Saturday, May 4, 2013

Belajar dari Alam

print this page 
Ingat lagunya Ebiet G Ade yang salah satu liriknya berakhiran dengan kalimat: coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang? Lagu tersebut cukup membangkitkan kembali pemikiran ke arah pembelajaran yang sesungguhnya, yaitu bahwa dunia (baca : alam) ini adalah tempat kita belajar, sekaligus mencoba mengajukan argumentasi bahwa alam barangkali adalah jawaban terakhir dari kebingungan manusia menjalani kehidupannya yang semakin rumit. Ringkasnya, kita harus belajar dari alam untuk menjadi manusia yang sesungguhnya.

Dalam buku Environment and Society, dikutip satu syair dari suku Indian di Pasific Northwest, yang terjemahannya kira-kira sebagai berikut :
"Engkau harus mengajarkan anak-anakmu bahwa tanah yang dipijak oleh kakiknya adalah debu dari nenek-moyangnya, dngan demikian mereka akan menghargai tanah itu. Katakan pada mereka bahwa bumi ini diperkaya oleh hidupnya keluarga kita. Ajarkan pada mereka bahwa bumi ini adalah ibu kita. Apa yang menimpa bumi, menimpa pada anak-anaknya bumi itu. Bahkan jika kita meludahi tanah itu, kita meludahi diri kita sendiri.
Ini yang kami ketahui : bumi bukanlah milik manusia; manusialah milik bumi. Ini yang kami ketahui : segala sesuatu berhubungan seperti darah yang menyatukan satu keluarga. Segala sesuatu berhubungan adanya….
Apa yang terjadi pada bumi, terjadi pada anak-anak bumi ini. Manusia tidak dapat menenun jaring-jaring kehidupan ini; manusia hanyalah salah satu untaiannya. Apa yang terjadi dilakukannya pada jaring itu, dia melakukannya pada dirinya"
Syair lagu Ebiet dan ungkapan-ungkapan dari suku Indian di atas, adalah kenyataan yang perlu kita renungkan kembali dalam hubungan dengan kehidupan sebagai manusia pembelajar. Menjadi manusia yang berubah dalam kualitas kemanusiannya adalah manusia yang mampu melihat bahwa alam juga adalah "dunia" dimana dirinya dapat mempelajari banyak arti kehidupan.
Apa yang diajarkan oleh alam pada kita? Pertama: Harmonisasi kehidupan. Di alam, kita belajar bahwa dengan keanekaragaman yang begitu banyak dari spesies yang ada-bervariasi dari 2 juta sampai 100 juta spesies-kita melihat suatu keharmonisan kehidupan. Kita dapat melihat bagaimana alam menyimpan variasi makhluk hidup (dari jumlah, jenis, ukuran, dan keragaman kehidupan), dalam satu "atap" yang disebut alam semesta. Harmonisasi demikian begitu luar biasanya sehingga tidak satupun spesies yang dapat hidup tanpa membutuhkan spesies lainnya-sampai manusia kemudian mulai dan terus menerus merusaknya.
Harmonisasi kehidupan ini memberikan pelajaran berharga kepada kita: bahwa hidup hanya akan menjadi kehidupan yang berarti jika ditempatkan dibawah keharmonisan. Setiap manusia harus belajar apa artinya menjadi manusia yang menghargai satu sama lain, bertanggung-jawab satu sama lain, dan membangun kehidupan yang saling pengertian satu sama lain. Dan kehidupan yang satu sama lain saling membutuhkan itu dapat diperoleh dari alam.
Kedua: keindahan yang sejati. Anda pernah menelusuri Danau Toba? Atau berjalan-jalan ke Pantai Lagundri di Pulau Nias? Atau mandi air panas di Sipoholon-Tapanuli Utara? Atau panjat teping di tengah gemuruh air terjun di Painan, Sumatra Barat? Alam menyediakan begitu banyak keindahan, tersusun dalam komposisi yang menggetarkan sentimen sense keindahan sebagai manusia, dan membangkitkan decak kekaguman akan hidup.
Manusia yang sadar akan jebakan kepura-puraan keindahan artifisial berupa polesan di tubuh, aksesoris dan kamuflase, belajarlah bahwa keindahan yang paling utama itu didapatkan dari ungkapan yang alami, bukan dari apa yang dipakai. Manusia yang bosan hidup dalam rutinitas aktivitas dunia yang melelahkan, belajarlah bahwa alam ini mengajarkan nilai hidup yang sejati, yaitu pada sesuatu yang mampu membangkitkan sense kemanusiaan. Alam mengajarkan bahwa keindahan yang sejati lahir dari kesederhanaan dan kepolosan. Alam semesta adalah tempat kita belajar apa artinya menjadi manusia yang menghargai keindahan keragaman, keindahan kesatuan, keindahan kerjasama, keindahan tolong-menolong; sebaliknya, kita harus berduka-cita terhadap kekerasan, kekejaman, keserakahan, dan variasi sifat manusia yang kontra nilai-nilai keindahan.
Ketiga: arti hidup manusia. Sesungguhnya, alam begitu berbaik hati untuk "menyimpan" manusia dalamnya. Setiap hari, alam begitu sabar menanggung perlakuan-perlakuan manusia : perusakan, ekploitasi berlebihan, penghancuran ekosistem, dan sejumlah aktivitas yang dilakukan di alam ini.
Pada awalnya semua biasa-biasa saja, sampai kemudian segala sesuatu harus dijelaskan oleh alam pada manusia. Manusia butuh pelajaran akan keterbatasan kehidupan, maka alam memberikan gempa bumi yang menelan jiwa. Manusia butuh pelajaran akan perlunya pengendalian nafsu keserakahan, maka alam memberikan banjir dan tanah longsor. Manusia butuh diberikan pelajaran mengenai keterbatasan "alam", maka alam memberikan bencana kelaparan dan kegagalan panen. Semuanya sebenarnya merupakan "keluhan alam" yang disampaikan dengan "suara-suara" alami.
Tetapi manusia tidak juga belajar dari suara alam itu. Manusia tidak belajar bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini terbatas adanya. Manusia tidak mau belajar dari alam bahwa kehidupan ini harus diisi dengan penuh arti-karena hanya sekali. Manusia terus bergerak menurut keinginannya seolah-olah dunia ini adalah miliknya. Dan alam juga pasti akan terus "berbicara" pada manusia tentang arti hidup manusia. Apakah manusia akan mendengarnya? Diperlukan manusia-manusia pembelajar.
Dari uraian di atas, maka kita sewajarnya belajar pada alam. Mengutip kembali syair Indian di atas : Manusia tidak dapat menenun jaring-jaring kehidupan ini; manusia hanyalah salah satu untaiannya.