Saturday, May 4, 2013

PITOYO AMRIH: TUHAN SELALU BERBICARA (3)

print this page 
Sungguh menjadikan sebuah kesaksian yang luar biasa bagi saya ketika saya melihat kerusuhan yang membakar habis lebih dari 50% aset kegiatan perekonomian kota Solo pertengahan Mei 1998 yang baru lalu. Kebetulan beberapa 'momen' pembakaran-pembakaran gedung, saya melihat langsung, tertegun tanpa bisa berbuat apa-apa. Kenapa orang-orang yang tampak lugu dan polos bisa memiliki sebuah kebencian yang luar biasa sehingga mampu secara kolektif merusak apa saja yang dilewatinya. Kebencian yang mampu menggerakkan hampir sebagian besar orang-orang yang justru nafkahnya datang dari 'aliran' toko, mal dan pusat perdagangan -bapak-bapak tukang becak, tukang gorengan, tukang parkir,dsb- yang dengan 'gegap-gempita' mereka ikut andil dalam proses pengrusakannya.
Sebuah pelajaran hidup yang menarik, ketika mereka kemudian menyadari bahwa nafkah mereka datang dari para pegawai mal, juga dari para pembelanja pusat perdagangan sehingga ketika tempat kegiatan ekonomi tersebut hangus terbakar, tidak ada lagi uang mengalir untuk mereka.
Sebuah contoh 'aturan-main' Tuhan yang membuat orang-orang yang mau 'melihat' dan 'mendengar' akan memetik pelajaran darinya. Dalam kebencian mereka waktu itu diantara banyak pilihan justru memlih untuk ikut merusak, sehingga timbul konsekuensi -sebagai aturan-main-Nya- berbulan-bulan mereka kehilangan nafkah untuk menghidupi anak istri.
Setahun lebih kemudian, potensi anarki kembali muncul ketika calon presiden harapan sebagian besar orang Solo gagal terpilih menjadi presiden. Dan ketika orang-orang turun ke jalan mulai marah, namun sungguh menarik ketika situasi mulai memanas, para tukang becak, tukang parkir, dan tukang-tukang lainnya yang nafkahnya 'teraliri' dari pusat perdagangan tempat mereka mangkal yang semula ikut merusak, kali kedua ini 'justru' berlomba-lomba membentuk pagar betis agar rombongan perusak tidak mendatangi mereka. Sungguh saya pikir untuk hal ini mereka telah belajar untuk mendengar Tuhan.
Terlepas kejadian di atas merupakan rekayasa atau bukan tapi yang jelas saya percaya hal tersebut merupakan fragmen kecil dari 'grand-design'-Nya dari sejak alam semesta terbentuk sampai dengan sekarang ketika kita diberi kesempatan untuk memberikan kesaksian.
Contoh kecil yang menjadikan saya percaya Dia ada dan firman-Nya selalu mengalir yang seharusnya saya pikir merupakan keajaiban-keajaiban. Udara yang tidak habis-habis kita hirup, kelahiran bayi, kematian, lalat terbang, semuanya adalah keajaiban.
Orang-orang besar berusaha mendengar-Nya dan berusaha mengkomunikasikan apa yang mereka dengar dalam bentuk karya-karya dan pengabdian-pengabdian mereka. Sebut saja Isaac Newton, Albert Einstein, Sigmun Freud, Mahatma Gandhi, Pablo Picasso, Mozart, dan banyak lagi. Ada yang mendengar-Nya harus melalui benturan-benturan hidup seperti bapak-bapak tukang becak, tukang parkir, dsb pada fragmen cerita di awal.
Bentuk ekstrimnya mungkin kalau anda pernah baca pengalaman Victor Frankl di kamp Nazi. Atau yang sengaja memilih untuk berusaha mendengar Tuhan seperti Kahlil Gibran yang menuangkan dalam salah satu bukunya Sang Nabi yang tak pernah bosan saya berulang kali membacanya. Karena setiap kali saya mengulang membacanya saya selalu berada pada momen pengertian-pengertian baru dalam usaha mendengar Tuhan. Alenia yang paling saya suka diantaranya:
          "Dan jika kau ingin mengenal Tuhan janganlah menjadi penebak teka-teki. Sebaiknya pandanglah sekitarmu dan kau akan melihat-Nya sedang bermain dengan anak-anakmu. Dan layangkan pandangan ke angkasa luas, kau akan melihat-Nya sedang berjalan di atas awan, mengulurkan tangan-Nya dalam kilat membahana dan turunlah hujan membasuh wajah dunia. Kau akan melihat-Nya sedang tersenyum dengan bunga-bunga lantas membumbung tinggi dan kau lambai-lambaikan tangan-Nya di pepohonan ..."
Telah banyak orang memberi label terhadap aturan-main-Nya yang berusaha kita untuk mendengar, berusaha untuk kita mengerti. Sebut saja dalam 'bahasa' Stephen Covey dia definisikan dengan Principle dengan berbagai sifatnya, dunia Islam menyebutnya sebagai 'Sunatullah', Natural-Law sebutan untuk yang lebih berbau 'science', terkadang pemikir Jawa memakai istilah 'Sangkan paraning dumadi' , saya pun menangkap maksud senada pada istilah "Force"-nya ajaran Mahaguru Joda pada kisah 'Star-War'.
          Saya ingin berbagi cerita sebuah dialog dalam bahasa Inggris (maaf ketika saya coba terjemahkan dari dialog aslinya, saya khawatir akan bermakna berbeda dari yang dimaksudkan), antara seorang dokter forensik yang sepanjang karirnya selalu dilatih untuk merangkai logika-logika dari yang tidak masuk akal sekalipun yang pada kasus terakhir dia menemukan terlalu banyak keanehan-keanehan sehingga tidak sanggup dia me-logika-kannya, dengan seorang pendeta pada bilik pengakuan dosa sebuah gereja, sebuah tempat yang sudah lama sekali tidak dikunjungi sang dokter yang seorang Katholik.
"Father, Do you believe in miracle?", tanya sang dokter.
"Yes, my child", balas sang pendeta ,"I believe in birth, love, happiness...."
"No, I mean something that doesn't make any sense, something that beyond our thingking."
Oooh....", Si pendeta tidak mampu berkata. "So, what do your sin, my child", sang pendeta berusaha mengingatkan si dokter karena dia datang ke bilik pengakuan dosa.
"No, father. I am here not to make any confession. Iam here because Iam just affraid...affraid that God is always speaking but nobody's listening...", jawab sang dokter dengan raut muka mengekspresikan rasa takut.
Sepertinya kaitan ceritanya rada jauh hanya saja pada kata terakhir termakna bentuk kekhawatiran yang sepertinya juga saya miliki ketika melihat disekeliling saya 'ternyata' masih banyak kejadian kriminal, korupsi, menipu orang yang seharusnya dilayani…
Saya berusaha untuk selalu mendengar-Nya, saya ajak anda untuk juga mendengar-Nya, maukah anda mengajak orang-orang di sekitar anda untuk juga mendengar-Nya ?…