Friday, May 3, 2013

THE LEARNING REVOLUTION : AJAKAN MEMPERBAIKI KEADAAN "SEKOLAH" LEWAT TINDAKAN

print this page Print

Pengantar:
Ada yang menarik berkaitan dengan buku The Learning Revolution karya Dryden dan Vos. Buku ini telah dua kali didiskusikan (lebih tepat: dibedah). Diskusi pertama berlangsung di Solo dan hasilnya dilaporkan oleh situs Detikcom. Diskusi ini berlangsung pada Sabtu, 9 Desember 2000. Menurut hasil diskusi tersebut, sebagaimana dilaporkan Detikcom, "The Learning Revolution: Model Pendidikan yang Mustahil Dijalankan".
Diskusi kedua berlangsung di Yogyakarta pada 10 Februari 2001. Sebagaimana dilaporkan oleh situs Mizan.com, yang laporannya ditulis sebelum diskusi berlangsung, diskusi tersebut menghadirkan pembicara Dr. Komaruddin Hidayat, Khoiruddin Bashori, dan saya sendiri.
Di rubrik "Plong" kali ini saya akan tampilkan apresiasi saya terhadap buku The Learning Revolution yang telah mengubah kehidupan saya---terutama berkaitan dengan ajakan buku tersebut untuk (mengutip slogan perusahaan terkenal Nike) "just do it!".


THE LEARNING REVOLUTION: AJAKAN MEMPERBAIKI KEADAAN "SEKOLAH" LEWAT TINDAKAN
Just Do It!
Anda belajar berbicara dengan berbicara
Anda belajar berjalan dengan berjalan
Anda belajar bermain golf dengan bermain golf
Anda belajar mengetik dengan mengetik
Anda belajar paling baik dengan
mempraktikkannya!
The Learning Revolution, h. 162
Beberapa tahun lalu, saya termasuk orang yang tidak percaya bahwa teks mampu memotivasi seseorang untuk melakukan satu perbuatan baik. Teks biasanya hanya memberikan pemahaman saja kepada seseorang yang membaca teks itu. Dan banyak orang yang merasa puas, atau lalu berhenti tidak melakukan apa-apa, setelah mampu memahami sesuatu. Kayaknya ada sebongkah batu besar yang menindih orang itu begitu pemahaman yang telah diperolehnya ingin ditindaki.
Dave Meier, dalam Accelerated Learning Handbook (edisi Indonesianya akan diterbitkan Kaifa), memecahkan sebagian teka-teki saya di atas. Katanya, teks memang dapat menimbulkan "penyakit". Dalam bahasa saya, "penyakit" itu sama dengan menjalarnya rasa malas yang hebat begitu kita selesai membaca (memahami gagasan yang ada di) buku. Abstraksi verbal, yang menjadi ciri buku, menggantikan pengalaman konkret. Pengalaman konkretlah yang akan membuat seseorang mampu bergerak, mampu menciptakan sesuatu (kreatif).


Sebelum saya membaca karya Meier, persepsi saya tentang buku memang telah diubah oleh The Learning Revolution karya Dryden dan Vos. Dan, rupanya, proses pengubahan tersebut tidak berlangsung secara revolusioner. Sebelum membaca The Learning Revolution, saya telah membaca lebih dahulu Quantum Learning dan Quantum Teaching garapan Bobbi DePorter dan kawan-kawannya. Kebetulan, saat saya membaca dua karya Bobbi, saya waktu itu sedang belajar menjadi guru.
Tulisan berikut akan menunjukkan beberapa hal yang saya peroleh dari pembacaan teks yang disajikan oleh buku-buku yang saya sebut di atas.
Paradigma-Baru Membaca Buku
Quantum Learning (QL), Quantum Teaching (QT), dan The Learning Revolution (LR) adalah buku-buku yang masuk kategori buku "how to" (bagaimana melakukan sesuatu) atau buku DIY (do it yourself). Hanya bedanya dengan buku-buku "how to" yang lain, buku-buku tersebut dikemas dengan mengikuti rumusan produk zaman sekarang: simpel, efektif, dan "fun" (menyenangkan).
Buku QL, QT, dan LR terasa simpel terutama berkaitan dengan bahasa yang digunakannya. Istilah pendidikan yang terasa berat bagi telinga saya saat ini diubahnya menjadi learning---sebuah istilah yang menunjukkan kegiatan belajar yang mengasyikkan untuk dijalani.
Buku QL, QT, dan LR terasa efektif dalam mengupas setiap persoalan penting yang berkaitan dengan masalah learning pada era yang penuh perubahan seperti saat ini. Mengikuti teori-pertama efektivitasnya Stephen Covey, ketiga buku itu menerapkan benar strategi "the inside out" (dari dalam ke luar). Secara radikal dan enak, QL, QT, dan LR mengajak para pembacanya masuk ke dalam diri, memahami kehebatan potensi diri, dan ke luar dengan kepercayaan diri yang tinggi bahwa "the brain is like a sleeping giant".
Yang terakhir, "fun" karena seluruh konsep learning dikembalikan dan diletakkan ke masa balita kita dan ke dunia olahraga. Tidak ada masa kanak-kanak yang tidak menyenangkan dan membahagiakan. Tidak ada pula sebuah dunia yang di dalamnya unsur-unsur vital pembelajaran---seperti kesungguhan, ketekunan, kejujuran, kegigihan, dsb.---begitu tampil prima dan real selain di dunia olahraga. Hanya di dunia olahragalah sebuah kegagalan itu dapat menjadi umpan-balik positif dan dapat diterima secara menyenangkan serta mampu memotivasi ke arah pencapaian yang lebih baik di kemudian hari.
Ketiga unsur---simpel, efektif, dan "fun"---itu kemudian diintegrasikan dalam wujud sebuah buku yang terasa ringan dikunyah sebab halaman genap dan ganjil ditampilkan berbeda (di QL dan LR), sementara di QT dipenuhi dengan ikon yang membuat otak kiri dan kanan bekerja secara sinergis.
Hanya Ada Satu Perintah: Do It!
Buku LR mensugesti kita untuk tampil secara luar biasa. Coba perhatikan secara saksama halaman 6 di buku Bagian I: Keajaiban Pikiran. Buku setebal hampir 600 halaman ini dapat dibaca dalam tempo 15 hingga 30 menit. Pengarangnya, secara rinci, memberikan petunjuk bagaimana memanfaatkan buku ini dalam waktu amat singkat. Dan sebagian besar halaman poster yang ditampilkan di halaman genap, selain memotivasi, juga mengajak kita berubah dengan melakukan sesuatu.
Lalu di halaman 8, masih di Bagian I, buku ini menantang kita yang ragu akan kemanjuran model-model pembelajaran atau metode-metode praktis yang ditawarkan LR. Bisakah metode di dalam buku LR dipraktikkan? Buku ini menjawab, "Kami secara hati-hati hanya memasukkan di dalam buku ini hasil-hasil yang telah terbukti." Lalu tampillah sederetan keberhasilan pembelajaran di beberapa wilayah di seluruh penjuru dunia yang disajikan secara menarik oleh LR.
Terakhir, sebelum mengajak para pembaca untuk melakukan sesuatu dalam memperbaiki keadaan pendidikan, buku ini menyajikan gambaran-menyeluruh (the big picture) terlebih dahulu mengenai perubahan-perubahan yang sedang terjadi di dunia. Lewat judul bab "Revolusi Terbaru dalam Sejarah: Kekuatan yang akan Mengubah Hidup Anda" (halaman 19-35), para pembaca diberi ringkasan mencerahkan yang dapat digunakan sebagai bekal memasuki secara detail kelimabelas bab berikutnya. Sekali lagi, kunci untuk mengubah keadaan terdapat di halaman 26: Untuk mempelajari sesuatu, praktikkanlah!
Jangan Sampai Kita Mati Digilas oleh Perubahan
Saat saya sedang menyelesaikan tulisan ini, saya memperoleh sesuatu yang menarik dari koran Kompas, edisi Sabtu, 3 Februari 2001, di halaman 9. Judul berita itu adalah "Guru Harus Terus Mendapat Pelatihan". Rupanya Kompas mewawancara Prof. Suyanto, MEd., Ph.D lewat telepon mengenai kemampuan profesional guru.
"Dalam era globalisasi seperti sekarang," ujar Prof. Suyanto, "semua ilmu pengetahuan itu cepat usang. Apalagi kalau guru tidak bisa di-training dan tidak bisa memperoleh akses informasi yang baru. Jika itu terjadi, otomatis ia akan ketinggalan.
" Buku LR, secara tidak langsung, menunjukkan kecepatusangan ilmu pengetahuan. Tidak hanya ilmu pengetahuan yang terus berubah, juga hasil-hasil yang diproduksi oleh ilmu pengetahuan pun terus menyajikan yang fresh dan baru. "Di masa depan Anda mungkin dapat mengenakan di pergelangan tangan, apa yang kini di atas meja, apa yang dulu memenuhi ruangan," tulis "Bapak Multimedia", Nicholas Negroponte (h. 42).
"Kini sedang tumbuh sebuah generasi baru yang akan mengubah dunia menjadi berbeda sama sekali dengan sebelumnya," tulis Don Tapscott dalam Growing Up Digital (h. 82---buku karya Tapscott ini akan diterbitkan Mizan bersamaan penerbitan HighTech, HighTouch-nya John Naisbitt). Dan, "Para guru menjadi manajer pembelajaran di pusat-pusat pembelajaran dengan menempatkan siswa menjadi klien, sama seperti klien pengacara atau profesi lain," tulis David Kerr dalam Education is Change (h. 86).***