewasa, mereka tidak akan dapat mampu hidup normal dan produktif, sebagaimana seharusnya yang diharapkan sebagai sumber daya manusia. Maka saat itulah the lost generation menunjukkan diri.
Istilah the lost generation barangkali dapat juga diterapkan pada kondisi yang memprihatinkan kita saat ini, tetapi lebih dalam arti yang sebenarnya: generasi yang hilang. Istilah generasi yang hilang adalah ungkapan yang akan membawa kita kepada pemahaman mengenai apa yang sedang terjadi pada generasi muda (baca: remaja) kita saat ini. Mereka benar-benar generasi yang hilang.
Remaja adalah suatu fase dalam kehidupan. Dengan menggunakan batasan WHO, maka seseorang dikatakan remaja dalam batas usia 10-20 tahun. Bahkan lebih jauh ditambahkan bahwa remaja awal berada dalam usia 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20 tahun. Sementara di Indonesia, batasan yang digunakan sama dengan istilah youth (pemuda) yang digunakan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yaitu usia 15-24 tahun.
Kalau kita mencermati dengan baik, maka situasi yang sekarang merupakan gambaran remaja yang sedang berada dalam bahaya generasi yang betul-betul terancam hilang. Kita kini menghadapi remaja-remaja yang sedang berada dalam siatuasi transisi dengan gambaran sebagai berikut :
1. Mereka dibesarkan di tengah-tengah terjadinya perubahan sosial-budaya akibat kemajuan perekonomian di era akhir tahun 80-an. Saat itu, ketika tingkat kehidupan mengarah ke arah perbaikan kesejahteraan, terjadi perubahan gaya hidup dari orang-orang tua maupun lingkungan sekitarnya.
Makanan fast food, pergaulan jes-set, kemewahan dan materi yang mencukupi, yang penting semua yang serba cepat dan wah, termasuk dalam hal waktu, menyebabkan perubahan dalam perkembangan kepribadian remaja. Tempat-tempat makan, tempat hiburan, tempat wisata, adalah favorite mereka. Kini meraka hidup dengan pola hidup dan gaya sedemikian mereka di didik. Mereka kehilangan arah dan nilai hidup.
2. Para remaja ini juga kini menghadapi perkembangan industri yang membombardir kehidupan para remaja yang memang sudah kekurangan asupan pengasuhan yang benar. Kini mereka setiap hari berhadapan dengan iklan-iklan, produk, dan jasa, yang menekankan pada "kesempurnaan" artifisial. Buaian kata-kata : lebih baik menggunakan ini, itu; pakailah ini, maka anda tampil lebih percaya diri dan lebih baik; minuman-makanan remaja trendy; dan lain sebagainya.
Eksploitasi terhadap kebutuhan akan kasih sayang, penerimaan, aktualiasi diri, diangkat secara berlebih-lebihan, dan membawa para remaja dalam cara hidup yang penuh dengan aksesoris luar : make-up, pakaian, parfum, perhiasaan, model, cara hidup sesuai idola, dan sebagainya. Mereka kehilangan penghargaan terhadap diri.
3. Para remaja saat ini berhadapan dengan keluarga yang sering sekali tidak menjadi keluarga yang menawarkan pengertian, kasih-sayang, asuhan, perkembangan karakter dan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk perkembangan kehidupannya sebagai seseorang manusia yang berkembang bukan hanya fisik, tetapi juga psikologisnya.
Ketidaktahuan remaja dalam berbagai permasalahan perkembangan, misalnya perkembangan alat reproduksinya sediri sering mengakibatkan berbagai dampak yang tidak jarang merupakan masalah sosial Bahkan oleh karena ketidaktahuan ini, tidak jarang yang terjadi adalah kehamilan remaja, yang sebagian besar tidak dikehendaki. Penelitian di Jakarta, Yogyakarta, dan Denpasar menunjukkan bukti bahwa di kalangan remaja telah terjadi revolusi dalam hubungan seksual menuju ke arah liberalisasi tanpa batas. Munculnya kenakalan remaja,
kasus-kasus narkoba di kalangan remaja, adalah contoh bukti pencarian mereka akan makna diri yang salah. Mereka seharusnya menemukannya di keluarga, tetapi ternyata tidak. Lalu mereka mencari pada rekan sebaya (peer group), yang sering sekali menjerumuskan mereka ke arah pergaulan buruk. Mereka kehilangan karakternya sebagai manusia.
Gambaran di atas merupakan fenomena yang kini sedang terjadi di tengah-tengah kita. Barangkali, saat ini gejala dari hilangnya generasi kita ini belum begitu terasa, karena masih ada generasi yang lebih tua (yang lahir sebelum mereka) dan masih memegang tradisi dan budaya.
Akan tetapi, jika akhirnya seluruh generasi yang ada, adalah mereka yang merupakan generasi yang hidup dalam kehidupan the lost generation, kita menghadapi bahaya besar! Satu generasi ke depan, kita akan berhadapan dengan "mereka-mereka" yang benar-benar kehilangan arti dan nilai hidup, yang kehilangan penghargaan terhadap diri, dan yang kehilangan karakternya sebagai manusia. Pada saat itulah kita baru akan menyadari bahwa kita benar-benar telah kehilangan dalam arti yang sebenarnya.