Saturday, May 4, 2013

MEMBANGUN DASAR PEMAKSIMALAN POTENSI

print this page 
Oleh : HERU K WIBAWA

Pada tahap ini saya berharap hasil pencarian identitas diri melalui ziarah batin yang baru saja kita lakukan telah membawa pada satu pengertian dan pemahaman atas diri anda sendiri. Titian-titian kehidupan yang telah membentuk dan memberi identitas pada diri saudara, yang kembali saudara kunjungi dengan menyingkap kabut yang selama ini tertutup untuk digali dan dipahami maknanya, saya harapkan telah memberikan pengertian baru pada identitas diri anda sendiri.
Kalau anda tidak juga melihat diri saudara sendiri dengan 'kacamata' kemanusiaan yang baru, saya khawatir bahwa saya tidak berhasil menemani ziarah anda. Tetapi kalau saat ini anda melihat bahwa diri anda adalah manusia yang penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan, dan kalau andapun telah mampu melihat orang lain sebagai sesama manusia dengan nilai-nilai kemanusiaan yang sama seperti yang saudara miliki. Saya harus mensyukurinya, karena saya telah mampu membangkitkan kembali 'manusia baru' yang terlahir kembali.
Sebagaimana yang diistilahkan bercumbu dengan kekekalannya A Harefa (Berguru pada matahari) yaitu saat visi, tujuan, cita-cita atau impian yang agung melintasi batas ruang dan waktu. Impian yang mulia berfondasikan nilai-nilai, yang abstrak tak terlihat mata jasmani, seperti fondasi suatu bangunan yang tidak terlihat dipermukaan tanah. Tujuan yang agung digerakkan oleh hati nurani, hukum-hukum moral, keyakinan spiritual. Ia dipandu oleh rasa takut dan rasa kasih yang besar pertama-tama kepada Tuhan, dan karena Tuhan kepada manusia.
Kembali pada 'fitrah' kemanusiaan adalah syarat mutlak bagi siapapun untuk masuk kedalam langkah yang paling penting dalam kehidupan setiap insan, yaitu pemaksimalan potensi diri. Kalau ziarah batin itu mengarah pada masa lalu, maka pemaksimalan potensi adalah mengarah pada masa depan. Kalau menemukan kemanusiaan anda merupakan 'kemerdekaan pratama' maka pemaksimalan potensi adalah 'kemerdekaan purna' dalam kehidupan setiap manusia.
Kemerdekaan pratama, adalah pada saat anda menemukan keutuhan pemahaman diri sendiri. Kemerdekaan ini memberikan anda penemuan jawaban atas pertanyaan -pertanyaan mendasar pada kehidupan setiap insan, siapakah saya, darimana saya, ke mana saya pergi? Kemerdekaan ini sering saya permudah dengan 'pemahaman panggilan kemanusiaan', kemerdekaan yang membebaskan dari belenggu keterbatasan 'semu', yang selama ini mengikat dan membelenggu potensi yang anda miliki, kebebasan untuk kembali pada nilai kemanusiaan yang utuh sebagaimana karunia yang dipercayakan pada saudara saat saudara terlahir didunia ini. Sehingga istilah 'lahir kembali', 'kembali ke fitrah' adalah definisi lain yang sudah secara umum dimengerti orang.
Sementara pada konsepsi kedua yang akan kita mulai, saya akan membawa saudara pada kemerdekaan purna, yang harus diawali oleh kemerdekaan pratama. Kita akan menjelajahi lorong-lorong 'perawan' yang sama sekali baru, dan belum tersentuh. Kita akan bersama didunia 'metanoia' yaitu dunia impian yang penuh gairah dan emosi, yang sering saya sebutkan sebagai 'membangkitkan raksasa yang tidur'. Saya teringat legenda cerita 'Kumbakarna' yang menghabiskan hidupnya untuk 'bertapa tidur', seketika ia bangun, ia mampu memporak porandakan pasukan musuh, dan untuk mengakhiri hidupnya sebagai patriot dan pahlawan sejati, menggenapi rencana Ilahi dalam hidupnya.
Tujuan kita itu adalah apa yang disebutkan Maxwell Maltz (Psycho Cybernetics) yang kutip dalam Sukses tanpa gelar /A Harefa, sebagai 7 (tujuh) ciri kepribadian sukses yaitu :
  1. Sense of direction, mampu mengarahkan dan memimpin diri sendiri,
  2. Undersatnding, mampu memahami diri sendiri dan orang lain,
  3. Courage, keberanian bertindak meski harus menghadapi resiko,
  4. Charity, kemurahan hati, suka menolong dan bersedia membagi miliknya pada orang lain,
  5. Esteem (self esteem), memiliki harga diri yang sehat,
  6. Self Acceptance, bisa menerima kelemahan yang dimiliki sekaligus meyakini kekuatan-kekuatan unik yang dimilikinya,
  7. Self confidence, kepercayaan diri yang berkaitan erat dengan penerimaan diri.
Yang dikutip pula dari Duane Schultz (Growth Psychology: Model of healthy personality), yang mencoba mencari titik-titik persamaan orang berkepribadian sehat yaitu:
1. Mengontrol kehidupannya dengan sadar (mungkin tidak rasional) tetapi tetap mampu mengatur tingkah laku dan bertanggungjawab terhadap nasib sendiri dengan tidak menyalahkan lingkungan dan mengkambinghitamkan orang lain,
2. Mengetahui apa dan siapa diri mereka, dengan segala kelemahan dan kelebihan, dan tidak mau menjadi sesuatu yang bukan diri mereka sendiri,
3. Besandar kuat pada masa kini (bukan masa lalu), disisi lain memandang masa depan sebagai sesuatu yang sangat penting, tetapi tidak mengganti masa kini,
4. Ia tidak merindukan ketenangan dan kestabilan, tetapi mendambakan tantangan dan kegembiraan dalam kehidupan, tujuan-tujuan baru dan pengalaman-pengalaman baru.

Dasar pemaksimalan potensi diri.
Pemahaman nilai kemanusiaan tidaklah harus berhenti pada penerimaan perbedaan dalam setiap individu (termasuk diri sendiri), yang akan memberikan kebijaksanaan dalam melakukan hubungan dengan orang lain. Akan tetapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita mampu melangkah maju lagi, menggunakan sarana interaksi (yang telah mengalami pencerahan) dengan orang lain bagi pemaksimalan potensi diri. Langkah ini apabila dilakukan bersama dengan individu yang lain akan merupakan gerakan massal pemaksimalan potensi masyarakat.
Tidak setiap orang telah mengalami pencerahan, sehingga yang harus menjadi dasar dalam hubungan dengan orang lain adalah bahwa kita tidak pernah bisa mengatur apa yang akan dilakukan orang lain terhadap diri kita, tetapi kita secara mutlak dapat mengatur apa yang akan kita lakukan bagi diri kita sendiri dan bagi orang lain untuk merespon perlakuan mereka pada kita. Demikianlah prinsip dasar pemaksimalan potensi yang walaupun banyak faktor akan tergantung pada orang lain, tetapi apa yang akan berhasil kita raih lebih bergantung pada apa yang dapat kita lakukan dari pada apa yang diperbuat dan disediakan orang lain yang tidak dapat kita kontrol.
Walaupun dalam ziarah pada empat titian hidup nampak banyak sekali faktor ekstern yang mempengaruhi pembentukan kepribadian seseorang anak, tetapi seperti prinsip dasar kita, bahwa kita tidak dapat membendung apalagi mengulangi pembentukan dan pengaruh yang ada dan sudah tertanam yang dilakukan orang lain pada diri kita. Tidaklah disangkal akan merupakan hal yang lebih baik jikalau kita hidup pada pembentukan yang sempurna, baik keluarga, pembelajaran, agama dan budaya serta dalam masyarakat tetapi kenyataannya hal demikian sangatlah jarang dan hampir tidak mungkin dapat ditemukan.
Bagi mereka yang merasa tidak memiliki kesempurnaan proses pembentukannya, tidak perlu berkecil hati, karena justru hampir semua orang dalam kondisi yang demikian dan tulisan inipun mengambil asumsi yang demikian. Bahkan bagi mereka yang merasakan kekurangannya, itu justru merupakan langkah awal yang baik untuk menyadarinya guna diperbaiki, yang selanjutnya dikembangkan untuk mencapai pemaksimalan potensi.
Tantangan terbesar dalam perjuangan pemaksimalan potensi berasal dari diri sendiri, disisi lain kunci keberhasilannya juga adalah justru pada kemampuan untuk menguasai diri. Karena proses ini dilandasi oleh keterbukaan, keberanian dan kerelaan untuk menginstrospeksi diri serta tekad, kekuatan, semangat pantang menyerah dan daya tahan dalam proses pemaksimalan pribadi yang berlangsung seumur hidup.
Diri sendirilah yang menentukan, karena dengan citra diri sesuai dengan potensi yang kita bentuk, akan menciptakan image yang baik dalam hubungan dengan orang lain dan akan melahirkan 'arus positif' yang mengalir dari diri kita yang akan mempengaruhi lingkungan seperti apapun keadaan lingkungan itu, yang akhirnya akan menjadi positif pula. Bukan kita yang dikendalikan lingkungan tetapi kitalah yang menguasai lingkungan untuk menggerakannya sesuai dengan keinginan kita.
Sehingga untuk mencapai hidup dengan potensi maksimal, yang harus ditanyakan adalah seberapa kemauan pribadi saudara untuk meraihnya, dan bukan pada seberapa dukungan dari lingkungan yang telah dan akan saudara terima. Dari satu sisi hal ini sangat menguntungkan karena pemaksimalan potensi diri dapat dilakukan oleh siapapun juga dan berangkat dari keadaan apapun.
Tetapi dilihat dari skala yang lebih besar, keefektifan pengaruhnya akan cepat dirasakan dalam masyarakat apabila, setiap pribadi dalam masyarakat melakukan proses pemaksimalan, sehingga 'arus' positif yang beredar dalam masyarakat akan semakin kuat, yang tentunya sangat menguntungkan bagi semua pihak.
Dasar pemaksimalan potensi dapat saya padatkan dalam 5 dasar yang akan menjadi landasan cara melihat diri, melihat masa depan dan pijakan serta motivasi yang akan menjadi 'bahan bakar' dalam meniti langkah-langkah pemaksimalan potensi. Sebagaimana mesin yang selalu memerlukan bahan bakar, maka 5 dasar ini akan merupakan semangat, pendorong dan harus senantiasa dikembangkan dalam menghadapi tantangan bagi tercapainya pemaksimalan potensi. Sehingga dasar ini harus dikuasai dan dimiliki serta terus dikembangkan, karena tanpa kekokohan landasan, maka langkah selanjutnya akan rapuh dan mudah runtuh. [ bersambung ]