Saturday, May 4, 2013

PEDAGOGI YANG MANUSIAWI

print this page 
Oleh: Vincentia Hanni S

Masih ingat buku Totochan? Buku yang sempat digandrungi di tahun 1980-an itu bercerita tentang seorang anak laki-laki Jepang bernama Totochan yang "dicap nakal". Totochan tergolong anak yang tak bisa diam, ada saja yang dilakukannya setiap jam pelajaran dimulai. Entah menggoda teman atau membuat gurunya marah.
Akibatnya, hampir setiap tahun Totochan berpindah sekolah. Untunglah ia memiliki ibu yang sangat sabar dan pengertian. Sang ibu merasa sedih dengan predikat "anak nakal" atau "pengganggu" yang disandang anaknya. Ia pun mencari sekolah yang cocok untuk anaknya.
Akhirnya, sang ibu menemukan sebuah sekolah, meskipun cukup jauh dari rumahnya, namun sekolah itu unik. Ruang kelasnya terbuat dari gerbong kereta api yang tak terpakai. Sistem pengajaran di sana pun tak seformal sekolah lain di Jepang. Edutainment, begitu istilah yang tepat untuk sistem belajar di sekolah baru itu. Belajar sambil bermain, itulah prinsip yang dianut sekolah itu.
Rupanya, sistem itu tak cuma ada di sebuah buku cerita. Sistem ini pun mulai merasuk di dalam dunia pendidikan Indonesia. Quantum Learning adalah salah satu sistem pengajaran yang menganut prinsip edutainment itu.
Metode pengajaran ini pertama kali ditemukan oleh Bobbi de Porter, ahli pedagogi asal Inggris di tahun 1980. Quantum Learning dikemas dengan model yang disebut TANDUR, yaitu Tumbuhkan minat siswa, Alami sendiri, Namai kata kunci, konsep, dan rumus, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan apabila siswa berhasil. Sistem pengajaran ala Bobbi ini kemudian diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat di Indonesia oleh Mizan Learning Centre.
Menurut Arsalsjah, tim manajemen Mizan Learning Centre, metode ini muncul karena kejenuhan yang dialami oleh siswa yang selama ini dijejali materi-materi pengajaran. Meskipun baru terbatas pada kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, Semarang, Bandung, dan Surabaya, animo masyarakat mengikuti metode ini sangat besar. Ini terbukti dari banyaknya pendidik yang mulai mengikuti program pelatihan metode mengajar ini.
"Metode belajar ini kuncinya cuma satu yaitu learning is fun (belajar itu menyenangkan). Metode ini tak cuma membuat intelegensia siswa meningkat tetapi emotional quetiont matang," ujar Arsalsjah.
Arsalsjah menerangkan, ada beberapa teknik yang digunakan, yaitu mengorkestrai suasana (membuat suasana belajar nyaman seperti menyetel musik), mind mapping (pemetaan pikiran yaitu dengan membuat gambar atau bagan tentang poin-poin penting yang dipelajari), temu susun (membuat kata-kata sesuai suasana hati untuk mengingat suatu rumus atau konsep), pneumonik (jembatan keledai untuk mengingat sesuatu), dan experience tele learning (belajar berdasarkan pengalaman).
"Bawalah dunia siswa ke dunia kita, dan antarakan dunia kita ke dunia siswa" itulah asas utama metode pengajaran ini. Ungkapan itu berarti hubungan pengajar dan siswa sejajar, pengajar atau guru bukanlah penindas siswa.
* * *
Metode pengajaran ala Bobbi de Porter bukan hal baru dalam dunia pendidikan. Sistem pendidikan yang dinilai "menindas" siswa dilontarkan oleh ahli pedagogi barat maupun ahli pedagogi dari kelompok kiri. Ahli pedagogi dan psikologi anak dari Universitas Munchen, Prof Kurt Singer, dalam bukunya Wenn Schule Krank Macht (Jika Sekolah Membuat Sakit) yang diterbitkan tahun 2000.
Kurt mengatakan, sekolah bukan lagi tempat yang nyaman bagi anak-anak. Sekolah hanya menjadi lingkungan penuh sensor yang mematikan bakat dan gairah anak untuk belajar. Tak tanggung-tanggung, Singer menyebut pendidikan sekolah yang mengakibatkan kegelisahan dan ketakutan bagi siswa. Bahkan, Singer menyebut sekolah sebagai schwarzer pedagogik (pedagogi hitam).
Hal yang senada juga diungkapkan oleh Paulo Freire, kritikus paling terkenal dalam dunia pendidikan. Freire mengingatkan, dunia pendidikan adalah apa yang terjadi dalam masyarakat yang dikendalikan oleh kekuatan kapital. Bahkan, dalam pelajaran membaca dan menulis, penindasan sudah terjadi. Proses belajar mengajar itu mau tak mau telah memblokir manusia menjadi manusia.
Mengkritisi sistem pendidikan di Indonesia, metode dari Freire, Bobbi, dan Kurt akan membantu untuk menyadari betapa pendidikan di Indonesia telah banyak menyeleweng dari tugasnya yang paling dasar, yakni membantu anak didik menjadi manusia yang bebas dan merdeka. Padahal, pendidikan semacam itu adalah dasar yang tak boleh ditawar dalam demokrasi. Jangan bermimpi demokrasi jika sistem pendidikan Indonesia masih belum membebaskan manusia untuk menjadi dirinya sendiri, dan menghargai orang lain.
(Kompas 191101)
source : [ kolom Opini ] pembelajar.com