Friday, May 3, 2013

DIBALIK MEROSOTNYA PENDIDIKAN DI STMIK DIPANEGARA

print this page Print

Salam Pembebasan ….!!!

Pendidikan tinggi di indonesia sedang disorot oleh banyak kalangan berkaitan dengan industrialisasi yang sedang berlangsung didalamnya. Apakah itu perguruan tinggi negeri atau swasta dua-duanya sedang melakukan hal yang sama yaitu mempercepat proses industri pendidikan yang intinya pendidikan tinggi ini bisa menjadikan kegiatan akademik dapat menghasilkan produk pendidikan yang berbobot tetapi juga dapat menghasilkan kesejahteraan yang memadai. Ada dua hal yang ingin dicapai, yaitu sebagai institusi pendidikan dapat menghasilkan kualitas pendidikan dan sebagai institusi bisnis mendatangkan profit untuk kesejahteraan birokrat kampus.

Dewasa ini ummat manusia tengah memasuki suatu zaman baru yang ditandai dengan menguatnya paham pasar bebas, yang dikenal sebagai zaman Globalisasi. Tradisi ummat manusia untuk mempertahankan eksistensi (keberadaan) mereka melalui pendidikan mendapat tantangan, karena pendidikan ternyata bagi sebagian manusia dapat digunakan untuk mengakumulasi kapital dan mendapatkan keuntungan dari hasil jeri paya rakyat. Bagaimana mungkin tradisi manusia tentang visi pendidikan sebagai strategi untuk eksistensi manusia yang telah direproduksi berabad-abad selama ini, diganti oleh suatu visi yang meletakkan pendidikan sebagai komuditi.


Penjajahan imperialisme yang dialami bangsa indonesai sejak kolonialisme belanda dengan politik perdagangan bebas ternyata berganti muka dengan penjajahan imperialisme melalu lembaga-lembaga pendidikan yang dipolakan oleh pemerintah dan pemilik-pemilik modal (yayasan Pendidikan) yang bertujuan mendapat keuntungan yang sebanyak-banyaknya dan mengabaikan mutu pendidikan rakyat indonesia.

Tak terlepas peran serta Yayasan Pendidikan Dipanegara sebagai Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta (BP-PTS) STMIK Dipanegara yang terkemuka di indonesia timur (bahasa brusur tiap pendaftaran MABA) yang telah mempolakan sistem pendidikan kapitalis untuk menghisap dana pendidikan dan mengabaikan mutu pendidikan mahasiswa (Bukti 1). Kondisi diatas tercerminkan dengan munculnya riak-riak mahasiswa yang melakukan demonstrasi di setiap tahun ajaran sejak berdirinya kampus kuning gading (tahun 1994) sampia detik ini (tahun 2003) dengan issu yang sama menuntut adanya sistem pendidikan yang ditunjang dengan fasilitas yang mengikuti kebutuhan masyarakat.

Bukti 1:   Perkiraan Penerimaan Dana Pendidikan Tahun akademik 2000/2001
                (Semester Awal dan Semester Akhir)

- Semester Awal (SPP dan BPP) Mahasiswa Baru dan Lama      : Rp. 2.983.220.000,-
- Semester Akhir *)                                                                        : Rp. 2,497.680.000,-
- Pendaftaran Penerimaan Mahasiswa Baru                                  : Rp.      88.000.000.-
- Bunga Bank                                                                                 : Rp.    200.000.000,-
- 10 % dari Dana Skripsi dan KKLP/PKL                                    : Rp.      30.000.000,-
                Jumlah                                                                           : Rp. 5.798.900.000,-


*) Semster akhir :
-          Jumlah Penerimaan Semester awal dikurangi BPP Mahasiswa Anggkatan     94 + 95 + 96 dikurangi SPP Mahasiswa Baru angkatan 2000
-          Perhitungan
Rp. 2.983.220.000,-  - (Rp. 226.540.000,- + Rp. 259.000.000,-) = Rp. 2.497.680.000,-


REKAPITULASI

I.   Penerimaan                                                                         : Rp. 5.798.900.000,-
II.  Pengeluaran                                                                       : Rp. 3.448.741.550,-
III. Saldo Plus                                                                         : Rp. 2.350.158.450,-
      Sebagai dana Pembangunan/cadangan yang
      Disimpan oleh Yayasan Pendidikan Dipanegara
      (40% dari penerimaan menjadi kas yayasan)

sumber :    Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja STMIK Dipanegara (RAPBS), tahun ajaran 2000/2001.


Sudah banyak waktu yang tersita untuk melakukan demonstrasi dan pertemuan antara mahasiswa, pengelolah dan yayasan dipanegara untuk mencari solusi dari permasalah kampus namun ternyata yang dihasilkan hanyalah kesepakan tertulis tampa realisasi dari kesepakan-kesepakatan yang telah ada. Semua hasil-hasil kesepakatan termasuk didalammnya adalah hasil Lokakarya Administrasi tahun 2000 (SK. Ketua STMIK Dipanegara Nomor: 812/STMIK/A.4/V/2000, tanggal 05 Mei 2000)  yang salasatunya menghasilkan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja STMIK Dipanegara (RAPBS) untuk diadakan setiap awal tahun ajaran guna membantu pendanaan pendidikan yang jelas dan transparan itupun tidak terpenuhi. Yang lebih ironisnya lagi setelah RAPBS tidak diadakan, komitmen birokrat kampus untuk mengadakan fasilitas-fasilitas pendidikan  itupun tidak terlihat dengan jelas, misalnya:
  1. Perbaikan Laboraturium Praktikum yang dari dulu hingga sekarang masih sering kita saksikan mahasiswa duduk bertiga untuk satu unit komputer dengan akses yang lambat. Dan tak jarang kita saksikan dan kita alami sendiri laboratorium dengan menggunakan sistem cloning/jaringan pada saat praktikum berjalan semua komputer hang dan praktikumpun berhenti.

  1. Penggunaan Lab Internet yang tidak merata terhadap mahasiswa yang disebabkan jumlah komputer hanya ± 15 unit  yang harus di mamfaatkan oleh mahasiswa sebanyak ± 6.160 orang (data tahun akademik 2001-2002) dengan akses yang lambat dan tidak adanya sistem pemerataan penggunaan lab. Komputer yang akan diterapkan.

  1. Lab. Madiri yang dijanjikan pada setiap awal penerimaan Mahasiswa Baru yang tercantum dalam brosur STMIK Dipanegara ternyata hari ini hilang sama sekali. Ini merupakan pembohongan Publik yang dilakukan oleh Yayasan Pendidikan dipanegara selaku Badan Penyelenggara Perguruan Tisnggi Swasta (BP-PTS) 

  1. Perpustakaan Kampus yang merupakan penunjang mahasiswa dan dosen untuk menambah wawasan dan pengetahuan ternyata kondisinya sangat memprihatinkan karena kurangnya jumlah judul yang di sediakan dan pengadaan buku dalam hal ini pembelian oleh pihak yayasan terhenti sampai tahan 2000.
Bukti 2: Perpustakaan STMIK Dipanegara mempunyai jumlah 724 judul buku dengan jumlah 1.782 examplar juga menyimpan sejumlah Skripsi/laporan akhir  mahasiswa STMIK Dipanegara (437 jumlah judul dan 874 jumlah examplar) yang sampai saat ini (periode Februari 2002) sejumlah judul 437 judul atau 874 examplar dan juga menyimpan berbagai informasi melalui surat kabar dengan berbagai judul majalah






Pengadaan Buku
# Pembelian
No.
Tanggal Pembelian
Jumlah Judul
Jumlah Examplar
1
15 oktober 1998
24
68
2
13 Oktober 1998
79
136
3
26 Oktober 1998
125
245
4
28 April 1999
4
4
5
1 Juli 1999
38
129
6
28 Juli 1999
21
42
7
8 Pebruari 2000
44
167
8
6 Maret 2000
108
285
9
14 April 2000
1
2
10
15 Desember 2000
70
280
J u m l a h
517
1.358

# Sumbangan
No.
Tanggal Pembelian
Jumlah Judul
Jumlah Examplar
1
12 Oktober 1998
25
30
2
15 Oktober 1998
25
43
3
6 April 1999
1
4
4
5 Mei 1999
1
10
5
31 Maret 2000
2
2
6
12 Maret 2001
8
15
7
31 Mei 2001
25
25
8
20 Agustus 2001
5
21
J u m l a h
92
150

Sumber : Laporan Pengelolaan STMIK Dipanegara Periode 1998-2002 didepan rapat Senat Perguruan Tinggi Maret 2002.

  1. Dan masih banyak fasilitas pendidikan lainnya lainya yang sampai hari ini belum memenuhi standar kelayakan diantaranya Lab. Workshop dan lab Fisika yang memiliki sarana dan alat-alat penunjang yang sangat kurang sehingga menghambat kegiatan praktikum. Dan sering kali kita menerima laporan bahwa alat yang dipergunakan adalah alat yang di bawah sendiri oleh dosen praktikum/bukan inventaris STMIK Dipanegara.

  1. Apabilagi ditambah dengan banyaknya Kebijakan Akademik yang tidak melibatkan mahasiswa dalam pengambil kebijakan yang telah memperbudak mahasiswa dengan sistem-sitem yang sengaja di buat untuk memenjarakan kebebasan Mahasiswa. Karena yang sering kali kita dapatkan, apabilah kebijakan telah dikeluarkan dan pihak lembaga Kemahasiswaan melakukan protes ternyata kebijakan itu tidak mampuh berubah dengan kata lain berlaku tetap. Kondisi diatas merupakan pencitraan birokrasi kampus yang anti demokrasi.
  2. Kesejahteraan pegawai terutama Cleaning Service  yang hanya memeperoleh  gaji pokok maksimal Rp.280.000,- yang sangat bertentangan dengan UMR yang berlaku.

Kompleksitas permasalahan kampus yang kita saksikan dan rasakan bersama, menutut Lembaga Kemahasiswa dalam hal ini Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STMIK Dipanegara sebagai organisasi internal kampus dan organisasi representatif Keluarga Besar Mahasiswa setelah melakukan pertimbangan dan diskusi yang panjang, maka kami berkesimpulan untuk melakukan aksi sebagai luapan kekecewaan terhadap mutu pendidikan dan kami menganggap bahawa ada kekuatan besar yang terbangun dan merupakan biang atau akar permasalahan yang harus diruntuhkan. Namun apa yang di dapatkan, ternyata aksi yang dilakukan tidak mendapat tanggapan positif dari yayasan STMIK Dipanegara malah yang terjadi pencabutan panflet dan tekanan-tekanan mental yang dilakukan oleh orang-orang yayasan.

Untuk itu kami mengajak seluruh Civitas Akademika dan para pemerhati pendidikan untuk segera menuntut:
  1. Tolak STATUTA STMIK Dipanegara yang merupakan aturan normatif tertinggi yang menjadi dasar hukum untuk penyusunan peraturan-peraturan dan kebijakan perencanaan, penyelenggaraan dan pengembangan program kegiatan pendidikan.
Karena menurut hasil analisa kami:
-          Sesuai dengan data yang kami kumpulkan bahwa, kami menemukan beberapa distorsi (penyimpangan) yang ada dalam STATUTA 2001 (Lampiran 1)
-          Dari isi STATUTA kami menyimpulkan bahwa pola yang dipakai adalah Yayasan berada pada tatanan top, pengelolah-middle dan mahasiswa lower yang digambarkan sebagai berikut:

Yayasan

Pengelola/Dosen

Mahasiswa

Pola ini dalam banyak hal top-down dan lebih banyak menggunakan kekuasaan dan sangat menghambat tumbuhnya arus bawah dan terutama transparan yang sangat bertentangan dengan demokrasi dan kesejahteraan. Pola ini adalah bagian dari warisan orde baru yang sentralistik dan mengandalakan kekuasaan demi kestabilan.
Bias dari sistem yang terpolakan di STATUTA adalah:
a.       Yayasan yang merasa dirinya penguasa harus menjalankan apa yang dikehendakinya dan sukar/tidak mau mendengar arus bawah. Pengelolah berada ditengah dan dalam banyak hal terjepit antara tuntutan dari mahasiswa yang tidak puas akan pelayanan yang diterima dari pengelolah dan dipihak lain pengelola tidak dapat meyakinkan yayasan karena orientasi yang berbeda. Dalam kondisi seperti ini akan mengakibatkan pimpinan PTS mengundurkan diri.
b.       Kasus berikut yaitu dengan didukung oleh mahasiswa dan dosen mengambil aset-aset yayasan dan pada pikirannya menuju otoriteriasme dan vested interest (tidak mau diganti karena keenakan fasilitas tanpa akuntabilitas)
c.       Selanjutnya mahasiswa merasa paling dirugikan akan melakukan aksi terus menerus dan apabila tidak diatasi akan mengarah kepada pemogokan total atau aksi brutal yang dapat menghancurkan prasarana dan srana.
d.      Kurangya perbaikan dan pengadaan fasilitas pendidikan , telambatnya gaji dosen, minimnya gaji CLS dan tidak adanya alat keamanan bagi satpam disebabkan karena pemanfaatan dana pendidikan yang sepenuhnya dipegang oleh yayasan Dipanegara sukar diwujudkan. Karena dalam STATUTA STMIK Dipanegara segala sesuatu yang yang menyangkut tentang pendidikan dan pengadaan fasilitas tidak bisa terealisasi sekiranya yayasan selaku pemegang kekauasaan tidak menyetujuai.
  1. Pengadaan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja STMIK Dipanegara (RAPBS) yang disusun dengan mengacu kepada pasal 116 (2) PP No. 60/1999 dan Hasil Lokakarya Administrasi tanggal 05 Mei 2000.
  2. Turunkan Irsan Kasau dari jabatan Pembantu Ketua I (PK-I) STMIK Dipanegara karena :
    • selama menjabat telah banyak mengeluarkan kebijakan sepihak yang memberatkan mahasiswa dan kebijakan tersebut tampa sepengetahuan Ketua STMIK Dipanegara.
§  Sebelum menjabat Pembantu Ketua I Bapak Irsan Kasau adalah anggota Badan Pengurus Harian Yayasan Dipanegara yang telah banyak menginterpensi pelaksanaan akademik dengan menggunakan kertas kop, stempel yayasan dan bertanda tangan atas nama yayasan.
§  Sebelum masuk menjadi anggota Badan Pengurus Yayasan Dipanegara dan menjadi dosen, Bapak Irsan Kasau pernah mengabdi di tiga institusi pendidikan yaitu Atma Jaya, ASMI dan UKIP dan karena sesuatu hal beliau dikeluarkan ?.
  1. Keluarkan Sardin Damis dari STMIK Dipanegara.
§  Hanya ada satu sangsi bagi dosen yang selalu (berualang-ulang) merepresif mahasiswa yang berdemonstrasi dengan melakukan penekanan-penekanan nilai sehingga membataasi kebebasan manusia untuk selalu bersuara.
§  Penilaian yang tidak objektif terhadap mahasiswa karena hubungan emosional lebih diutamakan dari pada kapasitas intelektual mahasiswa.
  1. Melibatkan Mahasiswa dalam setiap pengambilan kebiajakan.

Permasalahan pendidikan yang dialami kampus kuning gading menuntut kepada seluruh Civitas Akademika STMIK Dipanegara yang sadar akan pentingya pendidikan  dan para pemerhati pendidikan untuk mencurahkan segala kemampuannya untuk membantu Kampus tercinta ini keluar dari permasalahan yang berkepanjangan. Bukan berarti kita hanya diam dan menjadi penonton, pengamat dan komentator yang di kemudian hari kita akan menyesal karena tidak mampu berbuat apa-apa di masyarakat.


AKU TULIS PAMPLET INI
KARENA LEMBAGA PENDAPAT UMUM
DITUTUPI JARING LABAH-LABAH
ORANG-ORANG BICARA DALAM KASAK-KUSUK,
DAN UNGKAPAN DIRI DITEKAN
MENJADI PENG-IYA-AN

APA YANG TERPEGANG HARI INI
BISA LUPUT BESOK PAGI
KETIDAK PASTIAN MERAJALELA
DI LUAR KEKUASAAN KEHIDUPAN MENJADI TEKA-TEKI,
MENJADI MARABAHAYA,
MENJADI ISI KEBON BINATANG

APABILA KRITIK HANYA BOLEH LEWAT SALURAN RESMI
MAKA HIDUP AKAN MENJADI SAYUR TANPA GARAM
LEMBAGA PENDAPAT UMUM TIDAK MENGANDUNG PERTANYAAN
TIDAK MENGANDUNG PERDEBATAN
DAN AKHIRNYA MENJADI MONOPOLI KEKUASAAN

AKU TULIS PAMPLET INI
KARENA PAMPLET BUKAN TABU BAGI PENYAIR
AKU INGINKAN MERPATI POS
AKU INGIN MEMAINKAN BENDERA-BENDERA SEMAPHORE DI TANGANKU
AKU INGIN MEMBUAT ISYARAT ASAP KAUM INDIAN
AKU TIDAK MELIHAT ALASAN

KENAPA HARUS DIAM TERTEKAN DAN TERMANGU
AKU INGIN SECARA WAJAR KITA BERTUKAR KABAR
DUDUK BERDEBAT MENYATAKAN SETUJU ATAU TIDAK SETUJU

KENAPA KETAKUTAN MENJADI TABIR PIKIRAN ?
KEKHAWATIRAN TELAH MENCEMARKAN KEHIDUPAN
KETEGANGAN TELAH MENGGANTI PERGAULAN PIKIRAN YANG MERDEKA

MATAHARI MENYINARI AIRMATA YANG BERDERAI MENJADI API
REMBULAN MEMBERI MIMPI PADA DENDAM
GELOMBANG ANGIN MENYINGKAPKAN KELUH KESAH
YANG TERONGGOK BAGAI SAMPAH
KEGAMANGAN
KECURIGAAN
KETAKUTAN
KELESUAN

AKU TULIS PAMPLET INI
KARENA KAWAN DAN LAWAN ADALAH SAUDARA
DI DALAM ALAM MASIH ADA CAHAYA
MATAHARI YANG TENGGELAM DIGANTI REMBULAN
LALU BESOK PAGI PASTI TERBIT KEMBALI
DAN DI DALAM AIR LUMPUR KEHIDUPAN
AKU MELIHAT BAGAI TERKACA :
TERNYATA KITA, TOH, MANUSIA !


BANGKIT MELAWAN ATAU TERTINDAS

SALAM REVOLUSIONER . . . ! ! !                                                     

Makassar, 2 Juli 2003

BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA (BEM)
STMIK DIPANEGARA