Saturday, May 4, 2013

SOCRATES DAN KISAH KEMARAHAN KITA

print this page 
          Apa gunanya kaum intelektual yang terpelajar? Di Athena, lebih dari 2000 tahun yang lalu, seorang intelektual di jamannya menjawab dengan caranya sendiri. Namanya Socrates. Setiap hari ia bangun pagi, dan menghabiskan waktunya dengan berdiskusi. Di pasar, di gimnasium, di bengkel-bengkel, atau di palaestra, serta tempat-tempat ramai lainnya, Socrates selalu berada di sana. Ia berbicara mengenai dialektika kehidupan: tidak ada yang pasti.
Socrates adalah tokoh yang tidak pernah puas dengan kemapanan. Kebenaran yang telah diterima luas oleh masyarakat Yunani, digugatnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan filsafatis. Sudut pandang sesuatu kebenaran, dipertanyakan kembali. Bagi Socrates, segala macam jualan di pasar, justru begitu usang dan tak berharga. "Aku tidak memerlukan semuanya itu," ujarnya suatu kali. Dan sambil berfilsafat di tengah-tengah keramaian, Socrates justru menemukan ketenangan jiwa. Socrates tidak anti kemapanan, karena ia justru punya rumah dan harta benda. Ia tidak bicara mengenai perubahan karena ia miskin. Socrates, justru berbicara mengenai peranan seorang intelektual.
Sebagai seorang yang tahu mengenai apa yang ia tahu dan yang ia tidak tahu, Socrates menyadari betul bahwa kebenaran tidak boleh disimpan-meskipun dengan konsekuensi kematian. Ada suatu prinsip yang salah tetapi sering dipegang oleh para cendekia kita saat ini-para profesor, doktor, master, sarjana, dan yang menyebut dirinya intelektual-yaitu ikut arus. Pasar, gimnasium, bengkel-bengkel, atau palaestra punya "arus" sendiri, tapi sayangnya sering tidak mampu digugat dengan kebenaran yang hakiki, karena para inteletual justru "ikut" arus.
Kita punya banyak orang yang mungkin lebih dari Socrates, yang hanya berjubah satu-itu-itu juga, dan yang selalu dipakai di masa saja-serta bertelanjang kaki. Mereka, yang punya gelar-gelar akademis itu, jelas lebih berada dibanding Socrates: hidup mewah dan bergelimang kemajuan iptek. Hanya satu bedanya: Socrates lantang bicaranya.
Dunia kita butuh Socrates-Socrates modern. Yang bicara mengenai kemustahilan ekonomi pasar tanpa keadilan dan keberpihakan pada kaum miskin. Yang bicara mengenai kemustahilan politik tanpa etika dan kebenaran. Yang bicara mengenai kemustahilan para hakim, jaksa, dan polisi menegakkan keadilan tanpa moralitas dan ketakutan pada Tuhan. Yang bicara mengenai kemustahilan pendidikan tanpa pencerahan. Yang bicara mengenai kemustahilan agama tanpa pengenelan yang benar mengenai iman. Yang bicara, yang bicara, dan yang terus berbicara bukan dalam diam. Tapi dengan lantang mengkritik dan menggelitik. Sama seperti Socrates, kita butuh mereka-mereka yang berbicara mengenai negara, penguasa, kehidupan, ataupun persoalan lain, dengan cara yang lain.
Socrates memang unik. Ia bicara mengenai konsep, definisi, gagasan, metode, dan kesahihan yang dimengerti para pendengarnya, lalu dengan berseni menunjukkan kemencongannya. Ia memancing diskusi dan perdebatan. Ia memancing pemikiran. "Otak, adalah untuk berpikir", demikian Socrates. Lalu, jadilah ia sebuah legenda.
Hari-hari kita belakangan ini disibukkan oleh cerita mengenai mereka-mereka yang bergelar "bo'ong-bo'ongan" atau bergelar karena duit. Para pakar mengkritik dan menggugat. Koran dan majalah menuliskannya. Semuanya bicara mengenai kejujuran dan moral akademik. Semuanya bicara mengenai penghargaan terhadap bobot intelektual.
Tapi pernahkah kita memikirkan dengan lebih menggelitik masalah ini? Pernahkah kita mencoba mengevaluasi kembali: sudah seperti apa rupanya kaum intelektual yang terpelajar dan terhormat itu, sehingga mereka patut tersinggung? Sudah seperti apa rupanya moral mereka sehingga mereka seolah "dihina" oleh mereka-mereka yang bergelar "karbitan" itu.
Sayangnya-seperti para hakim yang akhirnya menangkap dan mempersalahkan Socrates secara curang, culas dan menggunakan uang suap-kebanyakan dari kita pun tidak lebih dari mereka-yang kita tuduh berlaku maksiat akademika itu. Kita, seolah tidak belajar dari legenda Socrates, bahwa segala sesuatu bisa ditangkap dari angle yang berbeda.
Menurut saya, ada juga untungnya ada orang yang berbuat demikian: membeli dan mendapatkan gelar dengan enteng dan gampang disertai segala macam "dosa-dosa" akademik itu. Mengapa? Pertama, mereka ingin menggelitik kita-seperti Socrates-bahwa sistem pengelolaan pendidikan kita selama ini memang begitu amburadul. Yang menjadi masalah, pesan mereka, bukan gelarnya, tetapi para pejabat pengelola sistem pendidikan secara keseluruhan.
Hukum ekonomi yang menyatakan bahwa karena ada permintaan gelar maka ada penawaran gelar, tidak boleh dipandang secara ceteris paribus. Kadang-kadang ia bersifat aneh: penawaran justru muncul karena pihak pengelola pendidikan turut melempangkan kesempatan dan jalan untuk itu.
Kedua, kita juga semoga tergelitik, bahwa memperoleh gelar kini memang begitu gampangnya, segampang moralitas dunia pendidikan yang justru tidaklah lebih baik. Dimana ada kebobrokan, penipuan, penyelewengan waktu, titip absen, dan sejuta nista lainnya? Kita pasti sepakat : di kampus dan di dunia kaum intelektual.
Suatu hari ketika kuliah, tanpa malu-malu, seorang dosen saya yang bergelar Profesor Doktor meminta upah koreksi ujian pada kami! Bukankah itu juga tidak lebih baik dari moralitas mereka yang mungkin "cuma" membeli gelar itu tanpa pernah kuliah?
Dan yang ketiga, barangkali mereka ingin menunjukkan bahwa gelar kini memang sudah tidak ada lagi artinya. Gelar dapat diperoleh siapa saja, toh juga tidak ada artinya. Gelar akademik-yang sebenarnya melambangkan suatu kemampuan untuk memberikan kontribusi yang signifikan pada masyarakat-ternyata sudah sejak lama menjadi kehilangan makna. Kita punya PT dan para sarjana, master, doktor, tetapi mengapa kita setiap hari harus menyaksikan korupsi, kolusi, pelacuran, penindasan, kemiskinan dan bobroknya masyarakat kita?
Kemana kaum terpelajar kita, yang setiap tahun dihasilkan dari universitas-universitas terbaik di negeri ini? Bukankah sudah sejak lama kita tahu bahwa mereka pun punya gelar yang "bo'ong" juga? Bukankah sebagian besar dari masyarakat kita justru tidak pernah merasakan manfaat dari mereka?
Maka bergelar, sudah tidak ada maknanya lagi, sehingga mereka-mereka yang membelinya pun sebenarnya juga tidak mementingkan peranan mereka, seperti halnya mereka-mereka yang bergelar "asli" tapi "palsu". Sama-sama "palsu" aja kok, demikian mereka.
Jadi bagaimana? Tulisan ini membingungkan? Socrates pun-barangkali seperti saya juga-tak membantah. "Saya menulari orang dengan kebingungan yang ada dalam diri saya," demikian katanya suatu kali. Semoga tulisan ini pun menambah kebingungan kita-tapi dengan cara yang menggelitik nurani.