Friday, May 3, 2013

AKTUAL : bila sekolah memanfaatkan kepanikan orangtua murid

print this page Print

Keputusan penghapusan evaluasi belajar tahap akhir nasional (ebtanas) bagi siswa sekolah dasar ternyata menimbulkan kepanikan sejumlah orangtua murid yang khawatir anaknya tidak bisa masuk ke SLTP negeri. Mereka akhirnya berburu sekolah swasta, dan ironisnya, pihak swasta melihat permintaan meningkat maka "uang masuk" pun dinaikkan.

Ini sejalan dengan prinsip supply and demand (permintaan dan penawaran). Sejumlah sekolah swasta tergolong punya nama baik di tengah masyarakat, dan sudah jauh hari kebanjiran siswa. Meskipun masa penerimaan siswa baru dilakukan pada bulan Juli, sudah sejak awal Maret mereka menutup pendaftaran siswa baru.

"Sekolah kami hanya menyediakan sisa empat tempat duduk bagi pendaftar di luar Al-Azhar. Kalau Bapak mau, nama anak Bapak kami masukkan dalam daftar tunggu. Barangkali nanti ada yang mengundurkan diri atau diterima di sekolah negeri atau sekolah ke luar negeri, anak Bapak bisa menggantikan," ujar guru SLTP Al-Azhar Kebayoran Baru, Jakarta.

Menurut guru yang tidak mau disebut namanya itu, setiap tahun pola penerimaan di sekolahnya memang seperti itu. Mereka memberikan prioritas utama bagi siswa SD yang berasal dari sekolah asal. Baru kemudian setelah diketahui berapa jumlah anak yang tidak meneruskan ke Al-Azhar, pihaknya memberikan kesempatan bagi siswa di luar Al-Azhar.

Mengenai besarnya uang masuk ke sekolahnya, sekolah yang memberikan pelayanan pendidikan cukup baik ini mematok harga masuk sebesar Rp 5 juta hingga Rp 8 juta. "Saya rasa hal ini relatif terjangkau oleh orangtua murid yang rata-rata berasal dari kelompok masyarakat menengah ke atas," tukasnya.

Sekolah Negeri
Sementara itu, Warsidi, warga Halim, Jakarta Timur, kepada Pembaruan menyebutkan bahwa sekarang ini sejumlah oknum sekolah SLTP negeri sudah mematok besarnya uang masuk sekolah bagi orangtua murid yang ingin memasukan anaknya.

Warsidi mencoba mendatangi sekolah negeri yang diminati anaknya, namun ketika bertanya kepada salah seorang guru, dia mengaku belum mengetahui bagaimana aturan main untuk masuk ke sekolah negeri, sebab pemerintah sampai sekarang belum mengeluarkan petunjuk aturan mainnya.

"Namun, ketika saya mau pulang, guru itu menawarkan kepada saya bahwa dia siap memberikan bantuan jika ingin memasukkan anaknya ke sekolah tersebut dengan menyiapkan biaya masuk sebesar Rp 4 juta," ujar Warsidi.

Menanggapi hal itu, Sekretaris Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas Drs Baedhowi MSc menegaskan bahwa pihaknya akan segera membuat posko pengaduan karena ketidaktahuan masyarakat mengenai pola penerimaan siswa baru setelah ebtanas dihapus.

Menurut dia, sekarang ini pihaknya memang masih menunggu SK Mendiknas mengenai proses penerimaan siswa baru setelah pemerintah menghapus ebtanas yang kemudian NEM dijadikan ukuran bagi siswa untuk masuk ke sekolah negeri.

"Yang jelas, pada prinsipnya dalam proses penerimaan siswa baru, yang harus diutamakan adalah prinsip keadilan dan objektivitas. Pemerintah memberikan kebebasan bagi masyarakat untuk mencari sendiri sekolah yang diinginkan, namun jangan kemudian hal ini justru disalahartikan pihak sekolah dengan menekan orangtua murid dengan mengomersialkan penyelenggaraan pendidikan di sekolah," tukasnya. (Suara Pembaruan 270302)