Friday, May 3, 2013

Kurve Belajar Terbalik

print this page Print
Oleh: Gede Prama

Sebagai konsultan manajemen, tidak terlalu sering saya memiliki kesempatan untuk memasuki organisasi dengan kinerja tinggi. Namun sebagai pembicara publik, kesempatan untuk itu justru datang bertubi-tubi. Tidak jarang terjadi, saya dibuat terheran-heran dengan kinerja perusahaan yang mengundang saya sebagai pembicara publik. Tupperware Indonesia memiliki karyawan yang tidak sampai seratus orang, namun kinerja penjualannya mengalahkan omset banyak perusahaan yang memiliki karyawan ribuan orang. Demikian juga ketika diundang Citibank. Siapa yang tidak kagum dengan Citibank. Ketika industri perbankan runtuh, ia melaju. Orang-orang terbaiknya dibajak dari dulu hingga sekarang, tetapi tetap saja organisasinya demikian bersahabat dengan kemajuan.
Satu hal menantang ketika diundang sebagai pembicara publik di Citibank, karena audiensnya hanyalah petinggi-petinggi Citibank Indonesia. Dari Country Manager sampai dengan vice president bank nomer satu ini hadir di sini. Sebagian dari mereka bahkan berambut coklat dan berkewarganegaraan asing. Karakteristik audiens seperti ini, tentu saja amat menantang saya. Di awal pertemuan, saya membagikan self assessment test untuk melihat, apakah mereka kumpulan orang dengan weak mind atau strong mind.
Tentu bukan pada tempatnya kalau saya membuka rahasia Citibank di ruangan ini. Akan tetapi, perjalanan saya yang demikian panjang sebagai pembicara publik, dan telah memasuki banyak organisasi-organisasi terbaik, membuat saya sadar, jumlah orang yang duduk di kursi pemimpin, dan memiliki strong mind, rupanya tidak sedikit.
Entah seberapa valid kesimpulan ini, tetapi ada indikasi cukup kuat, semakin tinggi posisi orang, semakin tinggi pendidikannya, berhasil dalam karir, apa lagi di organisasi sementereng Citibank, mind mereka cenderung terbentuk semakin kuat. Demikian kuatnya, sampai-sampai tidak sedikit yang tergelincir dalam arogansi dan kesombongan.
Bukan maksud saya untuk mengagungkan weak mind dan merendahkan strong mind dalam forum ini. Karena keduanya memiliki tempat masing-masing. Serta memiliki plus minus masing-masing juga. Namun, sudah menjadi rahasia umum kalau kompleksitas persoalan jauh lebih tinggi di atas dibandingkan di bawah. Informasi tentang apapun – apa lagi tentang manusia – selalu hadir dalam serpihan-serpihan yang harus dirangkai. Dan fakta yang kita temukan jauh lebih banyak yang bersifat experiential dibandingkan acquired.
Dalam keadaan demikian, cara berfikir I am right you are wrong ala strong mind, tentu saja lebih menjadi musuh dibandingkan sahabat. Bahkan amat sering saya kemukakan, strong mind sering memotret pelangi dengan menggunakan film hitam putih. Lebih dari itu, sudah memotret dengan film yang keliru, malah meyakini secara amat berlebihan bahwa itulah potret yang paling benar. Kalau orang ini hanya seorang pelaksana di bawah, radiasinya amat sedikit. Namun, kalau ia seorang pimpinan di puncak ?
Di banyak kesempatan, saya kerap berangan-angan kalau ada banyak pimpinan puncak dengan weak mind. Dengan seluruh kearifan dan kerendahan hatinya, bersedia mendengar pendapat orang lain, merangkai perbedaan, penuh kepekaan dalam menangkap nuansa persoalan yang kompleks. Sayang, itu masih menjadi angan-angan yang jarang menjadi kenyataan.
Meminjam apa yang pernah ditulis Charles Handy dalam Beyond Certainty, ‘The Japanese believe in a reverse learning curve in life – the older we are, the more we need to study, listen, and think because problems get more complex and we get rather slower’. Ini berarti, orang Jepang yang disebut Charles Handy maupun Charles Handy sendiri percaya dengan kurve belajar yang terbalik. Semakin tua kita, semakin perlu kita untuk belajar.
Dengan kata lain, kita memerlukan weak mind di tingkatan hidup yang lebih tua dan lebih tinggi. Sesuatu yang menjadi sisi impotennya banyak sekolah – termasuk sekolah bisnis. Lihat saja apa yang terjadi di sekolah bisnis. Teori, ide, paradigma, konsep dan apapun namanya sebenarnya penuh dengan strong mind. Dari Taylor hingga ke zaman pasca Drucker, sekolah bisnis dihuni oleh pendekatan yang pekat dengan warna strong mind.
Saya pernah belajar di empat sekolah bisnis (dua di dalam negeri dan dua di luar negeri), namun jarang sekali ada usaha untuk membuat orang agar memiliki weak mind. Di Eropa ada orang melemparkan ide untuk mengajarkan puisi di sekolah bisnis, tetapi tidak laku. Di Amerika ada Gareth Morgan yang memperkenalkan ide organisasi sebagai sekumpulan images, Russel Ackoff yang menyebut the future of operation research is past, namun idenya tidak selaku ide Porter dan Drucker.
Saya tidak sedang mengkambinghitamkan sekolah bisnis dalam hal ini. Akan tetapi, ia sebenarnya tiang kokoh perubahan ke arah weak mind. Saya bahkan pernah bermimpi, kalau ada sekolah bisnis yang mengajarkan muridnya bermain-main dengan ide.
Di dunia ide – jika Anda rajin bermain-main di situ – sebenarnya tidak ada yang keras dan kaku. Semuanya serba lunak dan lentur. Ia dibuat keras dan kaku oleh keyakinan berlebihan, kepicikan dan kedangkalan. Makanya, sejumlah petinggi Citibank terkejut ketika sesinya saya tutup dengan kalimat a person’s mind is like parachute, it does not function unless it is open.Begitu kepala kita tutup, secara intelektual kita sebenarnya sudah mati.
Penulis adalah seorang konsultan manajemen pengembang pendekatan unschooled management dan beralamat di gprama@uninet.net.id