Saturday, May 4, 2013

PITOYO AMRIH: TUHAN SELALU BERBICARA (1)

print this page 
Dari berita memilukan tabrakan dua kereta api beberapa waktu yang lalu di Brebes, ditulis di situ bahwa berbondong-bondong orang-orang datang untuk 'try to see what can be done'. Ada yang memberikan pertolongan, ada yang tertegun kenapa semua ini harus terjadi, dan di pojok kolom berita tertulis ada beberapa orang yang memanfaatkan kesempatan untuk 'mengutili' barang-barang korban kecelakaan. Bagi saya berita yang ditulis terakhir ini mungkin hampir sama menyedihkannya dengan kecelakaan itu sendiri.
Dalam sebuah 'Grand-design'-Nya, saya selalu percaya bahwa Tuhan selalu membuka jalur komunikasi dengan setiap individu manusia melalui apa saja yang bisa diterima dengan panca indera kita sebagai manusia. Dari hal-hal yang mungkin menurut kita sangat sepele semisal lewatnya seekor semut di depan kita, sampai kepada matahari yang setiap pagi muncul seolah-olah tak pernah lupa menyapa kita. Baik itu melalui sesuatu yang bisa kita baca melalui Kitab-Nya, sesuatu yang kita dengar semisal kokok ayam setiap pagi, panas terik siang hari yang kita rasakan, ataupun pertanda-pertanda 'gaib' yang mungkin pernah kita rasakan dan tak pernah kita mengerti untuk kita pikirkan.
Hanya saja hebatnya, ketika manusia diberi pembeda dari makluk lainnya oleh Sang Pencipta berupa 'independent-will', kekuatan untuk bisa memilih. Kita justru tidak melihat apa yang dikomunikasikan-Nya sebagai sebuah informasi berharga. Tidak hanya itu, bahkan tidak jarang kita justru memilih untuk menghambat komunikasi kepada kita (disindir oleh-Nya bahwa kita diberi mata tetapi tidak melihat, diberi telinga tapi tidak mendengar). Kita sebagai manusia punya kekuatan untuk memilih, tetapi kita tidak bisa menghindari konsekuensi atas pilihan kita. Dan konsekuensi-konsekuensi yang terjadi juga merupakan bagian dari substansi komunikasi yang diberikan oleh-Nya, terserah bagi kita - lagi-lagi - untuk memilih apakah konsekuensi itu kita anggap sebagai informasi atau tidak.
Misalnya, kita diberi kebebasan untuk meninju tiang listrik atau tidak ketika kita marah. Hanya saja kita tidak bisa menghindari konsekuensi ketika kita memilih meninju, tangan kita menjadi sakit. Sakit ini pun kemudian kita bisa memilih untuk menganggapnya sebagai informasi atau tidak, sehingga ketika setelah tangan sakit justru memilih untuk bersumpah-serapah keluar dari mulut yang mungkin bisa jadi membuat sakit hati orang yang mendengar sehingga timbul perkelahian dan seterusnya..dan seterusnya. Bayangkan misalnya karena memang kita tahu tiang listrik terbuat dari besi dan setiap hari kita menyentuh besi dan bisa merasakan bahwa besi itu keras, kita memilih untuk tidak memukul tiang listrik, yang pasti tangan tidak sakit dan kemungkinan besar tidak terjadi perkelahian. Inilah yang saya maksud bahwa mau-tidak-mau kita manusia akan selalu berada dalam 'kungkungan' 'Grand-design-Nya'. Kita manusia bebas memilih, hanya saja pilihan apa pun akan selalu tunduk dalam 'aturan-main'-Nya.
Dalam pengertian-pengertian di atas akan semakin indah bila mendengar kata-kata bijak semacam : kalo di falsafah kebudayaan Jawa ada istilah: 'Ngunduh wohing pakarti', atau mungkin dalam bahasa Inggris orang mengenal falsafah "You reap what you sow". Yang bagi saya bermuara sama yaitu kita manusia akan selalu berada di dalam 'aturan-main'-Nya. Dari yang sifatnya 'instan' misalnya anda tiba-tiba melompat ke depan mobil yang berlari kencang, maka 'aturan'-Nya anda akan tertabrak. Sampai yang sifatnya 'mengkonglomerasi' seperti misalnya pelan-pelan anda melakukan ketidak-jujuran, pelan-pelan pula akan semakin menurun kepercayaan orang terhadap anda.
Berangkat dari sinilah kesedihan dan kepiluan saya terhadap orang-orang yang 'mengutili' barang-barang orang yang sedang ditimpa musibah seperti saya sebut diatas.
Sedih, karena bisa jadi orang-orang ini adalah 'sekedar' buah informasi dari selama ini kita lalai akan 'aturan-main'-Nya, alpa akan segala informasi yang diberikan oleh-Nya terdahulu akan betapa pentingnya sumber daya manusia dan betapa pentingnya pendidikan budi pekerti di negeri ini.
Sedih, karena bisa jadi juga orang-orang ini tidak pernah menangkap informasi atas bentuk-bentuk substansi komunikasi Sang Pencipta. Sehingga bagaimana pun juga mereka nantinya akan menerima konsekuensi dari 'aturan-main'-Nya, ..somehow, somewhere, sometime…
Sedih, karena jangan-jangan Tuhan sudah sangat marah kepada orang-orang ini sehingga tertutup jalur komunikasi individu dari-Nya kepada mereka. Karena mungkin masih mending orang yang punya mata tapi tidak melihat, kita bisa mengupayakan agar dia sedikit demi sedikit untuk melihat. Tapi kepada orang yang memang sudah tidak diberi mata….
Mungkin kita berada dalam keheningan yang sama, tapi saya selalu percaya Tuhan selalu berbicara dan memohon kepada-Nya untuk selalu begitu. Tinggal marilah barsama-sama saling membantu kita untuk belajar mendengar, untuk kemudian selalu mendengar, dan kemudian memilih menjadi pendengar yang baik…