Saturday, May 4, 2013

Sarjana Botol Mension

print this page 
By: Ed Zaqeus

Saya tak tahu, apa jadinya republik ini jika semua orang tua berprinsip seperti ayah saya. Inilah yang dikatakannya kepada saya sewaktu saya baru memasuki bangku SMP. "Demi pendidikan kamu Edy, ayah bersedia menjadikan kepala ini jadi kaki dan kaki jadi kepala!" Saya betul-betul ngeri ketika ayah saya meramu minuman keras dan menjualnya demi menjadikan saya seorang sarjana!
Saya ingin perkenalkan kepada anda seorang enterpreneur sejati yang paling menakjubkan dalam hidup saya. Dia bukan raja penjual semacam Joe Girard, James R. Fisher, Ron Holland, Frank Bettger atau jagoan-jagoan investasi semacam George Soros, Donald Trump, atau Robert T. Kiyosaki. Dia adalah Soekardji, seorang ayah yang kini menapaki usia di atas 60-an tahun di Madiun, sebuah kota kecil di Jawa Timur. Saya menyukainya karena ide-idenya yang kontroversial tetapi sungguh-sungguh memukau jika dijalankan. Hanya karena hormat saya kepadanya saja maka saya tidak menyebut ide-idenya itu gila-gilaan.
Ketika saya belajar di bangku SMP, ayah saya mengalami kegalauan. Ia melihat prestasi saya tidak buruk-buruk amat. Ia menginginkan nantinya saya bisa melanjutkan sekolah sampai ke tingkat sarjana. Namun persoalan peliknya, ayah tidak punya tabungan dan penghasilan tetap. Sebagai pemborong kecil-kecilan (entah kenapa ia lebih suka disebut tukang batu atau tukang bangunan) penghasilannya kadang tidak menentu. Susahnya proyek ayah lagi sepi-sepinya saat itu. Sepi proyek berarti penyakit kanker (kantong kering) kronis melanda. Saya ingat waktu ayah cerita bahwa pada saat-saat seperti itu dirinya benar-benar membutuhkan ide untuk melakukan "lompatan".
Ayah saya suka bermeditasi di malam hari saat menghadapi persoalan-persoalan rumit tertentu. Dengan mengosongkan pikiran dan konsentrasi, katanya, ia bisa memperoleh "wangsit" untuk menyelesaikan masalah. Saya tak tahu apakah yang dia maksud "wangsit" itu semacam gagasan-gagasan alam bawah sadar yang biasanya muncul pada kondisi pikiran sadar sedang tidak diaktifkan. Saat itu ayah berpuasa tiga hari lamanya dan selalu bermeditasi tiap malamnya.
Pada hari ketiga ... Eureka! Meditasi ayah berhasil! Ayah tersenyum waktu keluar kamar, tetapi segera mengerenyitkan dahi ...
"Saya dapat wangsit ... tapi wujud gambarnya kok botol Mension, ya…?" ungkapnya keheranan.
Tiga hari berikutnya ayah mengisi hari-harinya dengan berkeliling ke berbagai sudut kota, termasuk di perkampungan kami sendiri. Saya sendiri tinggal di rumah nenek, sekitar 1,5 kilometer dari tempat tinggal ayah dan ibu saya yang terletak di belakang pasar. Setiap hari orang-orang dengan aneka dagangannya berlalu-lalang di jalan depan rumah ayah. Sedikit keluar gang ada jalan kecil yang menghubungkan jalan besar dengan pasar besar. Di situlah berjajar para pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai barang baru maupun bekas. Apapun jenis barang yang orang cari, ada di situ. Dan ayah menemukan di situ puluhan botol Mension (sebuah merek minuman beralkohol yang populer di Madiun) dan merek-merek lainnya, lengkap dengan tutupnya yang dijual hanya seharga Rp.50.
Ayah mengunjungi teman-temannya dan diajak ke beberapa rumah atau warung yang menjual minuman keras, dengan atau tanpa merek. Ayah mempelajari warna, aroma, harganya, serta kemasan botol minuman yang mereka perjual belikan dengan izin. Bahkan ayah mempelajari dengan detail siapa-siapa tamu di warung-warung itu. Ia juga merekam perilaku dan kebiasaan mereka. Ayah --yang menurut saya jago 'ngomong' di kampung-begitu cerdiknya menyerap semua informasi dari penjual maupun tamu-tamu di sana.
Saya tak tahu apakah ia sadar atau tidak, sesungguhnya yang ia lakukan saat itu dalam bahasa kerennya disebut 'riset pasar'. Ia pulang dengan kesimpulan-kesimpulan brillian, dan tentu saja…. ide gila!
Kami sekeluarga jadi ketar-ketir ketika ayah memutuskan untuk berjualan minuman keras. Berdasarkan hasil pengamatannya, orang selalu mencari minuman keras yang enak tapi harganya terjangkau. Itu jika dikaitkan dengan kondisi sosial ekonomi sekitar. Merek-merek seperti Mension House, Drum, Vodka, Whisky, memang disukai, tapi pembelinya hanya kalangan tertentu saja.
"Saya ingin ciptakan minuman yang enak, ada gengsinya, tapi murah harganya," kata ayah optimis.
Ayah saya terkenal keras kepala. Maka, bila ayah sudah berkehendak, siapa berani menolak?
Segera setelah berbulat tekad ayah menghubungi familinya di Solo Jawa Tengah yang sehari-hari memproduksi "ciu". Ia memastikan bisa dikirimi ciu setiap bulannya dalam jumlah tertentu. Ciu adalah bahan cair yang bisa diproses menjadi alkohol dan sangat dibutuhkan perusahaan-perusahaan penghasil bumbu masak. Di Solo Ada koperasi-koperasi yang khusus menampung hasil industri rumah tangga tersebut. Tapi ciu yang dibuat dari sari tetes tebu itu sering juga dijadikan sebagai campuran minuman keras tradisional.
Dengan bekal resep tradisional dan sedikit pengetahuan laborat sewaktu bekerja di pabrik rokok, ayah menciptakan formula yang unik. Ciu yang murah diramu dengan bahan rempah-rempah khusus. Agak rumit prosesnya, dan ayah tidak pernah membuka 100% "rahasia" ramuannya itu kepada siapapun.
"Rahasia dagang....!" katanya tersenyum sambil memelintir kumisnya yang tebal.
Hasilnya, menakjubkan. Ayah bisa menghasilkan minuman yang warnanya kecoklatan (mirip Mension) atau yang jernih sekali (mirip Vodka). Aromanya khas minuman keras, tapi lebih halus dan 'menyegarkan'. Hebatnya, dibanding minuman-minuman keras lain, aroma ramuan ayah saya tidak lama membekas di nafas peminumnya. Kebanyakan minuman keras tradisional saat itu dijual dalam botol-botol besar ukuran 0,1-1 liter. Sebaliknya ayah mengemas 'temuan barunya' itu ke botol-botol bekas bermerek ukuran saku (isi 300 ml), kebanyakan merek Mension. Kemasan dibagi menjadi dua; yaitu botol bertanda satu strip merah (sedang) dan dua strip merah (keras). Sadar atau tidak, di sini ada semangat duplikasi dan inovasi produk.
Semula ayah menjualnya hanya di rumah dan tanpa izin. Ini trik dagang ayah saya. Pembeli datang, barang dibayar, dibungkus, lalu mereka pulang. Tak seorangpun bisa minum sambil ngobrol di rumah kami seperti yang terjadi di warung-warung atau rumah penjual minuman lainnya. Alasannya sepele, kata ayah:
"Kalau mereka dibiarkan minum di sini, rumah bisa ribut, kotor, dan bikin curiga. Itu sama saja ngundang polisi," katanya.
Seperti diduga ayah, dagangannya cukup laku dan terus terjadi repeat order. Dengan cepat popularitas 'strip satu' dan 'strip dua' --keduanya dijual @ Rp.900-- beredar dari mulut-ke-mulut. Produk yang bagus -menurut dalil-dalil marketing-akan bicara sendiri. Setiap mereka yang repeat order selalu memuji karena kualitas produknya terjaga. Yang semula beli satu atau dua botol, kini mereka mengajak lebih banyak teman, hanya demi menembus kuota. Maklum, ayah hanya mau menjual maksimal dua botol kepada setiap orang yang datang membeli. Dan ia menerapkan dua rule ; beli maksimal dua botol dan langsung bawa pulang itu tadi dengan begitu ketat. Sekalipun begitu, konsumen tetap memburu barang bagus!
Karena laris maka keuangan keluarga kami sedikit terbantu. Seminggu sekali ayah berkunjung ke rumah nenek dan memberikan uang sekolah serta semua keperluan lainnya. Ia tetap menekankan supaya saya dan kakak perempuan saya tinggal di situ dengan alsan bisa lebih konsentrasi belajar. Saya senang karena semua keperluan sekolah bisa tercukupi. Hanya saja, sesungguhnya waktu itu saya sangat kuatir dengan keberlangsungan sekolah kami. Baru ketika saya memasuki bangku SMA (sekarang SMU) saya berani mengemukakan kekuatiran-kekuatiran saya mengenai usaha ayah.
"Bagaimana kalau nanti ayah ditangkap polisi? Bagaimana kalau nanti ayah dipenjara? Bagaimana kalau jualan itu mengundang 'mafia' seperti di film-film? Bagaimana dengan kelanjutan sekolah saya? Kalau ayah dipenjara, kami makan apa?"
Itu hanya sekelumit saja dari seribu lebih kekuatiran di benak saya. Tapi ayah melarang saya berpikir macam-macam seperti itu. Sekalipun pikiran-pikiran negatif itu ada, ia tegas melarang saya memikirkannya.
"Tugas ayah mencari uang. Tugas kamu sekolah yang benar! Pada saatnya nanti kita akan berdebat panjang lebar tentang semua yang ayah lakukan. Tetapi sekarang beri kesempatan ayah mencarikan biaya sekolah kamu dulu." katanya tegas. (Bersambung)
* Ed Zaqeus adalah nama populer Sutopo S. Edy di dunia maya. Sehari-harinya ia berprofesi sebagai freelance penulis profesional. Ia dapat dihubungi melalui alamat email: edzaqeus@yahoo.com
source : [ kolom bersama ] pembelajar.com