Saturday, May 4, 2013

PITOYO AMRIH: TUHAN SELALU BERBICARA (2)

print this page 
Di dalam sejarah Islam, dikisahkan ketika Nabi Muhammad saw ber-tahannuts (berdiam diri) di gua Hira, kemudian datanglah malaikat Jibril menyerukan kepada Muhammad: "Bacalah!..". Dengan gemetar Nabi Muhammad menjawab: "Aku tak dapat membaca…" Lagi-lagi malaikat Jibril menyeru: "Bacalah!" diikuti jawaban yang sama dari Nabi, demikian sampai tiga kali, baru kemudian turunlah ayat pertama dalam Al-Quran yang bisa ditafsirkan:" Bacalah dengan nama Tuhan yang telah menciptakan ...".
Sebuah pertanyaan timbul, mengapa Tuhan menyuruh Nabi Muhammad untuk membaca sementara Nabi waktu itu tidak bisa membaca dan menulis. Sungguh, pertanyaan ini pernah mengganggu pikiran saya kira-kira sepuluh tahun yang lalu. Lama ketika pelan-pelan saya mulai sadar bahwa bagi saya yang disebut sebagai Kalam Ilahi tidak hanya apa yang tertulis dalam kitab, tapi sebenarnya adalah semua hal yang ada dihadapan kita. Dan bila memang itu yang dimaksudkan Tuhan, sungguh merupakan pertanda yang sangat indah ketika Tuhan membuat sebuah skenario sejarah seperti di atas.
Seperti layaknya membaca tulisan, ada beberapa kategori dalam membaca, pertama adalah kita membaca sesuatu 'rangkaian huruf yang dimaksudkan sebagai tulisan' tanpa pernah kita tahu apa itu, sama halnya yang terjadi saat saya 'membaca' atau melihat rangkaian huruf Kanji sedang saya belum mengerti sedikitpun apa dan bagaimana huruf Kanji itu.
Yang kedua adalah saya membaca tulisan latin, hanya sayangnya bertuliskan kata-kata dalam bahasa Prancis yang kembali saya belum pernah sedikitpun belajar bahasa Prancis. Kemudian yang ketiga saya membaca tulisan latin, berbahasa Indonesia tetapi disitu membahas topik perihal masak-memasak misalnya yang saya masih harus banyak belajar mengenai hal itu. Bagaimana-pun mungkin susah bagi saya untuk langsung menangkap maknanya dengan sekali membaca.
Sedang yang keempat saya membaca tulisan latin memakai bahasa yang saya mengerti yang membahas mengenai hal tentang misalnya hukum mekanika Newton, sesuatu yang kebetulan saya mengerti benar. Nikmat sekali rasanya saya 'mengunyah-ngunyah' bacaan itu.
Bisa dibayangkan kalau analogi 'membaca' ini sebenarnya sebuah 'kehendak' supaya kita membaca bukan hanya tulisan tetapi apa pun yang ada disekitar kita. Seperti layaknya kata kerja membaca tapi berlaku pada semua indera tidak hanya mata. Saya hanya kawatir kita sebagai umat manusia masih dan selalu bertahan pada kategori 'membaca' pada tahapan pertama ataupun kedua tanpa pernah ada kemauan untuk mencoba belajar untuk mencapai pengertian-pengertian pada kategori berikutnya.
Suatu contoh sederhana bagi saya adalah sebuah 'aturan-main'-Nya yang sebenarnya kita sudah bisa 'membaca'-nya adalah: Kekerasan tidak menghasilkan apa-apa kecuali kerugian, penderitaan, sakit hati, dendam dan berpotensi terhadap timbulnya kekerasan-kekerasan berikutnya. Saya yakin jauh di kedalaman hati nurani sebagian besar manusia sudah bisa 'membaca' hal ini. Hanya saja kekerasan masih saja ada sejak anak Adam sampai detik ini.
Contoh lain adalah misalnya Sejarah telah menceritakan dengan test-case sejak jaman Romawi kuno bahwa pemerintahan negara yang penuh dengan korupsi dan ketidak jujuran tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali menjadikan negara miskin secara kolektif. Detik ini pun masih ada negara dengan praktek-praktek pemerintahan seperti itu, seperti pada sebagian besar negara Afrika Tengah, Amerika Latin dan dengan sedih harus saya katakan itu juga terjadi tidak jauh dari mata saya…negara kita.
Mungkin tidak perlu melihat jauh ke ujung 'lingkaran kepedulian' kita, pada 'lingkaran pengaruh' kita yang paling dekat pun bisa kita jadikan sebuah 'bacaan' yang menarik. Tiba-tiba di depan kita ada orang yang membutuhkan pertolongan, 'bacalah' itu kemudian lakukan sesuatu yang bisa kita lakukan pada hal tersebut apa yang kita mampu lakukan. Lihatlah hal tersebut berlanjut kepada 'bacaan' yang bagaimana, kemudian 'baca' kembali, lakukan sesuatu, 'baca' lagi, dan seterusnya. Saya bisa berbagi kepada anda bahwa hal ini akan menjadikan kehidupan anda menjadi more and more interesting.
Dan ketika kita mulai terbiasa dengan 'bacaan-bacaan' tersebut, kita akan mulai melihat dan percaya bahwa sebenarnya Tuhan selalu memberikan kita bahan 'bacaan' melalui apapun yang terjadi disekitar kita. Tuhan selalu berbicara pada setiap individu kita melalui pengalaman-pengalaman pribadi unik untuk kita yang masing-masing kita memiliki 'kekayaan' yang hanya kita sendiri yang memilikinya -bahkan bagi orang kembar identik pun ketika pertama lahir sedah berbeda 'bacaannya' ketika dipisahkan beberapa detik keluar dari perut ibunya-.
Saya berusaha untuk selalu mendengar (baca: membaca) apa yang Tuhan selalu 'berbicara'-kan, inginkah anda ?

No comments:

Post a Comment