Friday, May 3, 2013

Enlightening Technology

print this page Print


Di hampir setiap wacana yang telah mendunia, dan di hampir setiap pembicaraan tentang kecenderungan, tidak ada satupun pembicaraan yang bebas dari faktor teknologi informasi ( TI). Pengaruh teknologi jenis terakhir tidak hanya dahsyat di tingkat wacana, ia juga dahsyat di tataran realita. Sebagai bukti pendukung, coba cermati teknologi internet yang menyatukan dunia hanya ke dalam sebuah desa global. Perhatikan juga hiruk pikuk bisnis dotcom yang datang dan hilang dalam waktu yang demikian singkat. Pagi hari diberitakan sebagai pahlawan bisnis dengan keuntungan jutaan dolar, besok sorenya diberitakan potensial bangkrut. Ini hanya mungkin terjadi di dunia dotcom. Di dunia belajar, TI sudah menjungkirbalikkan sejarah. Dari dulu kita dibiasakan pada pola anak mudalah yang mesti belajar dari orang tua. Namun dalam dunia TI, sudah menjadi pemandangan di mana-mana, orang tualah yang harus belajar dari anak-anak muda.
Agak berbeda dengan banyak orang yang menempatkan teknologi terakhir hanya pada fungsi pendukung, saya kira TI memiliki fungsi jauh lebih penting dari sekadar fungsi pendukung. Fungsi supporting memang merupakan fungsi TI yang paling tradisional. Kemudian, karena perkembangan dalam dirinya, sekaligus perkembangan dinamika di luar dirinya hadirlah fungsi automating, di mana ia membuat sejumlah cara kerja dan cara hidup menjadi lebih otomatis. ATM, telephone banking, hanyalah sebagian dari fungsi-fungis automating tadi.

Tidak berhenti di sini, ia juga berkembang ke dalam fungsi informating. Membuat informasi berjalan cepat dan akurat. Bahkan bisa menyatukan dunia ke dalam sebuah sistim informasi yang life. Apa yang terjadi detik ini juga bisa diketahui dari belahan dunia yang lain. Kinerja jaringan berita CNN yang mengagumkan dan on line office hanyalah sekadar contoh.
Lebih dari sekadar membantu penyebaran informasi, belakangan teknologi ini juga ikut memformat ulang cara kita hidup dan bekerja (reformatting). Lihat saja cara kerja kita yang berobah total gara-gara kehadiran TI. Bermodalkan telepon seluler, sebuah komputer jinjing, serta PDA (personal digital assistant) yang semuanya serba kecil dan ringan, saya bisa mengelola perusahaan dengan dua ribu karyawan di Jawa Tengah dan sebuah perusahaan konsultan di Jakarta, dari sebuah desa terpencil di Bali Utara sana.
Kendati fungsinya sudah demikian banyak, toh TI masih berlari. Ia juga hadir sebagai inspiration technology -- demikian Compaq menyebutnya. Dan tidak keliru, karena teknologi jenis terakhir ini memang telah menjadi sumber inspirasi yang amat mengagumkan. Ia hadir dengan kemungkinan-kemungkinan yang tidak terbatas. Mirip dengan pesan seorang rekan warga negara Amerika yang pernah berpesan ke saya : 'The difference between the impossible and the possible lies in our imagination, which is the beginning of our success or failure'. Dengan demikian, kemampuan kita berimajinasi - sebagai awal dari keberhasilan atau kegagalan - ditentukan sebagian oleh kemampuan kita menguasai TI.
Banyak hal tidak mungkin jadi mungkin gara-gara TI. Sekadar contoh sederhana, di desa saya yang terpencil sana belum ada fasilitas telepon dari Telkom, tetapi telepon seluler digunakan banyak orang di sana. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, kalau desa kecil ini bisa melompat dalam teknologi komunikasi. Tanpa melalui telepon biasa, sudah melompat menuju telepon seluler.
Dengan modal imajinasi, tidak tertutup kemungkinan TI bisa menjadi enlightening technology. Teknologi yang mencerahkan hidup banyak orang. Tidak hanya bisnis esek-esek dan selingkuh yang diuntungkan oleh teknologi ini, kehidupan pencerahan juga diuntungkan. Bayangkan, kalau Anda bisa bekerja dari mana saja - bahkan dari puncak gunung yang sepi sekalipun - bukankah kemudian Anda dan saya bisa melaksanakan kegiatan meditasi tanpa mengurangi waktu kerja ? Lebih dari sekadar bisa bermeditasi sambil bekerja, tumpukan-tumpukan informasi bisa jauh dikurangi dari kepala. Saya menyimpannya di personal digital assistant atau note book. Dalam beban kepala yang demikian berkurang - paling tidak beban menyimpan informasi - bukankah keheningan dan kejernihan mudah sekali berkunjung ? Apa lagi dengan hadirnya mobile internet, saya bisa mengakses dan berguru pencerahan dari guru-guru tingkat dunia sambil menunggu pesawat di bandar udara. Belum lagi teknologi yang berwujud multi media. Telepon seluler dilengkapi PDA, musik, mesin fax, kamera dan masih banyak lagi yang lain. Ia tidak hanya mempermudah kehidupan, tetapi juga mencerahkan.
Di suatu sore yang melelahkan, di pinggiran jalan Sudirman Jakarta ada tiga pengemis yang mengadu nasib dengan cara yang berbeda. Pengemis pertama yang hanya menerima rezeki sepuluh ribu rupiah hari itu mengeluh ke rekannya yang lain. Sebab rekannya yang kedua bisa menghasilkan seratus ribu hari itu. Setelah dicermati, eh rupanya gelas yang digunakan sebagai tempat uang pengemis kedua diberi tulisan 'lapar.com'.
Pengemis ketiga lebih hebat lagi, ia bisa menghasilkan satu juta hari itu. Dan ketika ditanya apa yang dia ditulis di gelas tempat uangnya. Ia menjawab yakin : 'e-lapar'. Masih ada plusnya, pengemis ketiga ini didatangi seorang manajer dari perusahaan terkemuka mengajak untuk segera IPO. Barangkali Anda bisa memberi tahu, termasuk fungsi TI yang manakah lelucon terakhir ?
Gede Prama adalah seorang pembicara publik, presiden Dynamics Consulting, CEO sebuah perusahaan swasta serta beralamat di www.gedepramaideas.co