Saturday, May 4, 2013

Dagangan Pinggir Jalan

print this page 
By : benyamin harefa

Salah. Anda salah kalau Anda berpikir tentang pisang goreng atau tahu tempe goreng yang biasanya dijajakan di pinggir-pinggir jalan. Anda juga salah kalau Anda mengasosiasikannya dengan rokok, tisu, atau aneka permen penghilang kantuk yang biasanya dijajakan di perhentian-perhentian traffic light. O, mungkin dagangan pinggir jalan yang dimaksud adalah kaset atau baju-baju yang sering di gelar di pinggir toko atau pinggir jalan. Pedagang kaki lima? Bukan. Bukan itu. Dagangan pinggir jalan yang satu ini agak unik. Anda memang harus mengeluarkan uang, tetapi Anda tidak akan mendapatkan barang apapun. Uang yang Anda keluarkan pun biasanya hanya sedikit. Tidak perlu sampai mengeluarkan dompet Anda. Lebih unik lagi, dagangan ini adalah satu-satunya dagangan yang mungkin jarang sekali direncanakan untuk dibeli. Mungkin ini adalah dagangan yang paling sering dibeli untuk kategori barang yang tidak pernah direncanakan untuk dibeli.
Seringkali kita membelinya tanpa sungguh-sungguh bermaksud membelinya. Kadang-kadang malah terkesan kita hanya sekadar membuang-buang uang. Bahkan, dagangan ini seringkali dibeli tanpa disadari oleh pembelinya. Sejujurnya, Anda mungkin tidak pernah berpikir itu adalah sebuah dagangan.
Orang pada umumnya menyebut mereka pengemis atau peminta-minta. Bingung? Tentu saja dan memang bisa dimaklumi. Mereka tidak menjual apapun, kata Anda. Benar sekali. Tetapi, tunggu! Memang mereka tidak menggendong kotak berisi rokok atau permen. Memang mereka tidak menjajakan koran berisi berita-berita aktual atau majalah-majalah sensasional. Memang mereka tidak menawarkan makanan kecil kesukaan Anda (dan saya): pisang goreng, tahu tempe goreng, ubi goreng, bakwan. Memang tidak ada gerobak, tidak ada penggorengan, tidak ada dus atau kotak yang mereka gendong kesana kemari.
Bahkan, tidak salah kalau sedikit didramatisir bahwa tidak ada apapun, tidak ada satupun yang dijual. Tetapi, bukankah seringkali, bahkan mungkin setiap kali melihat mereka, hati dan pikiran kita bergelut, menimbang-nimbang apakah kita harus memberi uang atau tidak. Bukankah seringkali ketika kita berlalu tanpa mengeluarkan uang sepeserpun, kita kemudian menyesal, meskipun mungkin hanya sebentar, persis seperti orang yang menyesal membiarkan makanan kesukaannya lewat tanpa dibeli. Bukankah seringkali ketika berpapasan dengan mereka, kita berpura-pura tidak melihat, berpura-pura tidak tahu, persis seperti orang yang berusaha menolak tawaran barang yang tidak ingin ia beli. Bukankah seringkali juga setelah kita memutuskan akan memberi, maka kita melihat mereka dengan lebih seksama, menilai berapa kira-kira harga yang pas untuk mereka. Seratus, dua ratus, lima ratus, atau seribu? Bukankah sering juga setelah itu kemudian kita menyesal karena memberi terlalu sedikit atau terlalu banyak?
Sekarang mungkin Anda sudah mulai mengerti yang saya maksudkan. Kalau kita merenung sejenak dan berpikir lebih dalam, semua reaksi kita terhadap mereka mirip sekali seperti negosiasi antara pedagang dan pembeli. Ada pergulatan antara keinginan untuk "membeli" atau tidak. Ada uang yang harus dikeluarkan. Ada pertimbangan berapa harga yang kira-kira pantas. Ada sedikit penyesalan bila ternyata agak kemahalan. Ada "pilihan lain" seandainya yang satu ini dilewatkan. Satu-satunya unsur penting yang hilang di sini adalah barang. Negosiasi antara pedagang dan pembeli adalah tentang barang. Nah, mari saya beritahukan Anda apa nama barang yang diperjualbelikan di sini. Namanya adalah hati nurani.