Friday, May 3, 2013

Emotional Intelligence


Emotional Intelligence

Kecerdasan Emosional

Mengapa EI lebih penting daripada IQ

Daniel Goleman ,Ph.D


ISBN  979-605-408-6  ; GM 204-96-408 ; 15 x 24 ; xvi & 497 hlm ; Rp.40.000,-  Cet.ke-10


Buku menggemparkan yang mendefinisikan ulang apa arti cerdas!

Buku ini sebaiknya dibaca oleh para Orang Tua, Guru, Mahasiswa  (calon-calon pemimpin masa depan), para manager, para komandan  (dan calon-calon komandan), pemimpin parpol, pejabat pemerintahan, dan para pemimpin lainnya!


        
         Kecerdasan Emosional Pengaruhi Motivasi Tempur Prajurit Kostrad

         Jakarta ( Kompas , Jumat 26 Oktober 2001 hal. 6 )

         Terdapat hubungan positif antara kecerdasan emosional dengan motivasi tempur
         Komando Cadangan Strstegis TNI Angkatan Darat (Kostrad) . Jika kecerdasan
         emosional  prajurit ditingkatkan , motivasi tempurnya pun  akan meningkat.
         Semakin rendah kecerdasan emosionalnya, maka semakin menurun motivasi 
         tempurnya.
         Demikian antara lain kesimpulan dari disertasi doktor ilmu pendidikan Dr. Kazan
         Gunawan berjudul Motivasi Tempur Prajurit: Survei di Kostrad (2001) yang
         disajikan  dalam sidang  terbuka Senat Universitas Negeri Jakarta (UNJ), yang  
         dipimpin Rektor UNJ  Prof.Dr. Sutjipto, Kamis  (25/10). Ikut menguji manta
          Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono. Kazan dalam kesempatan itu dinyatakan
          lulus cum laude dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3,96 .


Apa itu Kecerdasan Emosional? Bacalah karya Daniel Goleman ini!
Inilah kutipan  dari bagian pengantarnya:



Tantangan Aristoteles
Siapa pun bisa marah. Marah itu mudah. Tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik‑bukanlah hal mudah.
Aristoteles, The Nicomachean Ethics

Siang itu siang bulan Agustus yang benar‑benar sangat panas di New York City, hari yang membuat orang mandi keringat dan bersungut‑sungut karena merasa tidak nyaman. Saya sedang berjalan pulang ke hotel, dan sewaktu melangkah memasuki bis yang menuju Madison Avenue, saya dikejutkan oleh pengemudinya, seorang pria kulit hitam setengah baya yang tersenyum penuh semangat dan menyambut saya dengan sapaan ramah, "Hai! Apa kabar?", sapaan yang diberikannya kepada setiap orang yang memasuki bisnya sewaktu bis itu merayap menembus kepadatan lalu lintas di tengah kota. Setiap penumpang sama terkejutnya seperti saya, dan, karena terpengaruh suasana murung siang itu, sedikit saja yang membalas sapaannya.

Tetapi, sewaktu bis berjalan pelan‑pelan di kemacetan lalu lintas menuju wilayah permukiman, terjadilah perubahan pelan yang agak mencengangkan. Pengemudi tersebut menciptakan monolog yang lincah untuk menyenangkan kami, komentar memikat tentang pemandangan yang berlalu di hadapan kami: ada obral menarik di toko itu, pameran hebat di museum ini, sudahkah Anda mendengar tentang bioskop yang baru saja dibuka di blok sini? Rasa senangnya pada banyaknya kemungkinan yang ditawarkan oleh kota itu menular. Pada saat turun dari bis, setiap penumpang secara bergiliran menanggalkan wajah murung ketika memasuki bis, dan saat pengemudi itu berseru "Sampai jumpa, semoga sukses!"    masing‑masing membalas dengan senyuman.

Kenangan peristiwa tersebut tersimpan di benak saya selama hampir 20 tahun. Ketika saya naik bis di Madison Avenue itu, saya baru saja menyelesaikan program doktor di bidang psikologi, tetapi kecil sekali perhatian terhadap psikologi saat itu mengenai bagaimana perubahan semacarn itu dapat berlangsung. Psikologi hanya sedikit saja tahu, atau samasekali tidak tahu, mengenai mekanisme perasaan. Namun, membayangkan virus rasa riang yang menyebar menembus kota besar itu, yang dimulai dari penumpang‑penumpang di bisnya, saya menganggap bahwa pengemudi bis ini semacam pembawa damai di kota, dengan kemampuan luarbiasa untuk mengubah suasana mudah marah dan membosankan yang merasuki penumpang-penumpangnya, membuat mereka agak santai dan sedikit berlapang dada.

Sebaliknya, berikut adalah beberapa berita dari koran minggu ini:  (  Red :   Pembaca dapat mencari contoh-contoh serupa dalam masyarakat Indonesia dari berita-berita koran dan TV   )

* Di sebuah sekolah setempat, seorang murid berumur sembilan tahun mengamuk, menuangkan cat ke bangku‑bangku, komputer-komputer, dan printer‑printer, serta merusak sebuah mobil di lapangan parkir sekolah. Alasannya: beberapa teman kelas tiga menyebutnya "bayi" dan murid itu ingin membuat teman‑temannya "terkesan".

* Delapan pemuda terluka ketika suatu senggolan tak disengaja di tengah kerumunan anak‑anak muda yang berbaur di luar sebuah klub rap di Manhattan pecah menjadi adu sorong‑sorongan, yang berakhir ketika salah seorang yang dihina mulai menembakkan pistol automatis kaliber 0.38 ke kerumunan tersebut. Laporan mencatat bahwa penembakan‑penembakan semacarn itu yang diakibatkan oleh ejekan‑ejekan kecil, yang dianggap sebagai tindakan penghinaan, semakin lama semakin lazim di seluruh negeri pada tahun‑tahun belakangan ini.

       *  Menurut sebuah laporan, 57 persen pembunuh anak‑anak berusia di bawah 12 tahun adalah orangtua, atau orangtua-tiri mereka. Pada hampir separo dari kasus‑kasus yang ada, para orangtua itu mengatakan bahwa mereka "sekadar berusaha mendisiplinkan anaknya" Pemukulan‑pemukulan yang membawa ‑ maut tadi dipicu oleh "pelanggaran‑pelanggaran" yang dibuat anak, misalnya si anak menghalangi pandangan ke televisi, menangis, atau mengompol.

*  Seorang pernuda Jerman diadili karena membunuh lima orang gadis dan wanita Turki dalam kebakaran yang disulutnya ketika para korban sedang tidur. Sebagai anggota kelompok neo‑Nazi, ia menceritakan tentang kegagalannya mendapatkan pekerjaan, tentang pelariannya ke minuman keras, mempersalahkan nasib buruknya pada pendatang‑pendatang asing. Dengan suara yang hampir‑ hampir tidak kedengaran, ia mengaku, "Saya tak habis‑habisnya merasa menyesal atas apa yang telah kami lakukan, dan saya amat sangat malu."

Berita yang sampai kepada kita setiap hari penuh dengan laporan tentang lenyapnya sopan santun dan rasa aman, menyiratkan adanya serbuan dorongan sifat jahat. Tetapi, dalam skala yang lebih besar, berita itu sekadar memberi gambaran adanya emosi‑emosi yang pelan‑pelan tak terkendalikan dalam kehidupan kita sendiri dan dalam kehidupan orang‑orang sekitar kita. Tak ada orang yang mampu bertahan dari gelombang ketidaktentuan ledakan kemarahan dan sesal ini; gelombang ini menembus sisi‑sisi kehidupan kita dengan segala cara.

Dasawarsa terakhir ini telah mencatat rentetan laporan semacarn itu, mencerminkan meningkatnya ketidakseimbangan emosi, keputusasaan, dan rapuhnya moral di dalam keluarga kita, masyarakat, dan kehidupan kita bersama. Tahun‑tahun ini telah merekarn meningkatnya tindak kekerasan dan kekecewaan, entah dalam kesepian anak‑anak yang terpaksa ditinggal sendiri atau diasuh babysitter dan televisi, atau dalarn kepahitan anak‑anak yang disingkirkan, disiasiakan, atau diperlakukan dengan kejam, atau dalam keintiman tak lazim dari tindak kekerasan dalam perkawinan.

Meluasnya penyimpangan emosional terlihat pada melonjaknya angka tingkat depresi di seluruh dunia dan pada tanda‑tanda tumbuhnya gelombang agresivitas‑pemuda berumur belasan bersenjatakan senapan di sekolah-sekolah, kecelakaan di jalan bebas hambatan yang berakhir dengan tembak‑menembak, mantan karyawan yang membantai bekas rekan-rekan sekerja. Penganiayaan emosi  , Penembakan di jalan‑jalan, dan stres Pascatrauma sernuanya masuk dalam kosa kata lumrah selama dasawarsa terakhir ini, ketika slogan zaman ini beralih dan seruan gembira "Selamat bersenang‑senang" menjadi "Mari bersenang‑senang" dengan nada tak sabaran.

Buku ini merupakan panduan agar ketidakberartian menjadi bermakna. Sebagai psikolog, dan selama sepuluh tahun terakhir sebagai wartawan The New York Times, saya telah melacak kemajuan pemahaman ilmiah kita tentang wilayah tak rasional. Melalui pengamatan itu, saya dikejutkan oleh dua kecenderungan yang berlawanan, yang satu menggambarkan meningkatnya bencana dalarn kehidupan emosional masyarakat, dan kecenderungan lainnya menawarkan beberapa penyembuhan yang memberikan harapan.

 

MENGAPA EKSPLORASI INI PENTING


Sepuluh tahun terakhir ini, selain berita‑berita buruk, juga ditandai dengan lonjakan drastis dalarn kajian  ilmiah di bidang emosi. Yang paling dramatis adalah terkuaknya cara kerja otak, yang dimungkinkan oleh metode‑metode terbaru seperti teknologi pemayaran    ( scanning ) otak. Teknologi ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, memungkinkan orang dapat mengamati sesuatu yang senantiasa menjadi sumber rahasia paling gelap: bagaimana kelompok rumit sel‑sel bekerja sementara kita berpikir dan merasa, berimajinasi dan bermimpi.

Bertumpuknya data biologi saraf membuka kemungkinan bagi kita untuk lebih memahami bagaimana pusat emosi otak mengatur kita untuk marah atau menangis, dan bagaimana bagian‑bagian otak yang lebih primitif yang mengarahkan kita berperang atau bercinta disalurkan menjadi lebih baik ataupun lebih buruk. Pemahaman mengenai cara kerja emosi dan kelemahan emosi yang tidak pernah terjadi sebelumnya ini membawa kita ke suatu fokus mengenai pola penanggulangan baru bagi krisis emosi masyarakat kita.

Saya terpaksa menunggu sampal sekarang agar keberhasilan ilmiah itu cukup matang untuk dijadikan pegangan menulis buku ini. Kesadaran ini datang terlambat terutama karena selama bertahuntahun wilayah perasaan dalarn kehidupan mental diabaikan oleh para peneliti, sehingga emosi merupakan wilayah yang pada umumnya  tak terjelajah oleh psikologi ilmiah. Dalarn. kekosongan ini membanjir buku‑buku self‑help, buku‑buku berisi nasihat yang bermaksud baik tetapi paling‑paling berdasarkan pendapat klinis tanpa dasar ilmiah yang kuat, kalaupun memang ada dasar ilmiahnya. Kini, pada akhirnya, sains mampu mengutarakan pendapat tanpa ragu‑ragu mengenai masalah‑masalah mendesak dan membingungkan perihal segi kejiwaan yang paling tak rasional, untuk memetakan perasaan manusia dengan cukup tepat.

Pemetaan ini menimbulkan tantangan bagi mereka yang menganut pandangan sempit tentang kecerdasan, dengan mengatakan bahwa IQ merupakan fakta genetik yang tak mungkin diubah oleh pengalaman hidup, dan bahwa takdir kita dalam kehidupan terutama ditetapkan oleh faktor bawaan ini.

 Pendapat tersebut mengabaikan masalah yang lebih menantang: Apa yang bisa kita ubah untuk menolong anak‑anak kita memiliki nasib kehidupan yang lebih baik? Faktor‑faktor manakah yang lebih berperan, misalnya, kapan orang ber‑IQ tinggi gagal dan orang ber‑IQ rata‑rata menjadi amat sukses? Saya ingin mengatakan bahwa perbedaannya sering kali terletak pada kemampuan‑kemampuan yang di sini disebut kecerdasan emosional yang mencakup pengendallan diri, semangat dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri. Keterampilan‑keterampilan ini, sebagaimana nanti akan kita lihat, dapat diajarkan kepada anak‑anak, untuk memberi mereka peluang yang lebih baik dalam memanfaatkan potensi intelektual apa pun yang barangkall diberikan oleh permainan judi genetik kepada mereka.

Di balik kemungkinan ini muncul tekanan moral yang mendesak. Yaitu saat‑saat ketika jalinan masyarakat tampaknya terurai semakin cepat, ketika sifat mementingkan diri sendiri, kekerasan, dan sifat jahat tampaknya menggerogoti sisi‑sisi baik kehidupan masyarakat kita. Di sini, alasan untuk mendukung perlunya kecerdasan emosional bertumpu pada hubungan antara perasaan, watak, dan naluri moral. Semakin banyak bukti bahwa sikap etik dasar dalam kehidupan berasal dari kemampuan emosional yang melandasinya. Misalnya, dorongan hati merupakan medium emosi; benih semua dorongan hati adalah perasaan yang memunculkan diri dalam bentuk tindakan.

Orang‑orang yang dikuasai dorongan hati yang kurang memiliki kendali diri menderita kekurangmampuan pengendalian moral: Kemampuan untuk mengendalikan dorongan hati merupakan basis kemauan (will) dan watak (character). Dengan cara yang sama, akar cinta sesama terletak pada empati, yaitu kemampuan membaca emosi orang lain; tanpa adanya kepekaan terhadap kebutuhan atau penderitaan orang lain, tidak akan timbul rasa kasih sayang. Apabila ada dua sikap moral yang dibutuhkan oleh zaman sekarang, sikap yang paling tepat adalah kendali diri dan kasih sayang.

PERJALANAN KITA


Dalam buku ini saya bertindak sebagai pemandu perjalanan menempuh wawasan ilmiah menuju wilayah emosi, perjalanan yang bertujuan memperoleh pemahaman lebih dalam akan momen‑momen paling membingungkan dalam kehidupan kita sendiri dan dunia sekitar kita. Sasaran perjalanan ini adalah memahami apa arti ‑‑ dan bagaimana membawa kecerdasan ke dalam emosi. Sampai tahap tertentu, pemahaman ini sendiri dapat menolong; membawa permahaman kognitif ke wilayah perasaan akan mempunyai pengaruh seperti halnya pengaruh seorang pengamat pada tingkat kuantum dalam fisika, yaitu mengubah yang sedang diamati.

Perjalanan kita dimulai dari Bagian Satu mengenai penemuan-penernuan baru arsitektur emosi otak yang menjelaskan tentang momen‑momen paling membingungkan dalam kehidupan kita ketika perasaan mengalahkan sernua rasionalitas. Memahami keterkaitan struktur otak yang mengatur momen‑momen marah dan takut atau nafsu dan kegembiraan ‑mengungkapkan banyak hal tentang bagaimana kita mempelajari kebiasaan emosional yang dapat melemahkan niat‑niat baik, seperti halnya yang dapat kita lakukan untuk meredakan dorongan‑dorongan emosi yang lebih destruktif atau pengalahan diri sendiri. Yang paling penting, data neurologis itu menawarkan suatu kesempatan emas untuk membentuk kebiasaan emosional anak‑anak kita.

Perhentian penting berikutnya dalam perjalanan kita, yaitu Bagian Dua~ buku ini, adalah peninjauan terhadap bagaimana fakta‑fakta neurologis berperan dalam membentuk kemampuan dasariah manusia untuk mempertahankan hidup yang disebut kecerdasan emosional: misalnya, kesanggupan ‑ untuk mengendalikan dorongan emosi; untuk membaca perasaan terdalam orang lain; untuk memelihara hubungan dengan sebaik‑baiknya ‑sebagaimana dirumuskan oleh Aristoteles, keterampilan langka "untuk marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik".
( Pembaca yang tidak tertarik pada detail neurologis bisa langsung melangkah ke bagian ini )

 Model yang telah diperluas tentang apa arti menjadi "cerdas" ini menempatkan emosi sebagai inti daya hidup. Bagian Tiga meninjau beberapa perbedaan kunci yang diakibatkan adanya daya hidup: bagaimana kemampuan ini dapat menjaga hubungan‑hubungan kita yang paling berharga, atau tanpanya akan mengikis hubungan-hubungan tersebut; bagaimana kekuatan pasar yang merekayasa ulang pola kerja menempatkan kecerdasan emosional sebagai landasan sukses dalam pekerjaan; dan bagaimana emosi‑emosi beracun dapat membahayakan kesehatan fisik kita sama halnya dengan merokok berantai, bahkan bila keseimbangan emosi dapat menolong melindungi kesehatan dan. kesejahteraan kita.

Warisan genetik memberi kita serangkaian muatan emosi tertentu yang menentukan temperamen kita. Tetapi, jaringan otak yang terlibat sangat mudah dibentuk‑bentuk; temperamen bukanlah takdir. Sebagaimana diperlihatkan dalarn Bagian Empat, pelajaran‑pelajaran. emosi yang kita peroleh semasa kanak‑kanak, di rumah dan di sekolah, akan membentuk sirkuit‑sirkuit emosi, membuat kita cakap atau tidak cakap‑‑‑dalam hal dasar‑dasar kecerdasan emosional. Ini berarti bahwa masa kanak‑kanak dan remaja merupakan peluang terbuka yang penting untuk mengarahkan kebiasaan‑kebiasaan emosional yang esensial yang akan menentukan kehidupan kita.

Bagian Lima meninjau bahaya‑bahaya yang menghadang orang-orang yang gagal menguasai wilayah emosinya ketika tumbuh dewasa ‑bagaimana kelemahan dalam kecerdasan emosional akan memperlebar spektrum risiko,  mulai dari depresi atau hidup penuh kekerasan hingga gangguan makan dan penyalahgunaan obat‑obatan. Bagian tersebut mendata cara sekolah‑sekolah perintis mengajar  murid‑muridnya keterampilan sosial dan emosional yang mereka perlukan untuk menjaga agar hidup mereka tetap di dalam jalur.

Barangkali satu‑satunya bagian dari data dalam buku ini yang paling mengkhawatirkan berasal dari sebuah survei besar‑besaran terhadap orangtua dan guru‑guru dan memperlihatkan adanya kecenderungan yang sama di seluruh dunia, yaitu generasi sekarang lebih banyak mengalarni kesulitan emosional daripada generasi sebelumnya: lebih kesepian dan pernurung, lebih berangasan dan kurang menghargai sopan santun, lebih gugup dan mudah cemas, lebih impulsif dan agresif.

Seandainya ada suatu cara penanggulangan, saya kira terletak pada bagaimana kita mempersiapkan anak‑anak kita dalam menempuh kehidupan. Sekarang ini, kita menyerahkan pendidikan emosi mereka ke tangan nasib, dengan hasil yang justru semakin merugikan. 

Salah satu pemecahannya adalah pandangan baru yang menitikberatkan pada apa yang dapat dilakukan sekolah‑sekolah dalam mendidik murid‑muridnya, mengajarkan kepintaran sekaligus kepekaan perasaan. Perjalanan kita berakhir dengan. kunjungan ke kelas-kelas inovatif yang bertujuan memberi murid‑muridnya landasan dasar‑dasar kecerdasan emosional. Saya yakin bahwa pada suatu saat, secara rutin pendidikan akan menanamkan pendidikan kecakapan manusiawi dasariah sepertl kesadaran diri, pengendalian diri, dan empati, serta seni mendengarkan, menyelesaikan pertentangan, dan kerja sama.

Dalarn The Nicomachean Ethics, pembahasan Aristoteles secara filsafati tentang kebajikan, karakter, dan hidup yang benar, tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik, akan memiliki kebijaksanaan; nafsu membimbing pernikiran, nilai, kelangsungan hidup kita. Tetapi, nafsu dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu Seringkali terjadi. Sebagaimana dikemukakan oleh Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikannya.

 Pertanyaannya adalah, bagaimanakah kita dapat membawa kecerdasan ke emosi kitadan peradaban—ke jalan‑jalan serta membawa kepedulian ke dalam kehidupan kita bersama?

Daniel Goleman


Daftar Isi Buku:

Tantangan Aristoteles                                                                  IX
Bagian Satu : Otak Emosional
  1.    Apakah Kegunaan Emosi ?                                                      3
  2.    Anatomi Pembajakan Emosi                                                   17
Bagian Dua : Ciri-ciri Kecerdasan Emosional
  3.    Kapan Yang Pintar itu Bodoh ?                                                43
  4.    Kenali Diri Anda                                                                       62
  5.    Budak Nafsu                                                                            77
  6.    Kecakapan Utama                                                                 109
  7.    Akar Empati                                                                           135
  8.    Seni Sosial                                                                            156
Bagian Tiga : Penerapan Kecerdasan Emosional
  9.    Musuh-musuh Keintiman                                                     161
10.    Manajemen dengan Berpatokan pada Perasaan                210
11.    Pikiran dan Pengobatan                                                     233
Bagian Empat : Kesempatan Emas
12.    Wadah Penggodokan Keluarga                                        267
13.    Trauma dan Pembelajaran-ulang Emosi                           283
14.    Temperamen Bukanlah Suratan Takdir                            305
Bagian Lima : Kecakapan Emosional
15.    Kerugian Buta Emosi                                                             327
16.    Pendidikan Emosi                                                                 371
Lampiran A :   Apakah Emosi itu ?                                                 411
Lampiran B :   Ciri-ciri Pikiran Emosional                                       414
Lampiran C :   Jaringan Sirkuit Saraf Rasa Takut                         422
Lampiran D :   Unsur-unsur Aktif Program Pencegahan               426
Lampiran E :   Kurikulum Self Science                                         428
Lampiran F :   Pembelajaran Keterampilan Sosial dan Emosional    430

Lengkapilah  kepustakaan Anda dengan terbitan kami yang lain :

1.        Mengajarkan Emotional Intelligence pada Anak
Lawrence E. Shapiro  ...................................................................... Rp. 30.000,-
2.        Working with Emotional Intelligence  ( Kecerdasan Emosi
Untuk  Mencapai Puncak Prestasi )
Daniel Goleman, Ph.D .................................................................... Rp. 45.000,-
3.        Kiat-kiat Membesarkan Anak yang memiliki Kecerdasan
Emosional
         John Gottman, Ph.D. ......................................................................  Rp. 35.000,-
4.        The Moral Intelligence of Children
         ( Menumbuhkan Kecerdasan  Moral pada Anak )
Robert Coles ...................................................................................    Rp. 27.500,-
5.        Bagaimana Bersikap pada Anak agar Anak Bersikap Baik
Sal Severe ......................................................................................    Rp. 37.500,-
6.        Children Are from Heaven : Cara Membesarkan  Anak
Secara Positif agar Anak Menjadi Kooperatif, Percaya Diri
dan  Memahami Perasaan Orang Lain
John Gray, Ph.D.  ...........................................................................   Rp. 42.500,-
7.      Menjadi Orang Tua Efektif  .  Cetakan ke-12
Dr. Thomas Gordon ........................................................................   Rp. 20.000,-


N.B.  Harga buku dapat berubah  tanpa pemberitahuan sebelumnya.
         Silakan  ke toko buku langganan Anda.

No comments:

Post a Comment