Saturday, May 4, 2013

MENGAMPUNI TUHAN

print this page 
By : benyamin harefa

Dalam perjalanan hidup kita, saya yakin kita semua pernah mengalami kekecewaan yang sangat mendalam. Kita merasakan ketidakadilan, kehilangan, frustasi dan kemarahan yang sungguh-sungguh. Dan kita kemudian marah kepada Tuhan. Atau paling tidak, menyalahkan Tuhan. Atau mungkin mencurigai Tuhan. Atau bisa juga hanya sekedar mengeluh. Tapi yang jelas, kita semua bertanya pada Tuhan: Mengapa Ia biarkan semua itu terjadi? Mengapa saya diperlakukan tidak adil? Mengapa saya harus kehilangan orang yang begitu saya cintai? Mengapa kerja keras saya berakhir dengan kesia-siaan?
Menyalahkan Tuhan mungkin adalah suatu kesalahan. Mungkin? Ya. Karena kita tidak tahu apakah Ia berada di balik kejadian yang mengecewakan itu. Kalau benar, maka adalah manusiawi kalau kita marah pada Tuhan. Sebagian besar orang mungkin tidak bisa menerima hal ini. Kita tidak bisa memarahi Tuhan sekalipun Ia berada di balik kejadian-kejadian yang menghancurkan hati kita.
Tuhan tidak pernah salah. Ia memiliki rencana yang indah dibalik peristiwa-peristiwa yang membawa duka. Kitalah yang harus belajar memahami rencana Tuhan dalam hidup kita. Saya setuju sekali. Tapi tidak ada gunanya juga berpura-pura 'menerima' Tuhan namun sebenarnya hati kita memberontak. Toh Dia tahu yang paling dalam dari lubuk hati kita. Menahan kemarahan pada Tuhan dengan mengalihkannya pada diri sendiri hanya akan menambah satu kebohongan dalam diri kita.
Sebagai orang yang percaya bahwa Tuhan 'masih hidup' dan bekerja di tengah kehidupan manusia, kemarahan kepada-Nya merupakan suatu bukti bahwa kita benar-benar konsisten dengan keyakinan itu. Kita tidak akan marah pada anak kita bila kita terjebak kemacetan di jalan. Kita tidak akan marah pada orang asing yang lewat di depan rumah kita bila di rumah kita tidak ada makanan. Kita tidak akan marah pada tetangga kita bila tukang yang seharusnya membereskan atap rumah kita ternyata belum juga menyelesaikan pekerjaannya. Dalam semua itu, kita tidak marah karena kita tahu ketidakberesan itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.
          Sebaliknya, kita marah pada pemerintah daerah yang tidak bekerja maksimal dalam menata kota. Kita marah pada pembantu di rumah karena melalaikan tugasnya memasak. Kita marah pada tukang yang kita sewa.
          Ini paling tidak menunjukkan tiga hal. Pertama, kita yakin mereka orang yang bertanggungjawab akan hal itu. Kedua, kita tahu mereka mampu melakukannya. Dan ketiga, kita menaruh harapan pada mereka.
          Kemarahan kita pada Tuhan juga merupakan bentuk dari keyakinan kita bahwa Ia bertanggungjawab, Ia mampu, dan Ia baik. Ia ada dan bekerja di tengah kehidupan kita. Bukankah itu keyakinan yang benar?
          Kalau begitu, mengapa Ia yang maha segalanya itu mengecewakan kita? Wah, itu saya tidak tahu. Tanyakan pada Tuhan. Tapi saya mau anjurkan sesuatu pada kita semua. Mari kita mengampuni Tuhan karena Ia mengecewakan kita sebagaimana Tuhan mengampuni kita karena kita mengecewakan-Nya. Mari kita mengampuni Tuhan karena Ia tidak melakukan apa yang kita minta Ia lakukan sebagaimana Tuhan juga mengampuni kita karena kita tidak melakukan apa yang Ia minta kita lakukan. Padahal Dia adalah pemilik jiwa kita. Padahal kita adalah ciptaan-Nya.