Friday, May 3, 2013

Emosi Spiritual Dibutuhkan untuk Menyatukan IQ dan EQ

print this page Print
Ketika memasuki rutinitas kerja sehari-hari, kita sering lupa menyatukan pikiran dan hati, sehingga mengalami split personality (kepribadian terpecah) dan sulit memaknai hasil kerjanya sendiri. Oleh karena itu, kita membutuhkan emotional spiritual quotient (ESQ) sebagai bekal untuk menyatukan intelligent quotient (IQ) dan emotional quotient (EQ).Hal itu dijelaskan oleh Ary Ginanjar Agustian-pengarang buku ESQ Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual-dalam seminar nasional bertajuk "Spiritual Quotient, Cerdas Akal-Cerdas Hati-Cerdas Nurani" di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Rabu (21/11), di Solo. Seminar yang diselenggarakan dalam rangka Dies Natalis ke-43 Fakultas Psikologi UMS ini juga menghadirkan pembicara Drs Yadi Purwanto MM dan Juliani Prasetyaningrum (keduanya dosen Fakultas Psikologi UMS), serta Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Djamaludin Ancok.
Agustian menjelaskan, sejak SD, kemampuan kita sering diukur oleh kecerdasan rasional atau biasa disebut IQ. Semua diukur berdasarkan angka. Kemudian, pada tahun 1990, Daniel Goleman mengembangkan EQ untuk bekal mengukur kesuksesan manusia.
"Padahal, keduanya tertuju pada sikap materialistis dan antroposentris. Kita cenderung mengejar kemewahan, uang, pesta pora, dan kesuksesan dalam berbagai usaha, tetapi lupa memaknai setiap hasil usaha dan perilaku kita," jelasnya.
Manusia yang mengandalkan IQ dan EQ, katanya, cenderung berorientasi pada materi, keinginan untuk menjadi orang terkenal, dan mencari jabatan. Pengalaman Hitler menunjukkan, tokoh ini memang memiliki IQ dan EQ tinggi, sehingga dengan kemampuannya dia sanggup mengajak warga Jerman untuk menjadi pengikutnya, lalu melakukan tindakan-tindakan anarkis.
Di Indonesia, tambahnya, di saat krisis multidimensi melanda, gerakan hati untuk bersama-sama memelihara kasih sayang sulit untuk dipergunakan lagi. Akibatnya, manusia tidak lagi malu berbuat korupsi, membakar orang, berkelahi, dan tidak malu menjadi pasukan berani mati. Kesadaran diri berdasarkan nurani yang universal menjadi tumpul.
Kekuatan spritual
Menanggapi pandangan Agustian, Yadi Purwanto mengatakan, pengarang buku ini meneruskan pandangan dari Danah Zohar dan Marshall (2000) yang menerbitkan buku tentang SQ. SQ yang dikembangkan kedua orang ini lebih luas menjelaskan dahsyatnya kekuatan spiritual, meskipun akhirnya mereka terjebak oleh paralogismenya, yakni kata quotient.
Menurut Agustian, dua unsur, yakni aspek nilai dan makna, sebagai unsur penting kecerdasan spiritual. SQ adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai, sementara kecerdasan menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya.
Selain itu, ujarnya, SQ juga memperlihatkan kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan hidup atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan lainnya. Kecerdasan ini tidak hanya untuk mengetahui nilai-nilai yang ada, tetapi juga untuk secara kreatif menemukan nilai baru.