Saturday, May 4, 2013

Kurikulum Berbasis Kecerdasan SPIRITUAL

print this page 
Oleh: Waidi

Dekade terakhir ini merupakan puncak pergeseran paradigma pendidikan, yaitu bergesernya “ideologi pragmatis” ke “ideologi holistik”. Ini ditandai dengan pergeseraran pendekatan kurikulum dari kecerdasan intelektual (intelectual quotient, IQ) menuju kecerdasan spiritual (spiritual quotient, SQ) dan kecerdasan emosional/sosial (emotional quotient, EQ).
Beberapa karya fenomenal di bidang pendidikan yang menandai pergeseran tersebut diantaranya adalah terbitnya buku-buku: “Kecerdasan Emosional” (Daniel Goleman, 1996); “Kecerdasan Spiritual” (Donah Zohar dan Ian Marshal, 2000); “Quantum Learning” dan “Quantum Teaching” (Bobbi De Portter dan kawan-kawan, 1999) dan “Learning Revolution” (Gordon Dryden dan Jeanette Vos, 1999).
Buku-buku tersebut telah menyadarkan kita bahwa kurikulum pembelajaran (delivering curriculum), tidak cukup hanya dengan satu pendekantan saja yakni IQ misalnya. Dua pendekatan lainnya yakni SQ dan EQ memegang peranan sangat penting dalam pembelajaran. Tulisan ini ingin mencoba mengungkap bahwa kurikulum pembelajaran berbasis SQ merupakan “pintu pembuka” dua kecerdasan lainnya.

Tiga Lingkaran spiral kecerdasan

Dalam buku “Kecerdasan Spiritual”, disebutkan bahwa dalam diri manusia terdapat tiga lingkaran spiral kecerdasan: SQ, EQ, dan IQ. Lingkaran pertama (poros) adalah lingkaran SQ; disusul lingkaran kedua: linkaran EQ; dan lingkaran ketiga adalah lingkaran IQ. Dalam teori psikologinya Freud itu semua dilukiskan sebagai: id, super ego, dan ego.
Tiga kecerdasan tersebut memiliki tugas dan fungsi yang berbeda-beda. Dimulai dari lingkaran ketiga, tugas IQ adalah untuk berfikir logis, rasional: jika saya melakukan ini maka akibatnya itu.
Sifat dasar dari otak IQ adalah ia bekerja sesui dengan aturan yang belaku, bekerja sesuai dengan “program” yang sudah ditentukan (finite game): ketika saya mengoperasikan komputer saya selalu bekerja dengan program/menu komputer, tidak lebih dan tidak boleh kurang. Kalau tidak sesuai program/menu pasti hasilnya salah. Otak IQ selalu berfikir, mekanis,apa saja yang sudah diketahui tanpa sentuhan emosinal. Dalam bahasa yang sakartis, otak IQ bersifat “robotik”.
Tugas-tugas yang bersifat emosinal, diserahkan kepada otak EQ. Tugas-tugas tersebut diantaranya adalah, kemampuan menglola emosi, menganali diri dan orang lain (empati), percaya diri, sabar, dan rasa ingin tahu (curiouscity).
Kalau otak IQ cara berpikirnya adalah rasional, dan terprogram, otak EQ berpikir asosiatif dan imajinatif. Otak ini sering berangan-angan terhadap sesuatu objek tertentu. Dan otak inilah merupakan sumber lahirnya motif-motif tertentu dalam tindakan seseorang: disebut juga otak motivasional. Sorang siswa yang cerdas emosinya, ia akan pandai dalam memotvasi diri agar cita-citanya tercapai.
Lain lagi dengan otak SQ. Otak ini berada pada pusat diri seseorang yang disebut “nurani”, atau jiwa. Bedanya dengan otak EQ, otak EQ tidak saja bisa bertidak positif (memotivasi diri, sabar, tekun dan sebagainya) namun bisa juga berntindak negatif (marah, beringas, dan bohong). Sedangkan otak SQ selalu netral dan tidak pernah bohong dan selalu benar. Seorang yang cerdas spiritualnya, ia akan selalu menuruti panggilan jiwanya untuk hal-hal yang positif. Puncak dari kecerdasan spiritual adalah jiwa besar.
Otak SQ yang berada di pusat spiral tiga kecerdasan tersebut, ia merupakan penggerak sekaligus pemersatu (unitif) dari dua kecerdasan lainnya. Kekuatan pusat spiral tersebut, merupakan penentu dua kecerdasan lainnya. Siswa yang berjiwa besar (cerdas SQ-nya) , tidak saja akan berani karena benar, jujur dan sportif, tetapi juga mau belajar keras (cerdas EQ-nya) untuk mencapai panggilan jiwanya (cita-cita). Ini berarti ia tidak takut sama sekali dengan kesulitan-kesulitan belajar yang pada gilirannya akan memiliki kemampuan akademik (intelektual) yang bagus.

Implikasi

Karena SQ merupakan penggerak keberhasilan siswa kurikulum pembelajaran hendaknya dimulai dari SQ yang berada di pusat spiral kecerdasan siswa menuju ke kecerdasan intelekual (inside out). Atau dalam bahasanya Covey, dalam bukunya “The Seven Highly Efective People” , dari kemenangan pribadi menuju kemenangan publik.
Sayangnya, disadari atau tidak, kurikulum pembelajaran kita selama ini masih berputar-putar pada lingkaran IQ. Kurikulum kita –kurikulum berbasis komptensi sekalipun—masih bersifat academic oriented. Jam pelajaran di kelas- dan bahkan di rumah—dihabiskan hanya untuk mengejar prestasi akademik khusunya NEM. Siswa terus dijejali tugas-tugas rutin akademik demi target kurikulum terpenuhi. Tugas guru pun disulap, dari tugas pembelajaran (motivasional) ke tugas pengajaran, dari tugas transformasional ke tugas transaksional.
Kurikulum pembelajaran yang demikian, menurut Mochtar Buchori (2000), telah memperkosa hak azasi siswa karena mereka tidak pernah tahu dan disadarkan oleh gurunya siapa diri siswa itu. Dengan logikanya yang keras (salah- benar) itu, siswa menjadi terasing dengan dirinya sendiri (Gede Prama, 2001). Unsur-unsur motivasional, dan pengembangan sikap mental positif agar siswa memiliki jiwa yang tangguh kurang tersentuh dalam kurikulum berbasis IQ.
Desain kurikulum, oleh karenanya, hendaknya mampu merubah budaya pengajaran ke budaya pembelajaran. Hal ini bisa terwujud ketika desain kurikulum mendasarkan diri pada SQ. Kurikulum berbasis SQ adalah kurikulum pembelajaran yang memungkinkan siswa terbentuk sikap mental positifnya sehingga memiliki kebesaran jiwa dalam mengatasi kesulitan hidup. Meminjanm istilahnya, Prof. Dr. S. Hamid Hasan, Kompas 2 Januari 2001, kurikulum SQ adalah kurikulum yang mengembangkan karakter siswa.
Jiwa adalah potensi diri siswa yang paling eksistensial. Ia, menurut, Gede Prama, adalah “wajah” asli siswa. Artinya, perliku siswa berupa prestasi-prestasi akademik, dan prestasi hidup nantinya, ditentukan oleh seberapa besar jiwa siswa. Jiwa adalah potensi tak terhingga harganya. Dan kurikulum hendaknya berawal dan diperuntukan untuk pembetukan jiwa: jiwa merdeka, jiwa berani, jiwa jujur, jiwa prestasi akademik, jiwa prestasi hidup dan lain-lain.
Baik dalam “Quantum Learning”, “Quantum Teaching” hingga “Learning Revolution”, kurikulumnya berbasis SQ yakni bagaimana agar siswa memiliki jiwa pembelajar yang kuat. Pengembangan kepribadian, oleh karenanya, dijadikan titik pasat spiral kecerdasan siswa, menuju kecerdasan lainnya.
Dalam “Quantum Learning” misalnya, siswa dihadapkan pada tiga tantangan: tantangan fisik, tantangan keterampilan hidup, dan tantangan akademik. Tujuan utama dari tiga tantangan tersebut adalah mendidik siswa memiliki kematangan jiwa, emosi, semangat belajar, ketangguhan mental dan fifik dalam rangka meraih keterampilan hidup dan prestasi akademik.
Prinsip pembelajaran dalam kurikulum berbasis SQ adalah “belajar yang menyenangkan”. Musik mozart, memang dijadikan piranti kurikulumnya. Namun lebih dari itu, kurikulum SQ sesungguh adalah kurikulum yang menyenangkan. Sentuhan-sentuhan motivasional yang menggetarkan jiwa, memanggil jiwa, secara inheren sudah ada di SQ. Belajar menyenangkan akan terjadi ketika, jiwa siswa terpanggil melalui sentuhan motivasional guru.
Sesulit apapun pelajaran itu, dan sesulit apapun tantangan hidup yang akan dihadapi siswa, ketika jiwanya terpanggil untuk itu, ia dengan senang hapi menhadapinya. Bukan malah ditinggalkannya. Kumpulan dari “cara mengatasi kesulitan” itulah yang disebut “keterampilan hidup”.
Ibarat kurikulum adalah rumah, maka kurikulum SQ merupakan pintu masuk. Rumah itu bisa digunakan jika pintunya dibuka. Begitupun dengan kita, kecerdasan lainnya bisa dibuka apabila SQ-nya dibuka. Bukan malah ditutupi sperti kurikulum kita saat ini.
* Waidi, alumni UT, dan MBA Education Leicester University UK, bekerja di UNSOED, Purwokerto. Dapat dihubungi di waidius@yahoo.com.
source : [kolom bersama] pembelajar.com